
Sementara perahu Exodiart dan rekan-rekannya sedang menuju perjalanan ke Korumbie, Elloys dan Raiden telah menemukan Kelsey juga Mierai. Lebih tepatnya, mereka menemukan kapalnya dan mendapati kalau kedua rekan guild mereka masih ada di sana. Keadaan kapal kerajaan tidak bisa dibilang baik.
Sesuai dugaan Elloys, banyak monster di sekeliling kapal tersebut. Setidaknya ada segerombolan orc, sekawanan hell hound, juga beberapa ogre. Lihat sisi baiknya, tidak ada monster yang bisa berterbangan. Kalau sampai ada, itu benar-benar akan menyusahkan mereka semua.
Para prajurit keluar dari kapal, melawan para orc. Mierai berada di atas kapal bersama beberapa prajurit dan anggota guild lain. Mereka melepskan hujan anak panah pada setiap monster yang hendak mendekat. Kelsey entah ada di mana. Serangan-serangan berupa sihir hitam juga sihir api terlihat dari berbagai titik. Tampaknya juga sudah banyak petualang yang berusaha kembali ke kapal setelah menyadari ada kalau monster-monster terlalu banyak.
“Elloys!?” Mierai melihat kehadiarannya di sana.
Elloys menggunakan teleport untuk mencapai posisi Mierai. “Kamu enggak apa-apa?”
“Iya. Seharusnya begitu. Tapi, bagaimana kamu—”
“Ssst!” sahut Elloys sambil melemparkan beberapa bola api ke bawah, pada para orc yang sedang mengerumuni seorang prajurit. Beruntung, prajurit lain segera membantu juga setelah mendengar deru api. “Ceritanya panjang,” lanjut Elloys. “Intinya, kita harus segera pergi dari sini.
Mierai juga menyempatkan bicara di tengah kekacauan itu. “Aku tahu. Tapi, Exo—”
“Sudah aman.”
“Hah?”
“Ken dan Haru membawanya pulang lewat…” Elloys berhenti sebentar, mencari kata-kata. “Jalur yang lain,” imbuhnya. “Bersama Praxel juga.”
Mierai masih melongo namun membiarkan pertanyaannya di dalam hati.
Berikutnya, mereka mendengar seorang prajurit berlari sambil berteriak. “Siap-siap mengudara dalam dua menit!” Sang prajurit meneriakkan hal yang sama sambil terus berlari berkeliling.
“Mereka akan meninggalkan yang lain?” Elloys cukup yakin kalau seharusnya ada lebih banyak petualang dari yang bisa dia lihat saat ini.
“Saat kami ke sini tadi, kapal juga sudah mulai diserang. Kami sudah bicara dengan kapten. Dia bersikeras tidak mau mengirimkan prajurit atau tim medis keluar. Lalu, situasinya malah memburuk karena makin banyak monster di sini.”
“Tentu saja. Demon di balik semua ini,” gumam Elloys.
“Apa katamu?”
“Kubilang…”
Elloys belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika kapal mulai bergetar. Getarannya terasa dari bagian belakang kapal lalu merambat ke dek, ke tempat mereka sedang berdiri. Elloys harus berpegangan pada selusur agar tidak jatuh. Mierai lebih mudah menyeimbangkan badan dalam kondisi seperti itu. Dia bahkan masih bisa melepaskan banyak anak panah sekaligus.
“Kapten ingin kita segera berangkat,” ujar Mierai. “Dia memilih meninggalkan yang lain untuk menyelamatkan yang masih hidup.”
“Yang masih hidup?”
Mierai mengedarkan pandangannya ke bawah. Para monster masih saja menyerang padahal sudah kehilangan banyak dari kawanan mereka. Para prajurit dan petualang lebih unggul. Meski begitu, bukan berarti kalau tidak ada yang terluka. Beberapa dari mereka juga ada yang tergeletak tak bergerak di tanah atau berkubang dalam darah mereka sendiri.
“Banyak yang tewas, El,” lanjut Mierai, suaranya bergetar. “Ini seperti…”
“Perang.”
Elloys mengangguk. Dia melihat kelebat cahaya dari jauh. Sebuah ledakan bola-bola hitam memicu api bercampur asap. Dari tengahnya, Elloys melihat sihir teleport yang membawa perapalnya keluar dari kekacauan. Kelsey melesat beberapa kali dengan sihirnya, melewati monster, mendekati ke arah pintu kapal.
Kapal kembali mengalami guncangan yang lebih besar. Guncangan ini disusul getaran stabil. Bukan guncangan dari serangan, melainkan guncangan dari mesin balon udara mereka. Dua menit agaknya lebih cepat dari dugaan.
Dari sisi lain hutan, beberapa kelompok monster mendekat pula. Ada kelompok orc lagi, para goblin, juga hell hound.
“Kita kalah jumlah,” lanjut Mierai. “Mereka sangat banyak.”
Elloys menggeleng. “Kita kurang persiapan. Kita tidak mengira kalau ini semua akan jadi seperti ini.”
Monster-monster yang baru datang ini langsung berlari juga menuju ke pintu kapal yang mulai tertutup. Para prajurit berjaga di kedua sisinya, bersiap menutup kapal bila ada monster yang lewat.
Kelsey menyadari keberadaan Elloys di sisi Mierai. Alih-alih masuk ke dalam pintu, dirinya menggunakan teleport agar bisa berada di sana pula. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana caranya— Praxel dan Exo—”
“Tenang, Kelsey. Mereka aman,” sahut Elloys. “Yang penting sekarang bagaimana kita bisa keluar dari sini.”
Elloys mengedarkan pandangannya ke bawah, mencari anggota Lunacrest lain. Dia tidak lagi melihat Raiden setelah berada di atas kapal. Mungkinkah dia melewatkannya saat Raiden masuk ke dalam kapal?
Mereka mendengar seruan seorang prajurit lain, “Lepaskan tembakan!”
“Kita akan mengudara,” sahut Kelsey. Dirinya melepaskan serangan seiring dengan para prajurit. Begitu pula Mierai.
Pintu kapal telah tertutup. Para monster tak berhasil masuk. Meski demikian, beberapa dari mereka berusaha memukul-mukul badan kapal. Salah seorang orc malah berhasil melubangi pintu dengan kapaknya. Dia mengulurkan tangannya ke dalam, meraih apa pun yang bisa dipegang. Seorang prajurit tertangkap, tertarik keluar dari kapal yang mulai terangkat dari tanah.
Elloys mendengar teriakan memilukannya. Apalagi ketika para hell hound berlomba untuk mencabik dirinya. Elloys melemparkan bola-bola apinya, menyerang semua yang ada, termasuk hell hound dan si prajurit. Tangannya bergetar. Hatinya memahami tak ingin melihat orang mati perlahan.
Di saat mereka berpikir kalau kondisi sudah mulai membaik karena kapal berhasil mengudara, mereka mendengar kepak dari kejauhan. Elloys sangat mengenal kepak ini. Kepak berat yang selalu terasa mustahil bisa membuat pemiliknya terbang. Kenyataannya, mereka bisa terbang sekalipun pendek.
Para gargoyle muncul dari sisi lain hutan. Mereka terbang lurus pada kapal. Para prajuit kembali melepaskan anak-anak panah. Para petualang mendekat ke sisi kapal untuk melakukan serangan jarak jauh. Mierai tak mau kalah, dia ikut ke sana dan melepaskan banyak anak panah peledak. Elloys tak perlu mendekat. Apinya bisa menyebar jauh.
Deretan gargoyle paling depan berhasil dihancurkan dengan mudah oleh kerja sama para petualang dan prajurit. Deretan belakangnya lain lagi. Setidaknya masih ada dua baris gargoyle lagi.
“Minggir!” Raiden meminta sedikit ruang.
Para prajurit berpaling. Mereka melihat bagaimana Raiden telah memutarkan kapak besarnya. Para petualang mengumpat sambil kabur disusul para prajurit. Mereka tahu gerakan khas tersebut. Whirlwind. Angin ****** beliung penghancur itu mungkin efektif. Namun, di atas kapal?
“Raiden, apa yang kamu lakukan!?” Elloys berseru mengatasi kebisingan sambil berusaha mendekat.
Whirlwind tercipta sempurna. Saat pusaran angin itu tercipta, mereka menyibakkan apa pun yang dekat. Selanjutnya, terjadi hal yang belum pernah dilihat Elloys sebelumnya. Pusaran angin tersebut terangkat, bergerak keluar dari kapal, langsung menuju deretan gargoyle. Akibatnya, para gargoyle pun terlibas habis.
Para prajurit bersorak riang seiring menjauhnya mereka dari pegunungan Pothine. Beberapa petualang kasak-kusuk di belakang Raiden. Mereka pasti belum pernah melihat hal demikian pula.
Raiden menoleh pada si Pyromancer, “Kamu bilang sesuatu?”
“Ya. Hanya mau bilang… Kerja bagus!”