
Hari saat Guild Showdown dibuka selalu diawali dengan suara terompet keras di pagi hari. Sekelompok musisi kerajaan akan memainkan terompet berikut alat-alat musik lainnya. Mereka akan mengelilingi kota ditemani beberapa deret penari yang melambaikan bendera. Tentu saja dijaga ketat oleh para prajurit. Atraksi ini selalu membuat rakyat ikut bersemangat. Entah siapa pencetus idenya.
Berbeda dari kebanyakan rakyat dan mayoritas anggota Lunacrest, Harufuji malah melemparkan tatapannya menjauh ketika deretan kehebohan itu lewat di depannya.
Mereka sudah berada di arena. Sebentar lagi akan Guild Showdown akan dibuka, dimulai dengan babak penyisihan lebih dulu. Di arena pula, para pemain terompet itu akan mengakhiri pertunjukkannya. Mereka akan memainkan satu lagi terakhir, lagu kebangsaan, sebelum acara diambil alih oleh Jendral Fawke. Semua rakyat boleh menonton dengan membayar tiket sejumlah tertentu.
Sama seperti arena pada umumnya, arena di Korumbie juga berukuran luas berbentuk lingkaran tanpa atap. Tribun-tribunnya dipenuhi orang saat ini. Tentu saja ada anjungan khusus untuk para orang penting. Sebut saja seperti sang jendral, Guild Master Declan, juga beberapa anggota kerajaan. Sang putra mahkota tak pernah absen dari menonton final Guild Showdown. Kabarnya, dia bahkan ingin mengikuti semua jadwal pertandingan. Sayangnya, selain karena jadwalnya padat, ada faktor keamanan yang perlu dipertimbangkan seandainya dia ingin menonton semuanya.
Para peserta Guild Showdown berdiri di tengah arena, menghadap ke arah anjungan. Para pemain terompet berputar mengelilingi mereka ketika memainkan lagu kebangsaan. Setelahnya, mereka keluar lewat salah satu dari delapan pintu besar yang ada di sana. Sebagai gantinya, empat orang prajurit masuk sambil mendorong kereta besi kecil beroda. Ukurannya tidak lebih besar dari kereta dorong makanan. Di atasnya ada sebuah benda tertutup kain beledu merah. Semua mata tertuju padanya dengan penuh pertanyaan.
Berikutnya, Shania keluar dari pintu yang sama dengan jas hitam beraksen garis emas, senada dengan rok mini serta sepatu botnya. “Hai semuanya! Selamat datang di Arena Korumbie!” Suara Shania menggema di arena, dibantu sejenis pengeras suara tangan. “Hari ini kita akan menyaksikan acara paling dinanti sepanjang tahun. Guild Showdown!”
Penonton bersorak ramai. Entah siapa yang memulai, tapi teriakan tersebut mulai menyatu, meneriakkan kata yang sama yaitu ‘Showdown’. Beberapa orang berdiri dari kursinya sambil melambai-lambaikan bendera guild mereka masing-masing.
Kebanyakan penonton memang merupakan anggota guild peserta. Mereka mengenakan atribut yang sesuai dengan guild mereka masing-masing. Misalnya mengenakan pakaian dengan warna sama atau membubuhkan cat berwarna pada wajah mereka. Dulu kelompok yang paling menonjol adalah guild nomor tiga di Korumbie, Black Warrior. Sekarang tidak lagi. Selain karena Black Warrior sudah tidak diizinkan berpartisipasi dalam Guild Showdown, juga karena sekarang sudah banyak guild lain yang memamerkan identitas mereka.
“Kenapa kita tidak membawa bendera seperti mereka?!” Elloys berteriak pada Amari di sampingnya agar suaranya terdengar. Para anggota Lunacrest duduk di bagian atas. Sekalipun posisi mereka jauh, suara Shania bisa terdengar di sana berikut juga suara keramaian para penonton.
“Kurasa Exodiart belum memikirkan hal semacam itu,” balas Amari.
“Kita harus mengusulkannya!” sahut Mierai yang ada di sisi Amari satunya.
Alih-alih menjawab, Elloys hanya memnunjukkan jempolnya tanda setuju.
Jendral Fawke berdiri dari kursinya. Sorak sorai penonton bukannya mereda, malah makin menjadi. Namun, ketika sang jendral mengangkat sebelah tangannya, keributan ini berangsur lenyap dengan cepat.
“Aku selalu terpukau dengan antusiasme kita semua. Ini menunjukkan kalau perkembangan guild di kerajaan ini memang patut mendapat perhatian khusus. Hari ini, kita akan melihat salah satu ajang paling bergengsi di Endialte. Kita kan melihat bersama siapa yang cukup layak membawa pulang cawan emas Angelic Dessert!” Suara sang jendral menggema di arena dibantu oleh pengeras suara lain yang diletakkan pada bagian depan anjungan.
Keributan penonton serentak berubah jadi teriakan terpukau ketika para prajurit menarik lepas kain beludu merah. Benda di baliknya pun tersingkap. Sebuah piala besar berukuran satu meter berbentuk cawan. Warnanya keemasan karena memang dilapisi emas murni. Ukiran pada badannya membingkai permata coklat kemerahan di bagian tengah. Ukiran ini menjulur ke luar badan piala, membentuk lengkungan indah sebagai pegangan. Cawan ini duduk di atas lempengan hitam yang tak kalah berkilau.
“Wow! Aku mau benda berkilau itu dipajang markas kita!” sahut Amari.
Keniaru di sebelah Elloys malah mendesah. “Benda semacam itu bukannya malah mengundang maling, ya?”
“Jadi, untuk menentukan guild siapa yang terbaik, kita harus menentukan tiga puluh dua guild terbaik dari puluhan guild yang ada di sini. Para penyelenggara telah menemukan cara tercepat untuk menentukannya.” Shania tersenyum sementara para peserta guild saling lempar pandang diikuti suara kasak-kusuk.
“Menurutmu, apa yang akan terjadi di babak penyisihan ini?” Mierai menyenggol lengan Elloys. “Tahun lalu mereka—”
“Rebutan menangkap landak!” sahut Elloys.
“Di dalam arena!”
“Itu sangat konyol!”
Kedua gadis itu serentak tertawa, membuat Amari yang ada di tengah hanya menggeleng-geleng.
Shania tak membuat mereka menunggu lebih lama. “Tahun ini, kita mencari guild terbaik yang mengenal seluk beluk ibu kota tercinta ini. Jadi… para penyelenggara telah menyebar bendera berwarna pelangi di seluruh sudut kota. Tugas para peserta guild adalah membawa bendera kemari. Enam belas guild tercepat yang bisa membawakan bendera tersebut lalu menyerahkannya pada jendral Fawke akan masuk babak selanjutnya!”
Arena bergema lagi.
Amari memegangi kepalanya. “Tiga orang itu hanya tahu baku hantam, mereka mana bisa disuruh main petak umpet begitu!” serunya panik. “Kalau Praxel, ceritanya mungkin lain. Oh tidak!”
Mierai menyibakkan rambutnya. “Tenang saja, Amari. Kalau hanya masalah itu, serahkan padaku. Aku bisa bergerak secepat angin, ‘kan?”
Suara Shania terdengar lagi mengatasi keributan para penonton. “Satu hal penting yang perlu diperhatikan di sini. Semua penonton dilarang meninggalkan arena sampai enam belas guild telah terpilih. Kalau ada anggota guild yang membantu perwakilannya, guild tersebut akan didiskualifikasi.
“Tidak semudah itu, sayang,” desah Amari.
“Ups…” Mierai menutup mulutnya.
“Jadi, apakah kalian semua sudah siap?” Shania melambaikan tangannya. Setelah mendapat anggukan canggung dari para peserta, dia pun berseru. “Wah! Sepertinya kita tidak perlu berlama-lama lagi. Siap semuanya? Mulai!” Shania berteriak disusul suara terompet kencang.
Seiring meredanya suara terompet, Keniaru menghela napas panjang. “Kalau semuanya pergi, terus kita di sini ngapain?”