Lunacrest

Lunacrest
Chapter 61



Tim Praxel tiba lebih dulu di markas Lunacrest. Terpaut sepuluh menit sesudahnya, barulah tim Exodiart tiba. Mereka semua telah selesai melapor. Lunacrest bertambah poin dan berhasil naik ke level B secara resmi. Exodiart, selaku ketua guild, bisa mengambil surat keputusannya, paling cepat besok pagi, di kantor Guild Master Declan.


Exodiart akan ke sana bersama Praxel setelah makan siang karena dia harus hadir di Paladin’s Race pada pagi harinya. Namun, sebelumnya, ini saatnya mencoba peraturan baru bagi Lunacrest.


Sarapan bersama.


Kalau boleh jujur, Exodiart sedikit cemas. Dia tidak yakin apakah rekan-rekannya akan muncul. Jadi, pagi itu, dia datang lebih awal sekitar pukul enam untuk memasak di dapur seorang diri. Dirinya bergerak tenang, berusaha tak membuat keributan yang bisa membangunkan Keniaru atau Harufuji di atas. Namun, baru saja membuka pintu, Harufuji dan Keniaru sudah ada di ruang tengah dengan senjata terulur ke pintu.


“Exo?” Harufuji mengernyit.


“Apa ini semacam ujian?” tambah Keniaru.


Exodiart tergelak. “Bukan, bukan. Aku hanya berpikir untuk memasak untuk sarapan kita semua.”


“Kupikir Elloys dan Raiden yang akan masak hari ini.” Keniaru menyimpan pedangnya.


Harufuji juga menurunkan senjatanya. “Kecuali kita sama-sama salah dengar.”


“Oh, jangan khawatir. Ini hanya… masakan tambahan.” Exodiart tidak mau terdengar sedang ragu. Dia ingin anggotanya yakin kalau dia mempercayai mereka semua, dengan segenap hati, bahkan untuk melakukan peraturan ringan semacam ini.


Keniaru dan Harufuji hanya lempar pandang.


Exodiart pun beranjak ke dapur. Kedua anggota Lunacrest lain mengikuti di belakangnya. Mereka membantu Exodiart membongkar bahan makanan dan ngobrol-ngobrol. Tak terasa, jam menunjukkan pukul tujuh. Saat itu, Elloys dan Raiden masuk ke dalam markas yang sudah dipenuhi aroma lezat.


Menggunakan teleport, Elloys mencapai dapur dengan cepat. “Wow! Kelihatannya enak!”


Exodiart berjingkat kaget. Sepertinya kebiasaan Elloys memang bisa membuat semua anggota di Lunacrest sakit jantung. “Ha— Hai…” Exodiart buru-buru membalik daging yang ada di atas wajan. “Aku… Aku hanya memasak untuk… tambahan.”


“Hahaha… Hari ini akan menyenangkan!” sahut Elloys. “Banyak makanan!”


Raiden ikut tertawa geli mendengar reaksi Elloys.


Akhirnya mereka berlima memasak bersama. Karena Exodiart tengah memasak daging untuk mereka, Elloys pun menyimpan ikan yang dia bawa untuk dimasak esok hari. Mungkin mereka juga bisa memasaknya nanti siang untuk makan bersama lagi bila memungkinkan. Jadi, Raiden membantu Exodiart memasak daging sementara Elloys, Keniaru, dan Harufuji memotong-motong sayur serta bertugas menyiapkan hidangan lain.


Raiden tak mau bohong kalau sering curi-curi pandang pada Elloys. Exodiart berdehem, menyenggol sikunya. “Hati-hati, nanti dagingnya hangus.”


Sebelum pukul delapan, Praxel sudah datang ke markas. Tepat pukul delapan, mereka telah lengkap. Exodiart berdecak kagum di depan meja makan mereka. Sepuluh orang persis, termasuk dirinya. Sekalipun mereka harus sedikit sempit-sempitan karena mejanya tidak seluas itu. Setiap orang duduk menghadap peralatan makan sementara hidangan disusun tepat di tengah meja.


Untuk mengawali sarapan mereka, Exodiart pun berdiri.


“Pidato?” Sahut Praxel.


Spontan, para anggota lain pun tertawa termasuk Exodiart sendiri. “Kamu bercanda? Untuk apa pidator sebelum makan pagi?” balas Exodiart.


“Siapa tahu.”


Mendengar itu, Elloys melongo. Dia tak pernah mengira kalau ketuanya berpikir sejauh demikian hanya untuk dirinya.


Keniaru tersenyum. “Serius? Aku benar-benar enggak menyangka kalau keputusan itu untuk kami.”


“Sebenarnya ada beberapa alasan lain juga.” Exodiart mengaku. “Kupikir guild ini akan lebih nyaman kalau kita akrab seperti keluarga. Kita bisa saling belajar dan saling berkembang. Termasuk saling menegur. Kalian bisa selalu menegurku kalau aku salah.”


Elloys merasakan matanya mulai berkaca-kaca.


Mierai di samping Elloys menepuk bahunya, “Sudah dapat gambaran lebih jelas soal ketua kita, Ell? Luar biasa baik, ‘kan?”


“Astaga… Aku terharu.” Elloys memeluk Mierai, membiarkan air matanya jatuh lagi.


“Lho, aku enggak berencana membuatmu sedih, lho,” sahut Exodiart. “Aku hanya mau memeberi awal pagi yang menyenangkan bagi kita semua.”


Orang-orang di sekeliling meja pun tertawa olehnya. Elloys dan Keniaru makin yakin kalau keputusan mereka bergabung dengan Lunacrest tidak salah. Ada berapa guild di Endialte yang runtuh dalam waktu satu tahun. Salahkan manajemen buruk, anggota sulit diatur, dan pemimpin yang acuh. Faktor ketiga merupakan alasan yang paling umum terjadi.


Di sela-sela kesenangan mereka, Reiyuel hanya tersenyum tipis menatap ketuanya dengan kagum.


“Oke, oke. Ayo makan sebelum semuanya dingin.” Exodiart kembali duduk. “Tapi, sebelumnya, ayo bergandengan tangan bersama.” Exodiart mengulurkan kedua tangannya ke samping. Satu tangan mengandeng Exodiart, satu tangan menggandeng tangan Elloys. “Kita akan mengawali makan kita dengan doa.”


“Kamu yang akan memimpin?” tebak Praxel.


“Untuk saat ini, iya.”


“Aku enggak suka lanjutannya.”


“Untuk selanjutnya, kita akan bergiliran. Jangan bilang kalau kalian tidak bisa doa.” Exodiart mengawasi wajah satu per satu anggotanya yang tak berani memandangnya. “Kalau kalian tidak bisa doa, coba belajar dari Praxel.”


“Tunggu. Kenapa aku?”


“Hahaha… Ayo berdoa.” Exodiart pun memimpin doa.


Elloys berdoa dalam hati, bersyukur untuk semua yang telah terjadi. Bagaimana keputusannya meninggalkan rumah hingga tiba di ibu kota dengan selamat. Bersyukur karena ada yang menemukannya di kolam pancing saat dirinya menangis seoang diri. Juga untuk kejutan manis hari ini, dia bukan hanya mendapat rekan-rekan kerja yang baik tapi juga mendapat keluarga baru.


Diam-diam, Elloys membuka mata. Menjelajahi wajah satu per satu dari mereka. Exodiart, Praxel, Raiden, Reiyuel, Keniaru, Harufuji, Kelsey, Amari, dan Mierai. Dia tidak akan menukarkan hari ini dengan apa pun.


Sekalipun mungkin dirinya tidak bisa dekat dengan Praxel, Elloys bersyukur boleh bertemu dengannya. Apa yang terjadi semalam menunjukkan adanya rekan-rekan yang peduli. Tanpa disadari, air matanya jatuh menuruni pipi lagi. Dia tidak sedih. Dia justru terlalu senang dengan apa yang terjadi hari ini.


Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, dia paham tak ada yang abadi.


Perubahan akan terjadi, entah ke arah baik atau ke arah buruk. Saat itu, dia akan bersiap menghadapi semuanya. Dia tidak akan ragu melindungi keluarga dan rumah barunya sambil terus berharap dia bukanlah orang yang akan menghancurkan mereka semua.