Lunacrest

Lunacrest
Chapter 95



Hidup ini kadang memang lucu. Exodiart mendapat tawaran ke Elifaned, benteng yang sedang diancam oleh para wyvern. Saat sedang memikirkan untuk menerima atau tidak, dia justru dihadapkan pada situasi lain yang juga berhubungan dengan wyvern.


“Wyvern!?” Amari mengira dirinya salah dengar. “Tidak ada wyvern di ibu kota.”


“Kenapa kamu yakin kalau Elloys masih ada di ibu kota?” balas Curio. “Baiklah, maksudku dia memang tidak persis ada di ibu kota. Tapi, di luar, agak jauh. Di lembah batu. Tempat yang cukup terpencil juga cukup strategis untuk memelihara kadal raksasa yang bisa terbang.”


“Memelihara?”


“Oh, Amari. Ada banyak rahasia yang disembunyikan para anggota kerajaan. Memang bukan sesuatu yang bisa kita cerna dengan mudah.”


“Dari mana kamu tahu semua ini?” Amari mengernyit, memperhatikan satu per satu anggota Lunacrest yang lain. Dia ingin tahu apakah mereka sama sulitnya menerima informasi Curio atau hanya dirinya yang merasa demikian.


Curio hendak menjawab.


“Angin membawa semua jawaban ke telinganya,” jawab Reiyuel, lebih cepat dari Curio. Sambil melepas topengnya, Reiyuel menatap lekat-lekat si pembawa kecapi, “Bukan begitu, Curio?”


Curio perlu sedikit waktu hingga mampu menjawab. “Benar. Benar sekali!”


“Apa lagi yang kamu tahu, Curio?” tanya Exodiart.


“Apa ini kegelapan yang kamu maksud?” sahut Harufuji, masuk ke dalam markas, sambil mengusap peluh di wajah. “Seingatku kamu bilang kegelapan tidak akan menimpa Lunacrest.  Ya, ini mungkin bukan kegelapan, sih. Hanya sedikit huru-hara. Tergantung kamu melihatnya dari sisi mana.


“Di mana mereka, Curio?” tambah Keniaru.


Curio mundur selangkah agar tak mengahalangi pintu markas. “Sabar, teman-temanku. Satu pertanyaan setiap waktu. Mari kita mulai dengan kegelapan. Tidak ada hal yang pasti dalam kehidupan ini. Aku tidak bisa memastikannya pada kalian. Tapi… Menurutku, kegelapan itu bukan ini. Kalian akan melewatinya tanpa terluka. Lebih tepatnya, kegelapan bahkan tidak akan menyentuh kalian.”


Amari merasakan dahinya makin mengernyit. Ucapan Curio selalu menarik sekaligus menimbulkan misteri di saat bersamaan.


“Kalau begitu, kegelapan akan datang menimpa yang lain?” Exodiart melempar senyum tipis. “Sepertinya aku bisa menebak kegelapan seperti apa yang kamu maksud dan siapa yang akan mereka datangi.”


“Siapa?” Amari makin penasaran.


Curio terkekeh. “Oh, Amari. Nanti kamu juga akan tahu.”


“Di mana mereka?” pinta Keniaru lagi. “Tadi, kamu bilang kalau ada wyvern. Kalau benar, kita harus segera menolong Raiden dan Elloys. Di mana mereka?”


“Di lembah batu.” Tangan Curio mengulurkan lipatan kertas berisi peta menuju lokasi Litaro menyekap Elloys. “Perjalanannya lumayan lama. Kecuali…”


“Portal lagi?!” sahut Keniaru.


Curio tak menjawab, hanya tersenyum. “Kecuali kalian berangkat sekarang.”


“Kalau begitu, ayo!” Exodiart bangkit dari duduknya.


“Ada satu hal yang harus kalian tahu soal si wyvern. Dia bisa menyemburkan api, lumayan kebal dengan listrik, tidak mudah dibunuh. Justru karena itu, jangan membunuhnya. Kalian bisa dapat masalah besar.”


“Karena dia peliharaan anggota kerajaan?”


“Semacam itulah. Kalian hanya perlu membawa Raiden dan Elloys pulang dari sana. Jangan khawatir, begitu kalian keluar dari area lembah batu, wyvern tak akan mengejar. Dia sudah dilatih sejak kecil.”


Exodiart mengangguk sekali.


“Satu lagi,” sahut Curio. “Kalian tidak akan pergi semua ke sana, bukan? Satu, Exodiart, dirimu hanya akan jadi beban di sana. Jangan tersinggung. Dua, Kisarumi bisa membunuhku kalau mengajaknya ke sini hanya untuk menjaga piala kesayangan kalian.”


Harufuji langsung mencibir. “Piala sial, maksudmu?”


Keheningan datang untuk memberi sang ketua waktu berpikir.


“Baiklah,” kata Exodiart setelah cukup lama. “Haru, Ken, Mierai, Reiyuel, kupercayakan Elloys dan Raiden pada kalian. Praxel, Kelsey, dan aku akan coba mengatasi masalah di sini.”


“Siap!” Keniaru langsung berlari keluar.


“Hei, tunggu!” protes Mierai di belakangnya.


Reiyuel pun bergegas keluar tanpa banyak bicara.


Harufuji menatap ketuanya dengan sedikit cemas. “Apa kita akan baik-baik saja?”


“Pasti. Percayalah!”


Setelah keempat anggotanya keluar begitu saja tanpa hadangan dari para prajurit, Exodiart tahu sekarang gilirannya untuk memberikan penjelasan pada para prajurit di luar sana. Dia melihat Kelsey yang melempar senyum tipis padanya, menatap Praxel yang memberi anggukan pelan, juga Amari yang malah menghindari tatapannya dan melirik Angelic Desert di lemari hias.


Exodiart menghela napas pelan.


“Apa yang akan kamu katakan pada mereka?” Kelsey bertanya lirih, menyembunyikan dirinya agar tak terlihat dari luar.


“Semuanya, dalam kejujuran.”


Praxel melihat kondisi di luar lalu menatap ketuanya. “Kamu enggak takut? Dilihat dari sisi mana pun, kita baru selesai menghajar orang-orang di luar sana. Bukan sesuatu yang mudah dijelaskan apalagi diterima. Rakyat mungkin akan takut pada kita. Lunacrest bisa saja dapat sanksi berat atau mungkin—”


“Praxel,” sahut Exodiart. “Kali ini, biarkan aku yang memberikanmu nasihat.”


“Apa itu?”


“Kalau kita benar, kita tidak perlu takut.”


“Sekalipun berhadapan dengan Maelstrom?”


“Iya. Asalkan kita benar.”


“Bagaimana kalau Declan dan kerajaan ada di pihak Maelstrom?”


“Kita tahu Declan dan kerajaan seharusnya tidak memihak siapapun. Jadi, kalau itu sampai terjadi… Kita akan tahu kualitas kerajaan yang kita layani dan komunitas di sekeliling kita.”


Praxel terdiam sebentar kemudian malah tertawa kecil. “Exo, Exo. Sampai kapan pun, memang tidak ada yang akan bisa menggantikan posisimu di sini.” Praxel mendekat sembari mengulurkan tangan. “Ayo, biar kutemani keluar. Saatnya mengungkap kebenaran.”


Exodiart menyambut uluran tangan dan bangkit. “Ayo!”


“Ngomong-ngomong, aku tahu ini saat yang sangat tidak tepat. Tapi, aku mohon kamu memikirkan lagi soal tawaran ke Elifaned. Tanpamu, aku tidak yakin Lunacrest akan bertahan.”


“Elifaned? Memang tawaran apa yang kuterima?”


Reaksi Exodiart membuat Kelsey tersenyum lebar.


Saat keduanya beranjak ke pintu, Curio bicara lagi. “Kalian akan melewati ini dengan utuh, teman-teman. Dan, aku akan jadi saksinya. Mau kumainkan kecapi selagi kalian ngobrol-ngobrol di luar? Musik selalu bisa mencairkan suasana.”


“Aku yakin mereka akan suka permainanmu.”