Lunacrest

Lunacrest
Chapter 12



Praxel menjumpai Raiden dan Keniaru bahkan sebelum mencapai ke ruang awal.


“Kakak! Kamu nggak apa-apa?” wajah Raiden memerah, gabungan rasa cemas dan kesal. “Darimana saja kamu? Kupikir kamu--” Raiden berhenti. Otaknya memikirkan kata ‘diculik’ yang terasa kurang tepat juga mustahil terjadi.


“Melihat induk gargoyle.” Praxel menjawab sebelum Raiden berhasil menyelesaikan kalimatnya.


“Ini anak-anak mereka?” Raiden mengedarkan pandangannya ke atas. Para bayi Gargoyle terbang tanpa arah di langit malam. Mereka bersenggolan satu dengan yang lain. Oleng lalu jatuh. Beberapa bahkan mendarat ke tanah dekat kaki Raiden.


“Di mana Elloys?” gantian Keniaru bertanya sambil menyipitkan mata ke arah datangnya Praxel. “Kamu nggak bersamanya?”


“Iya. Dia ada di belakang…” Praxel terdiam. “Seharusnya dia ada di belakangku.”


Keniaru masih berusaha melihat jauh ke belakang sana. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada para bayi gargoyle. Mereka menukik turun untuk menyerang. Serangan mereka mungkin tidak sesakit para gargoyle dewasa. Meski begitu, jumlah mereka dimungkinkan untuk membuat seseorang terluka parah. Atau lebih parah lagi, mati.


“Kurasa, Elloys bisa menanti,” bisik Keniaru pada dirinya sendiri. “Para gargoyle kecil ini harus diurus lebih dulu.”


“Raiden, Whirlwind!” pinta Praxel. “Pusaran anginmu pasti bisa mencapai ke atas. Kita harus menghabisi mereka sebelum mereka menyebar ke mana-mana. Bisa repot nanti.”


Raiden hanya mengangguk. Detik berikutnya, dia telah berlari ke depan. Di bawah gerombolan bayi gargoyle, Raiden berputar bersama palunya. Segera saja pusaran angin tercipta. Ini membuat para bayi berteriak panik. Serangan Raiden menghempaskan mereka ke berbagai arah. Beberapa terlempar ke arah dinding. Beberapa yang terlempar dekat Praxel atau Keniaru merasakan sengatan petir atau tebasan, tergantung mana yang lebih cepat.


Serangan Raiden mungkin efektif untuk satu titik. Masalahnya, insting para bayi gargoyle lain mulai terbangun. Mereka pun berpencar agar tidak terkena serangan. Raiden sendiri harus berhenti untuk memulihkan diri sesaat setelah serangan. Beberapa bayi nakal menyambar dirinya tanpa takut.


Raiden melindungi dirinya sendiri dengan palu. Praxel juga membantunya dengan menyambar beberapa yang mendekat dengan petir. Sekali lagi, masalahnya ada pada kuantitas. Jumlah mereka terlalu banyak.


Saat itulah gelombang hawa panas terasa di udara dan tanah. Angin malam tak mampu meredamnya. Bau api tercium makin dekat. Satu per satu bayi gargoyle menoleh ke arah cahaya merah di kejauhan. Bukan cahaya dari induk mereka, tentunya. Melainkan cahaya merah keemasan dari kobaran api.


“Yeah!” Keniaru melompat sambil meninju ke udara. “Ini saatnya!”


Raiden dan Praxel sama-sama terdiam di tempat. Mereka sama bingungnya dengan para bayi monster.


“Raid, lakukan whirlwind lagi!” Keniaru ikut memberi perintah.


Raiden belum paham apa maksud kawan barunya. Keniaru sudah melompat ke udara. Dia membuat tebasan-tebasan bentuk bulan sabit beruntun. Setiap serangan cukup besar untuk menghabisi dua monster yang terlalu dekat. Ketika kesempatannya menyerang di udara habis dan harus mendarat, Keniaru masih sempat menepuk punggung Raiden.


“Ayo, ini saatnya beraksi! Whirlwind!”


Sang Blademaster menggunakan batu sebagai pijakan serta memanjat dinding untuk membawanya melesat ke udara. Ketika bulan sabit beruntuk tercipta lagi, mata Raiden bisa melihat deretan gelombang api serupa anak panah menghabisi gerombolan bayi monster lain. Matanya menangkap sosok Elloys.


Dia melesat ke tengah-tengah pertempuran. Rambut ikal ungunya bercahaya di tengah kobaran api. Sihir api tercipta berulang kali, entah dari jemarinya atau dari tongkatnya, Raiden tak bisa melihatnya jelas. Api membara tanpa henti tanpa sedikit pun menyentuh Elloys. Ini pertama kalinya Raiden melihat hal semacam itu. Kobaran api yang menawan sekaligus mematikan.


“Flame Bow!” seruan Elloys menciptakan lengkungan api besar di depan tubuhnya. Saat tongkatnya terulur ke depan, lengkung tersebut memecahkan diri menjadi anak-anak panah dari api.


“Crescent Slash!” Keniaru ikut berseru. Teriakannya mengatasi suara tebasan juga kehancuran lawa.


Tanpa bisa dijelaskan, Raiden bisa merasakan sesuatu dalam dirinya meronta. Serangan Elloys dan Keniaru membuatnya iri. Dia bisa sama seperti mereka. Dia bisa melakukan serangan seperti Blademaster maupun Pyromancer. Dia bisa menghabisi banyak monster seperti kedua orang itu.


“Whirlwind!”


Raiden berani jamin kalau dia tidak sedang membangun kebiasaan untuk menyebutkan nama suatu serangan sebelum melakukannya. Ada banyak pertimbangan. Salah satunya adalah mengenai kesuksesan sebuah serangan. Ketika melawan monster yang cukup pintar, ini akan jadi sebuah kelemahan. Bagaimana tidak? Beberapa monster yang pintar akan mengenali serangan dan segera menghindar.


Para pengguna sihir sendiri paham kalau mantra tidak perlu benar-benar diucapkan di bibir untuk menciptakan sihir. Elloys jelas bisa membedakan antara mantra dan nama serangan. Dia membuat seruannya bukan untuk membuat musuh bisa membaca serangan. Dia membuatnya menjadi kata-kata terakhir yang didengar musuh sebelum mereka terbakar habis. Atau, meledak.


DUAR! DUAR! 


Serangan Elloys pasti membuat monster-monster batu tersebut kepanasan. Apinya tidak benar-benar membakar mereka namun membuat mereka meledak jadi serpihan.


Pusaran angin Raiden mulai mereda. Dia pun bergegas mencari tempat aman untuk melakukan serangan lagi. Saat itu, dia melihat pusaran angin lain. Keniaru ada di pusatnya. Berbeda dengan pusaran angin Raiden, milik Keniaru lebih kecil. Meski begitu, Elloys bisa memanfaatkannya dengan baik, sangat baik malah. Gelombang api berputar bersama di dalam pusaran angin. Angin ****** beliung berapi. Bagi Raiden, banyak hal baru dalam pertempuran ini.


Mungkin… Mungkin, dia juga bisa melakukannya.


Raiden mencari batu-batu yang tadi digunakan Keniaru pada deretan dinding. Dia pun menggunakannya sebagai pijakan lalu mulai berlarian di atas dinding-dinding tersebut seperti Keniaru. Jujur saja, Raiden tak mengira kalau berlari di atas dinding akan semudah itu. Keniaru memilih titik yang sangat tepat.


Di ujung dinding tertinggi, Raiden melompat. Biasanya, dia tidak menunggu hingga tiba di tanah untuk melakukan serangan. Dia sadar serangan semacam ini tidak efektif menghadapi monster yang bisa terbang. Kali ini, mungkin dia bisa melakukan serangan seperti Keniaru. Vanguard memang tidak dilatih melakukan serangan bulan sabit seperti Blademaster. Tapi, dia punya serangan Whirlwind.


Tanpa rasa takut, Raiden membiarkan instingya mengambil alih. Raiden bahkan tak sempat berteriak ketika dirinya mulai melakukan putaran di udara. Pusaran angin tercipta secara horizontal. Dirinya dan serangannya melupakan gaya gravitasi sejenak. Mata Raiden bisa melihat para bayi terlontar. Kobaran api menemani pusaran anginnya membasmi monster. Ini jauh lebih menantang daripada melawan Minotaur.


Praxel melangkah mundur teratur, mencari tempat untuk berlindung dari jilatan sihir api, tebasan bulan sabit, juga hempasan pusaran angin. Tanpa perlu melakukan apa pun, dia tahu kemenangan sudah diraih. Dia hanya tidak menyangka kemenangan akan datang dalam cara seperti itu.


Sama seperti Raiden, Praxel mendapat banyak pemandangan baru. Lebih dari itu. Ini pertama kalinya Praxel terlibat pertempuran seperti itu.