
Kondisi di luar tidak berubah jauh. Orang-orang itu masih bicara dan bercanda dalam suara keras. Mereka juga serantak diam dan menoleh ke arah pintu markas yang mendadak terbuka.
“Exodiart! Kami sudah menunggumu!” Si pria besar berotot pun menyambut keluarnya laki-laki membawa tongkat palu berduri dan helm kelabu tersebut. “Kami sempat menduga kalau kamu sebenarnya sudah berada di dalam dari tadi.”
Di balik helm, Raiden tersenyum. Bukan Exodiart.
Seperti kata Praxel, tak seorang pun akan mengizinkan Exodiart keluar dalam kondisi seperti ini dengan kondisi tubuh seperti itu. Selagi tadi Raiden mendinginkan kepalanya di sofa, pikirannya mengelana, tatapannya tiba ke lemari hias di mana helm konyol Exodiart berada. Dari sanalah, idenya bermula. Mereka hanya perlu mengira orang-orang itu bertemu dengan Exodiart.
Helm Exodiart yang sedang dipakainya merupakan helm yang dikenakan sang ketua guild pertama kali memenangkan Paladin’s Race. Usia muda, performa maksimal, ditambah cerita di baliknya, helm itu membuat Exodiart cukup terkenal. Hal ini membuatnya malas menggunakan helm. Bukannya menjadi pelindung, helm itu malah jadi beban baginya. Kali ini, helm itu membawa keuntungan.
Buat Raiden, bukan Exodiart.
Sebelum keluar, Raiden berganti pakaian milik Exodiart. Si ketua guild menyimpan baju ganti di kantornya. Karena ukuran tubuh mereka mirip, Raiden tak kesaulitan menyamar jadi Exodiart. Tinggal membawa senjaga Exodiart, maka orang-orang akan tertipu. Apalagi menghadapi sekumpulan orang bodoh di depannya.
“Siapa kalian dan apa mau kalian?” Raiden bertanya dengan suara asli tanpa dibuat-buat. Orang-orang itu tidak akan mengenalinya.
“Namaku Litaro. Aku dan teman-temanku ingin sekali mendengar ceritamu. Cerita soal misi rahasia yang dipercayakan Guild Master Declan pada Lunacrest. Pasti sesuatu yang sangat menggoda rasa ingin tahu.”
Di akhir kalimatnya, orang-orang di sekeliling Litaro mendekat. Raiden tidak sampai terkepung, namun tetap saja itu menimbulkan rasa tak nyaman buatnya. Dirinya bersikeras untuk tetap di tempat.
“Aku yakin itu bukan kalian,” jawabnya sambil mengedarkan pandangan.
“Itu akan jadi urusan kami karena kamu sendiri akan memberitahu kami.” Pria besar itu bicara penuh keyakinan.
Saat mereka berhadapan, Raiden sama sekali tidak gentar meski lebih kecil. Sekalipun saat ini di tangannya tak ada kapak, hanya tongkat palu berduri, Raiden tidak takut. Dia sudah mendapat sihir pendukung dari kakaknya juga dukungan lain dari rekan-rekannya yang ada di balik jendela, mengawasinya dari jauh.
“Boleh kutahu kenapa kalian begitu yakin?” Raiden bertanya seolah tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan lawannya.
“Dua orang anggotamu baru saja keluar. Kami menitipkan secarik kertas, eh salah, apa itu namanya?” Litaro berpaling ke belakang. Lilith buru-buru teleport ke depan, berbisik padanya. “Sepotong kain dari anggotamu. Seorang Pyromancer. Kalau tidak salah, namanya Elloys, ya?”
Raiden merasakan tangannya terkepal erat. Bukan hanya karena dia mendengar nama Elloys tapi juga karena mengenali gadis yang baru saja maju ke depan. Tidak salah lagi, itu gadis yang tadi dilihatnya terakhir kali bicara dengan Elloys. Dia berusaha sekuat tenaga menahan diri.
“Bagaimana aku tahu kalau kamu bicara jujur?” tanya Raiden. “Kain itu bisa saja berasal dari mana pun.
“Oh, masuk akal.”
“Bawakan dia ke sini, baru kita bicara.”
“Sebentar.”
Litaro berbalik ke belakang. Raiden bisa melihat dia mulai ngobrol dengan rekan-rekannya. Sementara pria besar itu membelakanginya, Raiden meneliti satu per satu dari mereka. Mungkin dia bisa menemukan petunjuk, celah, atau apapun yang bisa membuat situasi berbalik.
Jumlah mereka puluhan. Raiden sadar mereka semua petualang dari beragam kelas. Bahkan ada seorang Sharpshooter di antara mereka. Berani bertindak gegabah maka akan ada hujan panah padanya.
Setelah beberapa saat, Litaro pun berbalik. “Sayangnya, kami tidak bisa melakukannya. Dia berada jauh dari sini. Terserah saja kalau kamu tidak mau percaya. Aku hanya tidak berani jamin keamanannya.”
Raiden mendengus. Ini saatnya menggertak. “Kalau begitu, aku tidak bisa cerita apapun pada kalian.”
“Ke tempat Elloys?”
“Benar sekali. Tapi, ada syaratnya.” Litaro menyeringai.
Raiden pun melipat tangannya ke depan dada. Sepertinya lawan ingin menggertak balik. “Kamu sadar benar kalau aku bisa melaporkan kalian pada polisi atas tuduhan penculikan, ‘kan?”
“Lakukan saja kalau memang bisa. Burung pengirim pesanmu sudah pergi sejak tadi. Kamu pikir kami tidak lihat? Hahaha…” Tawa Litaro menular pada rekan-rekan di sekelilingnya. “Menurut data, Lunacrest hanya punya satu burung pengirim pesan. Kalian tidak bisa kirim surat untuk minta bantuan lagi.”
Raiden mengumpat dalam hati. Ternyata orang-orang itu menyadari kalau Amari mengirim Vesa untuk mengirim pesan pada Guild Master Declan. Kondisinya bisa lebih buruk. Mereka berada di atas awan. Raiden pun terpaksa mengikuti permainannya.
“Baik, apa syaratmu?” tanya Raiden.
“Tidak boleh seorang anggota Lunacrest boleh melangkah keluar dari markas. Kalau tidak, perjanjian kita batal.”
“Aku belum paham perjanjian seperti apa yang sedang kita buat.”
“Beritahu kami soal misi rahasia Lunacrest, akan kubawa kamu menemui Elloys.”
Lawannya lebih licin dari dugaan Raiden. Dia tidak sebodoh itu tapi juga tidak sepintar itu. Gantian Raiden mengajukan syarat. “Aku tidak bisa memastikan apa kamu akan membawaku ke tempat yang benar atau tidak. Aku juga punya syarat untuk kalian semua.”
“Apa itu, Exo?”
Litaro sama sekali tidak menyadari kalau yang ada di hadapannya bukan Exodiart, tapi Raiden. Hal ini membuat Raiden tersenyum. “Kamu sendiri yang harus mengantarku menemui Elloys. Tak boleh ada anggotamu yang ikut bersama kita. Bagaimana? Cukup adil, bukan?”
“Hahaha… Kamu pintar juga. Baik, kupikir kita bisa menerima itu. Benar ‘kan teman-teman?” Litaro berbalik dan mendapat banyak anggukan dari teman-teman yang berada di belakangnya. “Hanya sekadar pengingat. Kamu Guardian, aku Berserker. Percayalah, kamu enggak akan mau duel satu lawan satu denganku.”
Raiden menahan agar dirinya tak tertawa selagi membenarkan lawan. “Aku Crusader, bukan Guardian.”
“Oh, iya. Habis kamu pakai helm dan bawa perisai begitu,” sahut Litaro.
Sebelum pergi, Praxel memaksa Raiden membawa serta perisai lama Exodiart yang dulu juga dipakainya sepasang dengan helm konyol tersebut.
“Sekarang, beri perintah pada anak buahmu supaya mereka enggak keluar markas. Jangan salahkan kalau orang-orang di sini menyerang mereka,” pinta Litaro. “Dan, cepat ya. Aku bukan orang sabar. Bisa saja aku berubah pikiran.
Raiden pun kembali ke dalam markas. Dia menceritakan jelas pembicaraannya dengan Litaro. Praxel mengulang kembali sihir pendukungnya pada Raiden ditambah aneka nasihat. Mereka semua sadar kondisi bisa makin buruk. Sekarang, satu-satunya harapan adalah kalau Raiden bisa membawa pulang Elloys dan dirinya sendiri dalam kondisi utuh.
Litaro pun berjalan bersama Raiden dalam kostum Exodiart ke luar pagar kota. Raiden bisa menyerangnya, bahkan cukup yakin bisa mengalahkannay. Meski begitu, dia tidak melakukannya. Saat ini hanya Litaro yang tahu di mana Elloys berada. Jadi, dia kembali menanyakan.
“Kalian tidak menyakiti Elloys, ‘kan?” Raiden memastikan hal yang sedari tadi mengganggunya.
“Tidak. Lilith hanya merobek ujung kainnya sebagai bukti. Tapi, aku tidak tahu apa monster itu menyerangnya tidak.”
“Monster?” Raiden merasakan darahnya mulai mendidih. “Di mana kalian mengurungnya?”
“Kamu dengar berita soal benteng Efilaned?” Litaro lantas tertawa. “Jangan khawatir, kita tidak akan ke sana. Kita hanya akan ke tempat yang mirip.”