
Si monster sempat menyeringai melihat sosok kurus Bishop di hadapannya. Sihir petir Praxel menyambut meski hanya membuatnya geli. Dia sudah siap mengayunkan kapak besarnya dan Praxel sudah siap berlari. Kapak itu tidak pernah turun mengenainya. Tiba-tiba saja, ledakan beruntun terjadi di tubuh cyclops. Rentetan serangn itu bukan hanya membuatnya mundur tapi juga memaksanya terjembab ke belakang dengan suara berdebum. Serangan cyclops berhasil digagalkan.
Praxel langsung berpaling, mengenali sosok Elloys yang memainkan tongkat sihirnya. “Elloys? Ba— Bagaimana?”
Elloys tak repot-repot menjawab. Dia menggunakan sihir teleport, melewati Praxel dan Exodiart, berjaga-jaga dengan tongkat sihirnya karena tahu jelas lawan akan bangun. “Praxel, apa Exodiart baik-baik saja?” tanya Elloys sambil sesekali menoleh ke belakang.
Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab Praxel dengan mudah. “Aku… Aku tidak tahu—”
“Apa!? Kamu seorang Bishop, ‘kan? Lakukan tugasmu!” sergah Elloys. “Aku akan melindungimu dari sini.”
Praxel ingin sekali berteriak mengeluarkan segala kekesalannya. Dia bukannya tidak mau menyembuhkan Exodiart, dia tahu kalau sihirnya tidak mampu. Menghentikan pendarahannya saja, dia tidak bisa. Meski begitu, Praxel bergegas kembali pada Exodiart.
Deretan sabetan berbentuk bulan sabit melesat tepat di atas kepalanya.
Praxel mengenali salah satu serangan khas dari para Blade Master. Hanya satu orang di benaknya saat ini. Dan, dia benar. Praxel melihat Keniaru berlari menuruni sisi tebing yang agak landai setelah melakukan serangan.
Raiden tepat di belakangnya. Larinya makin cepat. Dalam sekejap, dia berhasil mendahului Keniaru. Keduanya berlari menghampiri Elloys untuk membantunya berjaga-jaga dari si cyclops.
Sementara Harufuji yang baru tiba malah lari menghampiri Exodiart. Dia melihat Exodiart tak lagi bergerak.“Astaga… Darahnya banyak sekali. A— Apa yang terjadi? Jangan bilang kalau dia terkena serangan laser si cyclops.”
“Sepertinya.” Praxel lelah, tak ingin mengingat bagaimana itu terjadi palagi harus menjelaskan apapun.
“Kita harus menyelamatkannya!”
“Aku sudah coba. Tapi…” Praxel tak ingin melanjutkan. “Aku tidak bisa menghentikan pendarahannya.”
“Kita bisa.”
“Apa maksudmu?”
“Kita lakukan bersama.”
Praxel tidak pernah menggunakan sihir penyembuh bersama orang lain sebelumnya. Dia hanya pernah mendengar dan melihatnya namun tak sekalipun mencobanya. Kali ini, kesempatannya tiba. Praxel pun berlutut di samping Harufuji. Mereka mengulurkan tangan, memusatkan pikiran, mengeluarkan sihir penyembuh seirama. Setidaknya usulan Curio tidak meninggalkan Harufuji di markas ada benarnya.
Di area yang sama, pertarungan sedang berlangsung. Elloys beserta kedua laki-laki itu melakukan serangan beruntun pada cyclops. Mereka menyerang bertubi-tubi tanpa cela. Sama seperti cyclops sebelumnya, cyclops ini pun hendak membuka mata, mengeluarkan laser.
Keniaru dan Raiden mendatangi si monster secepatnya. Mereka tahu benar kalau tidak akan mampu menghentikan serangan ini. Namun, mereka selalu bisa mengganti arahnya. Keduanya melakukan serangan dari sisi kiri. Memaksa si cyclops melenceng sedikit dari sasaran awal. Meski hanya bergeser sedikit, titik akhirnya jadi melebar jauh.
Elloys menanti ketika dua rekannya menyelesaikan serangan mereka dan laser cyclops agak mereda. Tangannya telah terulur ke depan. Begitu kesempatannya datang, Elloys memerangkap lawan dalam kobaran api besar tiada ampun. Kobaran api itu mulai mulai dari sisi kanan lalu terus menyebar hingga seluruh tubuh lawan dikurung. Kobarannya bagaikan api neraka dalam dongeng.
Raiden dan Keniaru bersyukur kabur dengan cepat sebelum Elloys merapal sihir terkuatnya. Si monster kesakitan dibuatnya. Dia berusaha menepuk-nepuk api, mengusir panas dan perih. Dia tersiksa tapi tidak lama.
“Kita harus pergi! Sekarang!” seru Raiden.
Bersama Keniaru, mereka bergegas mendatangi Praxel dan Harufuji yang tengah menyembuhkan ketua mereka. Selama itu, Elloys masih terus mengobarkan apinya.
“Ayo pergi! Elloys tidak akan bertahan lama dengan sihirnya!” Raiden memburu kedua orang itu agar segera selesai.
Praxel menghentikan sihirnya lebih dulu. Exodiart masih bergeming namun raut wajahnya terlihat lebih tenang, lebih baik, tak sepucat awal. Harufuji juga menyadari itu. Dia tahu setidaknya berhasil membantu ketuanya melewati masa kritis.
“Tapi, Kelsey dan Mierai sedang menuju ke kapal kerajaan…”
“Kalau begitu, pergilah bersama Harufuji dan Keniaru ke portal. Aku dan Elloys akan menyusul mereka.”
“Apa? Portal? Portal apa?”
“Panjang ceritanya! Pergilah cepat! Tempat ini terlalu berbahaya. Para demon ada di sini.” Raiden bisa melihat bagaimana kakaknya bersiap melempar pertanyaan lagi. Dia pun buru-buru memotong. “Pergilah! Nanti akan kuceritakan semuanya. Sekarang, kita harus mengutamakan Exo dulu.”
“Baik. Tapi, kamu tidak tahu di mana lokasi kapal kerajaan.”
“Berikan petanya padaku!”
Dengan enggan, akhirnya Praxel mengambil gulungan peta yang dia simpan pada adiknya. “Hati-hati. Apalagi kalau semua ucapanmu itu benar.”
Harufuji pun mengangguk. “Ayo! Tempat ini makin bahaya.”
Praxel pun bangkit hanya untuk menyadari kalau kekuatan telah meninggalkan kakinya. Bukannya berdiri, dia justru jatuh. Luka monster ditambah rasa lelah dari sihir penyembuh hampir melebihi kekuatan fisiknya.
“Kak!” Raiden langsung membantu kakaknya bangun.
Harufuji ikut menghampiri. “Jangan khawatir, Raiden. Aku akan pastikan mereka selamat sampai Korumbie.”
Raiden mengangguk sembari mengoper kantong koin. “Aku titip mereka!”
Keniaru ikut mengangguk. Dia bertugas membawa Exodiart. Mereka berempat pun bergegas secepat mungkin menuju ke lokasi gua. Raiden tersenyum tipis melihat mereka mulai menjauh.
Agaknya Curio bisa dipercaya kali ini. Curio yang memperkenalkan mereka pada para pendayung. Dia juga menjelaskan keberadaan gua portal yang tadi mereka lalui. Ujung gua akan berubah sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dalam benar. Curio bilang cara paling mudah adalah dengan membayangkan wajah rekan-rekan mereka. Untuk sesaat, Raiden mempertanyakan siapa yang dibayangkan Elloys. Mungkinkah Praxel?
Api Elloys telah padam. Si monster berlarian panik. Tangannya mengibas, berusaha memadamkan api. Tentunya tak semudah itu. Ditambah lagi hampir seluruh tubuhnya telah mengalami luka bakar yang cukup parah. Tak perlu waktu lama, sampai si cyclops ambruk memegangi lukanya yang paling sakit di bagian dada.
“Elloys, ayo!” sahut Raiden sembari mendekat.
“Kita harus memperingatkan kerajaan. Kelsey dan Mierai sudah jalan duluan ke balon udara milik kerajaan. Kita harus menyusul mereka.”
“Di mana kapalnya?”
“Di sini.” Raiden membuka gulungan peta di tangannya. Begitu peta terbuka, dia menyadari kalau sebagian petanya basah juga merah akibat luka kakaknya. Sekarang dia tak tahu harus bereaksi apa. Cemas pada kondisi kakaknya atau kesal karena peta mereka tidak jelas.
“Hei!” Elloys menggerakkan tangan agar menutup petanya. “Tidak perlu pakai peta. Aku tahu jalan yang lebih baik dan cepat.”
“Kamu bisa membaca jejak hutan seperti Ranger?”
Elloys tergelak. “Tentu saja tidak!”
“Terus?”
“Ikuti saja para monster. Para demon mengumpulkan monster untuk menghabisi orang-orang yang ada di sini, ‘kan? Artinya, mereka pasti sedang menyerang kapal kerajaan. Memastikan tidak ada yang bisa pulang.”