Lunacrest

Lunacrest
Chapter 86



Exodiart merasakan tetes-tetes air dingin jatuh ke pipinya. Ketika dia membuka mata, dia mendapati pemandangan hijau dibalut kelembababan. Sulur-sulur liar tanaman yang tergantung menghantar butiran air ke wajahnya. Dingin tapi menyegarkan. Rasa sakitnya kembali mengganggu. Dia teringat bagaimana laser cyclops mengenai dirinya termasuk semua rasa perih, aroma darah, juga badannya yang panas dingin.


“Exo?”


Suara Harufuji membuatnya mengerjap lagi. Dia bisa melihat bagaimana Harufuji duduk dekatnya sementara dia berbaring di atas sebuah alas keras. Ada guncangan yang terkadang terasa, ada pula suara air samar-samar terdengar.


“Kamu masih hidup!”


Keniaru menyahut dari sisi lain yang tak bisa dijangkau selagi Exodiart berbaring. Kepalanya terlalu kaku untuk digerakkan. Begitu pula dengan badannya. Lelah dan pegal memerangkap tubuhnya.


“Di mana kita?” Suaranya sendiri terasa begitu pelan. Sekalipun sekelilingnya tenang, Exodiart bahkan tak yakin kalau suaranya terdengar.


“Kita…” Harufuji mengedarkan pandangannya sembari mencari jawaban. “Di jalan?”


Exodiart mengernyit.


Keniaru berinisiatif membantu menjelaskan. “Kita ada di sungai. Tepatnya, di atas kapal dengan para pendayung pasar gelap. Mereka akan mengantar kita ke Korumbie setelah keluar dari gua portal tadi.”


Bukannya mendapat pencerahan, Exodiart justru mulai berpikir kalau dirinya tengah berhalusinasi. Seharusnya dirinya berada di pegunungan Pothine, menjalankan misi rahasia untuk memeriksa kalau ada pengkhianat di menara penjaga. Tidak wajar kalau dia berada bersama Keniaru dan Harufuji.


Berikutnya, dia merasakan guncangan mendekatinya.


“Tenanglah, kita selamat.” Praxel melempar senyum tipis padanya.


Setidaknya semua jadi terasa sedikit lebih masuk akal sekarang karena ada Praxel di sana. “Di mana kita?” Dirinya kembali melontarkan pertanyaan.


“Di sungai, seperti kata Keniaru. Mereka menyusul kita. Menyelamatkan kita.”


“Siapa?”


“Ada Raiden dan Elloys juga, mereka sedang mencari Kelsey dan Mierai. Kita harus segera meninggalkan Pothine. Di sana ada para demon.”


“Demon sungguhan? Bagaimana kamu tahu?” Exodiart berusaha bergerak mengangkat kepala, namun rasa sakit menekannya untuk tetap berbaring. Ketika dia melihat ke samping, Harufuji menggeleng padanya.


Praxel tak menjawab, hanya melirik Keniaru dan Harufuji.


Keniaru menggaruk belakang kepalanya, “Eh… Bisa dibilang kalau kami bertemu dengan mereka.”


“Apa?”


Harufuji buru-buru menambahkan. “Kami melihat para demon sesuai ucapan Curio. Kalau memang benar, mereka sedang mengumpulkan para monster untuk menyerang ibu kota. Mungkin ini adalah salah satu tahap pertamanya. Petir tadi pagi itu hanya jebakan. Pancingan untuk menyebarkan teror pada kerajaan.”


Exodiart memejamkan matanya, mengingat apa-apa saja yang jadi percakapannya dengan Guild Master Declan. Sepertinya ada lebih banyak lagi di balik semua pertanyaan dan jebakan ini.


“Bagaimana denganmu, Praxel?” Exodiart mengganti topik pembicaraan.


“Aku baik-baik saja. Harufuji sudah menggunakan sihir penyembuhnya juga padaku.” Praxel menambahkan. “Kamu tahu, tadi kami menggunakan sihir penyembuh bersamaan. Mungkin tidak bisa langsung memulihkan keadaanmu. Tapi, aku cukup yakin itu membatu.”


“Kamu juga berulang kali menyelamatkanku. Terima kasih.” Praxel mendahului. Tak ingin kalau Exodiart berterima kasih dulu padanya.


Exodiart tersenyum, hendak membalas. Tapi, kemudian dia merasakan guncangan lain. Salah seorang dari pendayung itu berdiri diikuti pendayung lainnya. Mereka saling lempar pandang juga memberikan isyarat dengan tangan. Keempat petualang lainnya hanya diam dalam keheningan.


Selanjutnya salah satu pendayung itu bicara dengan suara rendah. “Ada orang lain di sini. Banyak. Tetaplah diam kalau mau selamat.”


Kalimat itu cukup untuk membuat mereka semua diam. Perahu bergerak melenceng dari arah seharusnya. Dari posisinya, Keniaru bisa melihat adanya ceruk sempit di sisi kanan. Sesuai dugaannya, perahu mengubah haluan, menuju ceruk tersebut. Semakin dekat, ternyata ceruk tersebut lebih lebar dari kelihatannya. Ketika mereka merapatkan diri pada tebing, pepohonan menaungi dari atas bagai atap pondok. Sejumlah tanaman rambat serta sulur panjang sukses menyembunyikan mereka.


Sekalipun kondisi di dalam cukup gelap, Praxel bisa melihat dengan jelas ke arah luar, ke sungai yang tadi mereka lintasi. Penasaran, dirinya berpindah mendekati sisi perahu yang lebih dekat keluar.


Exodiart pun sepertinya penasaran dan mungkin sedikit cemas. Ketika dirinya bergerak untuk bangung, Harufuji pun terpaksa membantunya. Dia tidak perlu benar-benar duduk, dia hanya ingin melihat apa yang terjadi di luar sana yang membuat para pendayung mereka mendadak mengubah haluan.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya ada riak air, suara serangga, juga gesekan dedaunan oleh angin. Keniaru mulai mempertanyakan alasan mereka berada di sana. Saat itu pula, mereka mendengar adanya riak lebih kencang. Terlihat pula dari aliran air yang tersibak. Ombaknya bahkan sampai mencapai posisi persembunyian mereka, membuat perahu bergerak naik turun.


Setelahnya, ada sederetan kapal yang melintas. Bukan satu, bukan dua. Praxel menghitungnya dengan tepat, empat kapal. Ukuran mereka lebih besar dari sekadar perahu seperti yang sedang mereka tumpangi. Kapal itu setidaknya memuat dua belas orang dalam baju zirah. Praxel memicingkan mata, mengira kalau dia salah liat. Ternyata matanya tak menipunya, itu para prajurit.


“Apa yang mereka lakukan di sini?” Keniaru membiarkan pertanyaannya menjelma jadi bisikan.


Kapal kedua dan ketiga memuat jumlah prajurit sama persis. Kapal keempat sedikit berbeda. Kapal ini memuat enam prajurit dengan baju zirah berbeda dan satu orang dengan baju zirah dilengkapi jubah dan helm besar. Dalam sekali lihat, Praxel dan Exodiart mengenali orang tersebut sebagai salah satu jendral kerajaan.


“Apa itu… Fawke?” bisik Keniaru lagi.


Praxel menggeleng. “Bukan. Tapi, aku yakin siapa pun itu, dia orang dalam yang sedang dicari Guild Master Declan dan — mungkin — jendral Fawke.”


Praxel melanjutkan pengamatan. Dia sadar ada satu sosok lagi duduk di samping sang jendral. Orang ini mengenakan topeng merah dan pakaian yang sepertinya terlalu santai untuk dipakai ke sarang monster. Pakaiannya seperti kostum pesta dansa lengkap dengan selendang bulu di leher serta topi. Kerahnya tinggi dan berkilau. Topinya punya bagian-bagian runcing empuk dengan bola di bagian ujung.


“Astaga…” Kali ini Exodiart terperanjat dalam gumam pelan.


“Kamu kenal?” Harufuji bertanya.


Exodiart mengatupkan bibirnya, menanti hingga mereka benar-benar lewat. Tak seorang pun bicara lagi. Mereka semua menanti keempat kapal itu menjauh. Untungnya mereka tak perlu menunggu lama karena para pendayung kapalnya banyak. Mereka memanfaatkan para prajurit untuk mendayung kapal itu.


Setelah beberapa menit yang bagaikan setahun, seorang pendayung yang paling depan melambaikan tangan. Dia memberi aba-aba untuk pendayung di bagian belakang. Perahu pun mulai bergerak lagi, menjauhi ceruk, kembali ke sungai seperti jalur mereka semula.


“Apa itu tadi? Aku yakin bukan kiriman bantuan dari kerajaan.” Praxel membuka percakapan. “Sepertinya kita dapat orang dalam yang diinginkan Guild Master Declan. Tapi, kita tidak bisa melapor tanpa nama. Ada dugaan, Exo?”


Exodiart menggeleng. “Mungkin ini agak sedikit sulit dilaporkan.”


“Kenapa?”


“Kamu lihat orang bertopeng merah tadi? Itu badut kerajaan yang biasanya melucu di ruang tahta. Menurutmu, kenapa dia ada di kapal yang sama dengan seorang jendral menuju ke pegunungan Pothine?”


“Tunggu dulu. Kamu pikir dia orang dalamnya?!”


“Aku tidak bisa memikirkan dugaan lain…” Exodiart berkata lirih. “Ternyata bukan satu, tapi dua. Bahkan, mungkin lebih dari itu.”