Lunacrest

Lunacrest
Chapter 79



Exodiart memimpin jalan lagi hingga mereka sekarang benar-benar bisa melihat menara tersebut dalam ukuran sesungguhnya. Mereka tidak lantas mendekat, melainkan berhenti di balik deretan pepohonan.


Tempat itu sangat sepi, terlalu sepi untuk menara penjaga. Tidak ada prajurit yang terlihat. Tidak ada petugas seorang pun yang berlalu lalang. Tidak ada wajah yang muncul dari jendela-jendela. Tidak ada para pemanah pada puncak menara yang biasanya siap membidik musuh.


“Ini terlalu sunyi…” Padahal Praxel berbisik namun suaranya terasa begitu jelas. “Di mana para prajurit?”


“Di sana!” sahut Mierai dengan suara pelan.


Mereka bisa melihat seorang prajurit berdiri kaku dekat kandang. Sosoknya tertutup oleh pintu kandang yang tengah terbuka. Biasanya menara penjaga memiliki setidaknya dua kuda dan burung-burung pengintai. Di sini, tak ada kuda satu pun di dalam kandang. Mereka juga tidak mendengar apalagi melihat burung-burung.


“Apa yang dia lakukan?” bisik Kelsey.


“Memberi makan kuda, mungkin?” tebak Mierai.


“Tapi, aku tidak melihat kuda sama sekali.”


“Aku juga. Mungkin dia menunggu kuda-kudanya kembali.”


Si penjaga bergeming di posisinya. Dia tidak melakukan apa pun selain berdiri dengan tombak di tangannya. Wajahnya tertutup helm yang senada dengan baju zirahnya.


“Aku akan ke sana,” ujar Exodiart setelah mereka keheningan cukup lama. “Kalian tunggu di sini.”


“Tunggu,” sahut Praxel seraya mengulurkan ke depan. Dia tidak mau Exodiart bergerak dulu tanpa menunggu izin atau saran rekan-rekannya. Sihir berkahnya datang dalam butiran cahaya. Mereka akan membantu Exodiart bergerak lebih cepat dan memperkuat sihir petirnya. “Hanya untuk jaga-jaga.”


Exodiart mengangguk sekali lalu berlari-lari kecil, bersiap dengan sandiwara seolah mereka sedang tersesat. Sambil dirinya berlari mendekat, Exodiart mulai menyadari hal-hal lain. Dia melihat beberapa prajurit lain. Mereka semua mengacuhkannya.


Seorang duduk di atas potongan kayu yang mengelilingi api unggun padam. Seorang lagi membawa kayu seolah hendak menyalakan api. Keduanya sama-sama menengadah ke atas. Ada seorang lagi yang berhenti dalam gerakan sedang berlari. Exodiart memelankan langkah. Kini dia bisa melihat wajah si prajurit yang ada di samping kadang. Matanya terbebalak dengan mulut menganga. Kulitnya pucat seperti mayat dengan urat-urat biru yang merambati wajahnya.


Para prajurit bukan mengacuhkannya. Mereka terkurung dalam sihir tanpa bisa bergerak. Tewas membatu dalam posisi terakhir kali mereka hidup saat sihir kutukan menyambar mereka.


Exodiart buru-buru berlari balik. “Hati-hati! Ada—”


Kata-katanya tercekat. Dia melihat Mierai telah mengarahkan panah padanya. Sepasang anak panah kembar melayang, melesat ke atas kepalanya. Mierai bukan membidiknya melainkan membidik makhluk lain yang kepakannya mulai mendekati dirinya. Apa pun itu, Mierai membidihkan dengan benar. Suara pekikan terdengar nyaring dibarengi kepakan liar yang menjauh.


Kelsey mendekat dengan sihir teleport. Menjaga jarak aman sambil melemparkan misil-misil sihir hitam keungunan. Praxel mendampingi di sisinya, merapal sihir-sihir petir kecil. Exodiart tak sampai menjumpai keduanya. Saat merasa cukup aman, dia ikut melihat ke atas.


Monster yang bisa terbang jarang mencapai ke ibu kota. Biasanya menara-menara penjaga akan menghabisi mereka dulu. Monster ini pastilah salah satu yang cukup beruntung bisa lolos. Makhluk itu memiliki badan seperti ayam dengan ekor ular dan sepasang sayap kelelawar. Ukurannya sedikit lebih besar dari kuda, jelas bukan makhluk dewasa.


“Cockatrice!” seru Exodiart. “Hati-hati saat matanya bersinar! Mereka bisa membuat orang jadi batu!”


“Jatuhkan dia, Mimi!” seru Exodiart pada Mierai.


“Sedang kucoba, kapten!”


Mierai bisa bergerak bebas asalkan mata si monster tak sedang bersinar. Lawan mereka mengepak liar, masih berusaha menjatuhkan satu anah panah yang menancap pada badan dekat sayapnya. Mierai kembali membidik dengan sepasang anak panah. Kali ini, dia mengincar mata lawan. Tentunya bukan perkara mudah karena sasarannya terus bergerak.


Exodiart mengangkat tongkatnya ke atas. Saat itu, petir besar menyambar si monster. Namun, karena lawannya tidak diam, serangan Exodiart tak benar-benar mengenainya melainkan hanya mengenai bagian kakinya. Setidaknya si monster tetap merasa terganggu olehnya.


Matanya pun mulai bersinar.


“Awas!” seru Kelsey.


Keempat petualang itu pun serentak menundukkan kepala agar tak melihat sinar di matanya. Untung saja, sinar itu hanya sebentar.


Mierai justru mengambil kesempatan emas tersebut. Bukan rahasia umum bila Cockatrice harus berhenti sejenak ketika melakukan kutukannya. Mierai melepaskan anak panah dengan kepala tertunduk ke bawah. Dia mempercayai bidikan yang telah dia persiapkan sebelumnya dengan beberapa perhitungan.


Serangannya masuk!


Pekikan si monster terdengar menggema di udara. Mierai memeriksa serangannya. Lagi-lagi hanya satu panah yang mengenai lawan. Dia harus puas dengan ini. Padahal dia mengincar kedua mata si monster.


Kelsey tak mau kalah. Tongkat sihirnya diulurkan ke atas. Kalau sihir Elloys merupakan sihir api, sihir Kelsey tidak benar-benar mengambil elemen tertentu. Bentuknya bak laser dan kadang seperti lubang hitam. Kali ini, Kelsey membuat lima misil sihir. Bentuknya seperti bola-bola putih sebesar genggaman tangan yang punya ekor komet di bagian belakang. Kelimanya serentak mengenai dada lawan.


Exodiart melompat ke udara, memberikan serangan terakhir. Petir menari di sekeliling tongkatnya. Mereka membesar ketika dirinya berada di udara. Sebisa mungkin, dirinya mendekat ke Cockatrice yang mulai oleng ke tanah. Dia tahu tidak perlu benar-benar bersentuhan dengan lawan. Ketika dirinya mendarat ke tanah, sambaran petir besar menyambar lawan, memaksanya jatuh ke tanah.


Serangan Exodiart membuat tanah bergetar, memberikan sensasi kemenangan dan keseruan bagi rekan-rekannya. Tentu saja, kalau itu memang hanya berasal dari serangan sang ketua guild.


Praxel tertegun. Menyadari ada yang salah. Tanah bergetar bukan hanya oleh serangan Exodiart atau Cockatrice yang menggelepar kesakitan dengan sebagian tubuh hangus. Ada getaran lain datang dari sisi berbeda. Getaran semacam ini dikenali Praxel sebagai efek samping dari langkah monster raksasa.


Benar saja, ketika Praxel menoleh ke arah sumber suara, matanya menangkap bagaimana pepohonan tinggi patah bagai tusuk gigi. Mereka dipaksa tumbang untuk membukakan jalan bagi si monster. Monster lain. Bukan monster yang bisa terbang, untungnya. Juga bukan monster yang bisa mengubah lawan jadi batu. Sialnya, monster ini bisa menembakkan sejenis sinar laser dari mata tunggalnya.


Praxel terkesiap ketika sosoknya terbuka di tanah lapang. Tinggi si monster hampir tiga kali lipat tinggi manusia pada umumnya. Badannya kekar seperti minotaur, keras seperti batu, dengan warna cokelat pucat seperti lumpur kering. Ada tanduk runcing mencuat dari kepala. Tangannya menggenggam kapak besar dengan bilah dilumuri cairan merah pekat. Matanya mengawasi satu per satu dari mereka.


“Cyclops!?” seru Mierai. “Kamu pasti bercanda!”


Kelsey berteriak ketika lawannya mulai melangkah. “Lari!”