Lunacrest

Lunacrest
Chapter 19



Reiyuel sedang berlatih bersama Exodiart sore itu. Mereka jadi rutin mengadakan latihan bersama menjelang Guild Showdown. Dalam segi pertahanan, tak ada yang bisa mengalahkan Exodiart. Mereka tidak akan menang hanya dengan pertahanan saja. Reiyuel akan jadi ujung tombak.


Karena dalam Guild Showdown, para peserta dilarang saling melukai sampai parah apalagi membunuh, tampaknya mengajak Bishop seperti Praxel kurang ideal. Sejauh ini jumlah guild yang membawa petualang kelas Bishop bisa dihitung jari. Beberapa tahun belakangan, malah tak satu guild pun membawa Bishop ke dalam arena.


Guild Showdown seperti pertarungan jalanan yang dilegalkan kerajaan. Tak lebih dari itu. Para guild peserta membayar sejumlah kecil uang hanya untuk formalitas. Sementara itu, para penonton membayar mahal sesuai tempat duduk yang diinginkan. Exodiart beberapa kali melihat Guild Showdown ketika kecil. Kemudian kebiasaan ini berubah jadi keharusan saat dia masuk ke akademi Cleric.


Sebaliknya, Reiyuel sama sekali tidak pernah melihat satu pun. Dia hanya pernah mendengar ceritanya saja. Pertanyaan pertamanya ketika mendengar kalau Exodiart memintanya mewakili guild adalah apakah mereka orang-orang haus darah.


“Kudengar orang-orang yang bertarung di arena adalah orang-orang haus darah. Seandainya tidak ada peraturan, mereka akan membunuh satu sama lain. Itu yang kudengar.”


Baiklah, itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.


Exodiart melirik bilah pisau tajam di tangan Reiyuel. “Mungkin memang ada orang-orang yang berpikir seperti itu. Aku nggak akan menyalahkan mereka. Tapi, kupikir enggak adil menilai semua orang seperti itu hanya karena ada satu dua orang yang memang seperti itu. Sama seperti para Assassin.”


“Itu kelas yang paling dihindari orang-orang.”


“Sepertinya kamu langsung paham. Kelas Assassin dulunya dibentuk kerajaan untuk menjalankan misi bawah tanah kerajaan. Seperti menyingkirkan lawan politik, para pemberontak, semacam itu. Sejak revolusi sepuluh tahun lalu, kelas Assassin disamakan seperti kelas-kelas lainnya.”


“Kamu percaya sejarah?”


“Kamu enggak?”


“Tidak semua hal tertulis dalam sejarah.”


“Aku tahu.”


Exodiart dan Reiyuel berada di tempat yang sama persis ketika si Assassin menanyakan hal tersebut. Mereka berada di sebuah tanah lapang gersang dekat pinggiran kota. Tanah ini biasa disewakan untuk acara-acara tertentu, misalnya sirkus keliling atau festival kota. Di hari biasa, tempat itu nampak membosankan. Hanya anak-anak atau petualang yang tertarik dengannya.


Selain Exodiart dan Reiyuel, masih ada beberapa petualang lain. Mereka sedang berlatih di sisi lain. Jarak mereka terpaut cukup jauh. Tentu saja. Itu peraturan tak tertulis lainnya. Pastikan jaga jarak aman dengan petualang yang sedang berlatih kecuali memang ingin mencicipi teknik mereka.


Dalam latihan kali ini, Exodiart ingin mereka melatih pertarungan tangan kosong. Reiyuel bukan pengguna sihir seperti Exodiart. Dia lebih mengandalakan fisik. Sebut saja seperti kaki yang cepat, tinju yang akurat, dan senjata tajam yang tersembunyi di seluruh tubuh. Lawan lengah sedikit saja bisa membawa pada kematian.


Monster.


Kita bicara soal membunuh monster atau makhluk jahat lainnya. Membunuh manusia akan menuntun pada hukuman berat, hukuman siksa, penjara seumur hidup, bahkan hukum gantung. Bagi para buronan, kerajaan memasang nilai tinggi di atas kepala mereka. Hal ini membuat para petualang bersemangat pula mencari mereka. Mungkin bahkan lebih semangat daripada para prajurit kerajaan.


Reiyuel dulu fokus untuk memburu para buronan. Sejak bertemu Exodiart, dia memilih jalan hidup yang — menurutnya — lebih damai. Exodiart menawarkan pilihan ketika dirinya tak tahu harus berbuat apa. Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan Reiyuel bergabung dengan Lunacrest.


“Hei, ajari aku bagaimana caranya memukul tepat sasaran!” pinta Exodiart.


“Itu lagi?”


“Gerakanku masih terlalu lambat. Di akademi, kami lebih diajari bagaimana cara menggunakan kaki dengan benar daripada bagaimana menggunakan tangan dengan benar. Aku nggak bicara soal lari.”


“Aku tahu.”


“Pertama, kamu harus tahu titik mana yang ingin kamu pukul.” Reiyuel mengepalkan tinju, memberi contoh sambil meninju udara. “Fokus saja pada titik itu, lalu bawa tanganmu ke sana.”


Selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Berapa kali pun Reiyuel mengulang kalimat itu, Exodiart sadar dia butuh lebih banyak praktek daripada sekedar teori. Reiyuel menjalani latihannya sejak kecil. Exodiart baru memulainya. Perjalanannya masih lama kalau mau bertarung tangan kosong sebaik Reiyuel.


Exodiart meninggalkan tongkatnya di bawah selagi dia berdiri berhadapan dengan Reiyuel. Jarak pendek di antara mereka sedikit membuat Exodiart cemas. Bukan karena si Assassin lebih tinggi darinya, melainkan dengan jarak sependek itu, dirinya bisa jadi sasaran empuk Reiyuel.


“Baik,” kata Exodiart. “Aku akan coba memukulmu.”


“Lakukan dengan beruntun dan cepat,” pinta Reiyuel.


“Satu kali pukulan pasti bisa dihindari dengan mudah.” Exodiart paham maksudnya. “Apa aku bisa pakai tangan kiri juga?”


“Lakukan saja sesukamu.”


“Oke. Aku akan coba menggunakan tanganku saja tanpa kaki. Kamu tahu, kadang reflek mengambil alih dalam pertempuran.”


Reiyuel mengangguk, setuju. “Kamu juga nggak harus selalu mengincar kepala.”


“Aku bisa menyerang bagian mana pun?”


“Ya.”


“Dan, kamu akan menyerangku balik?”


“Apa itu perlu?”


“Nggak. Hanya mau memastikan.”


Exodiart mengangguk. Dia menunggu sebentar, menanti ketika dirinya siap melayangkan pukulan beruntun. Saat momentum tiba, tangan kanannya mengepal, melesat di udara, langsung menuju ke arah pipi Reiyuel. Tantu saja, serangan ini bisa dihindari. Seperti kata Exodiart tadi, satu kali pukulan tak akan masuk. Karena itu, dia langsung melanjutkan dengan tinju lain menggunakan tangan kiri. Serangan ini pun tidak efektif. Reiyuel cukup menggerakkan kepalanya untuk menghindari serangan tersebut.


Reiyuel membuat semua serangan fisik yang ditujukan padanya tak berarti. Mata tajamnya bisa menangkap semua gerakan Exodiart dengan mudah. Dia bahkan tak butuh tenaga lebih untuk menghindar. Kadang dia bergerak menyamping, kadang cukup sedikit menunduk. Merasa tertantang, Exodiart pun terus melancarkan serangan. Kali ini, dia mengincar ke bagian dada dan perut.


Serangan ini lebih sulit dihindari. Reiyuel beberapa kali dipaksa mempertahankan diri. Tinju Exodiart mengenai tangan, bukan perut. Dalam satu kesempatan, Reiyuel menggunakan tangannya untuk menangkap tinju yang ditujukan.


Exodiart tak berhenti. Selagi satu tangannya tertangkap, dia melayangkan pukulan lain ke arah perut yang seharusnya juga bisa dihindari atau ditahan dengan mudah. Saat itulah, terjadi kesalahan.


Serangan tersebut tidak dihindari. Reiyuel mematahkan serangan tersebut dengan cara memukul tangan Exodiart ke bawah. Apakah ini termasuk pertahanan? Menurut Exodiart, ini merupakan tanda-tanda serangan balik. Matanya sempat melirik tongkat palu berdurinya. Kalau Reiyuel sungguhan menyerang balik, dia harus mengambil tongkatnya.