Lunacrest

Lunacrest
Chapter 97



Raiden merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Sesuatu yang tak pernah dia rasakan bila menggunakan kostum Berserker. Pelindung bahunya selalu menutupi dada hingga punggung. Kostum Exodiart terasa lebih ringan dan leluasa. Tebal tapi tak mengurangi sensasi pelukan yang dia balik terima.


Raiden mengerjap seraya menjauhkan diri. Dia bisa melihat mata lembayung Elloys menatapnya lembut dan senyuman tipis terulas di wajahnya.


“Apa kamu menangis?” bisik Elloys pelan. Tangan Elloys tak lagi di punggungnya, melainkan di pipinya, mengusap air yang membasahi.


Raiden tak mampu menjawab. Dia hanya mampu menelan ludah dan menunduk, tak berani melihat lawan bicaranya.


Sebaliknya, Elloys malah mendengus geli. “Apinya tak bisa menyakitiku. Aku juga penyihir api. Sihirku lebih panas darinya.” Sederetan kalimat yang tidak sepenuhnya benar namun sangat ampun menenangkan Raiden.


Elloys membelai rambut Raiden lalu mendekatkan wajah itu mendekati dirinya. Dia mendaratkan kecupan manis di pipi Raiden.


“Terima kasih,” ujar Elloys lirih.


“Kita belum lolos dari sini,” kata Raiden setelah berhasil mendapatkan kembali keberaniannya. “Katakan itu setelah kita keluar dari sini.”


Elloys menggeleng. “Bukan. Terima kasih karena sudah memanggil Mierai ke kolam waktu itu. Kamu enggak tahu betapa itu sangat membantuku. Terima kasih juga membawkanku ikan segar esok harinya.”


Raiden merasakan pipinya memerah karena malu. Cium Elloys masih terasa hangat di sana. Berikutnya, dia merasakan senyum tak dapat dia sembunyikan lagi. Dirinya pun menunduk agar Elloys tak bisa melihatnya.


“Hei,” panggil Elloys. “Keberatan kalau melepaskanku?”


Raiden merasa langsung salah tingkah. Dia bergegas melepaskan Elloys dari pelukannya lalu berpaling. Elloys tertawa kecil lagi, geli dengan semua yang baru saja terjadi di antara mereka.


“Jadi, apa rencanaya?”


“Pulang hidup-hidup.” Raiden beranjak ke sisi jeruji. “Teman bersayap kita masih di sana. Aku bisa mengalihkan perhatiannya.”


“Supaya aku bisa kabur?” Elloys mengerucutkan bibir dengan kedua tangan terlipat ke depan dada. “Aku enggak suka ide itu.”


“Aku tahu. Karena itu aku akan mengalihkan perhatianya, selagi kamu mencari tongkatmu.”


Bibir Elloys langsung menyunggingkan senyum. “Kalau rencananya begitu, aku suka.” Elloys beranjak ke sisi Raiden agar bisa melihat lebih jelas ke sekeliling mereka. “Tapi, bagaimana kamu bisa yakin kalau tongkatku di sini?”


“Penculikmu itu, Litaro, bilang kalau bukan idenya membawamu ke sini. Dia juga bilang ingin membuang tongkatmu. Semua yang ada di pikirannya tidak terjadi. Jadi, kupikir tongkatmu juga ada di sini.”


“Teori macam apa itu?” Elloys malah tergelak.


“Bukan teori, anggap saja insting.” Raiden melirik gadis di sebelahnya. “Sekarang, giliranku tanya. Bagaimana kalau kamu tahu itu aku bukan Exodiart? Padahal aku mengenakan baju Exodiart, membawa helm konyol juga tongkatnya. Bagaimana kamu tahu kalau itu aku?” Raiden ingat jelas bagaimana Elloys memanggil namanya padahal dia masih mengenakan penyamaran.


“Insting.”


Giliran Raiden tertawa. “Hahaha… Sangat lucu, Ell.”


Raiden mendekatkan wajahnya. Jemarinya meraba dagu Elloys. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan. Sesaat kemudian, Raiden mengerjap, menghapus semua imajinasi liar alam pikirannya. Dia menarik tangannya lalu tersenyum lagi. “Aku sangat senang kamu mengenaliku.”


“Aku akan selalu mengenalimu.” Elloys menepuk bahu Raiden. “Sekarang, ayo keluar dari sini.”


Raiden berlari lebih dulu. Dia tak perlu melakukan banyak hal karena wyvern itu juga mengenali dirinya. Si monster bergegas mengejar. Tentu bukan sebuah kejar-kejaran yang adil. Si wyvern terbang sementara Raiden hanya menggunakan kakinya. Itu pun di atas permukaan yang sangat tidak bersahabat.


Untungnya, kali ini Raiden memiliki kapak. Dia pun mulai menyerang balik.


“Whirlwind!”


Kalau ada serangan yang bisa dipakai para Berserker untuk monster terbang, salah satunya pastilah whirlwind. Angin ****** beliung itu bergerak mengikuti keinginan Raiden. Dia bisa melemparkannya ke arah musuh seperti yang dia gunakan di atas kapal. Dia tidak perlu berada terus di tengah sebagai pusat. Raiden pernah mendengar teknik ini dari gurunya dulu. Namun, barulah saat Raiden pergi seorang diri beberapa waktu lalu, dia menyadari bagaimana cara menggunakannya.


Raiden mengambil kesempatan yang tepat. Ketika wyvern terbang rendah, Raiden baru menggunakan tekniknya. Ketinggian whirlwind miliknya tidak terlalu tinggi meski daya rusaknya baik. Beberapa Berserker lain bisa membuat whirlwind lebih tinggi darinya.


Si wyvern memekik kesal. Whirlwind itu tak melukai kakinya. Selagi kesakitan, mangsanya sudah kabur lagi. Dia pun terpaksa terbang melakukan pencarian lagi.


Raiden sudah berada di belakangnya. Dengan teknik yang sama persis, dia melakuan serangan. Whirlwind lain tercipta dengan cepat. Serangan ini mengenai bagian punggung wyvern. Kali ini, serangannya cukup telak.


Wyvern menjerit. Kepak sayap membawanya menjauh. Mulutnya terbuka lebar. Begitu menemukan di mana Raiden berada, wyvern menyemburkan apinya seiring dengan pelarian Raiden. Kecepatan lari para warrior memang sulit diikuti. Apalagi ketika apinya mendekat, Raiden berhasil menemukan batu besar untuk berlindung. Apinya menyembur api dengan sia-sia.


Raiden bersyukur kostum Exodiart tahan cuaca dingin dan panas ekstrim. Pakaian itu tidak terkoyak oleh panas yang terasa menyengat di kulitnya. Hembusan api si wyvern hanya terpisahkan oleh batu besar di belakangnya. Saat api lenyap, Raiden harus menyerang balik.


Sementara itu, Elloys menggunakan teleport dan mata telanjangnya untuk mencari tongkat sihir. Tongkat itu tidak dibubuhkan semacam sihir pengikat. Beberapa penyihir mengikat tongkatnya dengan sihir agar mudah ditemukan. Sepertinya, Elloys akan melakukan hal sama sekembalinya mereka ke Korumbie.


Tongkat sihir Elloys tak begitu berbeda dengan tongkat Exodiart. Mereka baru bisa mengeluarkan potensi maksimal bila dialiri sihir penggunanya. Selain itu, tongkat sihir Elloys juga bisa melipatgandakan kekuatan apinya. Batu di tongkatnya memang sensitif dengan api dan hawa panas.


Karena itu, semburan api wyvern sangat membantu. Elloys menangkap kilau tongkatnya di kejauhan, di bawah tumpukan batu-batu kecil.


Raiden beranjak ke atas batu yang jadi perisainya tadi. Dia menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat tinggi. Ketinggiannya kurang untuk mencapai langsung si wyvern namun sudah cukup untuk memberikan serangan lain.


Kapaknya membelah udara, menciptakan gelombang angin seperti bulan sabit putih kelabu. Gelombang ini mengarah langsung ke perut wyvern. Panik, wyvern pun mengepak cepat. Serangan itu berhasil dihindari. Tapi, dia tidak awas dengan serangan lain dari belakang.


BLAAAR!


Wyvern pun menjerit lagi. Bola api besar baru saja meledak di punggungnya.


Raiden tersenyum puas. Dia sudah mendapatkan kapak dan Elloys telah mendapat tongkatnya. Dua petualang lawan satu wyvern. Kali ini mereka lebih seimbang. Baiklah, tidak seimbang secara jumlah.


“Hei!” seru Elloys. “Cari lawan yang sama panasnya denganmu!”