
Kelsey menepati janjinya pada Praxel. Dia muncul kembali di guild sore hari itu atau beberapa jam setelah Exodiart dan Praxel mendapatkan misi mereka dari jendral Fawke. Kelsey biasa mengikat rambutnya ketika berpetualang. Rambut itu kini dikuncir ekor kuda tinggi, warna rambut cokelatnya yang lebih gelap pada bagian bawah jadi nampak lebih terekspos. Dia tidak mengenakan gaun melainkan celana panjang hitam ketat, senada dengan atasannya yang bertudung. Seperti Mage lain, dia juga membawa tongkat panjang untuk merapal sihir. Milik Kelsey punya permata segilima magenta yang dikelilingi bingkai bulat.
Kelsey sudah berada di tangga, hendak naik. Saat itu, Exodiart dan Praxel justru sedang beranjak turun.
“Kelsey!” Praxel melempar senyum.
“Hai,” Exodiart menyapa.
“Hei…” Kelsey membalas nyaris tanpa suara.
Ketiganya akhirnya ngobrol di lantai satu.
“Kamu datang tepat saat kita dapat misi khusus,” ujar Praxel. “Misi langsung dari jendral Fawke. Penyerangan ke sebuah tempat rahasia.”
“Tunggu! Jendral Fawke?” Kelsey berpikir dia salah dengar. Tidak sembarang orang bisa menemui sang jendral.
“Dia yang memanggil kita.” Amari menimpali sambil menyuguhkan empat cangkir teh di atas meja. “Senang melihatmu di sini lagi, Kelsey.” Amari langsung duduk di sampingnya. “Kami semua merindukanmu.”
Kelsey tersenyum, sambil menepuk tangan Amari. “Aku juga.”
Praxel duduk tak jauh dari Kelsey sementara Exodiart duduk tak jauh dari Praxel. Menghindari keheningan, Praxel pun melanjutkan. “Fawke ingin kita ke gua dekat tebing dan membawa pulang apa pun yang ada di sana.”
“Apa pun itu maksudnya apa?”
“Sayangnya jendral Fawke tidak menjelaskan sampai ke sana.”
“Oke…” Kelsey menarik napas dalam-dalam, melirik ke Exodiart dengan hati-hati. Sesuai dugaannya, begitu tatapan mereka bertemu, keduanya langsung melempar pandangan pada Praxel. “Lanjutkan,” sahut Kelsey.
“Hanya itu informasi yang kita dapatkan.”
“Hanya itu?”
“Sebenarnya ada peta yang menunjukkan lokasinya.” Gantian Praxel menoleh pada Exodiart. Exodiart bergegas menyerahkan lipatan kertas tersebut padanya. “Ini,” kata Praxel sambil membuka lembarannya. “Fawke ingin kita ke sana berlima, dini hari, tidak boleh ketahuan siapa pun.”
Kelsey mendekat untuk melihat lebih jelas. Posisinya kini cukup dekat hingga Praxel bisa mencium aroma bunga lembut dari parfum yang biasa dipakai si Astralist. Entah mengapa, jantungnya berdegup lebih kencang. Dia pun mengerjap lalu mengembalikan tatapannya pada peta berupa lembaran tersebut.
“Aku setuju kalau kamu kembali tepat waktu.” Exodiart akhirnya ikut bicara. “Bagaimana? Bisa ikut kami besok?”
“Tentu.” Kelsey tersenyum tipis. “Aku butuh sasaran tembak sungguhan bukan boneka.”
“Hmm… mungkin itu akan jadi sedikit masalah,” bisik Praxel. “Sepertinya nanti di sana kita tidak akan berhadapan dengan monster, tapi manusia. Kita tidak bisa melawan mereka seperti melawan monster. Kamu paham maksudku, ‘kan.”
“Oke. Berarti aku hanya bisa mengincar kaki mereka.”
Praxel melongo, Amari malah cekikikan dengan teh di tangannya.
“Ehem!” Exodiart mengembalikan topik. “Jadi, nanti kita akan ke sana berlima. Kamu, Praxel, Reiyuel, Elloys, dan aku.”
“Lho, tidak jadi ngajak teman Elloys, nih?” sahut Praxel. “Bukannya tadi mau duet Mage dan Cleric?”
“Memang si Haru sudah daftar?” balas Exodiart.
Ketiga petualang serentak menoleh pada Amari yang masih menyesap tehnya dengan santai. “Sudah. Dia langsung daftar setelah kalian berdua pergi bersama prajurit. Mungkin dia tidak mau kehilangan kesempatan bergabung dengan guild idolanya.”
“Idola?” Exodiart mengernyit.
“Kamu.” Amari tersenyum lebar sambil menunjuk sang ketua.
“Hah?” Exodiart melongo.
Kelsey jelas setuju. “Sama sekali nggak.”
“Oke, oke.” Exodiart membereskan peta di atas meja. “Jadi, besok yang akan berangkat adalah Kelsey, Praxel, Harufuji, Elloys, dan aku.”
“Sebentar, aku penasaran. Aku sudah dengar soal Elloys dan Keniaru. Tapi, Harufuji? Dia baru daftar hari ini dan kamu mau mengajaknya ke misi khusus dari jendral Fawke besok? Benar begitu? Apa aku salah?” Kelsey memicingkan mata.
Exodiart menggaruk dagunya, “Nggak salah, sih. Memang begitu.”
“Kamu yakin?”
Kelsey nampak ragu. Exodiart terlihat santai dengan jawabannya. Praxel tak berniat terjun dalam perdebatan mereka, apalagi Amari. Mereka berada dalam keheningan sampai Elloys muncul entah dari mana.
“Hei, Harufuji itu kuat dan sangat baik. Dia juga pernah menyelamatkan nyawaku sekali. Bukan seseorang yang akan menusuk dari belakang pula. Kamu meragukannya?” Elloys muncul di depan mereka sambil berkacak pinggang. “Ngomong-ngomong, memangnya siapa kamu bisa bilang begitu di sini?”
Kelsey dengan santai berdiri. Dia mengulurkan tangannya. “Hai, Elloys. Aku dengar beberapa hal tentangmu dari Praxel. Namaku Kelsey, salam kenal.”
Elloys butuh beberapa detik untuk menjawab. “Kelsey? Oh, jadi kamu orangnya…” Elloys memotong ucapannya sendiri. “Hai, salam kenal!” Elloys menjabat tangan Kelsey. “Jadi, tadi aku dengar soal misi khusus atau semacamnya.”
“Yup. Besok, dini hari. Bisa kamu beri tahu Harufuji soal ini?” tanya Praxel.
“Jam dua pagi kumpul di sini,” tambah Exodiart. “Lebih baik kumpul lebih awal.”
“Tentu.” Elloys mengangguk cepat. “Dia pasti bersemangat soal misi perdananya.”
“Dia atau kamu?” Praxel membuat senyum simpul.
“Kami. Hihihi…” Elloys pun melesat ke pintu. “Aku akan ke tempat Harufuji. Menurutku, lebih baik kita nggak tidur daripada harus bangun jam segitu. Lebih mudah terjaga sampai jam dua daripada harus bangun jam dua.”
“Benar juga.” Praxel setuju.
Exodiart langsung meradang. “Hei, tidur! Kalian butuh istirahat! Kita semua butuh kondisi terbaik buat besok. Jangan sampai sakit.”
“Siap, pak ketua!” Elloys pun lenyap.
Kelsey melirik Praxel. “Persis seperti katamu. Sangat ceria seperti api membara.”
“Bukan seperti api membara, tapi bola api.” Praxel jadi terkekeh.
Exodiart mengalihkan matanya dari Praxel dan Kelsey. Lebih baik, dia fokus pada misi esok pagi. Dia memang bilang kalau pernah melihat aksi Harufuji di Paladin’s Race. Menurutnya, Harufuji cukup jago. Dia bisa mengeluarkan sihir listrik seperti dirinya juga sihir pelindung. Kalau hal buruk terjadi, mereka berdua seharusnya bisa mengeluarkan yang lain dari bahaya. Tapi, bagaimana kalau tidak?
Daripada khawatir pada kemampuan Harufuji atau kemungkinannya dia kabur saat bahaya, Exodiart lebih khawatir pada kinerja timnya. Jujur saja, dia agak khawatir bila mereka berlima bisa bekerja sama dengan baik. Dirinya, Praxel, dan Kelsey sudah terbiasa melakukan misi bersama serta menjaga satu sama lain. Elloys sendiri sepertinya sudah sering pergi bersama Harufuji. Mereka bagaikan dua tim yang digabung jadi satu.
Kelsey bisa menebak raut wajah Exodiart dengan mudah. Mulutnya sudah terbuka untuk bicara namun sesaat kemudian, dia menutup erat-erat bibirnya. Exodiart bisa menjaga pikirannya sendiri. Dia selalu bisa keluar dari krisis apa pun. Berbeda dengan dirinya. Kelsey tidak perlu mencemaskannya.
Amari pun bangkit berdiri. “Baik. Kalau kalian sungguhan mau kumpul di sini jam dua pagi, menurutku lebih baik kalian pulang sekarang dan tidur lebih cepat. Oh, ya. Apa kalian memerlukanku di sini besok subuh?”
Exodiart melirik lemari baru mereka. “Amari, kamu ingat di mana aku menyimpan perisaiku?”
“Perisai pasangan helm konyol itu?”
“Iya. Seingatku, aku membawanya ke sini juga.”
“Kamu mau memakainya besok? Bukannya kamu bilang kalau perisai itu membuat energimu terkuras lebih cepat?”
“Iya, tapi perisai itu membuatku tetap hidup.”