Lunacrest

Lunacrest
Chapter 89



Raiden tiba di markas seorang diri. Dia belum sempat mendorong pintu, pintu telah terbuka sendiri. Amari membukakan pintu untuknya sambil meletakkan jari di bibirnya agar dia tetap diam. Kemudian, dia mengunci pintu markas rapat-rapat. Raiden kini menyadari kalau jendela-jendela mereka juga tertutup tirai.


Ketika masuk, Raiden baru bicara. “Semua aman?”


“Curio baru saja pergi untuk mengantar Kisarumi.”


“Mengantar siapa?” Raiden ingat mereka melakukan perdebatan sebelum berangkat mengenai siapa yang akan menjaga markas. Dia juga ingat kalau Curio akan membereskan semuanya. Karena Elloys dan Keniaru percaya padanya, mereka pun pergi. Sekarang, dia mendengar nama lain dilibatkan. “Jangan bilang kalau Curio memanggil Kisarumi ke sini untuk membantu kalian menjaga markas. Apa dia pikir kalau ada pendeta di dalam sini, para pencuri tidak akan kemari?”


“Kenyataannya, itu berhasil.” Amari memberi isyarat lagi agar dia memelankan suara.


“Bagaimana kalian memanggilnya? Mengirim pesan dari Vesa?” Raiden bertanya dengan suara lebih pelan.


“Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu.”


“Bagaimana dengan kakakku?”


“Naiklah, mereka semua ada di kamar.”


“Semua?”


“Ya, mereka semua ada di atas. Naiklah!”


Raiden pun menaiki tangga, mendapati kalau pintu kamar separuh terbuka. Di dalamnya, Exodiart sedang berbaring sementara Praxel membebatkan perban di atas lukanya yang telah dioles obat. Harufuji berlutut dekat, menjadi asisten kalau-kalau Praxel butuh sesuatu. Keniaru di ujung, diam memperhatikan. Raiden bersyukur mereka sudah tiba dengan selamat sekaligus mempertanyakan keberadaan mereka.


“Kenapa kalian enggak membawanya ke rumah sakit?” Raiden bertanya pelan, takut mengganggu Exodiart yang tidur.


Sang ketua nyatanya tidak tidur. Dia melirik kehadiran Raiden, balik bertanya. “Kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan yang lain?”


“Mierai dan Kelsey sedang melapor pada para prajurit. Elloys… Aku enggak tahu dia bertemu siapa. Tapi, sepertinya mereka kenal.” Raiden sempat melihat kedua gadis itu ngobrol sebelum dirinya benar-benar pergi.


Praxel menyelesaikan tugasnya baru berpaling pada adiknya. “Kami berpapasan dengan kapal lain tadi. Beberapa kapal, maksudku. Kapal yang diisi prajurit, seorang jendral, dan badut kerajaan. Untungnya mereka tidak melihat kami.”


“Kamu berpikir jendral itu musuh dalam selimut?”


Praxel menggeleng, membiarkan Exodiart menjawab.


“Bukan, kupikir orang dalamnya justru si badut kerajaan. Dia jelas-jelas tidak punya urusan dengan serangan di Pothine. Dia mencari teman. Menggaet seorang jendral sehingga punya kaki tangan sendiri.” Exodiart menghela napas panjang, lalu mulai bergerak.


“Tunggu, kamu mau apa?” sahut Harufuji.


“Melapor. Declan dan Fawke harus tahu soal ini.”


“Exo, kita sama-sama tahu kalau jalan saja, kamu belum kuat. Kita bersyukur para pendayung itu bisa membawa kita sampai ke markas naik kereta jerami.” Praxel mendesah. Suaranya terdengar lelah. “Kita perlu memikirkan strategi lain. Kita harus memberi tahu mereka dengan cara yang lain.”


“Vesa,” ujar Exodiart.


“Kita bisa mencobanya.” Praxel mengangguk setuju.


“Biar kupanggilkan Amari,” sahut Keniaru. Dia sudah bosan sedari tadi diam saja. Dirinya pun melangkah keluar. Biasanya urusan surat dan burung pengantarnya diurus Amari atau Exodiart sendiri.


Ketika dia keluar, dia menemukan Amari sedang membukakan pintu untuk Kelsey dan Mierai. Keduanya buru-buru masuk lalu Amari mengunci lagi pintunya. Dia hendak bicara, namun para gadis itu kasak-kusuk membahas hal lain. Keniaru sekarang menyadari adanya hal aneh di luar sana.


Dari celah tirai jendela di tangga, Keniaru mendapati sekelompok petualang berada di luar markas. Mereka terdiri dari berbagai kelas terlihat dari aneka senjata yang dibawa. Orang-orang itu saling melempar senyum kadang juga bicara sambil terus mengawasi pintu markas Lunacrest. Ini membawa Keniaru pada pertanyaan yang sama dengan para gadis di bawah.


“Orang-orang itu mau apa?” Keniaru menggaruk kepalanya, kebingungan.


Kelsey melanjutkan, “Ternyata mereka hanya diam saja.”


“Menurutmu, itu ulah si badut?” tebak Keniaru. Mierai dan Kelsey bertukar pandang. Keniaru langsung menambahkan. “Ah, lebih baik kalian dengarkan ceritanya di atas saja. Mereka sedang membahas soal itu. Ngomong-ngomong, Amari, Exodiart membutuhkan kamu dan Vesa.”


Amari langsung mengangguk. “Kalau begitu, kamu tunggu di sini.”


“Oke.”


Selagi ketiga gadis tersebut naik, Keniaru mulai resah. Dia berulang kali melirik keluar. Separuh menanti, separuh mengharapkan kalau akan ada gerakan-gerakan di luar sana. Namun, tidak ada. Perubahan yang terjadi hanya suara-suara. Mereka bicara dengan suara keras tak wajar seolah ingin membuat orang-orang di dalam gedung mendengarnya. Kadang mereka juga tertawa serentak seolah ingin memberi ancaman.


Saat dirinya mulai tak tahan, Harufuji tengah menuruni tangga.


“Ayo, deh!” sahut Harufuji.


“Ke mana?”


“Kamu mau samperin mereka, ‘kan? Yuk, kutemani. Kakak-kakak di atas lagi sibuk, kita saja yang urus ini.” Harufuji melempar senyum simpul. “Aku sendiri enggak suka lihat mereka semua di luar sana. Mengganggu pemandangan. Mereka pikir kita takut?”


“Seingatku, ada peraturan soal berantem sesama petualang.”


“Itu triknya. Jangan panas hati. Biarkan mereka serang duluan. Selanjutnya, akan dihitung pembelaan diri.” Harufuji mengulurkan kepalan tangan.


Keniaru menyambutnya dengan kepalan tangan miliknya sendiri. “Yuk!”


Saat kedua laki-laki itu membuka pintu, semua mata langsung tertuju padanya. Suasana mendadak hening. Tak ada yang bicara apalagi tertawa. Tanpa takut, Harufuji mengedarkan tatapannya pada setiap orang.


Keniaru menyilangkan tangan ke depan dada, “Ada yang bisa kami bantu?”


Orang-orang itu melempar pandangan pada seorang laki-laki muda besar. Otot-otot tangannya terlihat jelas karena mengenakan baju tanpa lengan. Di punggungnya, tergantung kapak bermata tunggal besar. “Tolong jangan hiraukan kami. Kami hanya sedang menunggu Exodiart.”


Keniaru sadar benar kalau orang-orang itu pasti tak mengira Exodiart sudah ada di dalam. Kemudian, dia sadar kalau pernah melihat wajah orang tersebut. “Hei, apa kita pernah bertemu?”


Lawan bicaranya hanya tersenyum lebar, “Mungkin.”


“Exodiart sedang sibuk melapor ke kerajaan,” jawab Harufuji asal, melangkah maju. “Kalau ada pesan, bilang saja. Nanti biar kami yang sampaikan.”


Pria bertubuh besar itu menyeringai lebar.


Harufuji dan Keniaru saling lempar pandang. Mereka tahu punya penilaian yang sama untuk orang ini. Bodoh.


Pria itu melangkah maju. Harufuji bersiap merapal petir sementara tangan Keniaru malah sudah memegangi pedangnya. Tak perlu satu detik untuk mencabut pedang dari sarungnya. Tentu saja, tidak ada serangan. Pria itu mengulurkan sobekan kain kecil berwarna ungu.


“Kalian pasti mengenali ini.”


Harufuji menerima kain tersebut lalu melempar pandangannya kembali pada Keniaru. Ini membuat Keniaru malah angkat bahu.


“Ayolah, tidak perlu pura-pura. Kalian pasti tahu itu sobekan baju siapa.” Si pria besar kembali tertawa sementara kedua petualang di depannya malah mengernyit. Dia pun berbalik ke belakang. “Hei, kalian enggak salah memberiku sobekan kain, ‘kan.”


“Benar kok!” Lilith pun maju menggunakan teleport. “Mereka saja yang enggak paham kalau itu baju Elloys.”


Mendengar nama tersebut, Keniaru langsung menggertakan gigi. “Di mana Elloys?”


“Nah, kalau kalian sudah paham, ini jadi mudah.” Si pria besar tertawa lagi. “Bilang pada Exodiart, Elloys ada pada kami. Kalau dia menginginkannya, suruh dia keluar untuk mengambilnya sendiri. Kutunggu satu jam lagi. Kalau dia tidak muncul, aku tidak tahu bagaimana nasib Elloys.”