Lunacrest

Lunacrest
Chapter 80



Mierai melompat jauh, menjauhi sosok monster yang hendak berlari padanya. Exodiart merapal sihir-sihir petir padanya. Sekalipun serangannya sukses mengenai tubuh monster yang besar, namun si cyclops tidak tampak kesakitan. Memang sesekali dia mengerang kesakitan ketika serangannya masuk. Namun, hanya itu. Serangan petir pun tidak memberikan efek sengatan yang biasanya muncul pada monster-monster kecil.


“Kulitnya keras!” keluh Exodiart sambil ikut berlari pula.


Si cyclops tak perlu berlari kencang. Langkah kakinya saja sudah cukup besar untuk menyamai lari mereka. Dia mengayunkan kapaknya ketika melihat Kelsey sudah berada dalam area serang. Serangannya luput, tentu saja.


Exodiart sesekali berlari mendekat agar lawan tertarik padanya. Dia tak mau monster itu mengincar anggotanya yang lain.


Kelsey menggunakan teleport berantai agar bisa kabur dengan cepat. Dia berlari menjauh ke arah hutan, berharap lawan tak akan mengikutinya. Mierai juga berpikir demikiran. Dia berlari ke sisi lain hutan. Praxel berlari melingkar. Dia tahu benar kalau Exodiart akan berusaha menjatuhkan lawan. Dia harus membantunya atau setidaknya membantu memberikan peringatan-peringatan yang diperlukan.


Cyclops mengayunkan kapaknya lagi ketika Exodiart cukup dekat. Sang ketua Lunacrest menggunakan sihir pelindung untuk menangkalnya. Ide cemerlang tapi tidak efektis. Serangan cyclops terlalu kuat. Sihir pelindung Exodiart hancur. Dirinya terpental jauh ke dekat kandang kosong.


“Awas!” Praxel berseru panik.


Lawan sudah menyeringai. Dia tidak akan melewatkan kesempatan itu. Kapaknya terayun ke bawah, langsung ke arah Exodiart yang sedang berusaha bangkit. Menyadari serangan tersebut, Exodiart mengubah gerakannya. Dia berguling ke samping. Serangan si monster menghancurkan kandang juga membuat si prajurit yang telah membatu itu jatuh hancur ke tanah.


Mierai bergidik ngeri dari posisinya. Sebagai ranger, dia sangat tidak suka melawan monster-monster raksasa. Mereka memang lebih mudah dibidik. Namun, ranger harus senantiasa menjaga jarak agar bisa memberikan serang-serangan. Agaknya menjaga jarak dari raksasa lebih susah. Jauh lebih susah. Ditambah lagi, cyclops termasuk raksasa yang membawa senjata.


Kelsey melihat bagaimana kedua rekannya kesulitan. Dia pun menunggu ketika cyclops membelakanginya. Saat itu, Kelsey memasukkan serangan-serangan lain. Dia memilih merapal tiga bola hitam besar dengan kilatan-kilatan putih di dalamnya. Ini bukanlah serangan petir. Ini lebih seperti bom yang bisa meledak. Dengan tongkatnya, Kelsey melemparkan satu per satu bola pada lawan.


Karena cyclops besar dan lebih lambat, semua serangan itu masuk. Meski begitu, tak ada efek yang dihasilkan selain kulit yang menghitam. Cyclops berpaling padanya, menyeringai, lalu kembali berfokus pada lawan sebelumnya.


Mengalihkan pandangan dari Exodiart jelas merupakan sebuah kesalahan. Cyclops menyadari kalau tongkat palu berduri Exodiart berpendar terang. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, petir-petir menyambar liar. Mereka merambat dalam garis lurus. Percikannya bak kembang api, kekuatannya seperti sambaran petir berukuran sedang. Lawan pun dipaksa mundur.


Mendapati kalau lawan mulai kewalahan, Praxel ikut memberikan serangan. Bukan serangan petir. Berbeda dengan kelas Paladin yang lebih ke arah penyerangan, kelas Priest yang dulu diambil Praxel mengajarkan mereka sihir putih atau sihir cahaya. Praxel tidak pernah melawan cyclops sebelumnya. Tapi, tidak ada salahnya mencoba sihir itu saat ini.


Tongkat kayunya terulur ke atas. Bola mungilnya bercahaya terang. Berikutnya, sebuah pilar putih muncul dari langit, menghujam tepat pada lawan. Suara cyclops teredam dalam dengung sihir Praxel. Kulitnya putihnya memerah dengan cepat, menunjukkan luka bakar dan bercak darah.


Mierai tak mau ketinggalan. Selagi lawannya dipaksa berhenti pada satu titik, dia bisa melepaskan anak panah sebanyak yang dia suka. Mierai pun melepaskan sederetan anak panah dengan peledak di ujungnya. Mereka membuat bola api dan efek terbakar ketika mengenai kulit lawan.


Kelsey melakukan teleport agar mendekat. Sama seperti sebelumnya, dia membuat bola-bola hitam. Bukan tiga, melainkan lima. Mereka mengelilingi lawan, bergerak mendekat seirama. Ledakan dari panah Mierai dan sihir Kelsey terjadi bersamaan. Menyeruak bak ombak, membahana di langit kelabu.


Keheningan tak kunjung datang untuk menggantikan ledakan tersebut. Kobaran api disertai asap menutupi sosok si raksasa.


Exodiart yang berseru lebih dulu, “Awas! Praxel, lari!”


Praxel terkesiap. Sebuah kapak besar muncul dari tengah kekacauan. Dirinya sempat bergerak tapi tak cukup jauh untuk menghindari seluruh serangan. Kapak itu menghempaskannya jauh ke belakang. Dirinya berguling di tanah yang basah oleh darahnya lantas terbatuk-batuk karena hempasan mengenai dadanya.


Kelsey bersiaga. Serangan selanjutkanya bisa datang kapan pun. Bola-bola hitam tercipta di sekitar lawan. Dia tidak perlu meledakkan mereka dulu. Tujuannya adalah mendeteksi pergerakan lawan. Tak perlu menunggu lama, satu per satu bola meledak akibat pergerakan dalam asap. Dia pun melangkah mundur perlahan-lahan, siap teleport ketika melihat ke arah mana lawannya pergi.


Angin membantu mengusir asap. Mereka bisa melihat sosok cyclops yang kini tak segagah tadi. Kulitnya dipenuhi bercak darah dan memar sana sini. Ada banyak bekas hangus juga lecet. Mata tunggalnya mengerjap kesal. Asap pasti membuatnya tak nyaman. Kapaknya sudah dijatuhkan ke tanah. Kedua tangannya ditarik ke samping, dadanya dibusungkan, matanya mengatup erat seiring raungan keras dilepaskan ke udara.


Skenario terburuk yang ada dalam pikiran Exodiart terjadi. Cyclops bukan hanya berbahaya karena ukuran tubuh besar mereka tapi juga tembakan dari matanya. Daya hancurnya tak perlu diragukan. Parahnya lagi, tubuh cyclops itu mengincar Praxel yang sedang tak bisa bergerak saat ini.


Sebelum mata lawan terbuka, Exodiart maju lebih dulu. Dia mengayunkan tongkat bola berdurinya pada lawan. Serangan itu tidak akan lolos, Exodiart tahu. Dia hanya tidak tahu bila serangan itu akan menghentikan lawan atau tidak.


Tongkat berduri Exodiart menghantam perut bagian kanan. Sekujur tubuh lawannya bergetar. Exodiart membiarkan tongkatnya berada di sana. Dia merapal sihir petir lain. Sambaran petir datang dari bagian bola berdurinya. Gelombangnya terasa begitu kuat bahkan dari si perapal sendiri. Percikan petir dan kilat berlompatan keluar selagi tubuh lawan menyerap semua serangan.


Mierai juga menyadari kengerian itu. Dia melepaskan anak-anak panah berulang kali, membantu Exodiart menghentikan serangan mematikan lawan. Mierai tak menggunakan panah peledaknya karena Exodiart berada dekat. Setidaknya, anak-anak panahnya bisa menancap ke tubuh lawan meski tidak dalam.


Berikutnya, tanah mulai berguncang. Exodiart tahu kalau serangannya tak mampu menghentikan lawan mengeluarkan sinar penghancur. Jadi, dia pun mendorong tongkatnya sekuat tenaga, berharap kalau serangan cyclops akan meleset dari titik awal.


Mata cyclops telat terbuka. Kelsey sudah ada di depan Praxel dengan tangan terentang. Mierai berteriak meski suaranya tak mampu terdengar oleh deru sinar penghancur.


Sinar penghancur melesat jauh, ke posisi di mana Kelsey berdiri tadi, lalu jauh ke belakang ke arah hutan. Praxel tak terkena sinar tersebut, begitu pula Kelsey. Serangan cyclops meleset karena ulah Exodiart. Debu dan asap mengaburkan pandangan. Dalam kekacauan itu, mereka bisa melihat bayangan si monster raksasa mulai miring lalu jatuh berdebum dengan kencang.


Praxel perlahan mengangkat wajahnya dari tanah. “A— Apa yang terjadi?”


Kelsey bergerak untuk bangkit. Ketika serangan tadi datang, sesuatu mendorongnya jatuh ke tanah sehingga terhindar sempurna. Bukan. Bukan sesuatu, tapi seseorang. Dia masih mengenali pelukan Exodiart. Saat ini, dia bisa melihat sosok itu tergeletak tak jauh dari posisinya. Kelsey sadar kalau Exodiart tak mengenakan baju merah hari ini. Warnanya memerah karena alasan lain.


“Exo?”