
Setiap Warrior dilatih untuk bisa berlari cepat demi mengejar musuh. Siapapun yang tadinya mengintai mereka kini sadar telah membuat kesalahan fatal. Tahu-tahu saja Raiden sudah melayang di udara, tepat di atas si pengintai. Dia pun menjatuhkan diri ke bawah, ke sosok goblin hijau yang sedari tadi mengintip kegiatan mereka.
Keniaru dan Raiden seharusnya tak perlu cemas. Pengintai mereka hanyalah goblin kecil. Dia makhluk berkulit hijau muda dengan kuping runcing besar, tergolong monster lemah. Tinggi goblin dewasa jarang mencapai satu meter. Sosok di depan mereka jelas tidak sampai semeter. Goblin itu mengerang. Badannya bergerak untuk bangkit. Raiden memang tidak mengincar langsung tubuh goblin melainkan tanah dekat kakinya. Akibatnya, goblin ini terpelanting tapi masih hidup.
"Kamu mau mencuri sesuatu?" Keniaru menancapkan pedangnya di depan goblin, mencegahnya lari kemanapun.
Goblin itu bergidik ngeri. Dia jelas tidak bisa bahasa manusia, namun cukup memahami benda tajam seperti pedang two-handed milik Keniaru.
Keniaru berjongkok. "Kamu mau mencuri?" tanyanya lagi. "Kami tidak membawa uang atau makanan. Di mana teman-temanmu? Biasanya goblin nggak jalan-jalan sendirian."
Raiden menyilangkan tangan di depan dada. Menurutnya, tidak ada gunanya ngobrol dengan monster. Itu hanya buang-buang waktu. Mereka bisa langsung menyuruhnya pergi atau membunuhnya. Tatapannya kemudian beralih pada retakan akibat serangannya. Retakannya jelas berbeda dengan retakan hasil serangan dari palu. Retakan dari palu lebih besar, tidak dalam. Retakan dari kapak lebih mirip sayatan, tidak begitu besar tapi jelas dalam. Raiden jadi penasaran apakah dia bisa membuat retakan lebih dalam dengan kapak yang lebih bagus.
"Hei, kenapa diam saja?" Keniaru masih berusaha menanyai si goblin. "Kamu nggak mau berusaha lari atau apa begitu?" Si goblin hanya meringkuk sambil melindungi kepalanya, tak sedikitpun tanda-tanda kalau dia berusaha kabur. Keniaru jadi sadar dengan ucapannya sendiri. "Jangan-jangan kamu sedang menunggu teman-temanmu, ya!?"
Raiden mengernyit. "Haruskah kita khawatir soal itu? Ayo, kembali!"
Lawan mereka hanya goblin. Mereka bertarung menggunakan ketapel batu kadang juga pedang pendek atau kapak. Semuanya berukuran kecil. Bukan masalah besar bagi para petualang. Raiden pernah mengalahkan sekawanan goblin sendirian di awal kenaikan kelasnya menjadi Vanguard. Keniaru akhirnya berdiri, mengikuti Raiden yang sudah lebih dulu berpaling. Tak perlu waktu lama bagi keduanya untuk menyadari kesalahan mereka.
"Ini jebakan!" sahut Keniaru. "Kawanan goblin itu pasti mengincar sari bunga kita!"
"Ayo, Ken!" seru Raiden.
Dari jauh, terdengar suara-suara ribut dan pekikan goblin. Mereka sebenarnya tidak begitu jauh lokasi semula. Tapi, ini sudah cukup memberikan waktu bagi rekan-rekan goblin mencuri hasil tetesan sari bunga. Mereka berpikir akan mendapati stoples-stoples mereka lenyap. Keduanya siap mengejar para goblin kalau itu benar terjadi. Namun, apa yang menanti mereka di depan sana agak sedikit berbeda.
Beberapa goblin hangus bergelimpangan di bawah kaki Pyromancer berambut ungu. Semua stoples masih berada di tempatnya lengkap dengan para lebah serta serangga.
"Elloys!" Keniaru berseru riang.
"Sedang apa kamu di sini?" Raiden lebih penasaran daripada senang karena Elloys menjaga stoples mereka.
"Misiku selesai lebih cepat, jadi aku main-main ke sini saja. Lokasinya juga lumayan dekat." Elloys melempar kedua tangannya ke udara sembari meregangkan badan. "Sudah kuduga kalau kalian bakal meninggalkan bunganya tanpa penjagaan. Aku nggak menyalahkan kalian, sih. Pasti bosan. Hihihi..."
"Tadi kami mengejar goblin. Dia pasti dijadikan umpan oleh teman-temannya." Raiden mencibir.
Raiden terkesiap. Elloys benar. Para orc lebih sering mencuri daripada para goblin. Mereka tidak takut berkonfrontasi dengan manusia atau makhluk lain. Mereka kadang memanfaatkan monster lain yang lebih lemah. Mereka juga penggemar makanan lezat, daging, buah, mungkin juga bunga ini. Lebih parahnya lagi, Raiden baru menghadapi sekumpulan orc beberapa saat lalu. Bisa jadi mereka kumpulan yang sama atau teman dari kumpulan tersebut. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling dengan cepat. Ketika melihat bayangan hijau gelap di kejauhan, Raiden tahu telah membuat kesalahan lain.
"Awas!" Hanya itu yang sempat diteriakan Raiden sebelum empat orc menyerang mereka dari empat arah berbeda.
Api Elloys menyambar tanpa aba-aba. Dia membakar salah satu orc terdekat darinya. Keniaru melesat mengincar orc lain. Raiden punya masalah sendiri. Orc di depannya melompat dengan pentungan besar. Raiden pun berguling ke samping agar terhindar. Orc ini terbesar di antara teman-temannya. Raiden tidak pernah takut dengan monster yang lebih besar darinya. Dia tidak takut pada minotaur ataupun ogre. Kali ini berbeda. Orc di depannya membuat tangannya bergetar.
Raiden ingin menyerukan nama tekniknya ketika dia melakukan Whirlwind untuk menyerang. Namun, tak satupun kata keluar dari dirinya. Matanya mengawasi pergerakan orc dengan sama. Biasanya dia melakukan ini untuk menebak gerakan. Saat ini, dia melakukannya lebih karena cemas bukan awas. Kapaknya seharusnya bisa memberikan serangan mematikan seperti ketika dia menggunakan palu. Whirlwind yang barusan dia buat durasinya sangat pendek dan sempit. Serangannya bahkan tak mencapai si orc.
Raiden tak bisa melihat bagaimana Keniaru dan Elloys menghadapi lawan mereka. Orc di depannya ini menyita seluruh perhatiannya. Ayunan kapaknya tidak menebarkan bahaya atau kerusakan sama sekali. Orc itu bisa menangkisnya dengan mudah oleh kapaknya atau ada pula serangan yang sama sekali meleset. Raiden merasakah peluh dingin membasahi wajahnya sementara lawan menyeringai puas.
Ketika orc menyerang balik. Raiden dipaksa menahan pentungan dengan tongkat dari kapaknya. Jelas tidak efektif. Kekuatan orc membuat tongkat kapak Raiden retak parah. Raiden pun terhuyung mundur. Kemudian, orc itu mengambil kapak dari tangan Raiden, membuangnya jauh-jauh. Vanguard tanpa senjata jelas tidak bisa bertarung. Si orc mengayunkan tinju. Raiden menerimanya tanpa pertahanan. Pelindung dadanya hanya mampu menjaga agar tak ada tulang patah. Meski begitu, badannya tetap menerima penuh serangan tersebut. Dia menabrak salah satu pohon terdekat di samping bebatuan. Suara berisik memancing para lebah terbang dengan gelisah. Raiden menatapnya ngeri. Lebih ngeri lagi ketika dia melihat orc datang cepat bersama palunya.
Entah berapa kali orc itu memukul badannya. Rasa sakit bercampur takut memenuhi dirinya. Dunianya terasa berputar. Raiden teringat pernah menerima sakit secara fisik seperti itu dalam latihan-latihannya. Dia ingat jelas rasa perih pada lukanya. Dia juga ingat rasa darah. Ingatan yang terkuat, bagaimanapun, malah sosok goblin yang sesaat lalu meringkuk menutupi kepalanya. Raiden tak tahu apa dia meniru gerakan si goblin. Telinganya berdengung, napasnya tersengal. Dia hanya ingin semuanya selesai.
"Full Moon!"
Suara deru angin membelah diiring denting berisik.
"Fire Ball!"
Hawa panas datang bergelombang tercampur suara deru angin.
"Awas!"
Raiden tak mengenali lagi apa yang tengah terjadi. Dia tak tahu berapa lama telah membeku. Matanya yang sedari tadi tertutup erat mulai terbuka. Pemandangan kabur mengisi kekosongan. Hijau samar, putih berkilau, merah membara, hitam pekat, ungu. Setiap mengejap, warnanya bergerak. Perlahan, matanya mengenali sosok dan bentuk.
Elloys bersimpuh di samping, memegangi sebelah kepalanya. Sentuhannya terasa basah dan panas. "Kamu berdarah. Tapi, kamu akan baik-baik saja." Penampilannya berantakan, wajahnya kotor, suaranya bergetar. Dia kelihatan ketakutan, cemas, mungkin juga marah. "Bertahanlah..."
Elloys bergerak menjauh perlahan. Dia tak menggunakan sihir teleport, tak berlari atau berjalan, gerakannya lebih seperti menyeret. Dia menghampiri sosok lain yang tergeletak di atas tanah. Raiden mengenali celana dan pakaian sosok tersebut beserta pedang besar di sisinya. Raiden bisa melihat Elloys memeluk Keniaru. Dia baru menyadari kalau tubuh Elloys memar dan berdarah. Beberapa sisi pakaiannya juga robek, menunjukkan kulitnya yang tadi putih kini kotor oleh darah dan tanah.
Raiden menarik dirinya untuk duduk. Kapaknya berada jauh, patah jadi beberapa bagian. Gundukan batu serta bunga Moonlight hancur berantakan. Beberapa titik kobaran api. Baunya terasa familiar, begitu pula asap memedihkan pengundang air mata. Dua mayat orc. Satu misi gagal.