
Istana, bangunan termegah dan tertinggi, terletak di jantung ibu kota Korumbie. Bangunannya disusun oleh batu tebal dan kokoh, sama seperti dinding yang mengelilingi kota. Luas areal istana hampir seperlima dari ibu kota itu sendiri. Salah satu tempat paling mewah, paling aman, paling rahasia.
Tidak semua orang bisa sembarangan memasuki istana. Exodiart harus menunjukkan surat undangannya untuk melewati pos penjaga pertama. Setelahnya, mereka berjalan cukup jauh, melewati jembatan di atas saluran air, hingga tiba di pos penjaga kedua. Di sana, mereka kembali menjalani sejumlah pemeriksaan lagi. Tidak berhenti sampai di sana, mereka berjalan lagi hingga tiba di gerbang besar istana. Lagi-lagi, ada pemeriksaan.
Reiyuel hanya diam selama proses pemeriksaan, membiarkan ketuanya menjawab semua pertanyaan atau menunjukkan surat undangan mereka. Pemeriksaan sepanjang itu selalu membuatnya waswas. Padahal kali ini dia datang sebagai tamu, bukan sebagai yang lain. Exodiart menangkap kecemasan Reiyuel. Takut salah bicara di depan prajurit penjaga, Exodiart ikut diam.
Setelah melewati gerbang besar, seorang prajurit mengantar mereka melewati taman samping istana. Mereka pun menapaki jalan yang disusun oleh batu dan ornamen. Di sekeliling mereka, pepohonan tumbuh teratur dalam susunan tertentu. Semak-semak berbunga dipangkas rapi juga dibentuk. Tak jauh dari jalan yang sedang mereka lalui, terlihat sebuah gazebo batu. Kupu-kupu kecil terbang mengelilingi, sesekali menyeberang. Di ujung jalan berbatu ini, ada sebuah tangga pendek menuju pintu kembar yang sudah terbuka lebar. Satu prajurit berjaga di setiap sisinya. Di sanalah, prajurit pengantar meninggalkan Exodiart dan Reiyuel.
Dari luar, suara riuh rendah percakapan terdengar. Masih ada waktu beberapa menit sebelum rapat dimulai. Exodiart yakin Guild Master Declan dan Jendral Fawke belum hadir.
“Gugup?” Reiyuel bertanya lirih.
“Nggak, sih. Kamu?”
“Aku hanya nggak suka diperiksa.” Reiyuel ingat bagaimana para prajurit memaksanya mengeluarkan setiap pisau. Tak seorang pun anggota guild diizinkan membawa senjata memasuki istana.
“Aku tahu.” Exodiart sendiri sudah meninggalkan tongkat bola berdurinya di pos penjaga. Tanpa tongkat, dirinya masih bisa merapal beberapa sihir sederhana. Sebaliknya, reiyuel tampaknya tak berdaya. Exodiart sangat paham perasaan Reiyuel. “Peraturan tetaplah peraturan,” katanya lagi sambil memimpin memasuki ruang pertemuan. “Ayo.”
Ruang itu punya langit-langit tinggi yang dihiasi dengan lukisan. Pilar-pilar kokoh menempel pada dinding dekat jendela. Meski banyak orang berada di sana, ruangan itu tak terasa panas sekali. Jumlah orang dibanding luas ruangannya berbeda jauh. Rasanya masih lengang.
“Kenal orang-orang di sini?”
“Beberapa.” Exodiart mengenali beberapa wajah yang sudah berada lebih dulu di dalam ruang pertemuan.
Misalnya, seorang wanita berambut hitam pendek yang mengenakan jas panjang di ujung sana. Dia seorang ketua guild baru. Usia guildnya sama mudanya dengan usia Lunacrest. Jujur saja, Exodiart lupa namanya. Dia lebih mudah menghafal wajah seseorang daripada namanya.
Apalagi nama guild.
Beberapa orang menggunakan nama yang sangat unik -- kalau tidak mau memakai istilah aneh. Sebut saja seperti Cimarec, guild nomor dua setalah Maelstrom. Entah apa artinya. Entah darimana pula si ketua bisa mendapatkan nama itu.
Exodiart juga bisa mengenali beberapa orang yang seenaknya duduk bersandar dekat pilar. Keduanya mengenakan kemeja berkerah tinggi dan pelindung bahu. Sepasang warrior dari guild yang juga baru.
Selain mereka, Exodiart bisa mengenali beberapa orang dari seragam mereka. Beberapa guild mengharuskan anggotanya memakai seragam atau mengenakan atribut tertentu. Salah satu guild yang menerapkan peraturan ini adalah guild Black Warrior.
Exodiart bisa mengenali mereka dengan mudah meski tanpa pedang besar. Mereka selalu mengenakan pakaian serba hitam di bawah pelindung logam. Exodiart sendiri kenal ketua Black Warrior secara pribadi. Nampaknya hari ini dia tidak datang dan memilih mengirim anggotanya saja.
“Kamu mencari seseorang.” Reiyuel bisa membaca tingkah laku Exodiart.
“Nggak juga.”
“Saman.” Reiyuel menyebutkan sebuah nama.
Reiyuel menggeleng. Matanya menerawang ke belakang sang ketua. “Dia sedang jalan ke sini. Sendirian.”
Mendengar itu, Exodiart langsung menoleh. Siapa yang tidak kenal Saman. Dialah ketua Maelstrom yang baru. Maelstrom sudah bertahun-tahun jadi guild nomor satu di Endialte. Ketua sebelumnya merupakan ayah Saman. Sekarang, dia memilih bekerja di balik layar dan menunjuk putra pertamanya untuk menggantikan dirinya.
Sama seperti sang ayah, Saman juga memiliki mata tajam serta dagu tegas. Rambut hitam jabrik dan mata coklatnya juga turunan. Sepertinya Saman tak puas dengan warna itu, jadi dia menambahkan warna biru acak pada rambutnya. Perawakan tegap, usia muda, reputasi baik, guild ternama, serta kekayaan langsung mengantarnya pada popularitas.
Beberapa waktu lalu, majalah di Korumbie membahas siapa Assassin terbaik di ibu kota. Nama Saman masuk kategori kelas spesialisasi Ripper. Exodiart memang tidak pernah melihat aksinya di lapangan. Tapi, dia sangsi kalau Saman bisa bertarung lebih baik dari Assassin di sampingnya, Reiyuel. Seandainya saja mereka boleh adu kemampuan di arena, Exodiart akan membeli tiket bangku paling depan.
“Hai! Lama tak berjumpa, Exodiart!” Saman mengulurkan tangan, menjabat Exodiart. “Terakhir kali kita bertemu beberapa bulan lalu.”
“Kantor Guild Master Declan,” lanjut Exodiart.
“Benar.” Saman tersenyum. Dia mengulurkan tangan pula pada Reiyuel. “Hai.”
Reiyuel tak menjawab, hanya mengangguk sambil menjabat.
Saman kembali pada Exodiart. “Jadi, bagaimana kabar Lunacrest?”
“Ya… Kamu tahu. Anggota baru, misi-misi baru, pengalaman baru. Kupikir aku masih berusaha menebak-nebak bagaimana menjalankan guild.”
“Kamu selalu bisa minta bantuan kami. Ada beberapa misi yang mengizinkan kolaborasi beberapa guild. Maelstrom nggak akan bertahan tanpa guild lain.”
“Ajaran Master Guardian Hartan?”
Saman tertawa kecil ketika Exodiart bisa menebak ajaran siapa itu. “Oh, ya. Kamu tahu ayahku. Dia selalu bilang untuk membantu guild lain berkembang. Maelstrom nggak bisa menjaga Endialte sendirian.” Saman langsung mendesah. “Aku paham ucapannya. Sangat paham. Aku hanya nggak tahu bagaimana caranya menawarkan bantuan.”
“Kupikir kamu melakukannya dengan baik.”
“Entahlah, aku nggak yakin. Beberapa ketua guild mengira aku meremehkan mereka dengan menawarkan bantuan. Padahal bukan itu maksudku.” Saman mendesah lagi. “Maelstrom mungkin guild berpengalaman, tapi aku masih baru. Maksudku, pengalaman kita berdua sebagai ketua guild sama-sama masih baru. Seingatku, aku masuk ke guild ini beberapa bulan sebelum Lunacrest dibentuk.”
“Aku ingat bagaimana kita sama-sama canggung di rapat koordinasi bersama Declan.”
“Benar sekali. Itu rapat pertamamu dan rapat pertamaku,” sahut Saman. Guild Master Declan mengadakan rapat dua bulan sekali bersama para ketua guild di ibu kota Korumbie. “Hei, Exo, aku salah ingat atau sepertinya kita memang hanya ketemu saat rapat saja, ya? Bagaimana kalau sekali-sekali kita ngobrol di tempat yang santai? Mungkin kita bisa berbagi pengalaman atau apapun.”
“Boleh saja.”
Saat itu, terdengar derap langkah keras dari luar ruang ruangan. Orang-orang di dalam ruangan serentak menoleh ke arah pintu masuk. Mereka memperhatikan kedatangan iring-iringan jendral bersama Guild Master Declan.
“Baik, aku akan ke sana dulu,” kata Saman lagi sambil menunjuk ke sisi lain ruangan. “Kalau ada apa pun yang bisa kubantu, katakan saja. Entah itu bantuan guild atau pribadi. Senang bisa ngobrol dengan orang yang paham perasaanku.”