
Ada satu tempat yang punya kenangan khusus bagi Elloys. Tempat itu tempat yang biasa ramai di siang hari. Di malam hari, tempat itu nyaris tak ada bedanya dengan kuburan. Meski begitu, tempat itu adalah satu-satunya tempat yang punya pemandangan sempurna untuk melihat bulan.
Elloys duduk di ujung jembatan yang terbuat dari susunan kayu. Jembatan ini berada di atas kolam ikan besar. Elloys sering menghabiskan waktu di sana dulu. Tentunya tidak seorang diri. Rasanya berbeda sekali dengan saat ini. Dia sendirian kali ini. Bulan juga tak nampak karena awan tebal padahal biasanya bulan terlihat dengan jelas. Angin malam berhembus membelai tengkuknya. Dingin dan menusuk. Bukan sejuk dan menyegarkan seperti yang dia ingat.
Dia tak mengenakan baju petualang berupa gaun dengan pelindung bahu logam. Dia mengenakan mantel hitam dengan bulu merah di bagian leher. Rambutnya diatur menjadi cepol besar di belakang. Ujung sepatu hitamnya menggoyang permukaan air.
Telinganya hanya mendengar suara gesekan dedaunan. Tak ada percakapan atau kesenangan orang-orang mendapat ikan. Hanya ada kesunyian. Tak ada petugas keliling yang sering menawarkan bantuan. Hanya ada dirinya dalam keremangan. Tak ada sinar matahari terik yang sering membuatnya mengeluh. Hanya ada sinar lembut dari lampu tinggi di dekatnya duduk.
Di dekatnya, ada pula sebuah alat pancing sederhana yang diberikan petugas ketika dirinya datang. Si petugas tak mengenalinya lagi. Dia memang sudah lama tak datang ke sana. Apalagi, kali ini dia sendirian dalam balutan gaun.
Tak ada yang datang memancing dengan gaun seperti itu. Elloys menertawakan dirinya sendiri dalam pikiran. Meski begitu, hatinya terasa panas dan perih seperti ada api menyala.
Pikirannya memutar kembali kenangan barusan. Dia ingat jelas melihat bagaimana Kelsey menyiapkan kue ulang tahun dengan nama Praxel, dekorasi, party popper, kembang api, juga makanan favorit Praxel. Dia sudah tahu nanti mereka akan merayakan ulang tahun Praxel. Sesungguhnya, dia bahkan telah menyiapkan hadiah. Entah kenapa ketika dia melihat hadiah Kelsey untuk Praxel, Elloys merasa kalah.
Seketika juga Elloys ingat jelas tatapan Praxel setiap bicara pada Kelsey. Sebaik apa pun hadiahnya, Praxel akan lebih senang dapat hadiah pribadi dari Kelsey. Pipinya terasa panas. Elloys berharap di posisi Kelsey.
Dirinya jengkel pada diri sendiri. Kalau dia tidak sengaja datang lebih awal ke markas, dia tidak akan melihat itu. Kalau dia langsung pulang dan tidak berjalan tanpa arah dekat sana, dia tidak akan bertemu Keniaru dan Reiyuel yang membawanya ke sana. Kalau saja dia bisa menjelaskan pada mereka bagaimana perasaannya pada Praxel, dia tidak akan merasakan kepedihan dalam hati.
Elloys menarik lututnya, membenamkan wajahnya sendiri. “Bodoh,” bisiknya disusul isak.
Dia sudah lama menantikan pesta pertamanya di Lunacrest. Aneh rasanya menyadari dirinya berada di kolam pancing yang jauh dari markas. Kecintaannya pada pesta dan pusat perhatian lenyap. Dia hanya ingin ketenangan dan menghilangkan semua rasa tak enak dalam hatinya. Kontras sekali. Sulit dipercaya kalau ini sesuatu yang diinginkan Elloys si pecinta pesta.
Bulan makin tinggi. Tak jauh dari posisi Elloys, sebuah langkah dalam balutan sepatu bersol karet kesat mendekat. Decitnya tak membuat Elloys menoleh. Setelah cukup dekat, si pemilik langkah berdehem.
Elloys bergeming.
Merasa dicuekkan, dia akhirnya bicara. “Semua orang mencarimu.”
Elloys masih bergeming sekalipun mengenali suara tersebut. “Sedang apa kamu di sini, Raiden?”
“Seharusnya aku yang tanya. Sedang apa kamu di sini?” Raiden balik bertanya. “Semua orang mencarimu.”
Elloys menarik wajahnya ke luar tanpa berani menoleh pada Raiden. Dia yakin semua riasannya sudah luntur, bahkan mungkin lebih parah. Wajahnya terasa basah, tenggorokkannya kering. “Aku sedang memancing.”
“Ken mencemaskanmu.”
“Dia akan lupa setelah makan banyak.”
Raiden masih berusaha membuka percakapan. “Kudengar kamu suka pesta.”
“Iya, kadang-kadang.”
Kadang? Jawaban macam apa itu? Raiden mengerucutkan bibir. Dia bisa melihat jelas kalau Elloys tidak sedang memancing. Di matanya, Elloys sedang menangis lalu berusaha keras menyangkalnya. Tak mau memperpanjang, Raiden melangkah mundur. “Pesta belum selesai. Makanan masih banyak. Apalagi hari ini Exo akan menginap di markas. Datang saja. Mereka akan senang.”
Elloys tetap bergeming. “Akan kupikirkan.”
Raiden pun pergi meninggalkannya.
Elloys tak tahu berapa lama dia berdiam diri seperti itu. Ujung sepatunya tak lagi memainkan permukaan air. Sekujur tubuhnya diam tak bergerak. Keheningan memenuhi segalanya. Di satu sisi, dia sadar sebentar lagi tempat pemancingan akan tutup. Di sisi lain, dia sadar kalau tak ingin meninggalkan tempat ini. Dia hanya ingin ketenangan. Ini memang hal langka.
Elloys lebih suka dikelilingi teman-teman dan hal menyenangkan untuk dilakukan bersama. Namun, saat pikirannya kacau dan butuh kesendirian, dia merasa lebih membutuhkannya daripada udara.
Kali ini ada suara langkah mendekat yang bisa langsung dia kenali. Suara langkah ringan bagaikan tak pernah menyentuh tanah. Dia bisa melihat Mierai melangkah cepat dengan bot tingginya. “Elloys. Kami menunggumu di markas. Kami kira kamu akan datang. Sedang apa kamu di sini?”
“Hai…” Elloys menyapa tanpa semangat.
“Hei…” Mierai cepat-cepat duduk di samping Elloys. “Aku enggak tahu apa yang terjadi padamu. Kamu juga enggak harus menceritakannya padaku. Tapi, tidak apa-apa. Aku di sini kalau kamu membutuhkan. Dan… menangis biasanya bisa membuatmu lega. Tidak apa-apa, Ell.”
Raut Elloys langsung berubah. Air matanya mengalir deras bagaikan hujan. Mierai menarik tubuh Elloys, membiarkan gadis itu membenamkan wajah di bahunya. Elloys terisak dalam pelukan. Mierai menepuk punggungnya, membiarkan Elloys menumpahkan semua keluh kesah kesedihannya.
Mierai melirik ke belakang ketika menyadari Raiden mendekat namun berhenti untuk memberi mereka ruang. Mierai berkata tanpa suara, “Tidak apa-apa. Kamu pulang saja. Aku akan menemaninya.”
Raiden bergeming. Matanya tertuju pada Elloys. Dia sama sekali tak menyangka bisa melihat si Pyromancer riang itu dalam kondisi seperti itu.
Mierai menanti hingga Raiden menatapnya lagi. “Tidak apa-apa,” bisik Mierai sambil mengibaskan tangan agar Raiden menjauh.
Raiden pun mengangguk, mengambil satu langkah mundur, hanya itu. Dari posisinya, dia tak bisa mendengar apa saja yang diucapkan Elloys. Tapi, dia bisa menebak sebagian besar ucapannya dari apa yang diucapkan Mierai. Soal kesempatan, kepercayaan diri, kecantikan, penampilan, juga soal waktu. Semua merupakan penghiburan bagi orang yang sedang patah hati.
Raiden paham kalau Elloys hancur oleh pesta yang mereka adakan.
Tanpa sadar, dagunya menegang. Dia bisa merasakan bagaimana pegangannya pada pancing mengeras. Hatinya ikut terusik. Ada kesedihan bertameng kemarahan berbalut kekesalan. Ini pertama kali dalam hidupnya, Raiden berharap kalau dia adalah Praxel.