Lunacrest

Lunacrest
Chapter 37



Elloys menyadari perubahan cahaya di belakang. Bukan karena pagi mulai datang. Melainkan karena ada sinar putih samar yang makin terang dengan cepat.


Tubuh Praxel bercahaya, dalam arti sesungguhnya. Butiran-butiran cahaya bermunculan bak kunang-kunang perak. Mereka mengelilingi dirinya, atau lebih tepatnya, membelenggunya dalam cahaya. Cahayanya menguat, membuat warna keperakan jadi kebiruan. Setelahnya, sambaran-sambaran petir keluar dari tubuh sang Bishop mengenai apapun yang ingin dia hancurkan.


Kelsey meringkuk lebih pendek, menjaga dirinya sendiri dari serangan Praxel. Sebagai salah satu teknik terkuat Bishop untuk melindungi diri, serangan ini cukup sulit dipelajari. Tapi, sekali menguasainya, seorang Bishop punya kendali penuh pada setiap serangan. Artinya, mereka bisa membidik dengan tepat setiap sasaran. Meski begitu, tak ada salahnya berjaga-jaga.


Sihir kuat selalu datang dengan banyak pengorbanan. Selain sulit dikuasai, sihir ini memaksa perapalnya diam di posisi untuk beberapa saat. Ini yang membuat mengapa si perapal punya pengendalian sempurna pada petirnya. Itu pula yang menjadi salah satu kelemahan sihir ini.


Elloys melihat Praxel mengenai para lawannya dengan tepat, termasuk mengenai sosok petualang besar di pihak bajak laut. Mungkin sihirnya memang mampu membuat bajak laut kewalahan, kesakitan, bahkan berjatuhan. Kecuali satu. Sosok bajak laut besar itu terus maju. Entah karena tidak sihir Praxel memang tak melukainya atau karena dia mengabaikan setiap sengatan yang bertubi-tubi datang padanya.


“Praxel!” Elloys berseru panik sambil menggunakan sihir teleport.


Seharusnya Praxel membatalkan sihirnya segera setelah menyadari kalau lawan mendekat. Sekarang terlambat sudah. Dirinya telah masuk dalam area serang lawan. Praxel tahu kalau menghindar percuma saja. Jadi, dia meneruskan serangannya pada lawan.


Bukan keputusan yang tepat. Risiko pilihan harus dia hadapi. Praxel menyadari kesalahan pilihannya ketika lawan telah mengayunkan senjata. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya sihir pelindung dasar yang dipelajari setiap kelas Cleric.


Elloys tak bisa menolongnya, si Pyromancer terlalu jauh.


Kelsey bahkan tak sempat berteriak ketika pelindung Praxel pecah.


Elloys berteriak. Kali ini bukan seruan untuk memanggil Praxel, melainkan seruan sihir. “Blazing Serpents!”


Gelombang api bermunculan dari sekeliling Elloys bak ular yang mengincar mangsa. Selagi mereka menerjang, Elloys melanjutkan sihir teleport untuk menghampiri Praxel. Serangannya memaksa mundur lawan memberikan Elloys kesempatan untuk memeriksa kondisi Praxel.


Elloys tak bisa memastikan separah apa luka si Bishop. Praxel terkapar di atas tanah. Tangannya memegangi bagian perut yang kini merah dan basah. Badannya bergetar menahan sakit, wajahnya memucat. Elloys tahu kalau kebanyakan orang tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Biasanya energi mereka terkuras karena rasa sakit dan konsentrasi mereka buyar.


Ah, seandainya Elloys menguasai sedikit saja sihir penyembuh. Setidaknya, dia membawa sedikit ramuan untuk luka. Tangannya buru-buru mengambil botol labu dari logam. Dia mengucurkan isinya langsung pada luka Praxel. Mungkin ini tidak membantu banyak, hanya meringankan rasa sakit. Sebagai orang yang sering menjalankan misi seorang diri, Elloys selalu membawa ramuan dan keperluan untuk menolong dirinya dari masalah.


Darah Praxel mulai membasahi tanah. Elloys tak punya waktu untuk memeriksa rekannya lagi. Dia harus kembali dalam pertempuran.


Hawa panas dan keringat membuat rambutnya berantakan. Jadi Elloys melepas ikatan cepol kembarnya, membuat rambut ungunya berkibar ketika dia menyerang. Elloys melangkah maju sembari memutar tongkat di tangannya yang berpendar merah menyala. Bentuknya bagaikan baling-baling berapi.


“Combustion!” Elloys tak berteriak, hanya menggeram.


Seketika itu, gelombang api menyeruak keluar dari ujung tongkatnya. Menjilat apa pun yang berada dekat. Para bajak laut yang tadi tersambar petir, buru-buru lari sebelum sihir api melahap mereka. Sementara si sosok besar sedang berusaha berdiri dengan susah payah. Sihir Blazing Serpent Elloys ternyata melukainya cukup parah. Kulitnya memerah, beberapa titik malah menampakkan luka bakar.


“Cukup!” Kelsey berdiri dari posisinya. “Cukup! Jangan bunuh mereka!”


Elloys tak menghiraukan seruan Kelsey. Sihirnya bergerak maju. Sosok besar itu bergidik ngeri. Hanya sisa beberapa langkah sebelum api itu membakarnya hidup-hidup. Saat dia berteriak ketakutan, sambil melindungi wajah, semua api tersebut lenyap.


Sebagai gantinya, Elloys berdiri di depannya.


Elloys mendekatkan wajahnya. “Boo!”


Sepertinya hanya itu yang dia ucapkan. Lawan langsung berbalik, lari terbirit-birit bersama rekan-rekannya. Sedari awal, dia juga tidak ingin membunuh siapa pun. Dia hanya ingin kembali ke kota dengan selamat, memberikan kontribusi pada guild, dan memperoleh imbalan setimpal karena harus mengurangi jam tidur.


Elloys lekas berbalik. Kelsey sudah meringkuk di samping Praxel. Elloys langsung bergabung.


“Dia kehilangan banyak darah,” ujar Kelsey.


“Aku bisa lihat. Aku enggak buta!” sahut Elloys. “Aku memberinya ramuan untuk--” Elloys berhenti. Matanya menangkap kelebat penutup bahu merah dari jauh.


Tak jauh dari posisi mereka, dua sosok berlari mendekat, Exodiart dan Harufuji datang masih sambil membawa kotak kayu.


“Praxel! Kelsey! Elloys!” Exodiart berseru.


“Haru! Healing light!” pinta Elloys.


Harufuji tahu kalau sihir penyembuhnya akan berguna dalam pertempuran. Dia lolos dari berbagai luka ringan karena ini. Dia tahu sihir ini juga akan berfungsi baik ketika melakukan misi dalam guild. Hanya saja, dia tak menyangka harus menggunakannya pada Bishop yang memang bertugas untuk support dan penyembuh.


Exodiart melambat, maju perlahan, mengamat-amati kondisi wakilnya.


Harufuji bergegas. Elloys pun minggir agar dia bisa memeriksa Praxel. Tangannya mulai berpendar putih ketika mendekat.


Praxel bergetar. “Kupikir… tidak dalam,” bisiknya pelan. “Hanya lebar.”


“Tolong simpan energimu, kak.” Harufuji tak berani menggeser tangan Praxel dari luka. Dia membiarkan tangannya sendiri bergerak-gerak di atas luka tapi tak sekalipun benar-benar menyentuh tubuh.


“Dia akan baik-baik saja, ‘kan?” sahut Elloys.


“Seharusnya iya, tapi aku bukan dokter,” jawab Harufuji. “Lebih aman kalau kita segera membawanya kembali ke kota.”


Praxel bergerak pelan, “Beri aku waktu sebentar…”


“Kamu tidak bisa berjalan ke kota dalam kondisi begini, kak. Lukamu bisa makin parah.” Harufuji yakin Praxel menyamakan sihir penyembuhnya seefektif milik Praxel. “Kami yang harus membawamu kembali ke kota. Sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya?”


Petualang umumnya membawa obat sederhana, seperti yang dilakukan Elloys. Untuk misi sulit, mereka biasanya membawa seorang penyembuh di dalam tim mereka untuk menyelamatkan dari luka parah. Beberapa kelompok petualang yang menjalankan ekspedisi malah membawa dokter pribadi lengkap dengan tandu serta peralatan medis lainnya. Saat ini, mereka tak membawa perlengkapan semacam itu dan justru korbannya seorang Bishop.


Elloys melirik Kelsey. “Sepertinya aku tahu bagaimana caranya.”