Lunacrest

Lunacrest
Chapter 90



Keduanya kembali masuk ke dalam markas lalu menguncinya rapat. Amari menghampiri keduanya setelah baru saja melepaskan Vesa melalui sisi jendela lain di lantai dua.


“Kalian baru dari luar? Apa semua baik-baik saja? Wajah kalian pucat,” ujar Amari.


“Kita dapat masalah besar,” gumam Keniaru.


“Hei, kita bahkan enggak tahu ini asli atau bukan,” sahut Harufuji sambil mengangkat sobekan kain di tangannya. “Kita harus bicarakan ini dengan Exodiart.”


“Kain apa itu?” Amari mengernyit.


“Baju Elloys.” Keniaru tak lupa menambahkan, “Mungkin.”


Amari tak begitu paham apa yang terjadi. Dia pun mengikuti mereka kembali ke atas. Ruangan itu terlalu sempit untuk diisi delapan orang. Amari pun menunggu di depan pintu yang terbuka.


Begitu Harufuji dan Keniaru masuk, Raiden langsung bicara. “Sepertinya aku pernah melihat kain seperti itu di suatu tempat. Dari mana kalian mendapatkannya? Apa yang terjadi?”


Harufuji menceritakan semua pembicaraan yang terjadi di depan. Raut wajah para anggota Lunacrest berubah dalam sekejap. Tak seorang pun berani memberikan respon. Hingga akhirnya Amari memecah keheningan yang terasa terlalu lama.


“Kalian yakin ini bukan jebakan?” tanyanya lirih.


“Oh, itu sudah pasti jebakan,” jawab Praxel. “Masalahnya, Elloys memang belum kembali sampai sekarang.”


Keniaru mengernyit. Dia khawatir tapi tidak sadar betul tidak mungkin minta anggota lainnya untuk pergi menyelamatkan Elloys. Apalagi tuntutan mereka adalah Exodiart yang saat ini sedang terluka parah.


Seolah memikirkan hal sama, Praxel melanjutkan. “Kita tidak mungkin membiarkan mereka menemukan Exodiart di sini. Terlalu berbahayat. Kita tidak tahu siapa mereka juga apa yang mereka mau.”


“Sial!” Raiden meninju dinding sampingnya, membuat retakan halus di sana. Seandainya aku enggak meninggalkan Elloys waktu itu…”


“Semua bisa lebih buruk,” imbuh Kelsey. “Tenanglah, kita akan pikirkan jalan keluar.”


“Selagi kita berpikir, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Elloys.” Raiden memikirkan berbagai hal buruk dalam pikirannya. Mereka bisa saja melakukan hal tidak sopan atau menyiksanya saat ini. Secepat kekesalan serta kecemasan itu datang, secepat itu pula ucapan Curio menghampiri benaknya. Dia ingat Curio bilang kalau dia bisa ceroboh saat sedang cemas. Raiden pun melangkah keluar ruangan. Dia perlu menenangkan diri sebentar.


Tak seorang pun berniat menghentikannya.


Raiden turun ke lantai satu sementara rekan-rekannya kembali melanjutkan pembicaraan. Raiden membaringkan dirinya di sofa. Sejak bergabung dengan Lunacrest, dia sadar benar kalau mereka akan mendatangi bahaya. Dalam hal ini, monster. Dia tidak pernah mengira kalau yang mereka hadapi bukan hanya monster.


Dirinya ingin sekali membuka pintu, keluar, menghajar mereka yang berani menculik Elloys. Namun, dia sadar bukan begitu caranya. Selain ada peraturan yang mengikat mereka, banyak pertimbangan lain. Dikeluarkan Lunacrest merupakan satu hal, berkelahi dan membuat keributan hal lain. Dia bisa ditangkap bahkan lebih buruk lagi. Raiden menutup mata dengan tangannya.


Dia lelah.


Belum lagi ada penyesalan dalam benaknya. Sendainya dia tidak meninggalkan Elloys waktu itu, ceritanya pasti berbeda. Bisa lebih baik. Bisa pula lebih buruk. Kelsey benar soal itu.


Raiden mengepalkan tangan, memukul dinding dekatnya lagi, sambil bergumam pada diri sendiri. “Tenang, Raiden. Tenang!”


Di kamar, Harufuji kembali melempart pertanyaan mendasar. “Jadi, ada yang punya dugaan siapa orang-orang di luar itu? Apa mereka preman, kaki tangan musuh kerajaan, atau dari guild lain?”


“Guild lain?” Mierai melongo. “Sesama guild seharusnya saling membantu bukan—”


“Maelstrom,” sahut Exodiart.


Praxel menggeleng, “Kamu tidak berpikir kalau orang-orang itu bawahan Saman, ‘kan? Bukannya aku menganggap itu tidak mungkin. Tapi, aku tidak pernah melihat satu pun dari mereka. Mereka bukan anggota Maelstrom.”


Amari mengangguk. “Setuju. Tidak mungkin mereka dari Maelstrom.”


“Sebentar, sebentar.” Kelsey menengahi. Dirinya mendekat ke ranjang. “Kenapa kamu tiba-tiba berpikir kalau mereka dari Maelstrom, Exo? Apa ada kejadian yang tidak kami ketahui?”


Exodiart menjelaskan bagaimana Saman menemuinya begitu dirinya dan Praxel selesai rapat di kerajaan bersama beberapa guild lain. “Kupikir aku terlalu naif. Sekarang, kupikir Saman terlalu bersemangat mengamankan posisinya dan Maelstrom jadi nomor satu di Endialte.


Mendengar itu, Praxel menggelengkan kepala. “Kamu seharusnya cerita lebih awal. Kita bisa melaporkan mereka—”


“Tidak bisa, ini hanya dugaan. Kita tidak punya bukti sama sekali.” Exodiart memejamkan mata, berusaha membayangkan apa yang terjadi di luar sana. “Orang-orang itu mungkin bukan anggota resmi Maelstrom. Sudah rahasia umum kalau banyak petualang ingin bergabung dengan mereka.”


“Aaah!” Keniaru berseru, membuat rekan-rekannya melotot serentak padanya. “Benar! Aku pernah bertemu orang itu!”


“Pria berotot di bawah?” tebak Harurufji.


“Kami bertemu di markas Maelstrom. Waktu itu, Elloys dan aku juga mau mendaftar ke sana. Tapi, batal karena malas menunggu. Orang itu… Gadis itu… Mereka semua juga ikut mendaftar bersama kami.”


Praxel menarik tangannya ke dagu. “Jadi, mereka berusaha mencari tahu apa misi khusus Lunacrest yang diberikan Master Declan? Ada kemungkinan kalau mereka suruhan Saman. Tapi, bisa juga mereka melakukan atas inisiatif sendiri.”


Kenairu menggaruk kepela. “Tapi, untuk apa? Bukannya mereka sudah diterima di Malestrom?”


“Maelstrom sangat jarang menerima orang baru sebagai anggota aktif. Mereka biasanya menerima orang baru hanya untuk di belakang layar untuk administrasi. Nantinya, orang-orang ini akan dinaikkan statusnya bila ada posisi kosong.” Praxel mendengus kesal. “Mungkin mereka berpikir kalau bisa membawakan Saman informasi ini, mereka akan dijadikan anggota aktif.”


“Bodoh benar!” Harufuji dan Keniaru serentak menyahut.


Exodiart bergerak pelan, mendorong dirinya bangun.


“Tunggu, Exo. Kamu tidak berpikir mau ke luar ‘kan? Itu sangat bodoh!” sahut Praxel.  “Jangan berpikir kalau kamu memberitahu mereka misi rahasia kita maka semua beres. Orang-orang itu sampai berani menculik Elloys, mereka pasti punya niat lain.”


“Kak Praxel benar.” Harufuji mendekati ketuanya. “Jangan keluar. Bukannya tidak mungkin kalau mereka ingin… membunuhmu.”


Exodiart menggeleng. “Lalu, kalian minta aku diam saja di sini? Aku tahu risikonya. Aku juga tahu kalau mereka bisa berbuat lebih. Mereka bisa saja berniat membunuhku dan Elloys. Saat ini, kita tidak punya pilihan.”


“Kita punya!” seru Raiden. Dirinya berlari naik dari lantai satu ke lantai dua. Semua orang langsung menoleh padanya. “Kita buat mereka berpikir kalau bertemu dengan Exodiart.”


Tentu saja tak semua orang bisa langsung menangkap maksud Raiden.


“Membuat mereka berpikir bertemu Exodiart?” Praxel mengulangi ucapan adiknya. “Apa maksudmu? Kamu mau menyusuh Exo bicara dari balik jendela? Bisa-bisa mereka malah menyerang masuk.”


“Kita hanya perlu mengirim orang keluar.” Raiden tersenyum simpul.


“Siapa?”


Raiden melirik ke lantai satu, ke arah lemari hias mereka. “Exo, boleh kupinjam barangmu?”