Lunacrest

Lunacrest
Chapter 41



Elloys tidak tahu mengenai percakapan semalam. Dia hanya tahu kalau Praxel lenyap di pagi hari bersama Raiden. Barang yang dia bawakan masih di meja, tidak tersentuh. Elloys, untuk sesaat, terpaku di posisinya di depan nakas.


“Elloys!” Mierai berseru dari bawah. “Hunting, yuk!”


Elloys tersentak, dia pun menggunakan sihirnya untuk meninggalkan kamar dengan segera. Sambil melongok ke bawah melalui selusur lantai dua, dia menjawab, “Memangnya mau ke mana?”


“Ada misi guild menghancurkan perkemahan orc di hutan, ayo ikut!”


Elloys lenyap, muncul lagi di samping Mierai. “Ayo!”


Amari berdiri dari kursinya, “Tunggu sebentar. Kalian akan pergi berempat?”


Mierai tersenyum lebar. “Iya! Kenapa? Boleh ‘kan? Syarat misinya cuma minimal dua orang anggota guild, ‘kan?”


“Iya sih.” Amari kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, di mana Keniaru sudah berdiri dekat pintu sementara Reiyuel baru saja berdiri. “Seorang Wind Dancer yang luar biasa lincah, Pyromancer dengan dapur api, Blade Master yang enggak takut mati, dan Executor. Aku mendadak kasihan pada para monster itu.”


“Terima kasih pujiannya!” Mierai tersenyum manis.


“Tunggu, siapa bilang aku enggak takut mati?” sahut Keniaru.


“Kamu baru terluka parah kemarin dan hari ini sudah mau berburu lagi,” jawab Amari.


“Aku enggak terluka parah. Itu juga bukan kemarin,” sahut Keniaru lagi. “Kemarin aku… tidur… seharian… di kamar.”


Jawaban tersebut memancing tawa dari ketiga gadis sementara Reiyuel hanya mendesah. Elloys pun memotong sebelum pembicaraan tidak penting itu berlanjut. “Terima kasih untuk pengakuan jujurmu, Ken. Yuk, pergi, keburu siang.


 


 


Keempat petualang itu memasuki sisi hutan bagian dalam. Elloys tidak pernah ke sana sebelumnya. Bagian hutan ini punya pepohonan tinggi serta lebat, tanahnya lembab karena sulit mendapat panas matahari terik, serangga kecil berkeliaran. Elloys biasanya terganggu dengan keberadaan mereka, kecuali saat ada teman ngobrol.


Mierai dan Elloys ngobrol sepanjang jalan. Keniaru tak terganggu, Reiyuel hanya diam. Elloys menangkap kesan kalau Executor itu terganggu, tapi Mierai bilang kalau Reiyuel memang seperti itu. Hanya bicara di saat ada perlu.


“Sangat hemat kata,” bisik Mierai.


“Termasuk saat bertarung?”


“Terutama saat bertarung. Serangannya bisa datang darimana saja.”


Elloys mengangguk. “Dia cocok dengan kelasnya.”


Keniaru yang berjalan paling depan berhenti. Dia menoleh sambil melambaikan tangan agar rekan-rekannya mendekat.


“Mereka lumayan banyak,” bisik Keniaru.


Pemandangan di bawah menunjukkan banyak orc sedang berkeliaran dekat tenda-tenda mereka. Jumlah mereka mencapai selusin. Tak semuannya bersenjata. Mereka lebih sibuk dengan buruan besar mereka, seekor **** hutan.


“Baunya membuatku lapar.” Keniaru terdistraksi aroma panggangan.


Mierai menoleh pada rekan-rekannya, satu per satu. “Siapa yang mau jadi pembuka.”


Elloys mengibaskan kedua tangan, melepaskan jemarinya yang kaku. “Biar aku saja.”


Si Pyromancer lenyap dari pandangan. Dia muncul tanpa aba-aba ke tengah perkemahan. Lebih tepatnya, ke dekat **** hutan yang sedang dipanggang. Para monster perlu beberapa detik untuk menyadari apa yang tengah terjadi. Beberapa detik yang sangat penting itu berubah jadi genting.


Api unggun pun membesar dalam sekejap digantikan dapur api. Para orc terdekat tersambar. Mereka tak sempat berteriak apalagi lari. Orc lain yang menyadari serangan punya dua pilihan. Satu, lari. Dua, menyerang balik. Sayangnya, ketika serangan balik datang, Elloys sudah lenyap dari posisinya.


Serangan dari kubu Lunacrest datang lagi.


Hujan panah datang dari langit. Mereka bahkan lebih rapat dari tetes air hujan meski hanya terpusat pada titik sempit. Mierai melayang di udara, dalam arti sesungguhnya. Kakinya begitu lincah melompat dari satu pohon ke pohon lain selagi menghujani lawan dengan anak panah. Dia bagaikan sedang menari di atas langit sesuai nama kelasnya, Wind Dancer.


Serangan itu disusul dengan pusaran angin kuat bak tornado. Keniaru menerjang apapun yang ada di depannya. Para orc terpental di buatnya.


Di saat seperti itu, Elloys memperhatikan di mana saja posisi temannya. Tangannya telah memegang erat tongkat sihir, bersiap melakukan serangan api selanjutnya. Namun, tak ingin melukai teman, Elloys harus memastikan di mana mereka dahulu. Soal pengendalian, sihir api disebut lebih mudah daripada sihir petir, ini dikarenakan api merambat sedangkan sihir petir bisa melompat.


Elloys tak bisa menemukan di mana posisi Reiyuel. Dia memicingkan mata dari posisinya, berusaha menemukan kelebat hitam dari baju Reiyuel atau apapun mengenai si Executor. Kemudian, dia pun merasakan kedatangan sosok di dekatnya. Bukan Reiyuel yang dia temukan, melainkan sosok orc besar yang siap menyerang dari belakangnya.


Sebagai Pyromancer, serangannya efektif dalam jarak jauh. Jarak dekat meningkatkan risiko dirinya tersambar api. Untuk itu, mereka diharuskan belajar sihir teleport. Sayangnya, dalam kondisi seperti ini, Elloys masih terlalu kaget untuk bergerak.


Orc besar mengangkat pentungnya lalu berhenti. Gerakannya mematung. Bola matanya berputar ke atas. Badannya berhenti bergerak sepenuhnya lalu jatuh. Elloys bergeser agar tak tertimpa. Di balik si orc, Elloys menemukan orang yang dia cari. Reiyuel membawa sepasang belati berlumuran darah. Mereka cocok dengan luka dalam di punggung bagian atas orc.


“Te-- Terima kasih.” Elloys hanya sempat bicara demikian.


Reiyuel mundur, lenyap dalam kegelapan. Elloys tak yakin apakah itu sihir atau memang teknik menyembunyikan diri milik para Assassin. Meski sekarang tak bisa menemukan di mana Reiyuel berada lagi, keraguan di hati Elloys lenyap. Dia berbalik ke arah pertempuran. Keniaru ada di sisi kanan, Mierai tak jauh darinya. Di depannya sendiri, ada sekelompok orc berpentung datang.


Elloys mengulurkan tongkat ke depan. Sihir api berbentuk spiral melahap para orc. Tak ada seruan nama sihir, tak ada provokasi. Pikiran Elloys masih terpaut bagaimana Reiyuel muncul di belakang orc, menolong dirinya.


Para anggota Lunacrest tak perlu waktu lama. Mereka menemukan keheningan datang. Para orc telah berjatuhan. Bukan hanya **** panggang yang hangus, tapi juga para orc. Beberapa mengalami luka parah dan kehilangan banyak darah. Seperti kata Amari, dia memang pantas kasihan pada para monster itu saat kombinasi Pyromancer, Wind Dancer, Blade Dancer, dan Executor bersatu.


Mierai membereskan busur kecilnya ke balik punggung. Keniaru memperhatikan bagaimana Mierai menyimpan banyak anak panah di tabung-tabung. Mereka dipasang pada kedua paha dan punggungnya. Ukurannya kecil, nampak ringan, tak heran kalau Mierai bisa bergerak bebas meski membawa banyak barang.


Elloys sendiri mendekati Reiyuel. Si Executor membersihkan bekas darah dari belati sebelum menyimpannya kembali.


“Hei,” Elloys berkata sepelan mungkin agar Keniaru dan Mierai tak mendengar. “Apa kamu pernah dengar soal Black Knight?”


Reaksi di wajah Reiyuel berubah meski tak ada kata terucap darinya. Matanya yang tajam terbelalak. Badannya berputar pada Elloys seolah menanti apalagi yang akan dia katakan padanya.


Elloys malah tersenyum. ”Atau… kamu salah satu dari mereka?”


Reiyuel tak menjawab.


“Jangan khawatir. Rahasiamu aman padaku.” Elloys mengedipkan sebelah mata lalu berbalik. “Eh, tunggu!” Elloys berbalik lagi pada Reiyuel. “Kalau kamu ada di sini sekarang, artinya kamu sudah jadi anggota Lunacrest. Sama denganku. Bukan begitu?”


Kali ini Reiyuel tersenyum sambil mengangguk sekali. “Kita di pihak yang sama.”