Lunacrest

Lunacrest
Chapter 22



Raiden masih tak paham bagaimana Elloys mengira kalau dia dan Praxel bukan saudara kandung. Sifat mereka memang berbeda. Praxel lebih ramah, lebih tenang, lebih lembut. Badannya tidak sekekar Raiden. Warna rambut mereka juga tidak bisa dibilang sama persis. Namun, hal-hal tersebut jelas bukan alasan bagi Elloys curiga kalau mereka bukan kakak adik. Di akhir percakapan, Raiden tidak menjawab pertanyaan Elloys, membiarkan si Pyromancer menebak-nebak sendiri.


Kedua kakak beradik ini memang tidak tumbuh bersama. Lebih tepatnya, Praxel hanya menghabiskan sedikit waktu ketika Raiden masih kecil. Nilai Praxel yang selalu nyaris sempurna membawanya ke ibu kota di usia muda. Dia langsung menjadi murid kesayangan para guru di akademi. Mereka tentunya penggemar tipikal murid rajin dan penurut.


Raiden? Dia hanya menurut demi keamanan dirinya sendiri. Spontanitas sering berujung pada masalah, menurutnya. Elloys, misalnya. Mereka beruntung tidak menghadapi masalah berarti ketika berhadapan dengan lamia, mengingat keduanya sama sekali belum pernah mengalahkan monster semacam itu.


Raiden mendesah, mengusir rasa kaku di badannya. Dia berada di halaman belakang rumah Praxel. Mereka tinggal bersama, tentu saja. Rumah ini berada di atas bukit. Pemandangan dari halaman belakangnya selalu membuat napas tertahan. Bagaimana tidak? Dari sana, terhampar pemandangan ibu kota Korumbie lengkap dengan istana menjulang di bagian tengah.


Selalu ada alasan bagi dirinya menghabiskan waktu di sana. Latihan pagi hari, makan malam, tempat berpikir, banyak lagi. Meski begitu, hanya alasan pertama yang menjadi rutinitasnya. Dia selalu melakukan sedikit latihan sebelum pergi ke Lunacrest atau mencari misi. Di saat pikirannya jernih, latihannya makan waktu lebih singkat. Sayangnya, itu berlaku pula sebaliknya. Di saat pikirannya kacau, latihannya terasa berantakan.


Dia hanya mengenakan celana dan kaus tanpa lengan saat latihan. Kadang, dia malah tidak mengenakan kaus. Dia suka bagaimana sensasi udara mendinginkan badannya yang dibasahi peluh.


Raiden tidak menggunakan sasaran latihan seperti kakaknya. Dia biasanya hanya melakukan latihan fisik seperti mengangkat beban atau memukul dengan tongkat yang diberi pemberat. Raiden memang tidak memakai palu besarnya saat latihan, hanya menggunakan beban yang sama berat. Alasannya sederhana. Sedikit saja lengah dalam pukulannya, Raiden bisa menghancurkan halaman belakang favorit mereka.


Kali ini, dia memasang target seratus kali pukulan tongkat. Sudah dua kali dia lupa hitungannya dan terpaksa mengulang. Akhirnya, Raiden merasa lelah dengan dirinya sendiri. Dia memutuskan beristirahat sejenak di bawah satu pohon rindang tepat di samping balok semen berkeran. Hanya mereka satu-satunya benda permanen di halaman belakang. Sisanya merupakan tanah berumput beludru. Entah bagaimana cara Praxel bisa selalu merawat rumput-rumput tersebut.


GUK! GUK!


Raiden mengoleh. Seekor anjing coklat berlari dari samping rumah. Bulunya tak lebat, kakinya yang berfungsi penuh hanya tiga karena kaki kiri depannya diamputasi sehingga lebih pendek dibanding yang lain. Begitu cukup dekat, dia melemparkan dirinya ke atas pangkuan Raiden.


“Kamu lapar, Cookie?” Raiden membelai kepala anjing mereka.


Sesuai namanya, anjing itu penggemar kukis. Mungkin lebih tepatnya, dia suka mencuri kukis camilan yang dibuat Praxel.


Pertemuan Praxel dengan Cookie termasuk cerita lucu. Ini terjadi ketika Praxel menjalankan misi ketika masih di akademi. Bersama beberapa rekan, mereka pergi berburu orc dengan para Mage. Mereka menjumpai para orc sedang bersiap makan siang. Salah satu yang akan jadi hidangan utama siang itu adalah anjing hutan. Praxel dan rekan-rekannya memukul kalah para orc. Berikutnya, Praxel membawa pulang anjing hutan tersebut ke rumah. Setelah beberapa minggu dalam perawatan, si annjing pun kembali pulih meski harus kehilangan salah satu kakinya. Praxel menamainya Cookie karena dia memang suka sekali kukis.


Sejak saat itu pula, Cookie menanti dengan setia setiap kali Praxel memasak kukis. Tak jarang, dia mengambil salah satunya sebelum diberi izin. Praxel dan Raiden tak begitu merasa terganggu dengan kebiasaan ini. Mereka menganggapnya lucu. Anjing itu kini memang lebih tua dan gemuk.


Cookie menyalak di atas pangkuan Raiden lalu malah merebahkan dirinya.


“Jangan tidur di sini,” protes Raiden. “Aku mau mandi lalu ke markas.”


Raiden tak lantas berdiri. Dia mengamati dedaunan rindang di atas kepalanya. Udara sejuk membelai rambutnya. Tanpa diperintah, ucapan Elloys kembali dalam pikirannya. Dia ingat bagaimana Elloys memprovokasi agar Raiden mencoba menggunakan kapak. Ya, Raiden menganggapnya lebih dari sebuah lelucon. Buatnya, Elloys seolah sedang menantangnya supaya bertarung menggunakan kapak.


Apakah dia akan menurutinya? Tidak.


Raiden mengusir pemikiran tersebut dari otaknya. Dia memejamkan mata, berusaha mengembalikan waktu istirahat singkatnya sebelum lanjut latihan demi mencapai target. Tidak sampai lima detik, bayangan Elloys kembali dalam pikirannya. Berapa besar usaha Raiden melupakan masalah tersebut, dirinya mendapati kembali ke pemikiran yang sama.


Lelah karena gagal istirahat, Raiden akhirnya bangkit. Dia melangkah ke arah pintu lain yang ada di samping rumah. Sesuai dugaannya, Cookie sedang berlari-larian di sana. Itu salah satu tempat favortinya bermain.


Karena terletak di atas bukit, rumah mereka memang punya halaman di sekeliling rumah. Namun, hanya halaman belakang punya areal terluas. Ada pintu belakang, ada pula pintu samping. Pintu belakang merupakan pintu lain untuk masuk ke dalam rumah selain pintu depan. Pintu samping tidak menghubungkan ke dalam rumah. Pintu ini merupakan pintu gudang sempit tempat mereka meletakkan berbagai barang tak terpakai.


Termasuk kapak Raiden.


Sejak pertama kali Raiden mengambil kelas Warrior, instrukturnya memberikan empat macam senjata pada mereka. Pedang, tombak, kapak, dan palu. Mereka diminta melatih keempat senjata tersebut sebagai senjata dasar. Setelah latihan panjang, barulah mereka disuruh memilih senjata mana yang akan jadi fokus mereka.


Senjata, pada dasarnya, tidak akan menentukan kelas spesialisasi pertama mereka. Sebaliknya, kelas spesialisasi pertama mereka yang akan menentukan senjata. Setiap kelas spesialisasi memiliki teknik masing-masing untuk dipelajari. Bila senjata yang dipilih tidak sesuai dengan kelas spesialisasi, hasilnya mungkin tidak maksimal.


Whirlwind, salah satu teknik serangan favorit para Vanguard, lebih efektif dilakukan menggunakan palu atau kapak karena jangkauannya lebih luas ketika mereka berputar. Tidak ada larangan bila seorang Vanguard mau menggunakan pedang. Hanya saja, mungkin beberapa teknik tidak akan memberikan kerusakan maksimal.


Elloys nampaknya paham mengenai Vanguard. Senjata ideal para Vanguard adalah kapak atau palu. Keduanya dianggap sama efektif dan punya penggemar masing-masing. Perbedaan terbesar mereka hanya ada pada ujung tajam. Kapak bisa digunakan untuk memotong. Palu lebih efektif untuk melontarkan lawan. Raiden juga paham tak ada salahnya bila dia mengganti senjata. Dia masih bisa menggunakan semua tekniknya sekalipun hasilnya mungkin sedikit berbeda.


Kapak Raiden terlihat jelas dalam gudang tersebut. Dia nampak usang dan berdebu juga ditutupi jaring laba-laba. Raiden menariknya keluar lalu mengamati setiap sudutnya, memastikan bila senjata ini masih bisa digunakan.


GUK! GUK GUK!


Cookie menyalak sambil melompat-lompat. Raiden menengadahkan wajah ke atas, paham apa yang akan datang. Seekor elang pembawa pesan muncul dari arah kota. Raiden mengangkat tangan, membiarkan si elang hinggap di tangannya tanpa takut kalau cakar elang akan melukainya. Itu elang peliharaan Exodiart untuk keperluan guild. Mereka memanggilnya Vesa. Raiden mengeluarkan surat dari tabung mungil di kakinya lalu membiarkan Vesa terbang pulang kembali.


Melihat isi surat membuat Raiden tersenyum simpul. Sang pencipta mungkin sedang ingin menggodanya. Kehadirannya dinanti di markas. Elloys sedang mencari teman untuk menjalankan misi guild.


Sambil melirik kapak di tangannya, Raiden bertanya, “Apa yang bisa salah?”