Lunacrest

Lunacrest
Chapter 28



Hari sudah malam. Kegelapan menaungi sudut-sudut Korumbie yang tak diterangi lampu. Malam ini cukup sedingin. Kabut merupakan tamu yang jarang datang ke ibu kota. Malam ini sepertinya satu dari malam-malam yang langka tersebut.


Praxel membuka pintu markas guild sambil membawa kantung mungil di tangannya. Di malam hari, markasnya tampak asing dan tak bersahabat. Di lantai satu, tak ada lentera yang dinyalakan. Matanya hanya menangkap cahaya remang dari lantai dua. Suasana seperti ini mengingatkan Praxel pada novel horor yang pernah dia baca. Di novel tersebut, sang hantu wanita melayang turun bersama bola-bola arwah putih biru.


Setelah menutup pintu markas di belakangnya, Praxel berbalik menghadap ruang tamu yang dia kunjungi setiap hari. Kali ini, nyaris melompat. "Elloys!" serunya.ber


Sosok wanita di sampingnya membuatnya terkesiap. Meski wajahnya tak terlihat jelas, Praxel mengenali bayangan rambut ikal Elloys. Kali ini, dia setuju dengan Raiden. Kebiasaan sihir teleport Elloys bisa memancing potensi sakit jantung seseorang. Beruntung dirinya masih muda dan jantungnya masih kuat. Ceritanya mungkin bisa berbeda bila Elloys melakukan kebiasaan ini bersama petualang tua.


"Kukira kamu pencuri," jawab Elloys.


Praxel mendesah lega. "Nggak. Aku nggak berniat mencuri di markas sendiri."


"Siapa tahu kamu mau mencuri helm berharga Exodiart."


"Hahaha..." Praxel tertawa. "Kamu sudah dengar ceritanya?"


"Nggak sengaja dengar."


"Ngomong-ngomong, kenapa nggak menyalakan lentera?" Praxel bisa melihat Elloys bergerak ke dalam, melewati lemari hias yang baru dipasang, menuju tangga.


"Kalau aku menyalakan lentera, aku nggak bisa menangkap pencuri." Elloys menjawab sambil cekikikan. Berikutnya muncul bola api mungil dalam telapak tangannya. "Atau... Kamu takut pada kegelapan, hai Bishop yang lembut dan baik hati?" Bibir Elloys membuat senyum simpul diikuti kedipan mata.


"Nggak. Hanya penasaran." Praxel mulai melangkah.


Elloys masih berdiri dekat tangga, menunggunya. Bayangan di wajahnya berubah-ubah sesuai dengan bayangan dari bola api. Wajahnya tak terlihat lelah seperti siang tadi. Dia terlihat lebih segar.


Praxel melanjutkan percakapan. "Apa yang kamu dengar soal helm Exodiart?" tanya Praxel. Matanya melirik satu-satunya benda yang sudah berada dalam lemari hias. Exodiart jadi orang pertama yang meletakkan barang di sana. Sebuah helm kelabu putih berhiaskan sepasang tanduk melengkung dengan permata merah di bagian tengahnya.


"Aku dengar Amari menyinggung soal domba liar dan ogre."


"Oh."


"Masih ada cerita selain itu?"


"Coba tanya langsung saja padanya. Lebih seru kalau dia sendiri yang cerita."


Keduanya menapaki tangga kayu yang hening. Tak ada suara derak, hanya suara langkah mereka. Cahaya bulan menyembul masuk dari jendela tipis yang ada dekat langit-langit. Semakin ke atas, semakin terang. Elloys menyalakan lentera-lentera di lantai dua. Cahaya paling terang berasal dari dalam kamar terbuka.


"Bagaimana Keniaru?" Praxel bertanya lirih.


Elloys tak sempat menjawab.


"Wuaaaa!" Jeritan Keniaru terdengar dari dalam kamar.


Tanpa diperintah, Praxel berlari masuk ke kamar. "Ken!"


Praxel terdiam di ambang pintu. Kondisi di dalam ruangan sedikit berbeda dari bayangannya. Keniaru tengah duduk di atas ranjang. Dua laki-laki seusianya duduk di bawah. Keduanya tertawa sementara Keniaru sendiri mengerucutkan bibir sambil memegangi tangan kirinya yang diperban.


“Dia baik-baik saja,” bisik Elloys dari belakang.


“Aku bisa lihat itu.” Praxel bersyukur setidaknya Elloys tidak menambah efek keterkejutan dengan sihir teleport. “Apalagi setelah mendengar dia bisa teriak seperti tadi,” imbuh Praxel.


Elloys mengangguk-angguk setuju.


“Jadi,” kata Praxel sambil menoleh padanya. “Mereka ini?”


“Teman-teman Ken.”


“Kak Praxel,” ujar Keniaru ragu. Kedua temannya langsung berhenti tertawa, serentak menoleh pada kehadiran sang wakil ketua guild. “Hai… Kuharap aku nggak melanggar peraturan di sini.”


Satu lagi menambahkan, “Sama sekali nggak ada niat mencuri data soal Lunacrest.”


Praxel mendengus geli. “Oh, jangan khawatir. Aku cukup yakin Exodiart juga nggak keberatan kalau ada teman salah satu anggota yang berkunjung. Tenang saja. Kalian ngobrol saja. Kami akan keluar.” Dia kemudian berpaling pada Elloys. “Yuk.”


Elloys hanya tersenyum ketika Praxel memimpinnya meninggalkan pintu kamar tersebut ke area terbuka lain di lantai dua. Exodiart membeli kursi dan meja untuk bersantai di atas. Mejanya sudah berada di tempat, ditemani sempat kursi. Sementara ada tumpukan kursi lain di sudut yang belum disusun.


“Apa itu?” Elloys bertanya ketika Praxel meletakkan dua botol kaca kecil berisi cairan serupa madu.


“Obat untuk Karniaru.”


“Sesuatu untuk diminum setelah makan?”


Praxel langsung tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. “Kamu pasti kira ini madu. Hahaha… Bukan. Ini obat oles untuk lukanya. Aku nggak pernah coba minum, sih. Kalau Ken mau, aku nggak akan melarangnya. Hahaha… Atau, kamu mau coba?”


Elloys merasakan wajahnya memerah. “A-- Aku ‘kan enggak paham soal obat-obatan.”


“Hahaha… Iya, iya. Habis kamu polos banget.”


Kini Elloys bukan cuma merasakan wajahnya memerah tapi malah memanas. Dia langusung menghindari tatapan Praxel.


“Lega juga bisa ketawa begitu,” ujar Praxel lagi.


“Kenapa?”


“Eh? Nggak. Aku cuma asal bicara, kok.” Giliran Praxel menghindari tatapan Elloys.


“Ada hal buruk yang terjadi?” Elloys kemudian bisa menebak sendiri. “Bagaimana Raiden? Apa dia baik-baik saja?”


“Ya, ya, dia baik-baik saja.” Praxel menjawab begitu cepat seolah dia tak perlu berpikir untuk menjawabnya.


Elloys memicingkan mata. “Kupikir enggak. Apa lukanya parah? Waktu itu, dia kelihatan pucat.” Elloys lalu meralat. “Bukan. Bukan pucat. Membeku. Dia seperti patung. Diam saja ketakutan. Nggak bergerak sama sekali.”


“Iya. Aku sudah dengar bagaimana Ken pasang badan untuknya. Juga kamu. Makasih. Kalau enggak ada kalian, aku yakin kondisinya akan lebih parah.”


“Apa dia baik-baik saja?” Elloys bertanya lagi.


“Seharusnya begitu.”


Elloys memperhatikan bagaimana wajah Praxel mulai kehilangan ketenangan, malah menunjukkan kecemasan. “Hei, boleh aku tanya sesuatu?”


“Apa itu?”


“Aku yakin itu bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan orc. Mereka monster yang umum ditemui para petualang. Menurutku, Raiden kemarin membeku bukan gara-gara takut pada mereka. Bukan begitu?” Elloys mendekatkan wajahnya. Dia berusaha memeriksa lebih seksama ekspresi Praxel ketika menghindari tatapan Elloys lagi. “Praxel, apa yang ditakuti Raiden? Apa misi kemarin memancing sesuatu yang dia takuti?”


Praxel menghela napas panjang. Setelah beberapa detik hening, dia akhirnya menatap Elloys. “Aku benar-benar minta maaf soal apa yang terjadi kemarin. Raiden punya sedikit masalah soal masa lalunya. Sebut saja dia belum berdamai dengan masa lalunya.”


“Apa masa lalunya gara-gara kamu?”


Praxel terhenyak mendengar ucapan Elloys. Dia butuh beberapa detik lagi untuk menjawab gadis berintuisi tajam di depannya. “Bagaimana kamu tahu?”


“Nggak semua kakak laki-laki begitu melindungi adiknya. Kurasa kamu berusaha melindunginya sebagai bentuk permintaan maaf.” Elloys melihat Praxel menarik punggungnya ke sandaran kursi. “Kalau kamu mau cerita, aku bisa mendengarkan.”


Kali ini, Praxel berbisik. “Sebenarnya, aku nggak tahu dia ada di mana.”


Setelah pembicaraan panjang, Praxel kembali ke rumah dengan langkah gontai. Hingga saat ini, dia tak bisa menemukan Raiden. Adiknya bukan belum kembali ke rumah. Sepertinya Raiden sempat pulang. Praxel mendapati pintu kamar Raiden terbuka. Tas yang biasa dia bawa berpergian tak terlihat, begitu pula palu besarnya. Hanya ada Cookie, terlelap dekat kaki ranjang.