
Elloys serius dengan idenya soal tidak tidur. Dia bermain-main di kamarnya yang ada di lantai dua, memainkan bola-bola api bak pemain sirkus tanpa takut salah mengenai dinding atau lantai kayu. Berbeda dengan Keniaru yang menyewa satu kamar dalam sebuah rumah, Elloys menyewa sebuah rumah mungil dua lantai. Lantai pertama memiliki dapur, kamar mandi, serta ruang makan. Lantai dua dihubungkan dengan tangga kecil di sisi kiri. Tidak ada pintu penghubung ke kamar. Elloys bisa saja melompat dari lantai atas ke bawah bila dia mau. Ralat. Teleport.
Gadis penyihir ini sangat suka menggunakan sihir teleportnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jarak dekat. Dia tidak begitu suka menggunakannya untuk jarak jauh. Selain menguras energi, Elloys selalu takut salah tujuan.
Satu per satu bola api lenyap di tangannya. Waktunya hampir tiba. Menjelang pukul dua, Elloys bergegas mengenakan rok pendek, sepatu bot, serta kaus lengan pendek dengan sedikit sentuhan pelindung logam dekat bahu. Kombinasi pakaian yang sering dia pakai memang sedikit terbuka, namun Elloys suka perpaduannya. Ini tidak akan menghalanginya beraksi.
Ada beberapa kisah konyol terjadi pada teman-teman penyihirnya. Mereka merapal bola api, namun belum sempat melemparnya, bola api ini malah mengenai baju mereka sendiri. Jangan sampai itu terjadi padanya.
Elloys mendengus geli. Dia teringat pembicaraannya dengan Raiden beberapa waktu lalu. Tangannya telah selesai mengikat rambut. Dia memilih membuat dua cepol dengan ujung agak meruncing. Penampilannya langsung nampak berbeda. Kalau Raiden melihatnya, mungkin Raiden akan memanggilnya setan api atau sejenisnya. Cepol itu jadi seperti tanduk, apalagi ditambah warna rambutnya yang mencolok.
Tak lama, kegeliannya lenyap. Dia ingat kalau Raiden menghilang. Praxel tidak tahu di mana dia. Elloys jadi merasa tidak enak. Seandainya dia datang lebih awal untuk menolong Keniaru dan Raiden, mungkin kejadiannya akan berbeda. Mungkin juga tidak. Elloys bukan penggemar rasa bersalah.
Dirinya pun bangkit. Dia menarik tongkat panjangnya, teleport hingga ke luar pintu, menuju markas Lunacrest ditemani bulan sabit dalam langit cerah.
Praxel tiba pertama di markas. Dia duduk seorang diri setelah menyalakan lentera. Pikirannya menerawang ke masa lalu dan masa depan. Tangannya mengepal tanpa sadar disusul desah panjang. Dia harus fokus. Kalau tidak, nanti dia tidak akan bisa menjaga teman-temannya.
Ketika matanya terpejam, Praxel bisa melihat kenangan datang tanpa diundang. Kobaran api, tangisan, orang-orang mengenakan seragam putih, bau memuakkan, juga denting pertempuran. Praxel tak tahu bagaimana Elloys bisa menebak apa yang terjadi di masa lalu. Tapi, itu sukses memperparah kekacauan dalam hatinya.
“Oke, cukup Praxel!” Praxel menepuk pipinya sendiri. “Fokus!”
“Fokus? Bicara sendiri lagi?”
Praxel tersentak. Di depannya, sudah ada Amari. Dia membawa perisai besar juga tebal. Ada hiasan serupa tanduk pada bagian kanan atas. Warnanya sendiri didomiasi warna perak kecuali bagian tanduk tersebut yang memantulkan warna merah samar.
“Kukira kamu nggak ke sini,” kata Praxel. “Exodiart menyuruhmu mencari itu?”
“Ya dan tidak. Aku sudah menemukannya sore tadi. Tapi, aku merasa nggak enak kalau enggak melepas kepergian kalian. Jadi, kupikir lebih baik aku ke sini saja. Apa kamu butuh sesuatu juga?”
Praxel menggeleng.
Pintu markas pun terbuka. Kali ini Exodiart dan Elloys masuk bersama. Tidak perlu dijelaskan pun, Praxel tahu kalau keduanya tidak berangkat bersama. Mereka pasti bertemu di tengah jalan lalu memutuskan berjalan bersama.
“Di luar dingin,” protes Elloys sambil menggosokkan tangan ke lengannya.
Praxel ingin sekali menggodanya, seharusnya dia bisa mengenakan pakaian lebih tertutup. Namun, kalimat yang keluar justru sebaliknya. “Amari bisa membuatkanmu teh kalau mau.”
“Enggak usah repot-repot,” sahut Elloys.
“Amari? Kamu seharusnya enggak perlu ke sini,” ujar Exodiart ketika dia melihat petugas administrasinya. “Wah, perisaiku. Terima kasih, ya.” Exodiart mengambil perisai itu lalu mencobanya di tangan kiri sementara tangan kanannya membawa tongkat bola berduri. “Pas banget. Kayaknya oke, nih.”
Exodiart langsung tertawa. “Oh, tidak! Aku enggak mau memakaianya. Aku hanya perlu perisainya saja. Biarkan helm itu di sana, tugasnya sudah selesai.” Exodiart menyambar helm lalu mengembalikannya ke dalam lemari.
Elloys tidak sempat menanyakan soal helm. Pintu kembali terbuka. Kelsey pun masuk. Kontras dengan Elloys, dia mengenakan celana panjang dengan bot dan atasan lengan panjang lengkap dengan tudung.
“Hai, selamat pagi!” Kelsey menyapa sambil menyibak tudung dari kepalanya. “Kurang satu orang.”
“Harufuji akan datang,” sahut Elloys.
Kelsey tersenyum karenanya. “Iya. Cuma bicara, kok.”
Memang benar ucapan Elloys. Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua tepat, Harufuji masuk ke dalam markas Lunacrest. Dia mengenakan kostum serba hitam, termasuk senjatanya. Tak seperti ketika beraksi di Paladin’s Race dengan tongkat sederhana, Harufuji saat ini membawa tongkat dengan bola duri kembar yang dihubungkan dengan rantai. Semuanya berwarna hitam legam kecuali duri pada bolanya.
“Hai, selamat malam, eh, selamat pagi.” Harufufi tak tahu mana yang benar.
“Pagi!” sahut Exodiart. “Baik, jadi semua sudah lengkap, ya. Kumpul sebentar, yuk.”
Kelima orang itu pun berkumpul sofa kayu mereka. Exodiart membeberkan kertas dari jendral Fawke kemarin. Dia menceritakan sedikit pembicaraan sang jendral dengannya dan Praxel juga kemungkinan apa yang akan menanti mereka.
“Intinya, ambil barang, langsung kabur?” sahut Elloys.
“Kurang lebih…” Mendengar ucapan Elloys, Praxel jadi merasa kalau merekalah perompaknya.
Harufuji hanya diam, begitu pula Kelsey.
“Misi pertamamu bersama Lunacrest adalah misi penting. Kamu enggak gugup, kan?” Exodiart melemparkan pertanyaan pada si anggota baru.
“Lumayan,” jawab Harufuji sambil menggaruk dagunya. “Jadi, nanti tugas kita adalah melindungi tim, ‘kan? Aku bisa menggunakan sihir penyembuh juga kalau perlu.”
“Kamu belajar sihir penyembuh? Jarang ada Paladin yang mau belajar sihir itu,” sahut Exodiart. “Soal penyembuh dan sihir support, tugas Praxel, sih,” tambahnya sambil menunjuk Praxel dan tongkat yang disandarkannya di dinding.
“Ah, maaf. Kupikir kak Praxel juga Mage. Aku baru sadar.”
“Kok maaf? Malah bagus kalau ada yang bisa bantu sihir support.” Exodiart melanjutkan, “Baik. Jadi, nanti aku akan memimpin jalan di depan. Kamu dan Praxel jaga dari belakang. Karena cuma Elloys dan Kelsey yang bisa sihir teleport, mereka yang nantinya harus mengambil barang. Intinya, kita harus saling menjaga.”
Elloys bertukar pandang dengan Kelsey.
“Semoga kita bisa kerja sama dengan baik, ya.” Kelsey tersenyum ramah.
Elloys ikut tersenyum, namun senyumnya langsung lenyap begitu sadar kalau Praxel juga ikut tersenyum dengan pandangan lurus terarah pada Kelsey. Elloys bertekad harus berbuat lebih. Mengambil barang? Oh, itu sesuatu yang memang harus dilakukan. Elloys akan memikirkan cara lain agar dia bisa memberi kontribusi terbanyak. Dia mungkin bisa mengambil barang lain dari para perompak atau mungkin...mungkin… membakar kapal mereka akan jadi ide yang bagus.