Lunacrest

Lunacrest
Chapter 2



Orc tersebut terdiam sebentar. Menyadari kalau efek sengatan pada dirinya telah habis dan serangan petir barusan tidak melukainya parah, dia pun membuat seringai lebar. Tangan dengan pentungannya sudah terangkat tinggi.


Praxel tidak buru-buru menghindar. Tidak perlu. Serangan itu akan datang dari atas, dia tahu, dan dia sudah siap. Dia bahkan telah menantinya. Begitu pentungan terayun, dirinya bergeser sedikit. Pentungan turun mulus melewati bagian samping jubahnya. Dengan satu kali tendangan, Praxel membuat pentungan terlepas dari pemiliknya.


Orc lawan jelas tak menduga ini.


Raiden muncul dari sisi lain. Palunya menghantam orc terakhir hingga terpental ke arah kedua orc sebelumnya. Sayangnya, pertempuran tidak selesai sampai di sana. Beberapa orc berdatangan lagi. Raiden bersiap menyerang mereka.


“Menunduk!” Seruan Exodiart membahana sebelum digantikan suara sambaran petir.


Serentak, Raiden dan Praxel menunduk sambil melindungi kepala mereka.


Thunder Wave Chain!


Sebuah petir besar mengalir horizontal. Bukan sihir milik Praxel, melainkan Exodiart. Gelombang petir ini jauh lebih besar dibanding petir-petir sebelumnya. Hanya satu, tapi mematikan. Dia melewati setiap orc tanpa terkecuali. Sekumpulan monster itu tersetrum bersamaan. Berbeda dengan serangan-serangan petir sebelumnya, serangan ini tidak langsung lenyap tapi terus berlangsung selama Exodiart mengulurkan tongkat palu berdurinya. Petir biru putih mengalir tanpa ampun menghabisi lawan. Tak perlu waktu lama sampai semua lawan tumbang dengan bau hangus menyengat.


Raiden berdiri setelah petir tersebut lenyap. Keheningan menggantikan keributan pertempuran. Pandangannya mengawasi sekeliling. Para orc bergeletakan di tanah. Mereka bertiga berhasil mengalahkan sekumpulan orc. Bukan sesuatu yang benar-benar spektakuler, tapi Raiden tak bisa bohong kalau dia senang. Senyuman bangga terulas di wajahnya tanpa dia sadari.


“Kerja bagus.” Praxel melempar senyum pula sambil membersihkan debu dari jubahnya. “Ketua guild kita memang selalu bisa diandalkan.”


Ketika berdiri berdampingan, Raiden kelihatan lebih besar. Dirinya memang lebih tinggi dari sang kakak. Selain itu, dia melakukan banyak latihan fisik. Berbeda dari kakaknya yang lebih fokus pada pengendalian sihir.


“Itu sedikit berlebihan.” Exodiart tertawa kecil. Langkahnya mendekat sambil menenteng tongkal palu berduri. Postur tubuhnya sama dengan Raiden. Tegap dan berotot. Exodiart menggunakan kekuatan fisik setara dengan sihirnya. Rambut jabrik kelabu peraknya begitu kontras dengan kedua kakak beradik berambut cokelat itu.


“Sampai di mana aku tadi…” Praxel berkacak pinggang, melotot pada Raiden. “Jangan memukul peti kayu seperti itu! Bagaimana kalau sampai cawan kayunya ikut rusak! Aku sudah bawa alat pembuka kunci.” Praxel mengambil alat tersebut agar Raiden bisa melihat lebih jelas.


“Aku nggak tahu kalau kakak tahu cara pakainya,” ujar Raiden pelan.


“Apa gunanya kupinjam kalau nggak tahu cara pakainya. Aku sudah belajar dari Reiyuel semalam.” Praxel menghela napas sembari menyimpan alat tersebut kembali ke kantong.


Raiden tergoda menjawab lagi karena sesungguhnya Reiyuel bukan Marauder. Membuka kunci bukan keahlian Reiyuel. Dia hanya ahli menyembunyikan diri lalu memberikan serangan kejutan. Tentu saja Raiden tidak benar-benar mengutarakan pemikirannya. Dia menurunkan palunya serta tatapannya ke bawah, tak berniat melanjutkan perdebatan.


Praxel mendesah singkat. “Sudah, sekarang ayo kita cari!”


Exodiart bergabung dengan keduanya. Di bawah kaki mereka, ada banyak barang juga serpihan dari kotak kayu. Exodiart menendang pelan satu pecahan kayu terbesar, menyingkap tumpukan dari perkakas serta alat-alat dapur di baliknya. Mereka mulai memperhatikan satu per satu barang yang tercecer. Ada panci logam, pisau usang, sendok kusam, juga beberapa serpihan kayu yang sepertinya bukan bagian dari peti.


Praxel berlutut, memeriksa tumpukan tersebut dari dekat. “Coba kita lihat. Ada peralatan masak dan alat makan.”


Praxel mengangkat sebelah alisnya. “Atau... hanya sekedar kain kumal,” tambahnya.


Raiden melemparkan kain abu-abu tersebut ke pinggir.  “Kalau ini… Apa ini?” Raiden menarik satu kantong kulit kecil dari bawah panci lalu menyerahkannya pada Praxel. “Sepertinya itu bukan barang yang kita cari.”


“Bukan. Sesuatu yang lebih baik.” Praxel tersenyum ketika mengintip isinya. Dia mengoper kantong kain tersebut pada Exodiart.


Exodiart membuka kantong, lalu tanpa ragu menuangkan isinya ke atas tangan lainnya. Dua permata kecil beserta beberapa koin jatuh ke dalam telapak tangannya dalam suara berdenting pelan. “Benda berkilau. Jelas bukan yang kita cari. Tapi, ini bisa jadi tambahan upah yang menyenangkan.” Dia pun menyimpan kantong tersebut.


Di Endialte, ada banyak peraturan tidak tertulis.


Salah satunya mengenai barang yang dibawa para monster. Manusia boleh mengambil barang apa pun dari monster. Sejauh ini, belum ada yang repot-repot membuat peraturan mengenai barang-barang tersebut. Ada banyak alasan. Setidaknya ada tiga alasan utama. Pertama, monster selalu jadi biang keributan. Dua, kebanyakan barang-barang itu adalah curian dari manusia. Ketiga, barang-barang tersebut tidak punya tanda kepemilikan, jadi sulit dikembalikan. Sederhananya, kantong itu kini jadi milik mereka. Penemuan seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Meski begitu, hal tersebut selalu jadi kejutan manis dalam setiap petualangan.


Ketiganya melanjutkan pencarian. Barang-barang dalam peti kayu jauh lebih banyak daripada kelihatannya. Raiden sempat berpikir mungkin lebih baik kalau dia membiarkan Praxel membuka gembok peti. Setidaknya barang-barang tidak akan tercecer seperti ini. Namun, mungkin juga tidak. Raiden cukup yakin kalau Praxel butuh waktu cukup lama untuk bisa membuka gembok.


“Ingatkan aku lagi apa yang kita cari,” kata Praxel setelah mereka diam cukup lama. Tak ada jawaban untuknya. Exodiart maupun Raiden yakin kalau kalimatnya merupakan pernyataan bukan pertanyaan. “Kenapa repot-repot mencari cawan kayu?” lanjut Praxel.


Exodiart angkat bahu. “Entahlah, mungkin benda itu semacam benda keberuntungan atau benda kenangan mendiang istri Bill.”


Raiden mengernyit. “Aku nggak tahu kalau Bill punya istri.”


Praxel ikut menimpali. “Aku juga nggak.”


“Sepertinya kalian harus lebih sering ikut aku ke Cavern Tavern. Mereka punya banyak informasi rahasia.” Exodiart masih berlutut di seberang Praxel. Tangannya menyingkirkan serpihan-serpihan kayu agar bisa melihat lebih jelas. “Maksudku, orang-orang di sana sering keceplosan bicara banyak hal.”


“Tentu saja, orang-orang mabuk…” kata Praxel lirih.


“Aku nggak mabuk,” sahut Exodiart. Dia tidak mau Praxel membuat stigma kalau semua pengunjung Cavern adalah pemabuk.


“Bukan kamu, mereka. Orang-orang itu.” sahut Praxel cepat. Dia tak bermaksud menyinggung Exodiart sama sekali. Meski Exodiart sendiri tidak mudah tersinggung atau termakan omongan orang. Merasa salah tingkah, Praxel mengalihkan tatapannya ke sisi lain peti kayu. Ada beberapa ransel lagi yang belum sempat dia periksa.


Tanpa aba-aba, Exodiart menegakkan badan. Kepalanya menoleh ke arah hutan. Bola mata kelabunya menangkap sekelebat bayangan dari sisi lain hutan. “Kalian lihat itu?”


Raiden menyipitkan mata. Sesuatu bergerak di dalam hutan. Semak-semak bergesekan, ranting-ranting patah terinjak, dahan pohon berderak keras sebelum akhirnya patah. Suaranya bahkan lebih berisik daripada ketika Raiden melintas memenuhi panggilan Exodiart.


“Kita kedatangan tamu.” Exodiart merasakan tanah bergetar pelan.