Lunacrest

Lunacrest
Chapter 64



Belum tiba di markas Lunacrest, Exodiart dikejutkan Zak yang muncul dari sisi lain perempatan. Dia berhenti sebentar seolah menunggunya, namun kemudian berpaling ke belakang menanti rekan-rekan lainnya mendekat. Salah satu di antaranya merupakan Ripper berambut aksen biru. Saman menghampiri Zak lalu menyadari kehadiran Exodiart di sana. Saman langsung melempar senyum, lalu minta rekan-rekannya pergi lebih dulu.


“Hai, Exo!”


“Hei…”


“Kebetulan sekali. Habis berburu?”


Exodiart menggeleng. “Aku baru dari kantor misi.”


“Oh… Hei, ada waktu? Mau minum kopi bareng?”


Ajakan yang lebih umum biasanya bukan minum kopi tapi ke tavern untuk menikmati minuman fermentasi.


“Kamu enggak sibuk?” Exodiart melirik pada rekan-rekan Maelstrom Saman yang makin menjauh.


“Kami juga baru selesai menjalankan misi. Ini waktunya istirahat. Aku tahu kedai kopi yang enak. Ayo, ngobrol.”


Exodiart akhirnya mengurungkan niatnya kembali ke markas. Dia malah pergi bersama Saman ke kedai kecil jauh dari keramaian kota. Dinding batu mengurung cahaya temaram di dalamnya. Bau kopi begitu menggoda. Belum lagi suasana yang nyaman untuk ngobrol. Tidak ada suara musik berisik, hanya suara desiran angin dan gilingan kopi. Exodiart menyukainya. Saman ternyata tahu tempat-tempat indah yang tersembunyi di Korumbie.


Setelah keduanya mendapatkan kopi mereka, Exodiart harus mengakui kesukaannya. “Aku enggak tahu ada tempat seperti ini di kota. Kamu suka kopi?”


“Aku lebih suka kopi daripada rum.” Ketua guild Maelstrom tertawa kecil. “Tempat ini hanya diketahui orang-orang tertekan yang butuh waktu sendiri.” Tangannya memainkan gagang cangkir berisi kopi hitam pekat, memutarnya ke kanan ke kiri.


“Tertekan?”


Saman menarik dirinya agar bisa bersandar. “Sudah jadi rahasia umum kalau ayahku, Dons, berharap banyak padaku. Maelstrom sudah lama berdiri. Kami guild besar. Dia ingin aku melanjutkan warisannya. Sementara aku…” Saman mendesah. “Aku mencoba mencerna semuanya dalam potongan kecil.”


“Setahuku, Maelstrom berjalan baik.”


“Ya, untuk saat ini. Aku sering membayangkan kapan aku akan mengacaukan semuanya.”


Exodiart menggeleng. “Kupikir kamu melakukannya dengan baik.”


“Mengatur orang itu enggak mudah. Aku yakin kamu juga sadar itu. Banyak anggota lama yang rewelnya minta ampun. Mereka menggunakan embel-embel senior untuk membangkang, menolak tugas ini itu, sok tahu padahal salah.”


“Kamu selalu bisa mengeluarkan mereka. Ketua guild punya kuasa.”


“Kita tahu itu enggak mudah.” Saman mendesah panjang. “Aku mungkin ketua Maelstrom tapi ayahku tetap pendirinya. Paham maksudku, ‘kan? Semua keputusanku harus sesuai izinnya. Sejauh ini, dia berharap aku bisa bertahan dengan para petualang itu selama mereka menjalankan misi dengan baik dan dalam batas umur.”


“Umur?”


“Kami membatasi umur anggota maksimal empat puluh tahun. Setelah itu, mereka akan bekerja di balik layar. Kami menerima anggota aktif baru yang lain.”


“Kamu pasti menerima banyak permintaan setiap hari.”


“Sangat. Banyak. Itu melelahkan. Jauh lebih melelahkan daripada berada di lapangan.” Saman menarik cangkir, meminumnya hingga sisa separuh. “Lebih baik aku berurusan dengan monster yang bisa kutusuk daripada anggota yang menusukku dari belakang. Orang-orang rewel itu sering membuatku kewalahan.”


“Mereka bertindak seenaknya?”


“Mereka bertindak sesuai inisiatif mereka sendiri. Enggak jarang mereka melakukan sesuatu tanpa kuperintah. Tapi… Kalau boleh jujur, kadang apa yang mereka lakukan justru membawa dampak baik.” Saman berhenti, tersenyum pada dirinya sendiri.


“Kedengarannya semua dalam kendali.”


“Ya, sejauh ini.” Saman mengulangi ucapannya tadi.


“Saat ini, setahuku, Maelstrom punya hubungan baik dengan Cimarec dan Black Warrior.  Kadang kalian mengerjakan misi bersama. Aku yakin ini adalah inisiatif darimu.”


“Setuju.”


“Aku sudah kebanyakan bicara. Bagaimana denganmu?” Saman berhenti, sadar akan hal lain. “Astaga… Di mana sopan santunku? Aku lupa bilang, selamat atas kenaikan level Lunacrest. Kamu hebat, Exo!”


“Terima kasih. Eh, hebat apanya?”


“Aku enggak yakin bisa menaikan level guild dalam waktu setahun.”


“Kerja sama,” jawab Exodiart. “Kupikir kamu akan bekerja sama baiknya denganku. Mungkin malah lebih baik dari aku juga dari ayahmu.”


Saman langsung menggeleng. “Sampai sekarang, ayahku masih belum yakin apa keputusannya memberikan Maelstrom padaku itu keputusan tepat atau tidak. Aku bukan dia.  Kami menjalankan guild dengan cara berbeda.”


“Setiap orang menjalankan guild dengan cara berbeda.”


“Bagaimana denganmu? Lunacrest mendapat beberapa anggota baru yang menjanjikan, bukan? Kulihat ada Crusader lain di tempatmu. Dia bertarung luar biasa. Aku lupa siapa namanya.”


“Iya. Harufuji. Dia juga dua orang lagi. Mereka hebat.”


“Bagaimana kalau sekali-sekali kita latih tanding?”


“Boleh.” Exodiart tak perlu waktu lama untuk memikirkan itu. Dari dulu, dia ingin sekali melihat siapa yang lebih kuat, Reiyuel atau Saman. Memang belum tentu nanti Saman akan ikut, tapi ini tergolong kesempatan baik.”


“Atur saja waktunya.”


“Yakin? Sepertinya kamu lebih sibuk dariku.”


“Jangan khawatir, akan kusisihkan waktu untuk ini. Anggap saja seperti Guild Showdown privat, Lunacrest dan Maelstrom. Ini bakal seru.” Saman menghabiskan kopinya. “Oh, ya. Bagaimana kalau kita kerja sama juga?”


“Kerja sama seperti apa?”


“Menjalankan misi?”


“Menjalankan misi di luar misi yang dicantumkan di kantor Guild Master Declan. Kadang kami mendapat misi langsung dari jendral Fawke atau petinggi kerajaan lainnya. Tidak pernah ada ketentuan kalau kami harus melakukannya sendirian.”


“Aku tahu, kamu sering mengajak Cimarec dan Black Warrior.”


“Enggak sesering itu. Cimarec susah diatur. Eh, bukan, bukan. Maksudku, ketua mereka, Amybelle, enggak cocok denganku. Aku lebih suka kerja dengan Black Warrior. Mungkin, setelah ini kita bisa mencoba kerja sama.”


Exodiart tahu kalau Lunacrest akan mulai dipandang begitu memenangkan Guild Showdown. Apalagi setelah mereka naik level seperti ini. Dia juga tahu kalau pihak kerajaan sering memberikan misi khusus pada guild yang mereka percaya. Seperti apa yang dilakukan jendral Fawke beberapa saat lalu pada Lunacrest.


“Mereka hanya mau tahu beres,” lanjut Saman.


“Aku paham itu.”


“Mungkin…” Saman mendekatkan dirinya, sedikit berbisik. “Mungkin aku juga bisa memberikan bantuan padamu bila Lunacrest perlu.”


Exodiart tidak terkejut dengan permintaan Saman. Saman sepertinya tahu kalau Lunacrest juga pernah dapat misi khusus. Bukannya tidak mungkin kalau dia menduga saat ini pun Lunacrest baru mendapatkan misi khusus, mengingat kalau Exodiart baru meninggalkan kantor misi seorang diri. Saman punya banyak informan.


“Terima kasih.” Exodiart menjawab.


Saman mengangguk sekali. Sekalipun tersenyum, sepertinya dia tak begitu puas dengan jawaban Exodiart. Mereka mengakhiri pembicaraan di sana. Exodiart melanjutkan perjalanan kembali ke markas Lunacrest. Dia perlu ngobrol dengan Praxel. Nasihat Praxel biasanya membuka kembali wawasannya.


Belum tiba di markas, lagi-lagi dirinya dikejutkan hal lain. Dia melihat Praxel duduk berdua dengan Kelsey di kursi taman. Keduanya membelakangi dirinya, jadi tak seorang pun tahu kehadiarannya. Exodiart telah berulang kali  mengingatkan dirinya soal hubungan Praxel dan Kelsey. Namun, pikiran buruk sering dipicu hal-hal seperti ini.


Benarkah dia bisa mempercayakan Lunacrest di tangan Praxel?