
Jauh dari markas Lunacrest, Raiden sedang berada di pegunungan seorang diri. Tujuannya hanya satu, mencari kalajengking raksasa yang berdiam di sana. Dia tak lagi mengenakan kaus berlengan pendek melainkan pakaian tertutup dan mantel tipis bertudung. Di punggungnya ada kapak besar. Bukan kapak yang dia dapatkan di sekolah. Raiden membeli kapak tersebut beberapa saat lalu ketika pergi seorang diri.
Lokasinya berada saat ini memang bukan tempat yang bisa dibilang dekat dari ibukota. Dia harus pergi pagi-pagi benar kalau mau tiba di sana siang hari. Bukan tempat yang mudah didatangi. Banyak bebatuan terjal menemani perjalanannya belum lagi kereta yang mengantarnya tadi hanya mau berhenti di ujung hutan. Raiden harus mendaki sendiri untuk tiba di sarang kalajengking.
Monster ini dikenal punya racun yang mematikan secara perlahan. Seperti kalajengking pada umumnya, makhluk ini punya ekor besar. Warna tubuhnya merah di bagian depan dengan ujung ekor dengan merah pekat. Matanya hijau membara seperti api unggun di malam hari. Liurnya bagai asam yang mampu melubangi logam.
Itu semua kata orang.
Benar, itu hanya omongan orang mengenai si kalajengking bukan informasi akurat atau bocoran dari mata-mata kerajaan. Tidak banyak orang yang bisa hidup setelah bertemu kalajengking raksasa tersebut. Ini sudah jadi cukup alasan mengapa tidak banyak berita beredar. Hanya ada satu kepastian. Monster itu nyata dan meresahkan penduduk.
Raiden melemparkan barang bawaannya -- yang hanya berupa tas kecil berisi air dan beberapa perlengkapan lain -- ke bawah pohon. Itu mungkin pohon terakhir yang dia lihat. Menjulang di atasnya adalah pegunungan berbatu tajam. Mereka naik turun tak rata. Bau amis sesekali tercium terbawa angin. Berani taruhan, di balik pegunungan itu, ada sesuatu yang tidak umum dilihat penduduk.
Meski lokasinya tidak cukup tinggi, namun Raiden bisa merasakan hawa dingin yang menusuk. Memang tidak separah ketika musim salju menghantam Korumbie, tapi hawa ini cukup dingin. Selain itu, juga membuatnya khawatir. Hal yang biasa terjadi sebelum pertempuran.
Kakinya menapaki bebatuan terjal lalu berhenti pada satu titik. Dari posisinya, dia bisa melihat lembah batu di balik bebatuan. Tidak seperti dugaannya, bukan ada banyak tengkorak di sana. Dia berpikir akan menemukan tulang belulang hewan, monster besar seperti orc, dan juga manusia. Ternyata, dia menemukan beberapa mayat serupa mumi. Mereka telah meninggalkan sosok aslinya jauh di masa lampau. Tubuh mereka saat ini menguning kecoklatan, kulit kering yang menempel ke tulang, tanpa sehelai pun rambut, diselubungi bau asing tak sedap.
Raiden menelan ludah. Ini sedikit berbeda dari apa yang dia dengar.
Monster tetaplah monster. Mereka seperti binatang. Hanya memikirkan soal makanan, bukan yang lain. Saat ini, Raiden adalah makanannya. Tidak kali ini. Dia tidak akan jadi santapan si kalajengking. Sebaliknya, monster itu akan jadi bukti kemenangannya hari ini.
Kapaknya telah teracung tinggi. Raiden berbalik dengan cepat. Dia tahu monster lawan sudah ada di belakangnya. “Whirlwind!”
Raiden maju sambil memutar kapak. Gerakannya memancing angin puyuh dengan dirinya sebagai pusat. Angin menderu di sekelilingnya. Hawa dingin makin menjadi. Aroma busuk menguat. Tapi, tidak ada yang cukup kuat untuk menahan Raiden dari menghabisi lawan dengan kapaknya.
Serangannya mengenai kulit luar lawan yang keras. Tak ada luka berarti di sana, hanya beberapa goresan di bagian kakinya yang gempal. Mata si kalajengking berada sejajar dengan Raiden. Monster itu memang luar biasa besar.
Mengetahui kalau serangannya gagal, Raiden bergegas kabur. Kalajengking itu telah menggerakkan capitnya. Untungnya, Raiden sudah berlari lebih dulu. Si monster hanya mencabik udara kosong.
Raiden menggunakan batu-batu sebagai pijakan agar mencapai ketinggian tertentu. Dari sana, dia pun menjatuhkan diri ke atas lawan. Itu berhasil. Kapak Raiden turun mengenai kepala lawan, membuat luka besar, menyebabkan darah hitam merembes. Ini tak lantas membuat Raiden puas. Dia perlu lebih dari sekadar serangan semacam itu demi menjatuhkan lawan.
Merasakan sakit yang luar biasa, si monster berontak. Ekor mematikannya bergerak. Raiden bergegas turun dari lawan. Dia kembali kabur, menjaga jarak aman agar tak terkena serangan. Di luar dugaannyam dia melihat si monster membuka mulut. Saat itu, sesuatu seperti ludah hitam bening terlempar ke luar.
Tanah berbatu yang terkena ludah si kalajengking mendesis keras. Asap kekuningan mengepul tipis seiring batu itu mulai berubah jadi serpihan debu.
Si Vanguard berlari ke arah deretan batu besar, bersembunyi di baliknya. Jantungnya berdegup kencang. Peluh mulai menuruni dahinya. Tubuhnya bergetar karena adrenalin. Monster itu tidak akan mudah dijatuhkan. Ukuran raksasa, ekor beracun, ludah asam, apa lagi yang bisa muncul?
Kapak di tangannya telah tergenggam erat. Untuk misi kali ini, dia hanya perlu memotong ekor si kalajengking lalu membawanya pulang. Secara teori, dia bisa melakukannya tanpa perlu menghabisi lawan. Masalahnya, itu terasa mustahil. Lebih masuk akal memotong ekor monster yang sudah mati ketimbang masih hidup.
Suara berderak terdengar kencang. Si monster bergerak mendekat. Raiden pun mengintip. Dia langsung menyesali pilihannya. Kalajengking tersebut bergerak cepat, jauh lebih cepat dari dugaannya. Si monster bukan hanya telah dekat. Si monster telah mengangkat ekor berbisanya. Segera saja, senjata mematikan itu terarah pada Raiden.
DUAR!
Meleset!
Lebih tepatnya, serangan itu mengenai dinding batu yang tadi dijadikan Raiden sebagai tempat persembunyian. Raiden berhasil menghindari ekor tersebut mencabik dirinya. Dia berlari berputar, menjaga jarak sambil mencari kesempatan menyerang balik. Lawannya ikut memutar badan, mengawasi ke mana Raiden pergi.
Instring Raiden bisa menebak apa yang akan dilakukan lawan. Dia pun mempercepat larinya. Dugaannya benar. Langkah cepat membuatnya lolos dari serangan ludah asam. Bebatuan di belakangnya hancur sementara Raiden sudah berada cukup dekat dengan monster untuk melancarkan serangan jarak jauh.
Seperti Keniaru dengan kelas Blade Master, Raiden juga bisa melakukan serangan jarak jauh. Dia melancarkan tebasan separuh lingkaran ke udara. Serangan ini berubah merambat di udara bagaikan bulan sabit berkilau. Cepat juga efektif untuk menyerang lawan yang tak boleh didekati.
Serangannya masuk!
Capit kiri si kalajengking putus oleh serangan Raiden. Raiden tak menyangka akan mendengar suara erangan keras. Suaranya seperti erangan beruang hanya saja lebih dalam dan keras. Merasa di atas awan, Raiden melakukan serangan lanjutan. Bulan sabit kedua melukai mata lawan, membuatnya mengerang lebih keras.
Kali ini, Raiden pun hendak mendekat. Dirinya terkesiap ketika ekor kalajengking datang lagi. Raiden bergegas menghindar. Dia memang lolos dari sengatan beracun, namun hempasan dari ekor membuatnya terjembab. Si monster mengerang sambil menyerang **** buta. Tentunya karena kesakitan dan kesulitan melihat.
Raiden menyadari hal lain. Dari capit yang terpotong, muncul gumpalan-gumpalan kecil. Mereka bergerak pelan, mendekati satu sama lain untuk membuat gumpalan lebih besar.
“Jangan bilang kalau itu regenerasi,” desah Raiden.
Monster kalajengking ini memang sesuatu yang sangat layak untuk dijadikan tolak ukur apakah seseorang bisa naik dari Vanguard ke kelas selanjutnya.