Lunacrest

Lunacrest
Chapter 25



Exodiart belajar arti dilema dalam waktu beberapa jam.


Di pagi hari, dia baru saja membeli beberapa perabot untuk markas guild Lunacrest. Dia membeli lemari pajangan untuk diletakkan di dekat tangga, tepat di seberang sofa kayu. Dia juga membeli sebuah kasur dan beberapa kursi untuk lantai dua. Akhirnya, dia memutuskan satu ruangan akan jadi kantor buatnya, satu lagi akan dibuat tempat beristirahat bagi anggota guild yang memerlukan.


Tidak sampai enam jam setelah semua barang itu tiba, Keniaru jadi orang pertama yang mencicipi fasilitas terbaru mereka. Amari memanggil dokter untuk memeriksa Elloys dan Keniaru. Karena kondisi Keniaru tidak separah banyangan mereka, dokter mengizinkannya tinggal di markas saja, tidak perlu bermalam di rumah sakit. Elloys hanya mengalami memar dan lecet, tak lebih dari itu.


Selagi dokter memberikan pengobatan pada Keniaru di lantai dua, Praxel mengurus pembatalan misi guild yang tadi dikerjakan Raiden dan Keniaru. Lebih baik mereka lapor lebih dulu sebelum pengurus misi guild mengetahuinya. Untungnya tidak ada penalti atau semacamnya. Lunacrest beruntung kali ini. Kebanyakan misi punya konsekuensi yang harus dibayar guild atas kegagalannya.


"Bisakah aku bermalam di sini?" Elloys mengintip ke ruang yang nantinya akan jadi ruang kerja ketua guild.


Exodiart tengah membereskan beberapa kotak berkas yang dibawanya dari lantai satu. "Tentu," jawabnya pada Elloys. "Kamu mau menjaga Keniaru? Bagaimana dengan keluarganya?"


"Keluarga kami sama-sama nggak ada di sini. Aku pindah duluan ke sini untuk jadi petualang. Keniaru lalu ikut jadi petualang juga. Dia menyewa kamar dekat pertokoan. Nggak ada keluarga kami yang lain di sini."


"Maaf."


"Nggak. Maaf," sahut Elloys cepat. "Kami membuat Lunacrest gagal menjalankan misi." Elloys masih tak beranjak dari sisi luar ruangan. Tangan kanannya memegangi lengan kirinya, membuat sosoknya kelihatan lemah dan mungil, berbeda dari keceriaan biasanya.


"Jangan pikirkan itu. Ini bukan pertama kalinya Luncarest gagal."


"Tetap saja. Maaf. Padahal Keniaru dan aku anggota baru, tapi..."


"Hei, jangan pikirkan itu. Tidak apa-apa, sungguh." Exodiart mendatangi Elloys. "Seingatku, ada kasur lipat di bawah. Kalau kamu nggak keberatan dengan itu, akan kubawakan ke sini."


"Nggak. Jangan. Nggak perlu repot-repot."


Praxel muncul dari sisi tangga. "Kamu nggak boleh melawan ucapan ketua guild, Elloys." Praxel melempar senyum. Sebelum berpaling, dia masih sempat bertanya. "Akan kubawakan kasurnya ke atas. Ada lagi yang lain?"


Elloys menggeleng.


Exodiart menambahkan, "Bisakah kamu bantu atur soal makan malam hari ini?"


"Tentu saja."


Elloys tak tahu harus bicara apa lagi. Praxel muncul dengan kasur juga dua botol air. Mereka membantu mengaturnya di samping ranjang Keniaru. Keniaru sendiri sudah terlelap karena obat. Ada memar pada dahinya, hanya itu yang nampak. Sisanya tertutup rapat oleh selimut. Ketiganya larut dalam pemikiran masing-masing. Setelah beberapa saat hening, Exodiart memecah keheningan.


"Kamu juga butuh istirahat, Elloys. Bilang saja kalau butuh sesuatu."


"Aku baik-baik saja." Elloys menyunggingkan senyum tipis. "Kami sudah terbiasa babak belur saat awal-awal jadi petualang."


"Atau... Adakah yang ingin kamu bicarakan?" Exodiart mengucapkan kalimatnya dengan hari-hati. “Mungkin ada sesuatu yang membuatmu resah atau takut. Cerita saja.”


Elloys balik bertanya. "Soal misi barusan?"


"Soal apa pun yang membuatmu kepikiran."


"Kami gegabah. Cuma itu. Kurasa… nggak ada yang perlu kuceritakan. Aku baik-baik saja. Maaf." Entah sudah berapa kali Elloys mengucapkan kata 'maaf' hari ini.


“Oke.” Exodiart mengangguk. "Kalau begitu, selamat istirahat."


 


 


"Bagaimana denganmu?" tanya Exodiart pada wakilnya. "Kamu baik-baik saja?"


Praxel mendengus geli. "Aku baik-baik saja."


"Bagaimana dengan dia?"


"Aku nggak tahu." Praxel menjawab jujur. "Aku akan mencarinya nanti.”


Adiknya, Raiden, hilang setelah membawa Keniaru ke markas bersama Elloys. Dia pergi setelah dokter datang. Kondisinya bahkan belum diperiksa. Amari sempat mengirim Vesa untuk mencarinya, namun sampai sekarang si elang belum kembali membawa kabar apa pun. Raiden bisa ada di mana saja. Praxel berpikir cukup dia saja yang khawatir.


“Nanti? Praxel, kupikir kamu lebih baik mencarinya sekarang. Maksudku, dia perlu ke dokter memeriksakan lukanya. Dia juga kelihatan parah,” lanjut Exodiart. “Kamu khawatir soal undangan ke istana hari ini?”


“Aku wakilmu.”


“Jangan cemaskan itu. Aku bisa ke sana sendirian. Kita tidak sedang dalam masalah. Itu hanya undangan rapat koordinasi dari Declan dan Fawke. Tenang saja. Lebih baik kamu cari Raiden.”


“Baiklah. Aku akan cari Raiden.” Praxel mengangguk. Sesungguhnya, dia memang memilih mencari keberadaan Raiden daripada ke istana. Dia pun bergegas meninggalkan markas.


Exodiart berpaling menghadap lemari yang sudah diletakkan pada posisinya. Sekalipun disebut lemari, bentuknya lebih mirip rak bertingkat. Rusuknya membagi setiap rak jadi tiga bagian sama persis. Rak itu nantinya akan diisi barang setiap anggota. Tujuannya agar mereka memiliki kedekatan lebih dan rasa memiliki pada guild. Dia selalu berharap Luncarest bisa jadi lebih dari sekadar guild.


Exodiart mendesah panjang. Sepertinya perjalanannya masih panjang. Sangat panjang. Setiap anggota punya masalah, dia sudah tahu. Sekarang rasanya masalah mereka menumpuk jadi satu di pundaknya. Bagaikan benang kusut yang sulit sekali diurai. Dia harus membantu satu per satu anggotanya. Jangan sampai ada satu benang pun yang kusut.


CKLEK!


Suara pintu depan terdengar. Amari datang. Melihat Exodiart mendesah lagi, Amari memutuskan langsung ke bagian belakang bersama barang-barang belanjaannya. Tak lama setelahnya, dia melihat Reiyuel datang.


“Lemari baru?” Reiyuel beranjak ke samping Exodiart. Tadi dia pergi sebelum lemari itu datang.


“Masalah baru.”


“Singkirkan saja kalau ini jadi masalah.”


Reiyuel tak bisa memahami pikiran Exodiart. Tapi, itu bukan masalah. Exodiart justru mendapat ide lain. “Hei, apa kamu ada rencana setelah ini?”


Reiyuel menggeleng.


“Bagus! Ayo, temani aku ke istana.”


“Itu masalah barunya?”


“Bukan. Ada undangan rapat koordinasi guild dengan Declan dan Fawke. Setiap guild diminta mengirim perwakilan dua orang. Praxel sedang ada urusan.” Exodiart tidak mau cerita lebih detail mengenai akhir misi Elloys, Keniaru, dan Raiden.


“Oke.” Tanpa banyak tanya dan protes, Reiyuel mengiyakan permintaan Exodiart.


Kadang, berurusan dengan orang yang hemat bicara seperti Reiyuel bisa sedikit meringankan perasaan. Exodiart memutuskan meninggalkan sebentar masalah pribadi para anggotanya dan fokus pada rapat siang itu. Ini bukan pertama kalinya Guild Master Declan mengadakan rapat koordinasi bersama para guild. Ini pertama kalinya Fawke ikut dalam rapat mereka.


Pertanyaan Reiyuel terngiang lagi.


Ini masalah barunya? Semoga saja tidak.