Lunacrest

Lunacrest
Chapter 38



Exodiart kembali ke kantor Fawke seorang diri. Matahari belum benar-benar keluar dari peristirahatannya. Kondisi kantor masih sepi. Tidak ada petualang selain dirinya. Dia sendiri sesungguhnya tak tahu harus menemui siapa. Salah seorang petugas melihatnya, bergegas menghampiri.


“Ikut aku,” ujarnya.


Exodiart tak lantas bergerak mengikuti. Dalam kondisi seperti ini, ada baiknya tidak langsung menurut instruksi pada siapa pun sampai dia benar-benar yakin kalau orang ini paham tujuannya ke sana juga berada di pihak yang sama.


Petugas ini berbalik padanya. “Ikuti aku,” katanya lagi.


“Kupikir aku datang terlalu awal,” jawab Exodiart. Dia cukup ingat kalau Fawke ingin dirinya melapor siang hari.


“Tidak. Dia ada di atas. Menunggumu.”


“Oh? Kupikir…” Exodiart terdiam, bergeming.


Petugas pun kembali padanya. “Jangan takut. Kamu akan paham nanti.”


Exodiart yakin kalau si petugas memahami kegelisahannya. Bukan. Bukan si petugas. Fawke nampaknya bisa menduga kalau ini akan terjadi, jadi dia mengirim petugas untuk menjumpai.


Exodiart kembali ke ruangan Fawke. Si petugas dan sepasang prajurit meninggalkan Fawke dan Exodiart berdua.


“Kuasumsikan petinya ada di markasmu,” Fawke langsung bicara Exodiart sesudah Exodiart memberi hormat. “Harus kuakui, aku cukup… terkejut.” Sang jendral berhenti sebentar. “Harus kuakui kalau kamu membuatku terkesan. Kupikir kalian akan kembali siang hari.”


Exodiart memilih kalimatnya dengan hati-hati. “Beberapa hal terjadi di luar dugaan.”


“Benar. Lunacrest punya anggota yang kuat.”


Exodiart tidak yakin sejauh apa sang jendral tahu apa yang telah terjadi saat itu. Dia juga tidak bisa memastikan siapa yang dimaksud, apakah itu menunjuk pada satu orang atau keseluruhan. Akhirnya dia hanya menjawab, “Terima kasih.”


“Tidak. Terima kasih.”


Exodiart biasanya akan membalas dengan ‘sama-sama’ atau menghindar. Kali ini, dia tidak yakin apa respon yang tepat.


Fawke akhirnya tertawa. “Oh, jangan terlalu kaku. Aku tahu ayah dan pamanmu. Aku tahu kemampuan mereka. Aku juga paham kesetiaan mereka pada kerajaan. Aku senang ternyata sifatmu menurun dari mereka.”


Exodiart pun tersenyum. “Saya rasa penilaian itu terlalu tinggi.”


“Tidak, tidak. Dengan begini, aku menyatakan kalau Lunacrest lulus test.”


Senyum Exodiart lantas lenyap digantikan wajah melongo. “Maaf?”


“Hahaha…” Fawke tertawa lagi. “Aku yakin misi soal menghancurkan karang sudah jadi pergunjingan di kalangan petualang. Ada banyak dugaan dan gosip. Tentu saja. Kami sengaja menyebarkannya.”


“Maaf, saya pikir saya tidak paham.”


“Dugaan mana menurutmu yang paling tepat?”


Exodiart tak langsung menjawab sekalipun otaknya bisa langsung menjawab. “Mungkin,” katanya. “Ada kapal pemasok bahan untuk kerajaan. Pasokan itu tidak bisa lewat dermaga, jadi mereka harus berlabuh di sana.”


“Menurutmu, apa pasokan itu?”


Exodiart meminjam asumsi Elloys. “Senjata.”


“Tepat!” Fawke menjentikkan jari. “Lihat kataku, kamu mirip ayahmu.”


“Jadi, kotak itu berisi senjata untuk prajurit kerjaan?”


“Ya dan tidak. Kotak itu memuat senjata, kadang obat, kadang permata. Tergantung apa yang mau dijadikan umpan.”


“Umpan untuk tes?”


“Bukan. Umpan untuk para bajak laut.”


Dahi Exodiart mengernyit. “Jadi, kapal ini sengaja dimuati barang lalu berlabuh di tempat tertentu untuk menarik bajak laut?”


“Banyak bajak laut berkeliaran di perairan Endialte. Daripada repot mencari mereka, lebih baik menunggu mereka datang. Kerajaan butuh umpan. Jadi, kapal disiapkan dan rumor sengaja disebar. Cara ini cukup menarik.”


“Menarik? Ini cara yang efektif.” Fawke menyilangkan tangan di depan dada. “Saat kita bicara saat ini, para prajurit tengah meringkus para bajak laut. Tidak perlu mengirim banyak pasukan. Kalian berhasil membuat mereka babak belur.”


“Jadi, kami diawasi selama menjalankan misi?”


“Bola kaca penyihir, elang pengintai, teropong, ada banyak cara.”


“Wow…” Exodiart bergumam pelan, sama sekali tak menyangka.


“Kamu tahu bagaimana cara untuk membuatnya lebih efektif? Saat bajak laut mendapatkan umpan, menyerang kapal, kami tidak perlu mengirim prajurit ke sana. Jadikan saja ini salah satu misi khusus untuk guild. Kirim guild ke sana gantinya para prajurit.”


“Anda memilih Lunacrest?”


“Bukan. Aku memilih secara acak dari para petualang yang mengambil misi untuk menghancurkan karang. Raiden, dia anggotamu, ‘kan?”


Exodiart mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya.” Dia tersenyum karena Lunacrest terpilih juga cerita Praxel akan kare clabery. Namun, sesaat kemudian, senyumnya lenyap. Dia teringat bagaimana keberadaan Raiden tak bisa dipastikan saat ini juga bagaimana kondisi Praxel yang tengah terluka.


Fawke melanjutkan, “Lunacrest akan mendapat banyak poin karena misi ini. Kamu bisa bersiap-siap cari anggota baru saat Lunacrest naik kelas.”


“Terima kasih.” Exodiart membungkuk. “Soal peti--”


“Itu milik Lunacrest sekarang.”


Fawke membuat Exodiart tertegun lagi. “Milik kami?”


“Isi peti yang kalian bawa adalah adalah…” Fawke berhenti sebentar. Tangannya menyahut selembar kertas di atas meja. Dia membacakan daftar tersebut dengan sedikit berhenti pada setiap benda. “Anak panah. Kain. Batu. Batu-batuan. Maksudku, batu sihir. Sesuatu yang biasa dipakai para Mage. Batu sihir jenis ini, jenis itu. Ada beberapa variasi. Mayoritas berukuran kecil dan ringan. Kamu pasti tidak kesulitan membawanya ke sini.”


“Tidak.” Exodiart ingat beban peti tersebut. Bukan berat yang menyakiti tangannya meski tidak bisa dibilang ringan juga.


“Bagus. Kamu bisa memeriksa semua barang-barangnya nanti.” Fawke menyodorkan kertas tersebut pada Exodiart. “Semuanya milik kalian. Tidak perlu repot-repot membawanya kemari. Itu tambahan bagi kalian.”


“Terima kasih.”


“Soal imbalan… Aku akan langsung menambahkannya di akun penyimpanan kalian. Tidak perlu meragukan jumlahnya. Kerajaan selalu memberikan imbalan yang pantas.”


“Terima kasih sekali lagi, pak.”


“Lalu, soal wakilmu. Praxel, kalau aku tidak salah ingat. Dia terluka, benar?”


“Benar. Anggota kami membawanya kembali ke kota dengan teleport. Dia sedang mendapat perawatan di rumah sakit. Dokter bilang kalau kondisinya tidak parah.”


“Benar. Anggotaku sudah ada di sana. Dia sedang mengatur semua biaya pengobatan.”


Exodiart melongo, lagi.


“Kami baik, bukan?”


Exodiart tak ingin menjawab. Dia tahu jelas skenarionya akan jadi berbeda kalau mereka gagal menjalankan misi ini. Tidak ada pujian, tidak ada peti, tidak ada poin juga imbalan. Mungkin mereka bahkan tidak akan mengetahui kalau ini sesungguhnya ujian yang diberikan dari sang jendral.


“Maaf, pak. Boleh saya bertanya?”


“Tentu. Apa itu?”


“Apa tujuan Anda menguji kami?”


“Oh, pertanyaan bagus. Kamu tahu, kerajaan tidak boleh hanya bergantung dari guild terkuat saja. Ini bukan pertama kalinya aku memanggil guild untuk membereskan bajak laut. Dari ujian ini, aku bisa melihat bagaimana mereka bekerja. Aku juga memilih guild mana yang bisa diandalkan, mana yang tidak.” Fawke tersenyum simpul. “Aku menganggap Lunacrest guild yang bisa dipercaya.”


Exodiart setuju soal ini. “Saya merasa terhormat.”


“Sudah seharusnya.” Fawke memicingkan mata. “Secara pribadi, aku merasa kamu bisa diandalkan. Pernahkan kamu berpikir begini? Lunacrest akan baik-baik saja di bawah pimpinan Praxel. Kamu? Kamu bisa dapat posisi bagus di militer.”