
Keheningan datang melanda. Tak ada lagi kobaran api atau percikan petir. Kali ini pun, angin membantu mengusir debu dan asap lebih cepat. Mierai buru-buru berlari pada ketuanya. Dia bisa melihat kondisi Exodiart lebih jelas. Exodiart berbaring di tanah, menyamping ke kanan. Wajahnya pucat. Napasnya tersengal-sengal. Tangannya memegangi perut bagian kiri yang basah oleh darah. Cairan merah pekat itu merembes ke pakaiannya juga menyebar dengan cepat ke tanah.
“Bertahanlah!” pinta Mierai. Tangannya mengeluarkan sapu tangan lalu menekannya pada luka Exodiart.
“Ugh…” Exodiart bisa merasakan rasa sakit melompat di otaknya. Begitu sakit sampai dia tak sanggup berteriak. Hanya rintihan yang mampu lolos dari bibirnya.
“Minggir.” Praxel datang tertatih-tatih, lalu bersimpuh di samping Exodiart.
Exodiart mengerjap, mengenali sihir penyembuh sang Bishop. Menyegarkan dan hangat dalam kilau putih menenangkan. Biasanya dia akan merasa baikan dengan cepat. Kali ini tidak. “Kamu… enggak apa-apa?” tanyanya lirih. Exodiart menggerakkan kepala agar bisa melihat wakilnya.
“Hanya cedera,” jawab Praxel singkat.
Luka Praxel bukanlah cedera atau sekedar lecet. Jubah hijaunya juga memerah akibat darah. Serangan cyclops tadi berhasil melukainya juga. Wajahnya kotor dan lecet. Meski begitu, mereka tahu kalau luka Praxel tidak ada apa-apanya dibandingkan luka sang ketua guild.
Di belakang Praxel, Kelsey mulai mendekat. Tangan menutupi bibirnya sementara air mata mengalir deras dalam kesunyian.
“Dia akan baik-baik saja, kan?” Mierai merasakan suaranya bergetar.
“Tentu saja.” Praxel tak sekalipun menoleh. Dia berkonsentrasi penuh agar sihirnya bisa tersalurkan sempurna. Tangannya terasa basah oleh darah. Bau amisnya selalu membangkitkan perasaan tak nyaman. Namun, itulah panggilannya. Menyelamatkan orang-orang yang bertarung di baris depan.
Kelsey ikut duduk di samping Exodiart. “Apa… yang kamu lakuan?”
“Menyelamatkan… kita semua…” jawabnya lirih.
“Tolong bantu aku, Exo. Berhentilah bicara,” sahut Praxel.
Exodiart mengerjap, dia bisa merasakan kalau matanya basah. Rasa sakit membuat matanya berair, apalagi ditambah oleh asap dan debu yang masih berterbangan. Tenggorokannya terasa kering. Usulan Praxel agar dia berhenti bicara ada baiknya.
Mierai mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak berani mengajak siapa pun bicara. Kelsey terisak, tak berniat berkata lagi. Praxel merasakan peluh menuruni kening ke pipinya. Dia lelah tapi berhenti jelas bukan pilihan. Mereka tenggelam dalam keheningan menyesakkan.
Di tengah kesadarannya yang kian menipis, Exodiart bisa merasakan getaran merambat lewat tanah. Praxel sepertinya juga menyadari hal tersebut. Sekalipun dia tidak mengedarkan pandangan, matanya melirik ke kanan atau ke kiri, seolah ingin memeriksa sesuatu tapi tak mau sampai konsentrasinya terganggu. Dia justru menggelengkan kepala cepat, mengusir distraksi yang akan datang.
“Kalian rasakan itu?” Mierai berpaling ke belakang, ke tempat yang tadi dilewati si cyclops. Pepohonan masih berserakan, berantakan tak beraturan.
Kelsey sepertinya belum menyadari apa yang sedang terjadi.
Mierai memicingkan mata. Dia bisa melihat bagaimana dedaunan dari pohon yang tumbang secara paksa itu bergetar. Mereka bukan bergetar karena angin. Mereka bergetar karena tanah di bawahnya juga bergerak. Semakin lama, getarannya semakin terasa. Getaran itu berupa dentuman yang datang dalam jeda tertentu. Seperti langkah kaki. Persis seperti ketika cyclops mendatangi mereka.
“Apa itu?” Kelsey bergidik.
“Itu bisa apa pun. Kurasa bukan berita baik.” Mierai mengedarkan pandangannya berkeliling. “Apa yang harus kita lakukan?”
Exodiart membuka bibirnya yang terasa kering. “Panggil bantuan.”
Praxel tak lagi memprotes saat pasiennya bicara.
“Balon udara seharusnya masih menunggu kita, ‘kan?” sahut Mierai. “Kita bisa ke sana,” katanya lagi, menoleh pada Kelsey.
Kelsey menggelengkan kepala. “Kita tidak tahu jalan—”
“Aku tahu,” sahut Mierai. “Kami, Ranger, dilatih untuk menghafalkan jalan-jalan di hutan. Ayo, Kelsey, kita harus cepat!”
“Tapi—”
“Hei,” sahut Praxel lembut. “Pergilah bersama Mierai. Panggil bantuan ke sini. Aku dan Exo akan segera menyusul.”
“Tidak apa. Pergilah, cepat!” Praxel mendesak.
Barulah setelah Praxel bicara lagi, Kelsey mengangguk. Dia mengusap matanya yang basah oleh air mata. Bersama Mierai, mereka berlari ke arah darimana mereka datang. Mierai memimpin jalan. Kebiasaannya menghafal tanah hutan selalu membawa dampak positif. Kini, dia paham jalan mana yang harus dilalui.
“Jangan berpaling ke belakang, Kelsey!” pinta Mierai. Dia tahu meski tak menoleh pada Kelsey karena sesungguhnya dia sendiri sedari tadi ingin sekali melihat ke belakang.
“Aku cemas pada mereka.”
“Aku juga. Karena itu, kita harus cepat!”
Kembali ke area menara penjaga. Praxel masih terus mengalirkan kekuatan penyembuhnya pada tubuh Exodiart. Setelah menit-menit yang terus menguras energi, Praxel menundukkan kepala berkata sambil menggertakkan gigi.
“Aku tidak bisa menghentikan pendarahannya.”
Exodiart menarik napas panjang. “Kalau begitu… berhentilah.” Dia memejamkan mata, merasakan kalau rasa sakitnya memang tidak berkurang justru makin menjadi. Dahinya kadang berkedut ketika rasa sakit memuncak.
“Tidak.”
“Susul mereka…”
“Tidak. Aku tidak akan menuruti perintahmu, Exo. Tidak di saat seperti ini!”
“Getaran ini… Mungkin ada cyclops lain. Kalau dia datang—”
“Tidak, Exo! Sekarang, diamlah! Aku masih mencoba menyelamatkanmu.”
Mereka berdua sadar benar kalau ini bukan saat yang tepat untuk berdebat.
“Pergilah…” Exodiart merasakan matanya makin berat. Sebelum dirinya benar-benar terlelap, dia ingin memastikan Praxel aman. “Pergilah. Kumohon.”
“Tidak.”
“Dengarkan aku… Kamu satu-satunya yang bisa menjaga Lunacrest… dan Kelsey.”
Praxel tertegun. “Apa… maksudmu?”
“Kelsey sering cerita mengenai dirimu… Aku tahu. Dia mencintaimu, Praxel… Lebih dari dia mencintaiku.” Exodiart membuka mata. Kali ini matanya basah oleh air mata. “Aku juga tahu, kamu suka padanya.”
“Aku tidak tahu kalau aku…”
Praxel tak mampu melanjutkan. Dia tidak pernah menyangka kalau dirinya benar-benar jadi orang ketiga di antara Exodiart dan Kelsey. Sejak mereka membuat Lunacrest, Kelsey memang jadi dekat dengannya. Seperti ucapan Kelsey, Praxel setuju kalau hubungan mereka hanya seperti kakak beradik. Atau, mungkinkah dia yang kurang peka?
“Tapi, aku bersyukur. Setidaknya… Aku tidak terjebak dengan orang yang tidak mencintaiku.” Exodiart sadar dirinya tersenyum. Dan, untuk kesekian kalinya, Exodiart meminta. “Pergilah…”
Tidak ada jawaban yang benar di saat seperti ini. Menjawab ‘ya’ setidaknya memberikan kelegaan bagi Exodiart dan memastikan Lunacrest memiliki pemimpin. Tapi, itu juga sama artinya membiarkan Exodiart tewas. Menjawab ‘tidak’ terasa lebih heroik dan loyal. Namun, itu jelas tidak menyelesaikan masalah.
DUM!
Getaran kini terasa dekat. Praxel berpaling. Cyclops lain telah muncul dari jalan yang sama, sesuai dugaan Exodiart. Praxel sadar, kini dia tak lagi punya waktu untuk berpikir.
“Maaf, Exodiart,” kata Praxel sambil melenyapkan sihir penyembuh juga menarik tangannya yang telah basah oleh darah. Sebagai gantinya, dia mengambil tongkat kayu panjangnya. “Meninggalkanmu di sini tidak membuatku pantas memimpin Lunacrest. Bahkan sekalipun Kelsey menganggap ini hal yang benar, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku. Karena aku sendiri tahu. Ini bukan hal yang benar.”
Melalui pandangan yang makin kabur, Exodiart melihat wakilnya berjalan maju demi menghadapi si cyclops. Dia tahu sudah memercayai orang yang benar. Exodiart tersenyum lalu membiarkan dunianya lenyap dalam kegelapan.