Lunacrest

Lunacrest
Chapter 76



Fawke melanjutkan pembagian titik, kemudian mempersilahkan mereka keluar, bersiap untuk bergegas pergi. Begitu pula Lunacrest. Praxel dan Exodiart mengambil senjata yang tadinya diambil para prajurit untuk keamanan. Mereka merupakan guild terakhir. Bukan terakhir tiba di sana tapi guild terakhir yang menerima senjata mereka.


Setelah mendapatkan senjata dan hendak melangkah keluar, salah satu prajurit penjaga di sisi kiri menghentakkan tombak ke tanah. Keduanya spontan menoleh. Mereka melihat jauh di belakang si prajurit ada prajurit lain. Ketika tatapan mereka bertemu, prajurit itu menghentakkan tombak pula.


Praxel dan Exodiart bertukar pandang. Prajurit itu tidak berdiri tempat yang perlu penjagaan. Dia berdiri di sisi samping tembok tinggi istana. Bagian ini tertutup bayang-bayang menara dan bisa dianggap cukup aman.


“Ayo,” bisik Exodiart.


Exodiart berjalan pada prajurit kedua. Ketika mereka tiba di sana, si prajurit menoleh ke kiri. Jadi, mereka berjalan saja melewatinya. Keduanya sadar kalau tengah menyusuri tembok istana. Mereka menemukan seorang prajurit lain saat mulai meragukan jalannya. Prajurit ini tak melakukan apa pun selain menatap lurus ke depan bak patung.


Di seberang si prajurit, ada lorong di antara bangunan-bangunan tua. Exodiart kembali memimpin perjalanan mereka. Tak lama setelah melalui gang tanpa persimpangan, mereka mendapati lorong berakhir.


“Ke sini.” Exodiart melihat pintu di samping kanannya terbuka. Bagian dalamnya gelap. Mereka tak bisa melihat wajahnya tapi mengenali suaranya.


Setelah keduanya masuk, pintu segera tertutup. Selagi si pembuka pintu berjalan mendekati bagian terbuka yang ada di dalam ruangan, Exodiart menyapa lebih dulu. “Guild Master Declan, apa ada masalah?”


“Iya.” Suaranya dipelankan, berbeda dengan biasanya.


Exodiart menangkap rasa cemas di mata lawan bicaranya. “Fawke dan aku sepakat ada mata-mata di dalam kerajaan. Kami sulit membedakan siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. Tidak juga para guild besar. Sebenarnya tidak juga kalian.”


“Apa itu maksudnya?” Exodiart mengernyit.


“Kalian guild yang memenangkan Guild Showdown dengan terlalu mudah. Kalau Guild Showdown direkayasa, pihak yang jelas dapat keuntungan adalah kalian.”


“Apa!?” Exodiart spontan protes. “Tapi, kami menang dengan jujur.”


Praxel ikut membela dengan suara yang juga dipelankan. “Kami merasakan hal yang sama. Guild Showdown sudah direkayasa. Kalau ada yang dapat keuntungan, itu pasti para bandar taruhan.”


“Aku tahu. Aku sudah memeriksa kalian. Apalagi setelah adanya penyerangan di markas kalian semalam… Kupikir kalian bukan orang yang akan melakukan kecurangan demi kemenangan dan piala mewah. Kalian seharusnya bangga dapat kepercayaan kami.” Jawab Guild Master Declan membuat Praxel dan Exodiart tenang sekaligus resah.


“Tentu saja,” jawab Exodiart.


“Biar kulanjutkan.” Declan berdehem. “Para prajurit melakukan pemeriksaan rutin ke pegunungan Pothine. Menurut laporan, tidak ada yang mencurigakan di sana. Kalau menurut laporan.”


Exodiart bisa menebak. “Laporan palsu?”


“Mungkin lebih buruk. Ada orang dalam yang menutup-nutupi sesuatu. Pastinya orang yang cukup dekat dengan kami. Bukan orang sembarangan. Karena sekalipun disebut pemeriksaan rutin, waktu dan tanggalnya tidak persis. Aku curiga ada yang membocorkan informasi tersebut demi melindungi apa pun yang sedang terjadi di sana.”


“Apa ada dugaan kalau ini ulah Jataleiya?”


“Lebih baik tidak lompat ke sana. Aku tahu Fawke sengaja mengatakannya untuk membuat kalian lebih waspada. Sejauh ini, kami tidak punya cukup alasan kuat mengatakan itu ulah si nenek sihir.”


Praxel menghela napas lega. “Dia membawa dampak besar bagi Endialte, ya.”


Declan mengangguk. “Sangat besar, nak. Setelah kejadian itu, jumlah petualang bukannya berkurang, justru bertambah banyak. Begitu pula dengan banyaknya guild baru yang tercipta. Rasanya bertolak belakang, tapi memang seperti itu kenyataannya.”


“Jadi, apa yang sebenarnya kamu ingin kami lakukan, Master Declan?” Exodiart sekarang jadi tak yakin apa yang harus mereka lakukan. Menuju ke pegunungan Pothine atau justru mencari orang dalam tersebut.


“Titik yang kalian tuju adalah titik kosong. Titik palsu, hanya kamuflase. Titik tersebut hanyalah tanah kosong di tengah titik-titik yang lain.”


Praxel dan Exodiart saling berpandangan, sama-sama tidak paham.


Declan melanjutkan. “Kalian tidak perlu memeriksa titik itu. Aku justru ingin kalian memeriksa menara penjaga yang ada di dekat titik itu. Ini lokasinya.” Sang Guild Master menyerahkan selembar gulungan peta pada mereka.


“Anda ingin kami mencari tahu siapa prajurit yang berkhinat?” tebak Praxel.


“Tepat sekali. Siapa pun yang jadi musuh kita di bawah atas, pasti punya kaki tangan di bagian bawah. Aku ingin kalian menangkap orang itu, menyeretnya kemari, agar aku bisa membongkar siapa yang jadi musuh dalam selimut.”


Exodiart selalu tahu ada intrik dalam kerajaan. Bagaimana satu orang berusaha menjegal yang lain demi mendapatkan posisi, kekuasaan, uang. Hal yang paling sering dipergunjingkan jelas mengenai para keluarga kerajaan. Mengenai bagaimana mereka berusaha merebut posisi sebagai Raja. Sekalipun, kenyataannya, sejauh ini hal tersebut tidak terjadi. Setidaknya, tidak terjadi secara gamblang.


Kali ini, Lunacrest justru mendapat kesempatan untuk membantu kerajaan mengungkap adanya musuh dalam selimut. Dia sadar kini ada kemungkinan baru. Bukan monster yang sedang melakukan ritual di sana. Bukan demon, bukan bula Jataleiya. Mungkin justru manusia. Pertanyaannya…


“Untuk apa?” Praxel menanyakan hal tersebut lebih dulu. “Anggaplah ini ulah manusia, musuh yang menyamar jadi orang dalam kerajaan. Dia seharusnya juga sudah tahu kalau para jendral akan mengirim guild bukan pasukan untuk memeriksa. Apa tujuannya? Ini jelas tidak efektif untuk memperlemah pertahanan Korumbie.”


“Aku sudah sampai ke pemikiran tersebut dan juga tidak menemukan jawabannya. Jadi, itu bukan pertanyaan yang bisa kujawab. Menurutku, prajurit kaki tangan musuh kita ini yang bisa menjawabnya. Jadi, bisakah aku mempercayakan misi rahasia ini pada kalian, Lunacrest?”


Exodiart dan Praxel mengangguk.


Declan mengulangi ucapannya, “Ini misi rahasia.”


“Tidak boleh ada yang tahu?”


“Termasuk anggota kalian sendiri.”


Praxel mendesah. Misi ini jauh lebih rumit dari perkiraannya. Exodiart lebih siap. Dia menatap gulungan yang ada di tangannya, berusaha membayangkan siapa yang bisa dia ajak.


Declan mendekat, kali ini sungguhan berbisik. “Anggaplah ini misi penculikan. Bawa empat orang, maksimal. Pilih orang-orang yang benar-benar bisa kamu percaya. Jangan biarkan ada yang melihat kalian keluar masuk pegunungan. Lakukan dengan cepat. Kami mempertaruhkan semuanya pada kalian.”


Exodiart mengangguk, berusaha keras agar tak kelihatan bimbang.


Kini Exodiart mulai paham kenapa Kisarumi berulang kali bertanya siapa yang dia percaya. Saat ini, dia dihadapkan pada banyak pilihan yaitu setiap anggotanya sendiri. Siapa yang bisa dia percaya dengan misi rahasia semacam ini. Belum lagi mengingat adanya piala emas yang harus dijaga di markas mereka. Sekarang Exodiart justru ragu pada dirinya sendiri.


Bisakah dia percaya pada dirinya sendiri untuk membawa Lunacrest melewati badai ini?