
Penyelenggara menghentikan pertarungan sampai di sana. Exodiart berdiri berjajar dengan Harufuji dan Reiyuel. Araka berdampingan dengan Tico juga Kalim. Shania turun lagi ke arena, berdiri di antara kedua guild.
“Hai, rakyat Endialte! Kita sudah mendapatkan pemenang Guild Showdown tahun ini!” seru Shania. “Lunacrest!”
Semua orang berteriak terutama para anggota Lunacrest sendiri. Rasa kegembiraan mengalahkan rasa tak percaya yang masih berada dalam benak. Shania memanggil semua anggota guild pemenang ke tengah arena sementara perwakilan Broco keluar meninggalkan arena. Mereka berdiri bersama di tengah arena sambil mendengarkan musik yang dimainkan sebagai sambutan kemenangan.
Jendral Fawke turun dari anjungan bersama Guild Master Declan. Mereka menjawab tangan setiap anggota Lunacrest lalu memberikan piala emas Angelic Desert pada Exodiart. Para penonton tak henti-hentinya bersorak untuk guild baru pemenang resmi Guild Showdown.
Dari dekat, piala tersebut jauh lebih berkilau dan cantik. Ada ukiran samar di seluruh tubuhnya. Exodiart bisa melihat ada sebuah permata-permata kecil dipasang pada titik-titik tertentu. Bobotnya terasa pas di tangan. Tidak terlalu berat sehingga membebani, tidak terlalu ringan seolah murahan. Entah mengapa Exodiart menaruh perhatian pada hal ini. Saat Exodiart berusaha mengalihkan perhatian, pikirannya membayangkan apa saja yang akan menanti mereka setelah ini.
Ini benar-benar kemajuan besar bagi mereka semua.
Pertama kalinya Lunacrest mengikuti Guild Showdown. Pertama kalinya Guild Showdown menghadiahkan piala bergilir. Pertama kalinya Lunacrest memenangkan Guild Showdown. Semua serba pertama kali dan semua memang punya momen pertama kali.
Setelahnya, semua orang beranjak ke posisi masing-masing. Jendral Fawke dan Guild Master Declan kembali ke anjungan. Para anggota Lunacrest duduk ke tribun mereka. Shania beranjak ke tengah lapangan. Sebuah kereta kuda datang dengan hiasan pita dan rumbai aneka warna. Parade akan dimulai. Shania sendiri yang akan menjadi pemandu parade keliling kota tersebut.
Di belakang kereta kudanya, mulai masuk para penari juga pemain musik diikuti kereta-kereta atraksi lainnya. Mereka melakukan atraksi di tengah arena lebih dulu sebelum beranjak ke luar untuk menghibur rakyat di jalanan kota. Guild pemenang dan para penonton Guild Showdown tidak perlu berada di jalan untuk menikmati. Mereka mendapat suguhan langsung di dalam arena.
Ketika deretan parade meninggalkan arena, acara Guild Showdown pun resmi ditutup. Para pemenang Guild Showdown akan makan siang bersama Jendral Fawke dan Guild Master Declan. Biasanya perwakilan keluarga kerajaan juga akan hadir bersama mereka. Sayangnya, kali ini dikabarkan kalau tidak akan ada perwakilan keluarga kerajaan karena alasan tertentu.
Meski begitu, itu sama sekali tidak mengurangi kegembiraan Lunacrest.
Dan, mungkin, tidak mengurangi rasa tak percaya mereka juga.
Sebelum menuju ke ruang makan, mereka tentunya harus membersihkan diri lebih dulu. Seorang prajurit mengantar mereka ke sebuah ruangan besar untuk bersantai. Di sana, mereka bisa mempersiapkan diri sebelum makan siang. Para gadis-gadis memilih berjalan-jalan di luar.
Tersisalah anggota laki-laki saja.
Ketenangan terasa bagaikan kebisuan. Tak ada sorak-sorai, teriakan, tepuk tangan, juga keributan apa pun. Hanya ada mereka dalam ruangan besar juga tinggi. Dindingnya dicat kelabu dengan aksen garis di bagian bawah. Ada meja besar di tengah ruangan dengan kursi-kursi mungil. Ada pula kursi panjang diletakkan merapat ke dinding. Di sudut ruangan ada lorong menuju deretan kamar mandi.
Selagi yang lain duduk-duduk di kursi yang terlalu banyak dan besar untuk mereka, Harufuji menghampiri Reiyuel.
“Kamu terluka,” katanya. “Aku melihat darah.”
Spontan, semua tatapan mata terarah pada keduanya. Termasuk Exodiart yang tengah melepas kausnya untuk mandi. “Luka apa?” tanyanya penasaran.
Di pertempuran melawan Broco barusan, Reiyuel tidak beraksi seperti sebelumnya. Exodiart berpikir kalau mungkin Reiyuel lelah lalu mau memberikan kesempatan untuknya dan Harufuji tampil. Namun, ucapan Harufuji barusan menyadari kesalahannya. Reiyuel terluka. Bukan. Lebih tepatnya, dia menyembunyikan lukanya.
“Aku tahu saat membuat kilat untuk mengacaukan serangan Kalim. Aku melihatmu bayanganmu di udara dengan sedikit percikan merah. Atau, semacam itulah. Aku enggak bisa menjelaskannya dengan benar.” Kemudian Harufuji melirik Praxel yang tengah mendekat bersama Exodiart. “Oh! Praxel juga bisa menyembuhkan lukamu. Sihirnya pasti lebih baik dariku.”
Reiyuel menghela napas pelan. Dia pun beranjak ke kursi panjang terdekat. Setelah melepas sabuk, Reiyuel mengangkat kaus hitamnya ke dada. Bekas-bekas luka dalam terlihat jelas, hadiah dari masa lalu Reiyuel. Di antaranya ada satu luka yang masih menganga. Darahnya keluar banyak, membasahi kaus juga sabuknya. Warna hitam mereka menyembunyikan rembesan darah dengan sempurna.
“Ini… yang paling menyakitkan,” ujarnya lirih.
“Paling menyakitkan?” Harufuji melongo. “Tunggu sebentar, masih ada banyak?”
“Dia mengikatkan semacam senar di bagian belakang anak panahnya. Mungkin untuk jebakan atau sejenisnya.”
“Senar? Aku enggak melihat senar apapun.”
Exodiart kini lebih memahami apa saja yang dilakukan Harufuji dalam pertarungan tadi. “Kamu menggiring Kalim menjauh dari kami untuk mengagalkan jebakannya? Jangan bilang kalau kamu juga pasang badan saat dia menembak. Itu. Sangat. Bodoh!” Exodiart menekan setiap kata pada kalimat terakhirnya.
Karena Praxel tak maju, Harufuji akhirnya mengulurkan tangan untuk mulai menyembuhkan luka Reiyuel. Ukurannya tidak besar, namun sepertinya cukup menyakitkan karena banyak darah yang keluar.
Reiyuel membuka bibirnya lalu terdiam. Apapun yang hendak dia ucapkan telah berubah jadi, “Ini hanya goresan.”
“Kamu bukan masokis. Berhentilah melakukan semuanya sendirian.” Exodiart mendesah. “Aku baru saja menceramahi Araka soal kerja tim dan ternyata kamu malah mengambil alih bahaya. Rei, jangan menderita sendirian!”
Perlahan, senyum tipis Reiyuel terkembang. “Baik, kapten.”
Para pemuda lainnya malah tertawa. Kata ‘menderita sendirian’ membuat mereka geli tapi ucapan ekspresi Reiyuel lebih lagi. Si Executor menunduk malu, menyembunyikan senyumnya yang tak kunjung hilang.
“Baik, baik.” Praxel berkata setelah tawa mereka berakhir. “Tidak adakah yang ingin membahas soal Guild Showdown?”
Harufuji dan Reiyuel saling lempar pandang.
Raiden duduk cukup jauh, tak berniat ikut dalam pembicaraan mereka.
“Oh, tadi itu memang pertarungan yang seru!” sahut Keniaru. “Kupikir kalian setidaknya akan terkena anak panah Kalim atau terbakar api Tico. Ternyata tidak sama sekali. Itu benar-benar luar biasa! Kupikir Araka juga setidaknya akan berhasil memasukkan satu atau dua kali serangan.”
Praxel menggaruk dagunya. “Aku enggak yakin itu maksudku.”
“Eh? Bukan soal pertarungan barusan? Lho, terus apa?”
“Soal bagaimana Luncarest bisa mencapai final…” Suara Praxel makin pelan menjelangi akhir kalimat.
“Ya, aku sendiri masih sulit percaya. Itu maksudmu, kak?”
Sebelum Praxel menjawab pertanyaan Keniaru, Exodiart sudah memotong. “Praxel, ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Kita bahas itu di markas saja. Berdua.”