
Elloys juga berani bersumpah, alarm itu meraung bukan karena dirinya. Begitu pula Harufuji. Ketiganya tak percaya ketika mendengar suara raungan disusul letusan senjata.
“Apa yang kamu lakukan!?” seru Elloys.
“Cuma menggali!” sahut Harufuji mengatasi keributan.
Exodiart tidak repot-repot mencari tahu, hanya sesekali menoleh ke arah perkemahan. “Bagaimana alarmnya bisa berbunyi?” Dia menyerahkan pada Elloys untuk mencari tahu darimana sumber suara dan bagaimana raungan tersebut.
“A-- Aku nggak tahu. Eh, sebentar!”
Elloys mengedarkan pandangan. Dari posisinya, dia bisa melihat perkemahan para bajak laut yang ada di bawah. Elloys cukup yakin kalau bukan mereka yang menyebabkan alarm tersebut meraung. Sesuatu yang lain. Orang lain yang membuat alarm tersebut berbunyi. Bukan mereka, dia yakin.
Para bajak laut tersentak dari tidur mereka. Mereka berlarian menuju ke arah lain sambil membawa-bawa senapan. Semua orang berlari termasuk si kapten. Hanya menyisakan beberapa orang saja untuk berjaga.
“Mereka pergi ke arah…” Elloys terkesiap. “Jangan-jangan--”
“Lari!” seru Exodiart. Dia berhasil membopong sebuah peti. Ukurannya sama persis seperti peti yang tadi dibawa lari Praxel.
Harufuji mengikuti dari belakang. Elloys memainkan sihir teleport agar bisa bergerak lebih cepat. Dia harus bergegas. Dibantu sihirnya, Elloys kini memimpin kedua rekannya.
Dari kejauhan, Elloys melihat pilar-pilar cahaya. Ukurannya sedikit lebih tinggi dari pepohonan palem. Kemudian, di juga melihat sambaran kilat disertai suara petir kencang. Tentu saja! Sesuai dugaannya, para bajak laut itu berlari ke arah yang dituju Praxel dan Kelsey. Keduanya pasti tanpa sengaja menginjak jebakan atau terpergok anggota kru.
Diam-diam, Elloys mengumpat dalam hati. Seharusnya dia yang pergi bersama Praxel. Setidaknya, dia bisa menjaga mereka dari jebakan. Atau… Baik, mungkin dia sendiri yang akan membawa mereka ke jebakan. Elloys mengusir segala kekesalannya dalam hati. Ini saatnya memberikan kontribusi lebih bagi guild dan tentunya, Praxel.
Elloys melesat cepat. Matanya bisa menangkap bagaimana Praxel bersusah payah berlari, menghindari tembakan sambil menghalau para pengejarnya dengan sihir. Untungnya, sekali lagi, tanah cukup bersahabat. Tak perlu khawatir tersandung atau terpeleset lumpur. Kelsey berada jauh di depan Praxel. Dia merapal sihir-sihir berupa pilar cahaya lalu menggunakan teleport untuk kabur.
Tak mau kalah, Elloys juga menggunakan sihir apinya. Kobaran api menyerang kru bajak laut dari samping. Beberapa orang yang tersambar berguling di tanah kesakitan. Pemandangan itu membuat Elloys bergidik. Separuh hatinya senang karena sihirnya berfungsi dengan baik, separuh lagi jijik karena sihirnya mengenai manusia.
Para petualang berlatih sihir dan teknik-teknik untuk melawan monster bukan sesama manusia. Menyakiti sesama manusia terasa menyebalkan. Setidaknya, itu pikiran Elloys. Sayangnya, tak ada pilihan lain.
Elloys mendekati Praxel.
“Di mana Exo dan Haru?” seru Praxel.
“Aku enggak tahu!” sahut Elloys, separuh berteriak untuk mengatasi keributan dari belakang.
“Kamu seharusnya lari bersama mereka!”
“Kamu bercanda!? Aku enggak mungkin meninggalkanmu dan--”
“Awas!” Praxel memotong. Tangannya menarik Elloys mendekat agar tembakan tak mengenai dirinya.
Elloys terkesiap ketika badannya bertubrukan dengan si Bishop. Berikutnya, dia buru-buru menggunakan sihir teleport untuk melesat jauh ke depan. Matanya melihat Kelsey tak jauh. Gadis itu melambaikan tangan dari balik pohon. Sepertinya, dia menemukan rute kabur yang lebih baik.
Ketika dirinya mendekat, Kelsey sudah lenyap dengan sihir teleportnya. Dia berada di sebuah jalanan menyempit dengan tebing pada kedua sisinya.
“Cepat!” sahut Kelsey. “Kita bisa menjebak mereka di sini.”
“Bagaimana caranya?” sahut Elloys, terengah-engah.
“Itu!” Kelsey menengadah ke atas. Tebing tersebut cukup tinggi dan menjorok ke luar. “Sedikit ledakan di bagian atas…”
“Larilah dulu, aku akan menyusul.”
“Tunggu! Kamu yang mau menembak dindingnya? Oh, maaf. Kupikir sihirku lebih kuat. Pilar sihirmu bahkan nggak sampai setinggi itu,” protes Elloys.
“Aku punya beberapa sihir lain.” Kelsey malah tersenyum.
Elloys mendengus geli. “Oh, ayolah. Lebih baik kamu yang pergi dulu, aku akan menyusul.”
Kelsey tak berniat protes. “Oke, terserah saja.”
Praxel mendekat. Elloys minggir agar Praxel bisa lewat. Elloys mun mundur sedikit, menjaga jarak agar dia sendiri tidak terkena reruntuhan. Saat para pengejarnya mendekat, Elloys merapal bola sihir. Semudah menjentikkan jari, Elloys menembakkannya tepat ke tepi tebing. Ujungnya pun runtuh, menjatuhkan batu serta kerikil ke bawah, menghalangi jalan bagi mereka yang hendak lewat.
Elloys membersihkan debu dari bahunya. “Beres!”
Dirinya berbalik, hendak menyusul Praxel. Baru satu kali teleport, dia mendengar suara ledakan dari belakang. Para kru bajak laut menembakkan tembakan ke arah reruntuhan batu. Kini, mereka lenyap jadi serpihan. Lebih buruk lagi, Elloys melihat seorang berbadan besar membawa pedang. Awalnya, dia mengira kalau itu Orc atau Minotaur, ternyata itu manusia. Lebih tepatnya, seorang bajak laut bermata satu, membawa palu besar dan mengenakan baju zirah. Penampilannya mengingatkan Elloys pada Raiden. Hanya saja, sosok di depannya tua dengan banyak luka pada wajah. Elloys bergidik ngeri. Panik, Elloys melemparkan sederetan bola api lagi ke bagian atas tebing. Bebatuan lebih banyak runtuh kembali mengenai sosok besar tersebut.
Elloys tak yakin kalau reruntuhan ini menutup jalan para bajak laut untuk menggapai mereka. Setidaknya, reruntuhan itu bisa memperlambat mereka. Elloys kembali menggunakan teleport untuk mengejar ketertinggalan.
Dengan sihirnya, Elloys bisa mengejar Praxel dengan mudah. “Ada petualang di tim bajak laut. Maksudku… kurasa mereka punya Vanguard atau Swordsman,” seru Elloys saat dirinya berada cukup dekat dengan Praxel.
“Ada petualang yang bekerja untuk bajak laut? Kupikir kita musuh.”
“Sepertinya yang ini tidak.” Elloys melesat ke depan dengan sihir teleport, lalu berhenti menunggu hingga Praxel datang. Saat Praxel cukup dekat, barulah dia menggunakan sihir teleport lagi untuk bergerak maju. “Mereka terhalang reruntuhan. Tapi, aku enggak yakin itu akan bertahan lama.”
“Kelsey!” Praxel memanggil. Suaranya bergema oleh dinding-dinding tebing. “Kamu tahu ke arah mana kita berlari?”
“Harusnya ini mengarah ke kota.” Kelsey sesekali menoleh ke belakang.
Elloys bergerak ke sampingnya. “Bagaimana kamu tahu?”
“Pejalaran sejarah.”
Elloys mencibir. Dia berhenti lagi untuk menunggu Praxel. “Kuharap dia benar. Tempat ini seperti labirin, hanya saja tanpa persimpangan,” kata Elloys pada Praxel.
“Itu kedengaran lebih buruk dari labirin,” ujar Praxel tanpa sedikit pun berhenti.
“Bagaimana bisa?” Elloys pun berlari, tak lagi menggunakan sihir teleport.
“Pernah berpikir kalau ini jalan buntu?”
Elloys menunjukkan tongkatnya pada Praxel. “Kalau begitu, kita tinggal menghadapi para bajak laut itu. Para Mage dilatih untuk melawan musuh, ‘kan. Kuharap Kelsey juga jago bertarung.”
“Dia jago.” Praxel menjawab singkat, tak ingin kehabisan napas.
Kelsey menggunakan teleport sekali, berlari lambat lalu berhenti. Bukan hanya berhenti. Kelesey bergeming di posisi dengan tongkat sihir tergenggam erat pada tangannya.
Awalnya, Elloys mengira kalau dia menemukan pintu keluar. Ketika dirinya mendekat, Elloys bisa melihat mengapa Astralist itu berhenti. Di depannya, sosok bertanduk sedang menghadang. Kepala besarnya menoleh, memperlihatkan mata yang berkilat merah dalam gelap. Hidung besarnya menghembuskan udara keras. Tangannya membawa kapak besar. Langkahnya membuat tanah bergetar. Cahaya bulan tak membantu banyak untuk menerangi sosok tersebut. Bukan masalah. Baik Kelsey maupun Elloys tak perlu melihat jelas. Mereka tahu apa itu.
Minotaur. Sungguhan.