Lunacrest

Lunacrest
Chapter 93



Di markas Lunacrest sendiri, keresahan masih menaungi. Sudah lebih dari satu jam berlalu. Vesa belum kembali apalagi Raiden. Para anggotanya terjebak di markas sendiri. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Exodiart akan terjadi pada mereka. Dirinya tak bisa beristirahat sekalipun secara fisik, tubuhnya lelah dan lemah. Pikirannya terus melayang pada apa yang bisa terjadi pada Elloys dan Raiden. Kalau sampai terjadi sesuatu… Dirinya selalu berhenti di sana, tak berani melanjutkan.


“Kamu seharusnya tidur.” Harufuji melangkah masuk ke kamar yang telah kosong.


Mierai dan Kelsey ada di luar kamar bersama Amari. Sementara lainnya ada di lantai satu. Mereka mengawasi kalau-kalau ada bantuan lain datang atau ancaman mendekat. Entah mana yang lebih mungkin menghampiri lebih dulu.


Exodiart memulas senyum tipis yang lenyap secepat ia datang. Matanya melirik ke arah kantornya yang terletak di balik dinding kamar. “Aku punya senjata cadangan di sana seandainya kita harus bertarung.”


Harufuji mendengus geli. “Berhentilah berpikir yang aneh-aneh. Mereka akan kembali. Orang-orang itu akan pergi.” Maksud Harufuji jelas. Raiden akan kembali bersama Elloys dan orang-orang di luar markas mereka akan segera pergi.


“Kita tidak tahu.”


“Sebelumnya, Curio sempat kemari. Dia bilang kalau kegelapan datang tapi tidak akan menimpa Lunacrest. Aku sedikit mempercayainya.”


“Aku lebih percaya ucapan Kisa.”


“Dia bilang sesuatu soal kegelapan juga?”


“Dia tanya siapa yang kupercaya?”


“Dan, jawaban apa yang kamu berikan padanya?”


“Aku enggak menjawabnya waktu itu. Tapi, aku tahu aku enggak salah mempercayai orang.” Exodiart melempar senyum lagi pada Harufuji. “Aku belum bilang terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku.”


Harufuji menggeleng. “Praxel punya andil lebih besar di sana.”


“Tanpa kamu, dia enggak akan mencobanya lagi.”


Harufuji ikut tersenyum. Mereka pun kembali terdiam. Saat itu, Kelsey masuk lewat pintu yang masih terbuka.


“Ehem… Apa aku mengganggu?” tanya Kelsey tepat di depan pintu.


“Enggak, sama sekali enggak.” Harufuji malah keluar ruangan.


Exodiart melempar tatapannya ke langit-langit. Seharusnya tidak ada apa-apa lagi di antara mereka. Namun, justru di sanalah masalahnya. Ketiadaan itu membuat hubungan keduanya terasa canggung. Harus diakui, keduanya beradaptasi dengan cepat.


“Kamu masih merasa sakit?” Kelsey beranjak mendekat ke sisi ranjang. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini.”


“Aku juga.”


“Ngomong-ngomong, aku dengar berita soal tawaran kerajaan untukmu.” Kelsey menanyakan hal yang menurutnya sendiri tidak tepat ditanyakan saat ini. Namun, merasa tidak akan mendapat kesempatan lebih baik, dia pun menanyakannya. “Apa kamu akan menerimanya?”


“Kamu dengar dari Praxel?” tebak Exodiart.


“Dia khawatir padamu.”


“Aku belum memikirkannya lagi. Tapi, kupikir Lunacrest akan baik-baik saja tanpaku—”


“Tolong jangan bilang begitu. Bukan berarti aku tidak mau kamu dapat kedudukan lebih baik di kerajaan. Kamu yang mendirikan Lunacrest. Kamu ketua dan pimpinan di sini. Semua akan berbeda tanpamu.”


“Praxel dan kamu bisa menjalankan Lunacrest dengan baik.”


Permintaan Kelsey membuat Exodiart terdiam. Tatapannya meneliti wajah Kelsey. Wajah yang hampir selalu terbayang di benaknya hingga beberapa minggu lalu. Kelsey selalu kelihatan menawan dan anggun. Namun, dia tahu mereka tak bisa bersama. Tidak lagi. Akhirnya, Exodiart malah menghela napas pelan tanpa mampu menjawab.


“Apalagi dalam kondisi seperti ini,” tambah Kelsey. “Praxel dan aku tidak akan berani mengambil keputusan sulit.”


Exodiart tak menjawab lagi. Dia memejamkan mata, membayangkan berbagai hal yang telah dan mungkin bisa terjadi. Separuh dirinya senang karena diminta tinggal, separuh lagi tak ingin memikirkannya saat ini.


Selanjutnya, Amari menyusul masuk ke kamar dengan nampan beserta teko dan cangkir. “Jangan hiraukan aku. Aku hanya membawakan teh hangat untuk Exodiart. Praxel membuatnya dari rempah langka oleh-oleh dari Curio. Katanya, ini bisa memulihkan kondisimu lebih cepat.”


Exodiart tak bohong kalau dirinya haus. Dia pun mencoba bangun. Kelsey dan Amari membantunya agar bisa minum. Entah sugesti atau memang teh itu punya khasiat luar biasa. Exodiart merasa rasa sakitnya berkurang dan badannya lebih segar. Bukan berarti lukanya sembuh, tapi dirinya tak lagi merasa tertekan akibat luka tersebut.


“Aku ingin lihat ke luar,” ujarnya.


“Bukan ide baik,” bisik Amari. “Kelsey, beritahu dia.”


Kelsey menggeleng. “Exo perlu tahu.” Respon Kelsey membuat Amari terbelalak. Kelsey pun menambahkan, “Aku akan membantumu turun.”


Exodiart tidak memerlukan bantuan Kelsey untuk memapahnya turun. Dia bahkan sempat mampir ke kantornya untuk mengambil tonkat lain. Kemudian barulah dia turun perlahan sambil berpegangan pada selusur tangga. Satu anak tangga setiap satu langkah. Semua anggota guild memperhatikan ketua mereka. Mierai dan Amari mengawasinya dari atas. Harufuji dan Keniaru bergeming dengan tatapan padanya. Praxel bergegas naik ke samping Exodiart dan Kelsey.


Exodiart berhenti di bagian tengah tangga dengan jendela yang menghadap langsung ke luar. Dari posisinya, dia bisa melihat orang-orang di luar markas ngobrol dan bercanda.  Suara mereka keras, menumpuk satu sama lain, meski tak benar-benar bisa ditangkap jelas dari dalam gedung.


“Apa yang harus kita lakukan, Exo?” Praxel bertanya.


“Kita sebenarnya bisa melawan kita, tapi kita kalah jumlah,” bisik Kelsey.


Praxel buru-buru menggeleng. “Kamu ingin kita melawan mereka? Kalau pun kita bisa menang, aku tidak yakin itu diizinkan. Ada peraturan jelas mengenai pertarungan antar petualang di ibu kota begitu pula antar guild. Karena itu, mereka membuat Guild Showdown, Kelsey.”


“Aku tahu. Kalau boleh jujur, aku ingin sekali membabat mereka semua dengan sihirku.”


Exodiart akhirnya bicara. “Kamu bukan satu-satunya.”


Mendengar itu, Praxel mulai cemas. “Exo, kamu tak akan benar-benar menyuruh kita turun melawan mereka, ‘kan? Saat ini Raiden sedang membebaskan Elloys. Kupikir lebih baik kita menunggu.”


“Kita sudah menunggu cukup lama.”


“Lalu?”


“Ini tinggal masalah siapa yang bergerak duluan. Mereka atau kita. Kalau boleh kuingatkan, mereka menculik Elloys duluan.” Exodiart menatap terus ke luar jendela. “Ini saatnya kita bergerak!”


Tiba-tiba saja, orang-orang di luar hening. Mereka menatap lurus ke arah yang sama. Ke sisi langit rendah di mana Vesa terbang mendekat. Terbangnya tak lurus, sedikit oleng, bulunya ternodai warna merah, tabung pesan di kakinya hilang. Berikutnya dia melakukan pendaratan. Karena cukup rendah, Praxel tak bisa melihat di mana di mana dia mendarat.


Para petualang mundur teratur, menjauhi sisi seberang markas Lunacrest. Mereka menjauhi kehadiran seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan topeng putih tanpa hiasan di wajahnya. Satu tangannya menggenggam belati besar, satu lagi membawa seekor mayat burung elang yang darahnya bahkan masih menetes. Vesa bertengger di bahu orang itu.


“Mungkinkah…” Ucapan Praxel tertahan ketika sosok itu mendekati markas.


Dia berhenti di satu titik, mengangkat burung tewas di tangannya ke arah jendela tempat mereka sedang memperhatikannya. Ini membuat Exodiart tersenyum dan memberi satu anggukan pelan. Jendela itu seharusnya mengaburkan apa yang ada di dalam, namun Exodiart yakin pesannya tersampaikan.


“Apa itu Reiyuel!?” tebak Kelsey.