
Elloys sudah tidak ada ketika Amari datang keesokan harinya. Pagi cerah itu, Elloys sudah berada di sisi lain perbatasan kota Korumbie. Ini adalah hari pertama babak penyisihan Paladin’s Race.
Sesuai namanya, Paladin’s Race merupakan lomba bagi para Paladin berikut dua kelas spesialisasi lanjutannya, Guardian dan Crusader. Sesuai namanya pula, lomba ini bertujuan menentukan siapa yang tercepat menyelesaikan misi di dalam reruntuhan.
Dulunya Korumbie punya deretan benteng dan menara penjaga. Tempat itu hancur oleh serangan monster. Raja memerintahkan pembuatan benteng dan dinding yang lebih kuat. Lokasinya sedikit bergeser dari lokasi benteng ini. Seratus tahun berlalu, menyisakan reruntuhan dan puing yang membentuk labirin menyesatkan. Kini, para pemimpin asosiasi kelas Cleric menggunakannya untuk ajang unjuk gigi.
Pergeseran tanah membuat reruntuhan melesak ke tanah. Ini sangat menguntungkan. Orang-orang pun bisa melihat dari sisi luar atas reruntuhan. Mereka bisa mengikuti paladin favorit mereka menjelajahi reruntuhan, bersaing dengan keempat paladin lain dalam setiap babak. Meski terkadang, mereka harus ikut berlari mengikuti ke arah mana paladin jagoan mereka pergi.
Tanah di sekitar reruntuhan cukup dirawat. Pohon dibiarkan tumbuh subur. Rumput juga dipangkas agar rapi. Namun, tetap saja ada penonton yang bisa jatuh ke dalam reruntuhan bila mereka tidak hati-hati. Untungnya, para panitia segera menolong sebelum ada kecelakaan susulan seperti peserta salah sambar atau sejenisnya.
Babak penyisihan tentunya tidak seramai babak final. Hari ini saja, Elloys bisa berada di bagian depan. Dari posisinya, Elloys bisa melihat dengan jelas posisi Harufuji. Baju kelabunya mungkin biasa, tapi tudung bahu biru metaliknya lain cerita. Elloys bisa menangkap pergerakannya dengan mudah.
Harufuji punya rambut lurus sebahu pirang yang dibelah dua. Elloys menganggap gaya rambutnya lucu, dia sendiri menganggap gaya rambutnya keren. Bagi Keniaru, rambut Harufuji kelihatan konyol. Keniaru sebenarnya ingin ikut Elloys ke sana hari ini, namun karena kondisinya masih belum pulih, Keniaru terpaksa mendekam di kamar.
Dalam Paladin’s Race, peserta dilarang menggunakan teknik yang bisa melukai orang lain. Tujuan lomba ini adalah menyelesaikan misi tertentu bukan bertarung dengan orang lain seperti dalam Guild Showdown. Namun, para peserta diizinkan menggunakan teknik tertentu demi menghambat peserta lain menyelesaikan misi mereka. Di babak penyisihan, para peserta berlomba mencari bendera merah yang telah disebarkan di penjuru reruntuhan lalu membawanya ke garis akhir.
Harufuji sudah mendapatkan benderanya. Gagangnya diselipkan pada sabuk kulit tipis yang dia kenakan, benderanya sendiri melambai kena angin ketika dia melompat. Tiga peserta lain tertinggal jauh di belakang, mereka bahkan belum mendapatkan bendera. Hanya satu orang saja berada dekat dengannya.
Selagi Harufuji berlari, sambaran petir mengiring langkahnya. Mereka berusaha meledakkan tanah dekatnya atau menyambar dinding di sampingnya. Tak jarang kalau dia harus melompat tinggi demi menghindari semua. Kadang, dia juga menghancurkan pecahan dinding yang roboh dengan sihirnya.
Orang di belakang Harufuji sepertinya penganut aliran untuk menjatuhkan lawan. Elloys bisa mendengarkan dia tertawa juga memberikan provokasi atau semacamnya. Wajahnya tak terlihat karena helm hitam yang dia pakai. Meski begitu, Elloys menebak dia adalah pria tua atau setidaknya lebih tua dari Harufuji. Suaranya terdengar keras dan dalam tapi tak begitu jelas. Mungkin lebih baik dia menanggalkan helmnya seperti Harufuji. Tak ada ketentuan mengenai peralatan dan pakaian di sini.
Elloys hanya cekikikan melihat Harufuji melompati semua rintagnannya tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Dengan sihir teleport, Elloys menuju ke garis akhir. Beberapa orang disertai panitia acara telah bersiap di sana menanti sang pemenang. Kalau semua berjalan lancar, Harufuji akan tiba di sana lebih dulu.
Sambaran petir melesat dari langit. Sambaran ini begitu besar. Terbang lurus pada batu besar dekat dinding menuju pintu keluar. Batu pun meledak akibatnya. Tidak berhenti sampai di sana, dinding di sampingnya pun ambruk. Elloys terkesiap, tak menyangka kalau ada serangan menuju garis akhir.
Di antara debu yang terbawa angin, kelebat biru metalik melesat ke angkasa. Sosok Harufuji melompat keluar dari kekacauan. Kakinya menapaki reruntuhan, tiba di puncak, lalu turun sambil memegangi bendera di tangannya. Sambil berlari-lari kecil, dia berlari ke luar disambut tepuk tangan meriah.
Para panitia mendatanginya. Mereka bicara sebentar lalu Harufuji menyerahkan benderanya. Kemudian, dia pun melihat Elloys.
“Kak Elloys!” Harufuji berseru riang sembari melambaikan tangan.
“Hai!” Elloys balik melambaikan tangan. Dia tidak perlu menggunakan sihirnya untuk mendekati Harufuji, si paladin itu sendiri yang berlari riang padanya.
“Aku nggak tahu kalau kakak menonton hari ini,” ujar Harufuji. Dia tersenyum lebar, begitu senang dengan kehadiran si Pyromancer berambut ungu. Mata lebar Harufuji berbinar-binar ketika dia lanjut bicara. “Kalau tahu kakak nonton, harusnya aku memberikan pertunjukkan yang lebih heboh.”
“Oh, gayamu saat keluar barusan cukup heboh, kok.”
“Aku seharusnya menyambarnya dengan petir yang lebih besar.”
“Jangan!” sahut Elloys. “Aku nggak pernah paham kenapa orang-orang di sini suka sekali menjatuhkan. Sihir mereka, termasuk sihirmu, bisa merusak total reruntuhan ini jadi debu. Bukannya tempat seperti ini harus dilestarikan?”
“Tentu saja. Kalau tidak dilestarikan, kami nggak akan punya tempat untuk lomba lagi.”
“Bukan itu maksudku. Hahaha…” Elloys tertawa kecil.
“Oh, iya. Tentu saja.” Harufuji tak begitu paham, hanya ikut tertawa saja. “Keniaru enggak ikut, nih? Tumben.”
“Oh? Kenapa? Diserang wyvern?”
“Diserang orc.”
“Diserang apa?” Harufuji mengernyit. Orc memang patut diwaspadai. Tapi, bagi para petualang yang sudah berpengalaman seperti Elloys dan Keniaru, seharunya orc tidak jadi masalah besar apalagi membuat mereka sampai harus istirahat karena terluka.
“Panjang ceritanya. Bagaimana kalau kuceritakan sambil jalan?”
“Kakak nggak ada misi setelah ini?”
“Nggak. Aku sedang… senggang.” Elloys menghindari kata istirahat dan terluka. “Kamu sendiri gimana? Ada acara atau misi setelah ini?”
“Nggak. Belum. Tadi sih memang mau ke kantor Declan untuk cari misi. Mau cari misi bareng, kak? Sihir pelindungku sudah lebih kuat sekarang. Aku juga bisa sihir penyembuh sekarang. Jadi, bisa jaga kakak. Hehehe…”
“Kamu sungguhan belajar sihir penyembuh? Memang boleh?” Ellloys melangkah lebih dulu, memimpin mereka meninggalkan keramaian menuju jalan utama ke kota.
“Boleh, kok. Itu sihir dasar Cleric tapi enggak wajib dipelajari. Nah, kalau sudah ambil kelas spesialisasi jadi Priest, baru wajib.”
“Kamu sudah ambil kelas spesialisasi kedua, ‘kan? Guardian, ya?”
“Bukan. Aku Crusader.”
“Yah…” Elloys mendesah. “Kukira kamu Guardian. Aku masih sering tertukar-tukar antara dua kelas ini, sih.”
“Memang kenapa, ‘kak? Dapat misi yang syaratnya harus bareng Guardian.”
“Enggak juga, sih. Aku cuma mau ngajak kamu gabung guild.” Elloys mengedipkan sebelah mata. “Bagaimana? Kamu juga belum gabung guild manapun ‘kan?”
“Kak Elloys sukses diterima di Maelstrom? Mau, dong.”
“Bukan! Lebih baik!”
“Eh? Bukan Maelstrom? Kupikir Maelstrom guild nomor satu. Ada yang lebih baik?”
“Ada. Ini guild baru. Wakil ketuanya super baik dan ramah.”
Harufuji membelai dagunya. “Sepertinya aku paham.”
“Gimana? Tertarik?”
“Lihat dulu, boleh?”
“Boleh.”
“Kalau gitu, ayo.”