
Para gargoyle bermunculan dari berbagai arah. Bukan satu, bukan delapan, lebih dari itu. Tak seorang pun sempat menghitung. Dalam kondisi seperti ini, Keniaru menjejakkan kakinya ke tanah. Dia melakukan gerakan khas Warrior seperti Raiden. Dirinya melompat tinggi ke udara, mengincar satu gargoyle terdekat, dan melakukan serangan. Pedang besarnya menebas salah satu pasang sayap. Gargoyle pun jatuh ke tanah dengan suara berdebum.
“Jatuhkan mereka semua!” seru Elloys mengatasi kebisingan.
Gargoyle tidak bicara seperti hewan atau monster pada umumnya. Mereka berkomunikasi menggunakan teriakan memilukan. Suaranya seperti campuran tangisan bayi dan kasar seperti gesekan batu. Meski tidak menyakitkan di telinga, suaranya tetap saja mengganggu.
Praxel berlari ke salah satu sudut dinding sementara Raiden melakukan manuver seperti Keniaru. Dia berlari ke arah reruntuhan. Berpijak dari satu dinding lalu melompat ke dinding lebih tinggi. Ketika para gargoyle masuk dalam area serangan, dia menjatuhkan serangan palu sekeras mungkin pada mereka. Kalau serangan pedang Keniaru mampu memotong satu sayap, serangan Raiden menghancurkan separuh badan mereka dalam sekejap.
Jatuh dua, masih ada yang lain. Mereka kalah jumlah. Secara fisik, para gargoyle lebih kuat. Bagaimana tidak, mereka berbadan sekeras batu. Secara indera, mereka merupakan monster malam yang bisa terbang. Setidaknya Praxel bersyukur karena lawannya tidak bisa sihir.
Petir-petir kecil melompat dari ujung tongkat Praxel. Mereka merambat melalui udara, mengincar para gargoyle.Tubuh gargoyle yang tersengat langsung menunjukkan kilat biru. Efektif? Tentu saja tidak. Petir tidak efektif pada makhluk seperti gargoyle. Kalau mau menghancurkan mereka, Praxel harus membuat petir sebesar milik Exodiart. Sayangnya, Praxel lebih fokus pada sihir penyembuh daripada sihir petir. Kelas mereka berbeda, sihir mereka berbeda pula.
Ngomong-ngomong soal sihir, Praxel sedang mencari-cari si Mage wanita. Setelah kedatangan para gargoyle, dia kesulitan melihat Raiden, kehilangan Keniaru, dan sama sekali tak mendapati Elloys di mana pun. Dia hanya sempat mendengar teriakan Elloys dalam kegaduhan.
Raiden mendarat di atas tanah dengan berguling. Meleset sedikit saja, dia akan merasakan serangan gargoyle. Cakar salah satu dari mereka meluncur mulus sejengkal di atas badannya. Para gargoyle nampak bak para burung mengincar masa.
Tak jauh dari posisinya, dia bisa melihat angin putih beliung bergerak mendekat. Bukan. Bukan mendekat. Lebih tepatnya, pusaran angin buatan itu berusaha menarik pada gargoyle dalam pusarannya. Saat itulah, mata Raiden menangkap kelebat merah. Angin itu tidak sendirian. Api berputar dalam pusarannya, membakar para gargoyle yang terperangkap di dalamnya. Efektif? Seharusnya tidak.
Namun, lain ceritanya kalau mereka meledak. Gelombang api dalam pusaran angin mencapai setiap gargoyle. Tak perlu waktu lama, para gargoyle mulai hancur karenanya. Raiden bisa merasakan matanya terbelalak. Ini pertama kalinya dia melihat hal semacam itu.
Kemudian, perhatian Raiden teralih. Praxel berlari padanya. Reflek, mereka langsung berdiri saling memunggungi untuk menjaga satu sama lain.
“Penyihir dengan warna ungu? Kukira dia pengguna sihir kosmik,” ujar Raiden.
“Sama,” sahut Praxel. “Kukira dia Astralist seperti Kelsey.”
“Kamu juga nggak tahu? Kukira kalian sudah ngobrol soal itu.”
“Nggak. Dia cerita banyak hal kecuali soal misi dan sihirnya.” Praxel melirik ke arah pusaran api yang mulai mereda. “Aku sama sekali nggak menyangka dia seorang Pyromancer.”
“Daya serangnya tinggi?”
“Jelas. Kamu tahu apa sebutan bagi para Pyromancer ahli? Setan api.”
“Kedengarannya menakutkan.”
Baru selesai bicara, terdengar suara ledakan besar dari sisi lain. Suaranya mengakhiri pusaran angin dan api. Elloys terlihat tak jauh dari posisi pusaran. Dia membelakangi mereka dengan tongkat terlurur ke depan. Di depannya, sebuah bekas hangus nampak di atas tanah dikelilingi bebatuan dari tubuh gargoyle.
Raiden menyipitkan mata. “Dia nggak meledakkan gargoyle barusan, ‘kan?”
“Aku nggak tahu kalau sihir api bisa meledakkan mereka.”
“Tentu bisa. Tergantung siapa yang merapalnya.” Praxel mengangkat tongkat, melepaskan sihir petir lain pada gargoyle yang hendak mendekat. “Kupikir aku melihat lebih dari delapan monster di sini.”
“Kamu nggak salah lihat, kak!”
Raiden mengayunkan palu. Namun, si gargoyle menukik ke atas untuk menghindar. Serangan pun gagal. Hembusan angin yang tercipta dari palu Raiden hanya sempat membuatnya sedikit oleng. Gargoyle lain terbang rendah tanpa melakukan serangan. Mereka hanya sesekali mendekat sebelum kembali menukik ke atas.
“Mereka seperti burung pemakan bangkai menanti buruan,” gumam Praxel. “Ini salah.”
“Katakan pada mereka!” Raiden berlari ke arah dinding tanpa menghiraukan panggilan Praxel. Untuk sesaat dirinya berharap bisa terbang. Sayangnya tidak. Dia perlu batu besar atau patahan dinding sebagai tumpuan demi mencapai para monster.
Praxel mengamati sekelilingnya. Dia beski melihat kilat merah api dari beberapa titik. Namun, dia belum bisa mengenali di mana Elloys berada. Tak lama, dia melihat hempasan putih tajam berbentuk bulan sabit. Praxel mengenalinya sebagai salah satu serangan khas para Blademaster. Setelah serangan tersebut lenyap bersama seekor gargoyle, dia bisa melihat Keniaru di balik salah satu dinding.
“Ken!” serunya sambil berlari.
Sayangnya, sebelum mencapai Keniaru, seekor gargoyle terbang rendah. Cakarnya terulur ke depan hendak menyambar tubuhnya. Praxel berhasil menghindar sekalipun cakar gargoyle sukses menggores tangannya. Seharusnya luka semacam ini membuat darahnya membasahi lengan baju. Praxel melakukan sihir penyembuh bahkan sebelum darahnya sempat menyentuh pakaian. Luka pada kulit adalah satu perkara, baju yang robek jelas perkara lain. Dia tidak bisa memperbaikinya tanpa alat jahit.
Praxel menengadahkan wajah ke depan, menyadari Keniaru telah lenyap. Para Warrior memang dilatih melakukan serangan secepat gerakan mereka. Saat dirinya hendak mencari rekan lain, hembusan angin pelan menyapanya dari samping.
“Kamu nggak apa-apa?” Elloys muncul entah dari mana. Matanya mengamati luka di tangan Praxel.
“Nggak apa-apa. Ikut aku!” Praxel mengayunkan tangan, memberi isyarat bagi Elloys untuk mengikuti.
Praxel berlari, sesekali menunduk, ke arah reruntuhan lebih dalam.
“Kita mau ke mana?” Elloys menggunakan sihir untuk mengejar Praxel. Dengan sihirnya, dia bisa bergerak lebih cepat. Namun, Elloys menjaga jarak agar dapat tetap berkomunikasi dengan si penyembuh.
“Memastikan tidak ada monster lain di dalam sana.” Praxel menjawab di sela-sela napasnya yang mulai terengah-engah karena lari dan tegang. Sesering apa pun dirinya berada dalam pertempuran, adrenalin selalu mengalir deras.
“Apa maksudmu?” Elloys mencuri pandang ke belakang.
Suara pertempuran mulai jauh tertinggal dari mereka. Dia tahu kalau Keniaru dan Raiden bisa mengatasi para gargoyle. Secara kelas dan senjata, serangan Raiden bahkan seharusnya lebih efektif dari Keniaru. Dia lebih khawatir pada Praxel yang mendadak saja lari dari tengah pertempuran. Ini bukan pertama kalinya dia melakukan misi bersama orang asing. Dia pernah ditinggalkan oleh petualang lain di tengah pertempuran. Jadi, dirinya tidak akan terkejut kalau itu terjadi lagi. Masalahnya, Praxel mengajak Elloys bersamanya.
“Kupikir ada induk gargoyle di dalam sana.” Praxel memicingkan mata ke dalam reruntuhan. Semakin jauh mereka berlari, semakin banyak dinding yang utuh. Beberapa masih menyisakan bentuk-bentuk ruangan tak sempurna dengan langit-langit tinggi.
“Induk gargoyle? Apa maksudmu dengan--” Elloys terkesiap. Perkataan beserta tubuhnya berhenti di tempat. Itu pertama kalinya dia melihat gargoyle besar bergaris merah. Makhluk itu jelas memenuhi kriteria menyeramkan.