Lunacrest

Lunacrest
Chapter 53



Lampion-lampion sudah terpasang di langit-langit markas guild. Exodiart memasangnya menggunakan tangga bersama Amari. Mierai melompat dengan lincah untuk memasang beberapa hiasan lainnya. Sebagai Wind Dancer, dia tidak memerlukan tangga sama sekali. Lompatannya tinggi, langkahnya ringan. Dia bagaikan sedang menari di udara.


“Sebentar lagi mereka pasti datang,” ujar Amari sembari melirik dari jendela. Kota Korumbie sudah menggelap. Lampu jalan sudah menyala.


Kelsey beranjak keluar dari dapur. “Aku sudah menyimpan party popper di lemari bawah. Kuenya juga sudah siap. Ada di lemari atas dapur. Praxel enggak akan menyangka kita membuat pesta kejutan untuknya hari ini.”


Amari mengalihkan pandangannya pada Exodiart. “Kamu enggak keceplosan bicara sesuatu padanya, pak ketua?”


Exodiart mengingat percakapannya pagi tadi. “Aman. Aku bahkan enggak ngucapin selamat ulang tahun padanya. Aman, aman.”


“Oke. Berarti kita tinggal menanti mereka?” Mierai melompat turun dari ujung jendela setelah memasang hiasan-hiasan lain. “Hadiah untuk anggota baru juga sudah beres, ‘kan? Aku enggak sabar melihat kita semua pakai ini.”


Amari buru-buru menghampiri kardus yang dimaksud Mierai. Kotak kardus besar itu menyembul tipis dari balik mejanya. Tidak akan terlihat kalau tidak diperhatikan baik-baik. Meski begitu, Amari tidak mau kalau sampai kejutannya tak jadi kejutan lagi. Sambil protes, dia mendorong masuk kardusnya. “Kenapa enggak bilang dari tadi kalau masih nongol?”


Mierai hanya cekikikan. “Dari atas, kotaknya kelihatan banget, lho.”


Selagi mereka bicara, pintu markas terdorong pelan. Reiyuel melangkah pelan. Matanya mengawasi interior ruangan markas yang kini nampak lebih cerah dibanding biasanya. Ada senar-senar dengan lampion gantung warna warni juga hiasan rumbai-rumbai dekat jendela. Di antara semuanya, yang paling mencolok justru ada di tangga. Sebuah spanduk kain besar digantung pada selusur tangga bertuliskan LUNACREST.


Ketika tatapan Reiyuel bertemu dengan Exodiart, Exodiart langsung menjawab, “Ya.” Dia bisa membaca pertanyaan di wajah anggotanya bahkan sebelum Reiyuel bicara apa pun. “Kami memasangnya sendiri. Kami memang sengaja tidak mengajakmu untuk membantu dekorasi,” tambah Exodiart.


Reiyuel mengangkat alisnya, terkesan dengan tebakan ketuanya.


“Bagaimana kondisimu?” Kelsey melempar pertanyaan sambil mendekat.


“Itu hanya goresan.” Reiyuel mengulang jawabannya kemarin. Lalu, dirinya tersentak oleh bayangan dari balik spanduk di tangga. Raiden muncul dari baliknya. Dia baru selesai mengikat tali spanduk bagian bawah.


“Apa?” Raiden bertanya tak ramah ketika mendapat sorot tajam dari Reiyuel.


Reiyuel menggeleng.


“Teman-teman, ada yang datang,” bisik Amari.


Semuanya serentak menoleh pada pintu. Keniaru dan Harufuji datang bersamaan. Mereka tak lagi mengenakan baju petualang dengan jubah atau pelindung. Mereka hanya mengenakan kemeja dengan sweater. Begitu pula anggota Lunacrest yang lain. Kelsey mengenakan gaun panjang seperti Amari, Mierai lebih memilih mengenakan rok pendek dan sepatu bot tinggi. Sebagai ketua, hanya Exodiart yang mengenakan blazer saat ini. Raiden malah hanya mengenakan kaus di balik jaketnya.


“Di mana Elloys?” sahut Mierai. “Kalian enggak pergi bareng?”


“Iya. Dia di belakang—” Keniaru berhenti ketika menyadari kakak sepupunya tak lagi mengikuti mereka. “Lho, tadi dia di belakang, kok. Iya ‘kan, Haru?”


“Iya. Dia ke mana, ya?”


Dari posisinya yang ada di tangga, Raiden bisa melihat ke luar melalui jendela. Jangkauan pemandangannya lebih luas. Meski tak melihat jelas, dia mengenali sosok Elloys dan rambut ungunya muncul hilang oleh sihir teleport. Elloys bukan pergi mendekati markas Lunacrest, justru menjauhinya.


Orang-orang di bawah mulai bercakap-cakap. Raiden melangkah turun. Masih ada sepuluh menit sampai jam yang dijanjikan. Exodiart mungkin akan memberikan waktu tambahan hingga Elloys datang, meski dia sendiri tidak yakin kalau Elloys benar-benar akan muncul. Tentu saja, dia benar soal itu.


“Kita mulai duluan, yuk,” ujar Exodiart ketika jam menunjukkan pukul setengah delapan. “Jadi, di sini aku mau berterima kasih lebih dulu untuk setiap kerja keras kita semua. Aku akan mulai dari Amari. Amari, terima kasih sudah menyediakan berbagai hal lebih dari ekspektasi kami.”


Amari tersenyum lebar dengan mata berbinar.


Exodiart sedang berdiri. Dia mengedarkan pandangannya pada setiap anggota yang duduk di sofa menantikan pidato singkatnya. ”Reiyuel, terima kasih untuk performa yang luar biasa di Guild Showdown. Mierai, terima kasih karena selalu optimis. Raiden, Kelsey, terima kasih kalian mau kembali kemari. Keniaru, terima kasih sudah menyelesaikan banyak misi guild padahal kamu masih anggota baru. Harufuji, terima kasih untuk semua teknik dan perlindunganmu.”


Setiap orang tak bisa tak tersenyum ketika mendengar nama mereka disebut berikut pujian. Raut mereka berubah melembut atau juga malu.


Exodiart berhenti sebentar. “Seandainya Elloys di sini, aku akan bilang, terima kasih sudah membawa wajah-wajah baru di sini.” Dia menoleh pada Keniaru dan Harufuji. “Elloys dan kalian berdua benar-benar angin segar bagi kami. Karena itu, kupikir ini juga pesta sambutan untuk kehadiran kalian bertiga. Kami menyambut kalian dengan tangan terbuka.”


Keniaru dan Harufuji saling lempar pandang, tak tahu bagaimana harus bereaksi.


“Hahaha…” Exodiart malah tertawa. “Baiklah, aku tahu payah kalau harus pidato atau semacamnya. Langsung saja, jadi aku membuat bros untuk kita kenakan bersama. Amari, bisa bantu aku?”


“Sebuah kehormatan, pak ketua.” Amari menyeret kardus besar yang ada di balik mejanya. Di dalam kardus ada bros berbentuk perisai dengan sayap dan pedang dengan tulisan Lunacrest. Amari mengambil satu lalu menyerahkannya pada Exodiart.


“Ini adalah emblem kita,” kata Exodiart. “Kuharap kita mau memakainya saat menjalankan misi. Dan, ada satu lagi.” Exodiart menerima buntalan kain dari Amari dan langsung nyengir. “Pelindung bahu untuk kita semua! Aku tahu, aku tahu, enggak semua orang penggemar pelindung bahu seperti ini. Mungkin, ini stigma para Cleric. Intinya, kedua barang ini tidak wajib. Ini hanya atribut. Hal terpenting bukan benda-benda ini tapi apa yang ada di dalam hati kalian. Kuharap, malam ini kita bukan hanya berpesta merayakan kemenangan tapi juga bisa lebih akrab satu dengan yang lain. Semoga Lunacrest tetap ada dalam hati kalian.”


Di akhir ucapannya, Mierai langsung bertepuk tangan. Reaksinya spontan memancing yang lain bertepuk tangan juga. Exodiart dibuat salah tingkah.


“Ehem. Yakin enggak melupakan sesuatu?” bisik Kelsey.


“Lupa? Enggak.” Exodiart menjawab cepat, kemudian tertawa lagi. “Hahaha… Mana mungkin aku lupa? Praxel! Tolong berdiri di sebelahku.”


“Hah? Perasaanku enggak enak,” bisik Praxel meski tetap berjalan mendekat.


Exodiart menyambut lalu merangkul bahunya. “Kamu adalah wakil terbaikku. Selamat ulang tahun! Mari kita mulai pestanya!”


Mierai melompat lincah ke udara. Party popper meledak, mengotori seisi markas. Amari datang dari belakang dengan kue lengkap dengan lilin menyala. Kelsey mengikuti di belakangnya dengan tas kertas berisi hadiah. Praxel tersipu malu, wajahnya tak bisa menyembunyikan senyum. Wajahnya lebih memerah lagi ketika Kelsey menyerahkan hadiah dan keduanya bertukar senyum.


Mereka pun berpindah ke ruang belakang, makan malam bersama, ngobrol santai, bercanda. Saat itu, Exodiart menawarkan idenya untuk jaga malam. Di luar dugaan, para anggota menyetujuinya dengan mudah. Mereka akan giliran jaga berdua-berdua dengan durasi tiga hari dua malam. Malam itu, Exodiart dan Reiyuel akan mengawali piket jaga malam.


Menjelang pukul sembilan, Raiden melirik ke arah jam. Keniaru sedikit resah karena Elloys tak kunjung muncul. Akhirnya, Keniaru, Harufuji, dan Raiden pergi berdua untuk mencari si Pyromancer.


Kota Korumbie tidak sekecil itu. Mencari Elloys sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Raiden lebih bisa menebak kenapa Elloys tidak datang ke pesta daripada menebak di mana Elloys saat ini berada. Ketika berjalan di bawah cahaya bulan yang mulai tertutup awan, hanya satu yang dipikirkan Raiden. Api dan Air.