
Raiden akhirnya tak sanggup melanjutkan percakapannya dengan Elloys. Mereka telah sampai di ujung gang. Keramaian terasa. Hanya beberapa belokan lagi maka markas akan terlihat. Baik Raiden maupun Elloys mengakhiri percakapan mereka di sana. Membicarakan hal tersembunyi di ruang terbuka selalu membuat tak nyaman.
Meski enggan mengakui, Raiden sampai ke markas dengan perasaan yang bercampur aduk. Separuh penasaran, separuh takut. Dia baru menyadari kalau Elloys jauh lebih kuat serta berbahaya dari dugaannya.
Ketika akhirnya tiba di markas, Raiden melihat kakaknya ada di sana. Ada juga Mierai dan Reiyuel yang sedang bermain lempar pisau. Exodiart menambahkan sebuah papan pada dinding menuju dapur. Praxel melambaikan tangan padanya ketika melihat mereka masuk.
“Habis ngerjain misi apa? Pagi banget…” ujar Praxel.
“Enggak. Kami habis jalan-jalan, kok,” sahut Elloys. Dirinya teleport menuju meja Amari.
“Kenapa kemarin enggak datang?” tanya Amari.
“Aku sakit perut. Hehe…” jawab Elloys asal.
Raiden merasa canggung ketika mendekati kakaknya. Dia tahu mereka tidak benar-benar adu mulut juga tidak benar-benar perang dingin. Mereka berada di antara kedua fase tersebut. Sepertinya justru itu yang membuatnya lebih canggung lagi.
“Jadi, mau berburu?” Praxel melempar pertanyaan pada adiknya. Saat bangun pagi tadi, dia mendapati kalau Raiden sudah tidak ada di rumah. Dia tenang-tenang saja asalkan Raiden tak menghilang bersama ranselnya seperti beberapa saat lalu.
“Ya, nanti. Sekarang, ada waktu?”
Praxel berdiri, “Ada apa?”
Raiden tak menjawab, malah mengedarkan pandangannya, memeriksa sekeliling.
“Di atas kosong,” ujar Praxel seolah bisa membaca pikiran adiknya. “Exodiart sedang pulang ke rumah mengambil barang.”
Jaga malam telah dimulai, diawali oleh Exodiart dan Reiyuel. Exodiart bangun, membereskan berkas, lalu baru menyadari kalau meninggalkan pakaiannya, jadi dia terpaksa pulang. Sementara itu, Reiyuel sudah membawa barang-barangnya. Dia menunggu kedatangan Exodiart untuk berburu bersama.
Mereka berdua pun naik ke lantai dua. Reiyuel sempat menengok, penasaran. Mierai tak peduli, lebih fokus pada bagaimana dia bisa melempar ke bulatan tengah karena sudah berulang kali kalah dari si Executor. Amari penasaran kenapa apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Elloys senyum-senyum sendiri dan kenapa kakak beradik itu naik ke lantai dua yang kosong.
“Mereka tidak akan berantem di atas, ‘kan?” bisik Amari.
“Entahlah. Mungkin. Kenapa tidak?” Meski bicara begitu, Elloys tersenyum, menghapus kegelisahan di hati Amari.
Praxel duduk di kursi tinggi berhadapan dengan Raiden, terpisahkan oleh meja besar. “Maafkan aku,” katanya lebih dulu.
“Apa?” Raiden bingung.
“Jangan salah sangka. Aku bukan minta maaf soal kejadian tempo hari. Aku minta maaf karena sudah jadi kakak yang kurang kooperatif,” sahut Praxel. “Kelsey mengingatkanku agar aku lebih bijak saat bicara. Terutama denganmu.”
Kelsey lagi.
“Apa saja yang dia katakan?”
“Banyak. Itu intinya.”
Karena Praxel sepertinya tak ingin menjabarkan, Raiden pun bicara. “Sekarang giliranku minta maaf. Aku sudah seenaknya pergi tanpa memberi kabar.”
“Kupikir kita impas. Ingat waktu aku meninggalkan rumah untuk ke ibu kota? Seingatku, aku juga tidak pamit padamu.”
Raiden seharusnya tersenyum soal itu. Kakaknya sadar kesalahan yang dia buat bertahun-tahun lalu. Namun, kenyataannya dia hanya terdiam. Apa yang dilakukan Praxel saat itu memang membawa dampak besar baginya. Namun, itu juga yang membentuknya hingga seperti ini.
“Aku belum cerita soal ujian kenaikan kelas padamu, kak.”
“Kamu mau ujian?”
“Sebenarnya, aku sudah selesai.”
“Tunggu sebentar. Selesai? Kamu sudah selesai mengambil ujian—”
“Berserker,” sahut Raiden. “Aku sudah menyelesaikan ujian kelas spesialisasi Berserker.” Raiden bisa melihat bagaimana Praxel terdiam mendengar pernyataannya. Ekspresinya tak terbaca. Raiden melanjutkan, “Aku baru saja dari kantor Warrior mengambil berkas-berkasnya.
“Iya.”
“Wow…”
“Aku merasa seharusnya cerita semua padamu.” Giliran Raiden terdiam.
Di luar dugaan Raiden, Praxel malah tertawa. “Hahaha… Raiden, kamu tidak tahu betapa aku lega mendengar kabar ini. Jujur saja, aku lebih khawatir kalau kamu menunda lagi mengambil ujian itu. Kupikir aku sudah menjerumuskanmu ke jalan yang salah. Dari dulu, aku yang ingin jadi petualang bukan dirimu.”
“Si— Siapa bilang aku enggak mau jadi petualang.”
“Kamu menuruti saranku jadi Warrior lalu menunda ujian begitu lama. Aku cemas kalau kamu terjebak jadi Vanguard selamanya.”
“Selamanya? Itu berlebihan.” Raiden merasakan pipinya memanas.
“Tapi, aku benar-benar lega dengar berita ini.”
“Aku memilih Berserker bukan Destroyer.”
“Sesuai saranku lagi?” Praxel ragu dengan kalimatnya. Dia tak yakin itu sebuah pertanyaan atau bukan.
Raiden menggeleng. “Sesuai saran Elloys.”
“Hah?”
Raiden tak ingin menjelaskan bagaimana dia lebih menikmati menggunakan kapak daripada palu. Dia tidak mau menguraikan kesenangannya menghabisi banyak monster sekaligur. Dia juga tak berharap menceritakan proses keputusannya yang panjang. Praxel hanya perlu tahu kalau dirinya memutuskan kelas Berserker karena mencoba kapak sesuai saran Elloys bukan saran dirinya.
Praxel menghela napas diakhiri senyuman. “Aku senang kamu berani mengambil keputusan sendiri, terlepas apakah kamu mengikuti saranku atau saran Elloys. Adik kecilku sudah besar rupanya.”
Raiden langsung mengalihkan tatapan. Ucapan seperti itu membuatnya tersipu malu. “Semua orang akan jadi dewasa.”
“Hahaha… Benar. Mungkin sudah waktunya juga kamu cari pacar.”
“Apa maksudnya itu?”
Praxel melirik ke bawah, meski dia tidak bisa melihat posisi Elloys yang berada dekat meja Amari, Raiden langsung menangkap maksudnya.
“Kupikir dia enggak suka padaku,” gumam Raiden pelan, tak ingin siapapun mendengar selain Praxel. “Dia menganggapku seperti adiknya sendiri. Seperti hubungannya dengan Ken bukan kamu.”
Praxel pun cekikikan. “Oh, Raiden, ada tiga gadis lajang di bawah. Siapa yang sedang kita bicarakan?”
Raiden merasakan wajahnya memerah.
“Hahaha…” Praxel tertawa lagi. Kemudian, dia berdiri, berjalan ke samping adiknya, dan mengulurkan tangan. “Selamat atas kelulusanmu, Raiden! Aku bangga padamu. Benar-benar bangga.”
Raiden tak bisa menahan senyum. Praxel menariknya, memberinya pelukan singkat.
Saat itulah, Praxel melihat bayangan dari jendela bawah mendekati pintu masuk. Bayangan itu punya sosok seperti Exodiart lengkap dengan jubah pendek merah coklat yang sering sekali dia gunakan.
“Hei, coba lihat. Sepertinya ketua guild kita sudah datang,” katanya. “Aku tidak sabar menceritakan soal kenaikan kelasmu jadi Berserker. Dia pasti senang. Kami sudah lama menunggu-nunggu saat kamu akan mengambil ujian.” Praxel mulai melangkah menuju tangga.
“Kenapa? Karena aku satu-satunya yang belum mengambil kelas spesialisasi ketiga.” Raiden mengekor di belakangnya.
“Iya, salah satunya.”
“Salah lainnya?”
“Kamu adikku.”
Raiden menyesal melempar pertanyaan itu. Praxel sedang menikmati saat-saat menggodanya sebagai saudara. Seingat Raiden, sejak kecil, Praxel adalah kakak yang baik. Kalau ada yang jadi biang masalah dan suka menggoda, itu adalah dirinya bukan Praxel. Agaknya, sekarang kenyataan mulai berubah.