Lunacrest

Lunacrest
Chapter 23



Bukan Elloys namanya kalau tidak membuat kejutan.


Sesampainya Raiden di markas Lunacrest, dia hanya menjumpai Keniaru dan Amari. Sebelum sempat bertanya, Amari sudah lebih dulu bilang padanya. “Dia sudah pergi.”


“Elloys? Kukira dia mengirim pesan mengajakku menyelesaikan misi guild bersama.” Raiden berusaha mengingat pesan yang tadi sampai padanya. Mungkinkah dia salah baca atau salah paham dengan isi pesan tersebut.


“Oh, itu aku!” sahut Keniaru, berdiri dengan semangat separuh melompat dari sofa.


Raiden spontan mengernyit. “Oke. Kupikir aku salah baca.”


“Nggak, nggak. Itu memang Elloys yang tulis. Jadi, begini ceritanya…” Keniaru sedikit bingung memulai cerita. “Sebenarnya tadi kami mau mencari misi guild, ternyata Exodiart sudah mengambil beberapa misi untuk kita jalankan.”


“Praxel pergi bersama Reiyuel, Exodiart pergi bersama Mierai. Sisa satu misi yang menurut Elloys membosankan.” Amari memangkas beberapa bagian cerita, langsung ke bagian pokok. “Elloys nggak mau melakukannya. Jadi, dia pergi mencari misi solo.”


“Dia terlanjur menulis surat padamu sebelum mengecek detail misi. Jadi, kupikir kita berdua saja yang pergi.” Keniaru malah nyengir. “Duet warrior harusnya bisa, kok. Tapi, seingatku kamu pakai palu. Eh, aku salah ingat ya?”


Mendengar itu, Amari ikut memicingkan mata dari meja kerjanya. “Ada angin apa, kok mendadak ganti senjata? Jangan-jangan…” Amari langsung bangkit dari kursinya. “Kamu sudah selesai ujian kelas spesialisasi, ya?! Terus sekarang malah ganti senjata kapak, nih? Cerita dong.”


“Cerita apaan? Aku belum ujian, kok. Hanya mau ganti suasana.” Raiden mendesah.


“Sepertinya aku pernah lihat kapak seperti ini.” Mata Keniaru mengamati kapak bermata satu, tongkat kayu hitamnya, juga cincin-cincin mungil yang menghiasi ujung tongkat.


“Ini tongkat dari sekolah, kok.” Raiden melirik kapak panjang yang dipanggul di punggungnya. Beratnya sedikit lebih ringan daripada palu yang biasa dia pakai.


“Oh!” Keniaru memukul telapak tangannya dengan kepalan, dia langsung paham maksud Raiden. “Hebat, masih utuh, ya. Punyaku sepertinya sudah hancur entah kemana. Mungkin sudah jadi bahan api unggun. Hahaha...”


“Yang hebat itu kakakku. Dia bilang supaya selalu menyimpan senjata untuk cadangan,” kata Raiden. “Jadi, misi membosankan apa yang diambil Exodiart itu?”


“Mengumpulkan sari bunga.” Amari tersenyum lebar sambil mengambil botol-botol kaca kecil dari dalam laci. “Selamat menikmati.”


 


 


Elloys tidak salah kalau bilang misi itu membosankan. Raiden setuju. Misi itu salah satu misi paling buruk yang pernah dipasang pada dinding Guild Master Declan. Salah satu pakar kecantikan di Korumbie percaya kalau sari bunga Moonlight bisa menjaga kulit dan membuat awet muda. Masalahnya, sari bunga raksasa ini hanya bisa dipanen sebulan sekali, di siang hari, sebelum bulan baru. Masalah lainnya, sari bunga ini menarik banyak lebah dan serangga. Bukan monster. Hanya makhluk-makhluk kecil pengganggu.


“Aku penasaran kenapa Exodiart mengambil misi semacam ini?” Keniaru bertanya.


“Durasi pendek, imbalan besar, tingkat kesulitan mudah. Ini misi favorit para petualang yang malas.” Raiden menjawab asal. Semua ucapan itu berdasar pemikirannya bukan fakta yang dia pernah dia dapat.


“Mendengar ucapanmu, mendadak aku jadi merasa rajin.”


Raiden dan Keniaru tengah berada di perjalanan menuju ke lokasi bunga Moonlight. Bunga itu berdiameter setengah meter lebih. Warnanya kelopaknya putih dengan hiasan semburat biru tua. Bagian tengahnya serupa mangkok yang dipenuhi lendir keemasan bak madu. Dari jauh saja, aroma wanginya sudah tercium.


Wangi ini jauh lebih menyengat daripada aroma kumpulan bunga kering yang dibawakan Kisarumi tadi. Raiden suka bau manis, sebaliknya Keniaru malah langsung menutup hidung.


“Baunya memuakkan,” gerutunya.


Bunga ini punya tangkai sebesar lengan pria dewasa dengan daun kokoh lebar yang tak mudah robek. Mereka tumbuh merambat di atas batu-batu besar. Raiden dan Keniaru beruntung. Setidaknya ada empat bunga tumbuh berdekatan pada sebuah bongkahan batu. Dengan begini, stoples mereka bisa terisi lebih cepat.


“Kita tinggal mengambil cairan kuning di tengah itu, ‘kan?” Keniaru bertanya tanpa melepaskan pandangan pada sekelompok lebah dan serangga yang hinggap di sekeliling bunga. Beberapa terlihat terjebak dalam sari bunga. Lengket dalam kenikmatan, sebagian malah sudah tewas.


“Bukan mengambil. Kita menunggu sari bunganya jatuh menuruni kelopak masuk ke sini,” kata Raiden sambil menunjukkan salah satu stoples mungil.


“Itu akan makan waktu berjam-jam. Astaga… Aku paham kenapa Elloys nggak mau menyelesaikan misi ini.”


Raiden membagi stoples bersama Keniaru. Mereka meletakkan stoples di bawah kelopak-kelopak bunga agar sari bunga bisa jatuh langsung ke dalamnya. Kemudian, mereka duduk menjauh sambil mengawasinya dari jauh.


Celetukan Keniaru spontan membuat Raiden tertawa. “Kamu bahkan baru dua puluh tahun, tapi sudah memikirkan pensiun? Pemikiran yang benar-benar panjang, Ken.”


“Jadi, apa rencanamu?”


“Soal pensiun?”


“Hahaha…” Gantian Keniaru tertawa. “Bukan, soal itu, tuh. Senjata barumu. Kudengar dari Elloys kalau kamu belum mengambil ujian spesialisasi kedua. Dia bilang menyuruhmu mengambil kelas Berserker saja. Berserker biasanya pakai kapak, ‘kan? Jadi kamu sungguhan mau jadi Berserker, toh? Kupikir mau jadi Destroyer soalnya biasa bawa palu.”


Raiden mendesah. “Nggak tahu juga.”


“Berserker menyenangkan. Teknik mereka lebih… Apa ya, istilahnya...”


“Keren?”


“Iya! Lebih keren seperti teknik bertarung Blade Master.” Keniaru menunjuk dirinya sendiri. “Seru, lho. Tekniknya seperti menari bukan seperti bertarung. Elloys bilang, teknik Blade Master selalu menarik perhatian, seperti sedang menonton pertunjukkan.”


“Ya, ya.” Raiden menarik satu tangan untuk menopang dagunya.


“Kamu nggak suka bertarung? Maksudku, kamu nggak suka bertualang?”


“Suka.”


“Kamu nggak kelihatan menikmatinya.”


Raiden melirik Keniaru tanpa bicara.


Ditatap seperti itu, Keniaru langsung mengangkat kedua tangannya ke depan. “Eh, jangan marah. Maksudku, kamu selalu kelihatan tertekan setiap kali bertarung. Itu bukannya malah bisa membuat salah semua, ya?”


“Memang kamu nggak?”


“Awal-awalnya sih, iya. Terus, Elloys bilang, aku bisa mati cepat kalau begitu terus. Dia tanya kenapa aku mau jadi petualang padahal ini pekerjaan berisiko. Kubilang aku nggak tahu. Aku langsung kena marah setelahnya. Menurutnya, kita harus punya tujuan dulu baru benar-benar bisa jadi petualang. Nggak bisa kalau cuma asal menyelesaikan misi terus dapat uang. Nantinya pasti bosan atau, lebih buruk lagi, cepat mati.”


Raiden masih terdiam, kali ini dengan mata terbelalak.


“Ceritaku konyol, ya.” Keniaru menggaruk leher belakangnya.


“Aku cuma nggak nyangka kalau Elloys bisa bilang begitu. Dia memang kelihatan sangat menikmati setiap pertempuran, sih.”


“Dia cuma suka bakar-bakar.”


“Terus, kamu sudah tahu kenapa jadi petualang?”


“Waktu aku jadi Blade Master, aku sadar kalau aku sama seperti Elloys. Aku mau melindungi kota yang kusuka dengan menghancurkan monster. Hahaha…” Keniaru tertawa di akhir kalimatnya, berhenti mendadak, lalu menunduk. “Astaga… Aku terdengar seperti psikopat para monster, ya.”


Raiden tersenyum tanpa sadar. “Kupikir itu alasan yang bagus. Melindungi kota yang disukai, ya. Buatku, Korumbie biasa saja. Aku nggak besar di sini, sih.”


“Jadi, apa alasanmu jadi petualang? Ikut jejak Praxel?”


“Selama ini memang begitu. Hanya saja, karena sihirku payah, aku mengambil kelas dasar Warrior. Mungkin aku bisa mencari tahu alasanku kenapa jadi petualang dulu sebelum maju ke ujian.”


Keniaru mengangguk. “Sebaiknya memang begitu. Siapa tahu kamu malah langsung memutuskan jadi petani Moonlight. Nanti aku bisa beli sarinya dari kamu untuk menyelesaikan misi guild.”


“Sembarangan.” Raiden tertawa lagi. “Jadi, sudah waktunya menghajar makhluk yang dari tadi mengintai kita, nggak?”


“Hahaha… Kukira kamu nggak sadar soal itu. Ayo!”