
Beberapa saat setelah Exodiart dan timnya pergi, Amari datang. Keniaru sudah bangun. Semalam, dia dan Exodiart yang bertugas jaga malam. Keduanya terbangun oleh sambaran petir tak ramah, disusul gedoran dari prajurit untuk panggilan ke istana. Exodiart pergi, Keniaru menjaga markas sendirian.
Amari tak perlu membawakan Keniaru sarapan. Beberapa setelah dia datang, giliran Elloys datang membawakannya makanan. Kedua sepupu itu makan di lantai dua. Amari membereskan berkas-berkasnya ketika pintu markas kembali terbuka lebar. Amari berdecak kesal. Curio selalu menerobos masuk seenaknya.
“Selamat pagi, guild terbaik di Lunacrest. Kiranya sinar matahari pagi selalu menyertai kalian sekalipun mendung menggantung di ujung dunia.” Curio memetik dawai-dawai kecapi di tangannya. “Biarlah sang dewi menjaga setiap dari kita. Tidak ada air mata, tidak ada tetes darah, tidak ada jiwa yang tercabut dari akarnya.”
“Kamu itu ngomong apa, sih.” Amari tertawa kecil, berbalik pada lemari di belakangnya. Dia mulai terbiasa dengan kekonyolan dari omongan aneh Curio.
“Aku bicara soal kegelapan yang sedang menuju Korumbie.”
“Tidak ada kegelapan. Hanya mendung biasa yang… sedikit aneh.” Amari sendiri kesulitan menggambarkan mendung di ujung sana.
“Benar, hanya sesuatu yang sedikit aneh. Di mana para monster berkumpul untuk memanggil petir. Menantikan para manusia datang dalam jeratnya. Bukan sesuatu yang aneh. Ini soal mangsa dan dimangsa. Tergantung dari sisi mana kamu melihatnya.”
Amari yakin melihat seringai Curio di akhir kalimatnya.
Selanjutnya, Curio melempar senyum manis, memainkan kecapinya sambil berjalan masuk.
Elloys menuju balkon melambai padanya. “Naiklah ke sini, kalau mau. Aku memasak sarapan banyak. Kami biasanya makan bersama pagi hari. Tapi, sepertinya ada hal tak terduga semalam.”
Keniaru hanya nyengir. “Mau bagaimana lagi…”
Curio hanya mengangguk. Dia berhenti di depan rak hias Lunacrest. Bentuknya memang sudah tidak sempurna. Namun, Amari telah berusaha keras menutupi segala cacatnya. Dia mengganti tanamannya yang hancur dengan tanaman lain. Pot keramik putihnya lebih besar dengan bunga tinggi. Mereka menyamarkan luka pada dinding akibat pertarungan beberapa waktu lalu.
Perhatiannya kemudian tertuju pada barang-barang lain yang ada di sana. Separuh menebak barang siapa milik siapa. Tidak ada yang menggemari bunga selain Amari, jadi dia tahu jelas kalau pot itu miliknya. Lalu, ada helm putih perak yang beberapa kali disebut merupakan milik sang ketua guild. Dia juga menemukan sebuah karangan bunga yang biasa digunakan di kepala. Mungkin milik Mierai atau Kelsey. Tapi, pasti bukan milik Elloys.
Curio tahu kalau Elloys meletakkan sebuah gelas tinggi, terbuat dari kaca patri. Dari sekilas saja, barang itu menunjukkan nilai dari keindahannya. Harganya tidak bisa tergolong murah. Mungkin orang tidak akan berpikir kalau ini bukan sesuatu yang menunjukkan jati diri seorang Pyromancer. Saat ini hanya Curio dan Keniaru yang memahami cerita di baliknya.
“Siapa yang lupa menutup pintu?” Raiden ada di depan markas, melangkah masuk, sembari menutup pintu di belakangnya. Dia tidak mengharapkan jawaban, hanya sekadar ingin mengomel pada si musisi jalanan.
“Oh, senang melihatmu di sini, Raiden.”
Raiden memicingkan mata, tak berniat membalas.
Curio masih memainkan kecapinya yang kini jadi latar belakang ketika dia mulai bicara lagi. “Aku bisa melihatnya. Kalian akan menunggu kedatangan anggota yang lain lalu menjalankan misi. Masa-masa muda menyenangkan juga menegangkan. Saat tepat untuk mencari cinta di tengah dilema.”
Raiden mendesah, melempar dirinya sendiri ke sofa, mengabaikan semua ucapan Curio.
Elloys pun turun dari lantai dua. “Kami mungkin akan menunggu Mierai atau Exodiart lalu mulai mencari misi.”
“Mereka tidak ada di sini. Mereka sudah pergi pagi tadi,” sahut Amari sambil mengedipkan mata. “Misi rahasia untuk Lunacrest.”
Keniaru menimpali dari lantai dua. “Exodiart dapat panggilan khusus pagi tadi dari istana. Dia kembali ke sini lalu pergi lagi dengan Praxel, Amari, dan Kelsey. Aku juga enggak tahu mereka mau ke mana.”
Raiden mendesah. “Paling disuruh memeriksa pegunungan.”
Seketika itu, Curio menghentikan permainan kecapinya. “Tunggu sebentar. Kamu tidak bilang kalau mereka pergi untuk memeriksa petir tak wajar itu kan?”
“Sepertinya begitu. Aku ingat Vesa datang dengan surat panggilan dari Exodiart. Kakakku buru-buru ke sini dan belum pulang sampai sekarang. Mungkin saja kalau kerajaan memanggil mereka untuk memeriksa apalah itu.”
Reaksi wajah Curio langsung berubah ketika mendengar jawaban Raiden.
Elloys pun berkacak pinggang. “Cuma perasaanku atau kamu memang santai amat. Enggak khawatir sama sekali dengan apa yang mungkin ada di sana? Petirnya tadi pagi luar biasa kencang, lho.”
Raiden sebenarnya malas menjelaskan, namun karena Elloys yang bertanya, dia pun menjawab. “Aku sebenarnya juga cemas. Aku tahu kalau Exodiart bersama Praxel, biasanya enggak ada masalah. Aku sendiri ingin menemani mereka. Tapi…” Raiden mengacak-acak rambutnya. “Argh! Padahal tadi aku sudah berusaha keras supaya enggak kepikiran. Sekarang jadi teringat lagi.”
“Jadi, kamu cemas karena enggak bisa ikut beraksi?”
“Aku cemas kalau sampai ada apa-apa di sana. Mereka berempat seharusnya bisa mengajak lebih banyak orang, ‘kan?” sahut Raiden.
“Mungkin itu permintaan dari kerajaan,” tambah Amari. “Tenanglah, petirnya sudah banyak berkurang, kok. Sebentar lagi mereka juga akan pulang.” Amari ada benarnya. Petir memang tak lagi menyambar seperti pagi tadi.
Raiden melirik ke jendela. Dia tidak bisa melihat ke arah pegunungan. Namun, dirinya tahu jelas kalau mendung belum bergerak sama sekali. Tidak ada jaminan kalau misi kakaknya berjalan lancar.
“Mendung itu tidak akan pergi,” ujar Curio lirih. “Tidak sampai mereka mendapatkan korban yang cukup untuk ritual para demon.”
Serentak semua orang langsung melirik Curio. Mereka semua tahu kalau Curio sering bicara sembarangan, hal-hal yang tak bisa mereka bedakan sebagai lelucon atau bukan. Kali ini, Curio mengatakannya dengan mimik serius tanpa sedikit pun senyum. Matanya ikut memandang ke luar jendela seolah bisa melihat ke arah pegunungan.
“Apa maksudmu!?” Raiden terdengar kesal.
Amari juga menyahut. “Darimana kamu tahu kalau ada demon di sana?”
“Curio,” panggil Elloys. “Apa yang kamu lihat di sana?”
Mendengar keributan di bawah, Keniaru buru-buru menuruni tangga. “Teman-teman, apa yang terjadi? Jangan bertengkar di sini. Tempat ini sudah cukup berantakan akibat penyerangan kemarin.”
Curio sengaja menunggu hingga Keniaru tiba di bawah. Setelahnya, dia memandang Elloys sambil tersenyum tipis. “Apa kamu benar-benar ingin tahu apa yang ada di sana, Elloys sayang? Karena kupikir itu bukan suatu hal yang ingin kamu dengar. Kadang, ketidaktahuan membawa ketenangan.”
Raiden tak peduli bila Curio memanggil Elloys sayang atau apa. Dia hanya ingin Curio segera mengatakan hal yang dia tahu. “Apa kamu dari sana? Dari pegunungan Pothine? Apa yang ada di sana?!”
“Kegelapan. Seperti yang diucapkan Kisarumi, bukan?”