
Raiden tahu apa yang terjadi di benteng Efilaned. Berita itu cukup banyak dibicarakan di Tavern. Gosip di kalangan para petualang juga omelan para prajurit. Masalahnya hanya satu, tapi banyak. Para wyvern. Bukan satu, melainkan sekawanan wyvern. Raiden dengar kalau pihak militer melakukan pencarian mendalam di sekitar wilayah tersebut. Ada dugaan mengenai sarang wyvern dan telurnya. Sejauh ini, pencarian belum menghasilkan apa-apa.
Kalau Litaro bilang mereka akan ke tempat yang mirip, Raiden punya dua dugaan. Tempat yang mirip secara bentuk alias benteng atau tempat dengan ancaman yang mirip yaitu para wyvern. Mengenai dugaan pertama, Raiden punya beberapa dugaan benteng tak terpakai yang berada cukupdekat. Mengenai dugaan kedua, Raiden bergidik ngeri. Mungkinkah ada wyvern di dekat ibu kota?
Hal yang membuatnya lebih cemas lagi adalah keberadaan portal yang sempat mereka gunakan tadi. Bukannya tidak mungkin kalau masih ada portal-portal semacam itu di Endialte. Sejak manusia mengembangkan sihir untuk melawan para monster, hal seperti itu bukanlah kejutan lagi. Raiden membayangkan kalau para wyvern terbang mendekati ibu kota melalui portal semacam itu.
“Kamu lihat itu?”
Lamunan Raiden buyar saat Litaro bicara. Di depan mereka terhampar sebuah lembah gersang berbatu. Suasana muram dengan pepohonan kering serta pekik gagak menyambut mereka. Tak ada bangunan di sana. Hanya bebatuan besar dan kecil. Raiden bersiap akan adanya kejutan. Namun, ternyata Litaro malah menunjuk ke salah satu sudut lembah.
“Dia di sana. Kamu bisa lihat?”
“Mana mungkin!” Raiden membalas tak ramah.
“Benar juga. Ayo, mendekat. Tapi, hati-hati, kita enggak tahu di mana dia.”
Raiden tergoda bertanya siapa yang dimaksud. Monster seperti apa yang menanti mereka di sana? Dia mulai sangsi kalau wyvern mampu bertahan di tempat seperti ini. Tidak ada mangsa yang cukup besar untuk memuaskan perutnya di sana.
Litaro berjalan menyusui lembah batu. Kapaknya tergenggam erat di tangan. Sepertinya dia tidak pura-pura waspada. Matanya menyusuri lembah dan langit, bersiap pula terhadap apa pun yang bisa muncul di sekeliling mereka. Melihatnya, Raiden pun mencabut tongkat palu berduri. Ah, seandainya mereka bisa bertukar senjata.
“Itu dia!”
Lagi-lagi lamunan Raiden buyar. Litaro setengah berlari mendekati ceruk batu berjeruji lengkap dengan gembok. Bukan sesuatu yang nampak alami di sana. Raiden menebak kalau dulunya ada semacam benteng atau penjara di sana. Apapun itu, kini mereka sudah lenyap.
Sementara Litaro berhenti di posisinya, Raiden pun mendekati jeruji. Dia bisa melihat sosok gadis tertidur di dalam. Raiden mengenali rambut ungunya juga gaun dengan sobekan kain sama persis yang dia lihat tadi. Elloys terlelap di atas tanah tak rata dan berdebu.
Emosi Raiden makin memuncak. “Apa yang kamu lakukan padanya?”
“Tenang saja. Kami hanya memberinya sedikit obat tidur.” Litaro memberikan isyarat menggunakan ibu jari dan telunjuknya. “Dia akan bangun sebentar lagi.”
Raiden memicingkan mata meski cukup yakin kalau Litaro tak mampu melihatnya.
Pria besar itu tertawa. “Baiklah, aku sudah membawamu ke sini. Jadi, sekarang giliranmu cerita. Apa misi rahasia yang diberikan Guild Master Declan pada kalian? Kalian ‘kan guild baru yang menang hanya karena rekayasa.”
“Apa katamu?”
“Ayolah, semua orang tahu kalau kemenangan kalian di Guild Showdown itu rekayasa. Hahaha… Kudengar awalnya Guild Master Declan curiga kalau kalian yang merekayasa kemenangan kalian sendiri. Lucu sekali, ‘kan?”
Raiden ingin Litaro terus bicara. Ini pasti hal yang sangat ingin didengar kakaknya dan Exodiart asli. “Kami memang sedikit tidak menyangka. Semua terlalu mudah. Seolah ada pihak lain yang ingin kami menang.”
“Jangan bilang kalau kamu merasa diistimewakan.”
“Bukan, tapi seolah ada yang ingin menjebak kami.”
“Hahahaha…” Litaro tertawa. “Benar sekali. Seperti kata orang, Exodiart memang punya insting tajam. Menakutkan.”
“Apa tujuan kalian membuat kami menang?”
“Oh, jangan salah sangka. Kami tidak ingin kalian menang. Kami hanya ingin ada guild baru yang menang. Setidaknya ada 4 guild yang coba kami bantu.”
“Termasuk Broco?” tebak Raiden.
“Jadi, dia di balik semua ini.”
“Apa? Siapa? Memang tadi aku bicara apa?”
“Jadi itu alasan kenapa Saman berusaha mendekati Exodiart.”
“Exodiart itu kamu, ‘kan?”
Raiden sadar kalau sekarang dirinya ikut keceplosan bicara. Salahkan Litaro. Berserker bodoh itu hanya berotot bukan berotak. Karena sudah kepalang tanggung, Raiden pun langsung saja.
“Kamu pikir Exodiart akan turun tangan menemui pecundang seperti kalian?”
Litaro sekarang sadar. “Kamu bukan Exodiart! Kamu menipu!”
“Dan, kamu enggak akan lolos dari sini!”
Raiden mengangkat tongkat Exodiart di tangannya. Tidak ada petir, tentu saja. Dia memberikan serangan pertama. Litaro menahannya dengan mudah. Raiden memberikan serangan lain yang ditahan pula dengan mudah. Bagaimanapun juga, dia seorang Berserker bukan Crusader. Dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan tongkat itu dengan benar untuk menimbulkan daya rusak.
“Kamu harus merasakan akibat karena berani menyakiti Elloys!” Raiden berseru.
Dia berlari naik ke atas batu besar. Dengan tongkat di tangannya, Raiden melakukan gerakan sama seorang Berserker. Hasilnya berbeda. Bukannya membuat retakan di tanah, serangannya malah membuatnya terguling. Ukuran tinggi tongkat tersebut dan kapak berbeda.
Litaro tertawa sambil mengayunkan kapak. “Kenapa, Exodiart palsu? Gemetar di hadapan Berserker juara sepertiku?”
Raiden berdecak kesal. Dia sudah mundur jauh agar tidak terkena serangan Litaro. Sementara lawan masih bersemangat mengayunkan kapak untuk mencabik tubuhnya. Satu-satunya kesempatan bagi Raiden kalau ingin menang adalah merebut kapak itu dari lawannya. Dengan begitu, dia akan mampu melakukan teknik-teknik yang dia kuasai.
Bebatuan kecil membuat Raiden oleng. Saat itu, serangan lawan datang lagi.
“Awas, Raiden!” Elloys berseru panik.
Kapak Litaro terbenam sejengkap dari wajah Raiden. Baik Raiden, maupun Litaro serentak menoleh pada Elloys. Gadis itu telah bangun. Tangannya memegangi jeruji dengan sorot mata takut tapi senang di saat bersamaan.
Raiden menjejakkan kaki, mendorong Litaro menjauh darinya. Dia pun buru-buru berlari pada Elloys. Mereka kini berhadapan, terpisahkan jeruji tua. “Kamu enggak apa-apa.”
“Agak ngantuk. Tapi… bukan itu masalahnya,” sahut Elloys. “Apa yang kalian lakukan, bodoh?”
“Bodoh?” Raiden mengernyit.
“Jangan bertarung!”
“Apa maksudmu?” Raiden makin bingung. “Sudah, sudah! Sekarang cepat teleport keluar. Kamu bisa teleport tanpa perlu tongkat sihir, ‘kan?”
“Lalu, pikirmu aku hantu yang bisa menembus jeruji?”
Litaro datang lagi. Pertempurannya dengan Raiden jelas belum selesai.
Di dalam kurungan, Elloys menggelengkan kepala sambil mendesah. Raiden tidak paham apa alasannya menyuruh mereka berhenti bertarung dan membuat keributan. “Dasar para Berserker bodoh.” Tanpa tongkatnya, Elloys tidak akan bisa menggunakan sihir api untuk menghancurkan jeruji ataupun keluar. Tapi, dia masih bisa memperingatkan keduanya dengan teriakan. “Kalian berdua, berhenti bertarung sekarang! Wyvern itu sudah dekat! Lari!”
Raiden menengadah. Di melihat apa yang dilihat Elloys. Wyvern sungguhan.