
Amari datang pukul tujuh tepat. Dia mendapati markasnya yang biasanya rapi dan indah kini punya luka pada dinding. Pot beserta bunga kesayangannya sudah berada di tong sampah akibat jadi korban pertarungan kemarin. Amari ingin sekali bertemu para pencuri itu, mengikat mereka di kursi, selagi dirinya menjelaskan berapa nilai dari bunga indah tersebut.
Dia berharap para polisi segera menangkap tiga penyusup lainnya agar bisa mewujudkan mimpinya mengomeli mereka. Satu penyusup yang dilukai Reiyuel semalam bertahan hidup meski berada dalam kondisi kritis. Dia akan dipindahkan ke penjara begitu kondisinya lebih stabil. Lalu, tentu saja, menjalani penyidikan.
Saat hal-hal semacam ini terjadi pada sebuah guild, polisi tak bosan-bosannya mengingatkan agar guild tidak bertindak sendiri. Mereka tidak akan segan-segan juga menindak anggota guild yang main hakin sendiri. Bagaimana pun juga, ini ranah pekerjaan para polisi bukan guild.
Saat duduk di kursinya, Amari baru sadar kalau Raiden sudah tak terlihat di mana pun. Ranselnya masih ada di dekat sofa. Namun, kondisinya terlalu sunyi. Dia juga tidak melihat di mana Exodiart dan Praxel. Amari naik ke lantai dua untuk memeriksa. Dia melihat pemandangan langka di mana sang ketua dan wakilnya terlelap di atas meja, piala berada di antara keduanya. Raiden sendiri berada di ujung, sedang melakukan pemanasan.
Malas bertanya dan tak mau mengganggu, dia pun turun.
Dari jendela dekat tangga, Amari mengenali sosok pendeta perempuan yang sedang mendekat. Dia pun buru-buru membuka pintu sebelum ketukan datang. “Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Amari.” Kisarumi melempar senyum tipis. “Aku dengar apa yang terjadi semalam. Apa kalian baik-baik saja?”
Amari minggir agar si pendeta bisa masuk. “Reiyuel sedang dirawat. Lukanya cukup dalam, tapi tabib bilang kalau dia akan baik-baik saja. Lalu, seperti yang bisa kamu lihat. Kami sedang menanti pekerja membawakan kayu untuk mengganti beberapa bagian yang rusak.”
Kisarumi melayangkan pandangan sedih pada dinding-dinding Lunacrest yang tergores, juga lantai kayu yang tak lagi mulus. Kemudian, dia mengangkat keranjang yang tertutup kain pada Amari. Senyumnya telah kembali. “Sarapan untuk kalian.”
“Terima kasih banyak.” Tanpa perlu membukanya, Amari bisa menebak. Dia mengenali bau gandum serta kehangatan yang disembunyikan kain penutup. “Sepertinya enak.”
“Aku baru memangganggnya.”
“Wow…”
Belum selesai bicara, pintu markas telah terbanting. Amari tersentak, Kisarumi hanya menatap bagaimana seorang pria berambut emas melompat masuk.
“Elloys, Elloys, di mana dirimu?” Curio lalu menatap Amari. “Amari, apakah kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka? Berani-beraninya para pencuri biadab itu mengganggu ketenangan Lunacrest.” Selanjutnya, Curio berpaling pada Kisarumi, menarik tangan kanannya serta memberikan kecupan. “Kamu selalu tampil menawan.”
Amari terbelalak, tak percaya pada sikap Curio yang dirasa tidak sopan pada seorang pendeta wanita. Wajar saja kalau Kisarumi segera menarik tangannya dengan lembut setelah kecupan tersebut selesai. Dia pun mengalihkan tatapannya. Sebaliknya, Curio malah tersenyum simpul sambil menyipitkan mata. Tidak nampak terkejut, seolah sudah menduga kalau reaksi semacam ini akan terjadi.
Raiden melongok dari atas, mencibir.
“Apa semua baik-baik saja?” Curio mengulangi pertanyaan.
“Tidak,” jawab Amari singkat. “Reiyuel terluka.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu malah membuat Amari jengkel. Bila dia tahu sejak awal, dia tidak perlu menanyakannya. Amari pun bergegas ke dapur menyimpan roti yang dibawakan Kisarumi untuk mereka semua.
“Kamu tidak berubah. Selalu menawan,” bisik Curio.
Kisarumi mengalihkan tatapannya pada lemari yang terluka. “Kita berubah. Kamu. Aku. Mereka. Tidak ada yang tetap di dunia. Tidak satu pun. Kecuali sang pencipta dan perubahan itu sendiri.”
“Apa yang kamu lihat?”
“Luka dan ketidaksempurnaan.”
Curio mengambil satu langkah maju, bertanya dengan suara yang lebih pelan bagai bisikan. “Apa yang telah kamu lihat?”
Kisarumi bergeming, tak menjawab.
“Kehancuran Lunacrest?” Curio melanjutkan.
Mata Kisarumi membesar ketika tebakan itu meluncur keluar.
“Apa kamu melihat bagaimana satu per satu anggota dicabut dari akarnya? Bulan yang sedang menangisi anak-anaknya. Darah. Luka. Air mata. Tarian api dan lompatan petir. Puing-puing serta serpihan. Itukah yang kamu lihat, Kisa?”
Curio tersenyum. “Tentu saja tidak! Hahaha…” Curio malah tertawa. “Aku hanya menyebutkan tragedi yang mungkin menghampiri Lunacrest setelah penyerangan pertama. Orang-orang itu mungkin akan datang lagi, bukan?”
“Ollie?” Amari mengulang panggilan Kisarumi pada Curio selagi mendekat.
Curio hendak menarik tangan Amari, tapi gadis itu buru-buru menjauhkan tangannya. “Namaku adalah Ollivier October Curio. Salam kenal lagi, Amari. Kamu boleh juga memanggilku sang biduan atau sang pujangga.”
Selanjutnya, Curio menengadah ke atas, melihat bagaimana Exodiart dan Praxel ikut melihat ke bawah. Keduanya bergegas turun untuk menyapa sang pendeta. Raiden membuntuti di belakang, terlihat enggan.
Kisarumi melempar senyum tipis setelah ketiga pemuda itu membungkuk padanya.
“Terima kasih sudah mau berkunjung, Kisa.” Exodiart menangguk lagi.
“Hatiku hancur mendengar berita penyerangan ke markas Lunacrest. Kalian tidak pantas mendapat serangan semacam ini,” ujarnya lirih.
“Kami hanya lengah.”
“Kamu berpikir tidak siap dengan ini semua.”
Exodiart menggeleng pelan. “Kami hanya kurang persiapan. Kemenangan Guild Showdown lalu kenaikan level guild. Semua berlangsung dengan cepat. Mungkin terlalu cepat. Aku perlu memikirkan strategi yang lebih baik.”
“Kakimu goyah.”
Exodiart terdiam, tak paham.
“Semakin tinggi puncak yang kamu daki, semakin dingin pula angin yang menerpa. Itu mengapa kakimu goyah. Apakah kamu lupa pada pijakanmu, Exodiart? Kadang kamu harus merelakan sesuatu untuk berada di tempat yang benar.”
Exodiart masih diam, tertegun, juga tak mengerti ucapan tersebut.
Kisarumi menoleh pada Praxel. “Kamu sesungguhnya bisa bergerak bebas lebih dari ini. Burung yang tidak keluar dari sarangnya, tidak akan bisa terbang, Praxel.”
Melihat kalau Praxel ikut terdiam, Raiden ingin sekali kabur. Dia tahu sebentar lagi Kisarumi akan memberikan suatu arahan abstrak padanya. Napasnya benar-benar tertahan ketika Kisarumi berpaling padanya.
“Kamu hampir kehilangan arah. Tapi, kamu berhasil kembali.”
“Menurutmu begitu?” Raiden tak sadar kalau malah melempar pertanyaan.
Kisarumi tersenyum. “Pilihanmu berpengaruh besar bagi Lunacrest.”
Raiden mengernyit. Kalimat ini bukan sesuatu yang bisa dia tanyakan. Maksudnya, sekalipun dia bertanya, Kisarumi biasanya tidak akan memberi jawab.
Amari buru-buru mencairkan suasana, mengajak si pendeta wanita duduk. Mereka sempat ngobrol sebentar sebelum Kisarumi berpamitan. Exodiart pun membukakan pintu untuknya, ditemani Praxel.
Di depan pintu yang terbuka itu, sang pendeta bertanya untuk yang terakhir kalinya. “Malam telah menjelang. Bulan mendekati puncak. Badai hampir datang. Apa kamu sudah memutuskan siapa yang harus dipercaya, Exodiart?”
Exodiart tak bisa menjawabnya dengan cepat.
Kisarumi pun memburu. “Kamu tidak punya banyak waktu. Persiapkan tamengmu dan teguhkan hatimu. Aku berdoa supaya kalian bisa segera melaluinya. Ah, bukan. Aku berdoa kita semua bisa segera melaluinya.”
“Badai?”
“Bukan. Kegelapan.” Kisarumi mengangguk lalu meninggalkan Lunacrest dalam penuh pertanyaan.