Lunacrest

Lunacrest
Chapter 11



Gargoyle ini nampak seperti gargoyle pada umumnya. Hanya saja, ukurannya dua kali lipat gargoyle biasa. Pada setiap jengkal tubuhnya, ada deretan garis-garis merah padam serupa mata merah gargoyle. Monster ini tidak memiliki kelopak seperti monster-monster pada umumnya. Ketika mereka tidur, mata mereka yang serupa kelereng merah menjadi padam. Sayap monster di depan Praxel dan  Elloys saat ini tidak mengembang, melainkan menutupi tubuhnya.


“Dia alasan kenapa ada banyak gargoyle di sini,” ujar Praxel sepelan mungkin.


Tempat ini sangat sepi dibandingkan area pertempuran yang baru mereka tinggalkan. Si gargoyle berada di bawah naungan atap dan perlindungan dinding. Tak bergerak, tak bersuara. Terlihat begitu damai.


“Aku nggak mengerti. Maksudmu, dia ini induk mereka? Aku nggak tahu ada gargoyle betina. Aku bahkan nggak tahu gargoyle punya jenis kelamin.” Elloys balik berbisik tanpa berani mengalihkan perhatiannya dari si monster.


“Gargoyle betina jarang terlibat dalam pertempuran. Tugas mereka hanya bertelur.”


“Kuharap induk gargoyle ini nggak bisa bertarung.” Elloys menelan ludah. “Dia sangat besar. Maksudku, naga jelas lebih besar dari dia. Tapi, dia lebih besar dari gargoyle lain. Apa yang harus kita lakukan sekarang? ”


“Sebenarnya, menurutku dia sudah mati.”


“Apa?”


“Aku pernah membaca kalau induk gargoyle akan mati sesudah mengeluarkan telur-telur mereka. Mari berharap apa yang kubaca itu benar.”


“Jadi, ini hanya mayatnya? Haha… Kenapa nggak bilang dari tadi?” Seiring kembalinya kelegaan dalam hati, Elloys merasa tak perlu lagi memelankan suara. “Oh, induk yang malang. Baru saja melahirkan, anak-anaknya langsung ketahuan para penjaga. Sekarang kita bahkan sedang membunuh anak-anaknya.”


“Ssst!” sahut Praxel sembari meletakkan telunjuknya ke depan bibir. “Kurasa terlalu cepat merasa tenang. Tunggu di sini dan jangan bersuara.”


“Kenapa?”


“Aku akan memeriksa kalau-kalau masih ada telur lain yang belum menetas. Biasanya mereka mengeluarkan puluhan telur setiap minggu.”


“Setiap minggu? Berapa lama mereka bertelur?”


“Yang pasti lebih dari sebulan.”


“Menurutmu, dia sudah di sini berminggu-minggu?”


“Mungkin. Mungkin juga berbulan-bulan,” jawab Praxel mengingat para gargoyle yang tadi dia lawan sudah cukup besar. “Dugaanku, dia sudah selesai bertelur dan mati. Tapi bukan berarti semua telur sudah menetas. Kamu mengerti? Bisa jadi masih ada telur yang sudah dikeluarkan tapi belum menetas.”


Elloys terperangah mendengar dugaan Praxel. Ini jelas bukan sesuatu yang ingin dia dengar. “Menurutmu, masih ada berapa banyak?”


Praxel mengedikkan bahu. “Tunggu di sini.”


Di belakang induk gargoyle, ada sebuah ruangan besar gelap. Cahaya bulan tak mampu menerangi. Hanya ada celah-celah kecil yang memungkinkan sedikit cahaya masuk. Mata manusia tak bisa menangkap dengan jelas. Elloys sadar kalau dirinya bisa saja membuat bola api kecil untuk menerangi. Terlepas dari itu, dia merasa itu ide buruk.


Dengan berhati-hati, Elloys mulai melangkah. Keheningan serta kegelapan menyiksanya. Dia tidak bisa melihat apa pun dengan jelas. Hal yang paling menonjol justru suara napasnya sendiri. Kemudian, ketika matanya mulai terbiasa, dia menangkap kilau kuning di ujung sana. Gargoyle tidak berkilau merah sementara tongkat Praxel punya orb kuning. Elloys mempercepat langkah tanpa berani memanggil.


DUK!


Elloys terjembab. Kakinya tak sengaja mengenai suatu benda keras di bawah. Meski tak berteriak, Elloys bisa merasakan dirinya panik. Tanpa pikir panjang, dirinya merapal mantra. Bola api mungil pun muncul, melayang dekat kaki bersepatu bot yang dia kenakan. Cahaya dari bola api membantu mengenali benda yang membuatnya tersandung. Benda itu berupa mangkuk tipis besar dengan pinggiran tidak rata. Tak perlu diberitahu, Elloys paham.


Itu cangkang telur bekas.


Kini Elloys merasa menyesal telah membuat bola api. Matanya menangkap banyak cangkang telur lain di sekeliling ruangan. Bukan hanya ada satu atau dua, tapi banyak. Mungkin puluhan, mungkin ratusan. Lebih parah lagi, Elloys bisa melihat telur-telur yang masih utuh. Dia memang tidak tahu secepat apa gargoyle bisa tumbuh. Ukuran makhluk yang ada di dalam telur itu pasti tak bisa dibandingkan dengan para gargoyle di luar sana.


Telur-telur tersebut hampir sebesar dirinya. Bentuknya seolah terbuat dari batu. Teksturnya kasar, berwarna kelabu dengan garis-garis merah kusam. Selain itu, ada garis-garis samar yang mulai tampak pula. Mereka menjalar dimulai dari bagian atas ke bagian bawah. Para bayi gargoyle tampaknya sedang berusaha keluar. Kejadian ini tidak hanya terjadi pada satu telur melainkan pada semua yang ada di sana.


Elloys berusaha keras bergerak tapi dirinya tak mampu. Pikirannya terjebak antara rasa ingin tahu dan takut. Dia bisa merasakan kaki serta tangannya gemetar. Apalagi ketika cakar mungil berhasil mencuat dari telur yang satu dan ujung sayap merobek kulit telur yang lain. Kengerian merayap ke punggungnya. Ditambah lagi suara jeritan gargoyle terdengar jelas dari kumpulan telur.


“Kya--”


Gelap!


Elloys tahu dia telah berteriak. Namun, suaranya tak pernah benar-benar menggapai udara. Mulutnya tertutupi sesuatu berbungkus kain. Elloys tak berani bernapas juga tak berani berontak. Keributan terdengar jelas di depan. Campuran dari teriakan bayi gargoyle, hancurnya cangkang telur, kepakan banyak sayap, hingga bunyi dentum tak jelas. Bagi para bayi gargoyle, sekedar terbang dan tidak bertabrakan satu sama lain jelas merupakan dua hal berbeda. Kekacauan itu berlangsung cukup singkat. Tak perlu waktu lama, Elloys merasakan sekapan di mulutnya terlepas.


“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?” bisikan Praxel terdengar langsung ke telinganya.


Elloys menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Dia mengangguk cepat meski tak yakin bila Praxel bisa melihatnya karena dia sendiri tak bisa melihat wajah Praxel.


Praxel agaknya menangkap jawaban itu karena dia berkata, “Bagus. Ayo kita kembali. Raiden dan Keniaru pasti kewalahan gara-gara bayi ini. Ayo!”


Praxel berdiri, berlari ke luar ruang, menuju area terbuka. Elloys bisa menangkap sosok punggung sang Bishop dari kejauhan. Elloys mensyukuri banyak hal meski hanya sesaat. Setidaknya, ada dua hal. Dia tidak kena serangan dari para bayi monster yang baru lahir dan Praxel juga tak melihat wajahnya saat itu. Elloys yakin dirinya nampak berantakan.


Elloys buru-buru mengusap mata sebelum basah. Dia sesungguhnya tidak takut pada Gargoyle. Mungkin kali ini kejadiannya agak berbeda. Minim cahaya, jumlah monster yang banyak, jeritan memekakkan telinga, mungkin juga hal-hal lain. Perpaduan semua itu memancing rasa takut dalam dirinya.


Baiklah, tapi, itu semua telah berlalu. Elloys berdiri di atas kedua kakinya sambil membersihkan debu dari rok pendeknya. Para Gargoyle telah membuatnya malu. Ini gilirannya membuat mereka menyesal pernah membuat Pyromancer seperti dirinya ketakutan.