
Exodiart dan Praxel berjalan dalam keheningan ketika mereka berjalan menuju markas. Setelah melewati taman yang masih sepi di pagi hari, Exodiart berhenti setelah melewati satu gang buntu.
“Kembalilah dulu,” katanya pada Praxel. “Ada yang harus kulakukan.”
“Eh?”
“Enggak lama, kok. Aku akan menyusul. Kembalilah dulu.”
Praxel tak lagi mempertanyakan apa yang hendak dilakukan Exodiart. Dia pun berpaling, melanjutkan perjalanannya menuju ke markas yang tinggal satu belokan saja jauhnya. Exodiart menanti sampai Praxel menghilang di perempatan, barulah dia kembali ke depan gang buntu yang telah dia lalui.
“Saman?” ujarnya lirih.
Saman keluar bayang-bayang yang dibentuk antara kedua gedung di gang buntu. Orang biasa tidak akan mampu menyadari kehadirannya. Dia menyembunyikan dirinya dengan baik seperti para Assassin lain. Saat bersembunyi seperti itu, Saman menutupi rambutnya yang dicat dengan tudung hitam. Poin yang bisa jadi fatal bila terlewat.
“Apa yang kamu lakukan?” bisik Exodiart. Dirinya masih berdiri di depan gang. Kali ini, ada kecemasan dalam benaknya. Apalagi saat dia ingat bagaimana reaksi wajah Saman ketika nama Maelstrom tidak disebut Fawke.
“Aku hanya ingin negosiasi.”
Exodiart melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa sekalipun menoleh. Dia tidak merasakan kehadiran petualan lain. Mereka hanya berdua.
“Aku sendirian,” kata Saman sembari membuka tudung. Dia mengambil beberapa langkah untuk maju namun berhenti pada satu titik yang merupakan ujung bayang-bayang. “Kamu enggak keberatan kalau mendekat?”
Exodiart menyapukan pandangan ke atas dan ke bawah. Sekali lagi memastikan kalau tidak akan ada kejutan. Setelahnya, barulah dia melangkah masuk ke dalam gang buntu yang juga cukup remang tersebut. “Apa yang kamu lakukan? Maelstrom seharusnya bersiap-siap untuk pergi sekarang.”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Sepenting itu?” Exodiart berhenti, tak ingin terlalu dekat dengan Saman.
“Ini soal misi kita ke Pothine.”
Kata ‘kita’ membuat Exodiart merasa ganjil. Mereka tidak sungguh-sungguh melakukan semua misinya bersama. Mereka akan memeriksa titik-titik yang berbeda sekalipun tujuan mereka sama. Barusan, pertemuannya dengan Declan malah membuat perbedaan jauh lebih besar. Lunacrest punya misi sendiri.
“Aku tahu para prajurit menuntunmu ke satu tempat setelah kita meninggalkan istana,” ujar Saman. Suaranya begitu pelan seolah tak mau didengar siapa pun.
“Apa yang kamu maksud?” Exodiart berusaha menyembunyikannya.
“Kamu enggak perlu takut. Aku melihatnya.”
Exodiart cukup yakin tak ada orang yang melihat mereka masuk ke ruangan tersebut. Kecuali kalau bukan orang yang melihatnya. “Maelstrom sepertinya punya burung-burung pengintai yang pintar.”
Dugaan Exodiart benar karena Saman langsung terkekeh dibuatnya. “Kamu melihatnya?”
“Kamu bisa menebaknya.”
“Bagus. Kalau begitu, kita bisa langsung ke intinya.” Saman tersenyum. “Kamu butuh bantuan dan aku bisa memberikannya.”
“Bantuan apa?”
“Aku tidak tahu siapa yang kamu temui dan apa yang terjadi dalam ruangan itu, tapi aku bisa menebak kalau kalian mendapat misi yang sedikit berbeda dari kami.”
“Aku tidak bisa bilang apa pun soal itu.”
“Tidak, tidak perlu,” sahut Saman. “Aku tahu Fawke sering memilih guild tertentu untuk menjalankan misi khusus. Kamu tahu apa yang terjadi pada mereka?”
“Hal buruk?”
“Kebanyakan dari mereka tidak siap akan apa yang terjadi nantinya. Mereka terluka, bahkan lebih buruk dari itu. Tewas.”
Exodiart mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak ingin bicara lebih lanjut.
Saman pun melangkah lagi, keluar dari bayang-bayang menuju cahaya. Suaranya melembut “Aku tidak mau Lunacrest mengalami nasib yang sama. Karena itu, Maelstrom menawarkan bantuan. Kamu tidak perlu memberitahuku apa yang terjadi. Aku sangat menghargai kerahasiaan misi guild. Aku hanya menawarkan anggota-anggotaku bila diperlukan.”
“Anggota Lunacrest saat ini hanya sembilan orang. Delapan, bila kamu kurangi dengan Reiyuel. Kamu tidak punya anggota dengan variasi kelas lengkap. Misalnya, kamu hanya punya satu orang Assassin dengan kelas spesialisasi Executor dan satu orang Ranger dengan kelas spesialisasi Wind Dancer. Kami berbeda. Kami setidaknya punya satu orang dari setiap kelas spesialisasi.”
“Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Saman?”
“Kita sama-sama tahu kalau ada kelas yang lebih efektif dari yang lain ketika menjalankan misi. Membawa Guardian saat melawan Minotaur akan lebih aman daripada membawa Crusader. Sayangnya, kamu tidak punya seorang Guardian.”
“Kamu ingin aku mengajak anggota Maelstrom dalam misi guild Lunacrest?”
“Tidak ada peraturan yang melarang ini.”
Exodiart tahu jelas hal tersebut. “Bukan berarti itu hal yang benar.”
“Kita hanya coba membantu satu sama lain, Exo.”
“Aku tidak melihat keuntungannya bagi Maelstrom.”
“Kami punya banyak sekali anggota—”
“Juga orang-orang yang ingin sekali bergabung jadi anggota kalian,” sahut Exodiart.
“Benar. Mereka tidak bisa turun ke lapangan, padahal punya kapasitas dan kemampuan yang sangat baik.”
“Kita bukan bicara soal anggota aktif?”
“Anggota aktif hanya anggota-anggota yang diizinkan turun ke lapangan untuk menjalankan misi guild. Lainnya hanya bisa menjadi anggota guild di belakang layar, mengurus administrasi dan keperluan lain. Karena itu, aku berpikir bagaimana caranya memberikan mereka kesempatan. Dan, aku menemukan cara yang bisa menguntungkan Maelstrom dan guild lain juga.”
“Kamu ingin aku mengajak anggota administrasi Maelstrom untuk misi Lunacrest? Itu melanggar peraturan.” Exodiart tahu ada peraturan jelas kalau anggota administrasi dilarang turun ke lapangan. Oleh sebab itu, kebanyakan anggota administrasi tidak punya kemampuan bertarung. Hal ini berbeda di Maelstrom. Anggota adminstrasi mereka pun merupakan para petualang.
“Kita bisa membuatnya agar tidak melanggar peraturan.”
“Apa maksudmu?”
“Kupikir kamu tahu apa maksudku.”
“Satu petualang hanya diizinkan menjadi satu anggota guild.”
“Ya, secara resmi.”
Exodiart tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. Dia pun mengambil satu langkah mundur. “Terima kasih tawarannya, Saman. Aku sangat menghargainya. Semoga beruntung di Pothine,” katanya sebelum berbalik.
“Tunggu! Apa aku melakukan hal yang salah? Aku sama sekali tidak berniat membuatmu tersinggung. Aku bukan menawarkan ini karena menganggap Lunacrest lemah. Kupikir kita akan bertahan kalau bergandengan tangan bersama. Endialte terlalu luas untuk dijaga sendiri.”
Exodiart berhenti.
Saman melanjutkan, “Aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan benar.”
Exodiart akhirnya berbalik lagi. “Aku sangat menghargai tawaranmu. Aku juga setuju kalau kita perlu bahu membahu menjaga Endialte. Tapi, kupikir itu bukan hal yang benar.”
“Maaf. Aku hanya ingin Maelstrom membantu guild-guild lain.” Saman berhenti, alisnya tertekuk, matanya bergulir ke bawah tanpa berani memandang Exodiart.
“Terima kasih. Lagi. Aku menghargai tawaranmu.”
Exodiart berpaling, hendak pergi. Namun, Saman buru-buru bicara. “Bagaimana dengan menjaga markas?”
“Apa?”
“Kalau kamu membawa semua anggotamu pergi, markasmu tanpa penjagaan. Aku dengar soal penyerangan yang membuat Reiyuel terluka. Maksudku, pencobaan pencurian. Jadi… kalau seandainya ada hal lain yang bisa kubantu, seperti menjaga markas, kamu tinggal bilang saja.”
Exodiart tidak mau sampai memberi petunjuk bila dia hanya akan membawa empat orang anggota saja. Apalagi sampai keceplosan memberi tahu mengenai misi khusus mereka. Dia pun melempar senyum pada Saman yang terlihat bersalah. “Akan kupikirkan itu.”