Lunacrest

Lunacrest
Chapter 18



Elloys jelas bercanda soal memasak sendiri daging lamia. Daging lamia yang pernah dibawakan temannya adalah daging lamia muda sementara lamia yang harus mereka basmi ini adalah lamia dewasa. Sekalipun mereka berdua bisa mengalahkan lamia ini, memasaknya adalah hal berbeda. Sama seperti ketika Praxel melihat clabery di pesisir.


Rawa itu tampak seperti rawa pada umumnya. Berair, berlumpur, dihiasi lumut, ditumbuhi aneka tanaman, ditinggali para hewan liar. Untuk sesaat kecemasan datang pada Raiden. Tangannya mengepal erat ketika mereka masuk semakin dalam. Matahari memang masih bersinar namun cahaya serta kehangatannya terhalang. Kalau mau benar-benar merasakan sinarnya, mereka harus ke bagian tengah di mana air menggenang lebih banyak.


Bukan ide baik. Raiden memperkirakan kalau mereka nantinya akan ke sana juga. Lamia lebih besar dari manusia. Bertarung di tengah pepohonan pasti membuatnya kesulitan. Masalahnya, Raiden sendiri tak yakin kalau mereka bisa bertarung lebih bebas di sana pula. Lain halnya kalau mereka bertarung di tempat yang lebih terbuka, seperti di tengah rawa.


Bukan ide baik, jelas bukan ide baik. Raiden sudah menemukan banyak alasan kenapa mereka tidak seharusnya ke sana. Mulai dari masalah kedalaman dan tanah berlumpur yang siap menjebak mereka, deretan hewan liar yang mungkin menyergap, sampai masalah sihir api Elloys tak efektif di atas air.


Bukan ide baik, bukan ide baik. Raiden merasakan kalimat tersebut berulang kali melintas dalam pikirannya. Dia bahkan sekarang berpikir kalau seharusnya lebih baik mereka tidak berangkat saja. Dia ingat persyaratan misi ketika Elloys mendaftarkan mereka. Dua orang anggota minimum dalam satu guild, sudah mengambil kelas spesialisasi kedua, disarankan membawa seorang penyembuh.


Mereka jelas hanya memenuhi kriteria pertama. Raiden belum mengambil spesialisasi keduanya. Ucapan Elloys malah membuatnya ragu memilih antara Destroyer dan Berserker. Mereka juga tidak bersama Praxel saat ini. Selain itu, tak ada petualang lagi di dekat mereka. Seorang pun tidak terlihat.


Raiden makin gelisah.


“Hei!”


Raiden tersentak.


Elloys berdiri di depannya. Wajahnya terlihat begitu dekat. Bau wangi serupa bunga tercium dari si Pyromancer. Raiden tak menyadari sebelumnya.


Elloys tahu-tahu meletakkan jemarinya ke dahi Raiden. “Kenapa diam? Kamu sakit?”


Spontan, Raiden mengelak ke belakang tepat setelah tangan Elloys menyentuh dahinya. “Nggak. Aku hanya--”


“Takut?”


“Enggak!” sahut Raiden, separuh memprotes separuh membentak.


“Oke, oke. Cuma asal menebak, kok.” Elloys mengambil alih dan berjalan lebih dulu.


Keduanya berjalan lagi. Tak perlu waktu lama sampai Elloys melihatnya dari kejauhan. Monster panjang berwarna merah. Duduk melingkar, menutupi tubuh serupa manusianya dalam balutan ekor ular.


“Itu dia!” Raiden berbisik dari belakang Elloys. Mereka sendiri mengamati dari balik pohon. Lebih baik menjaga jarak dulu sebelum menyerang.


Lagi-lagi, Elloys berpikir berbeda. Dirinya telah maju menggunakan sihir teleport. Dia lenyap dari depan Raiden lalu muncul dekat si monster.


“Apa yang kamu lakukan!?” protes Raiden, masih dalam bisikan. “Kembali ke sini!”


Elloys berpaling padanya sembari menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Raiden mendekat. Melihat Raiden menggeleng cepat, Elloys ikut menggerakkan tangannya lebih cepat. “Dia sedang tidur. Ini kesempatan baik untuk menyerang.”


Raiden menggelengkan kepala. Biasanya ketika mereka hendak melawan monster yang belum pernah mereka lawan sebelumnya, Praxel atau Exodiart akan melakukan koordinasi. Dalam benaknya, hanya ada satu pertanyaan. Apakah ini aman?


Elloys mundur sejenak. Tongkat di tangannya berpendar merah. Sedetik kemudian, sebuah bola api besar muncul, langsung menyambar bagian tengah tubuh lamia. Si monster meraung keras. Ekornya mulai melonggar seiring badannya yang mulai bangkit. Elloys bergegas menjauh menggunakan sihir teleport. Itu pun sambil dibarengi sihir api kecil yang terus menerus mengincar kepala si lamia.


Tubuh bagian atas lamia tampak seperti tubuh manusia. Tangan dan tubuhnya begitu kurus, sampai-sampai tulang rusuknya bisa nampak. Rambutnya tipis panjang tergerai berantakan. Matanya sepintas seperti mata gargoyle tanpa bagian putih, hanya saja ini menyala hijau dengan garis tengah seperti mata kucing. Setiap lamia berseru, lidah bercabangnya menjulur keluar.


“Hei!” Raiden berseru. Tubuhnya sudah berada di udara. Dia memukulkan palunya tepat pada kepala lamia ketika si monster menoleh. Selagi lamia kesakitan, Raiden mendarat di ekor. Menggunakannya sebagai pijakan, Raiden melompat ke tanah.


“Hati-hati dengan mulutnya!” seru Elloys. “Dia berbisa. Seharusnya.”


“Seharusnya?” Raiden menyempatkan diri untuk menanggapi peringatan tersebut.


“Semua ular berbisa, ‘kan?”


“Nggak!” seru Raiden, masih berlari mencari celah untuk menyerang.


“Benarkah? Setahuku ada ular yang punya gigi taring dan gigi seperti harimau. Apa ada hubungannya dengan itu?”


Raiden tak percaya Elloys masih bisa melanjutkan percakapan mereka di depan monster berbadan separuh ular. “Bisakah kita lanjutkan itu nanti? Kalahkan ini dulu!”


“Beres!”


Pertarungan dua lawan satu memang menyusahkan. Menyusahkan pihak yang sendirian, si lamia, tentunya. Elloys dan Raiden berada di atas angin. Sambaran api dan pukulan keras dari Raiden bergantian mengisi kekosongan. Keduanya merupakan perpaduan baik. Si lamia dibuat kewalahan oleh serangan tanpa henti. Benar saja, tidak perlu waktu lama sampai akhirnya lamia tumbang.


Raiden masih terengah-engah sambil bertumpu pada palu besarnya ketika Elloys muncul dengan ajaib oleh sihir. “Apa?” sergah Raiden. Sihir teleport si Pyromancer selalu saja membuatnya kesal.


“Kita melakukan kerja bagus.” Elloys mengedipkan sebelah mata. “Ini bahkan lebih cepat dari misiku bersama Mierai tadi.”


“Hah?” Raiden yakin dia tidak salah dengar. Elloys sudah menyelesaikan sebuah misi sebelumnya. Meski begitu, Elloys masih kelihatan bersemangat. Kecepatan dan ketepatan sihirnya tak perlu diragukan. “Misi seperti apa yang kamu lakukan bersama Mierai tadi?”


“Bukan misi sulit.” Elloys menggunakan tangannya sebagai kipas. Peluh menuruni dahi ke pipinya. Beberapa helai rambut malah menempel di wajahnya. Mereka basah oleh air rawa dan juga keringat. “Aku harus pulang dan mandi.”


Raiden setuju meski tak menanggapinya. Dia lebih tertarik mengomentari keribetan rambut ungu Elloys. “Kamu seharusnya mengikat rambutmu.”


“Benar. Aku masih memikirkan beberapa model. Bagaimana dengan kuncir dua?”


Pertanyaan tersebut jelas membuat dahi Raiden berkerut. Dia mendengus sambil menarik palunya. “Bagaimana aku bisa tahu itu cocok atau enggak?” jawabnya, separuh protes. Sebelum Elloys menjabarkan berbagai jenis tata rambut wanita, Raiden mengembalikan percakapan mereka ke topik sebelumnya. “Ayo kembali!”


“Yuk!”


Raiden menengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan hembusan lembut angin datang menyapa. Elloys sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya. Meski ada beberapa keberatan dalam hatinya, Raiden tak bisa menyangkal kalau obrolan singkat di tengah pertempuran tadi membuat kecemasannya hilang entah ke mana. Tahu-tahu, dirinya telah tersenyum. Belum sempat beranjak, Elloys muncul lagi di depannya.


“Sekarang, apa?” sahut Raiden sebelum Elloys bicara.


Elloys menggeleng. “Kamu nggak mirip kakakmu.”


“Hah?”


“Apa kalian yakin kakak adik kandung sungguhan?”


“Bagaimana menurutmu?”