
Seekor minotaur sedang berdiri di tengah jalan yang menyempit. Badan gempalnya membuat jalanan itu terlihat makin sesak. Dia memiliki badan manusia, kepala banteng, dan senjata layaknya Vanguard. Bedanya, ukuran mereka dua kali lipat lebih besar, baik secara lebar maupun tinggi.
“Ups…” Praxel mendesah.
“Kamu bilang sesuatu soal minotaur tadi, Praxel?” bisik Kelsey.
“Nggak. Aku cuma bilang soal jalan buntu.”
“Ini lebih baik dari jalan buntu!” sahut Elloys. Dia tidak perlu menunggu ajakan atau perintah. Dari tongkatnya, muncul bola api yang melesat langsung ke arah minotaur. Salah satu keuntungan menjadi Mage adalah serangan jarak jauh. Elloys tidak perlu mendekat untuk menyerang monster berukuran besar itu.”
Minotaur pun mengerang keras. Suaranya lebih mirip sebuah seru kemarahan bukan seru kesakitan. Serangan Elloys sukses membuat si monster marah bukan rebah apalagi kalah. Elloys sudah tahu. Karena itu, dia telah menyiapkan serangan balasan. Deretan panah api meluncur bersamaan ke badan lawan. Ledakan tercipta disusul asap tebal. Meski begitu, si montaur masih tetap berdiri. Tentu saja. Kalau lawan roboh secepat itu, Elloys pasti akan kecewa.
Praxel dan Kelsey berpencar. Mereka melancarkan serangan dari sisi lain. Kalau ada gelombang-gelombang hitam, kadang ungu, itu adalah serangan milik Kelsey. Kalau ada sambaran petir, itu pasti milik Praxel. Kalau ada kobaran api, siapa lagi Pyromancer di sana. Elloys menikmati pertempurannya.
Mungkin juga terlalu menikmati. Kepulan asap menyesakkan serta hawa panas memenuhi jalan. Elloys tampaknya sudah terbiasa. Kelsey melesat mundur agar bisa bernapas lebih lega. Menyadari Kelsey tak berada di dekatnya, Praxel ikut mundur.
“Kamu baik-baik saja?” Praxel menghampiri Kelsey. Dia memang terbiasa mengawasi setiap anggota tim. Tugasnya bukan hanya mendukung anggota tim tapi juga menyembuhkan bila mereka terluka.
“Aman, aman,” jawab Kelsey. “Aku cuma enggak terlalu terbiasa dengan…”
“Setan api,” sahut Praxel.
“Setan? Itu terdengar jahat, kak. Lagipula, seingatku, kamu yang mengajaknya bergabung dengan Lunacrest.”
“Raiden sempat protes karena ribut.”
“Elloys atau sihir apinya?”
“Dua-duanya. Sepertinya sebentar lagi aku yang protes soal asap tebal.” Praxel sempat terbatuk kecil. “Tapi, harus diakui kalau kemampuannya oke. Coba lihat, dia bisa membuat minotaur itu kewalahan padahal dia sendirian.”
“Kalau aku, aku yang akan kewalahan.” Kelsey menarik napas panjang. “Jadi, mungkin lebih kita ke sana. Ini seharusnya kerja sama tim, ‘kan?”
“Yup.” Praxel menoleh ke belakang. Dia memang tak bisa mendengar suara langkah para bajak laut pengejar. Meski begitu, Praxel cukup yakin kalau mereka akan datang sebentar lagi. “Semoga Exo dan Haru menemukan jalan lebih baik,” katanya lagi sebelum kembali terjun ke dalam pertempuran lagi.
Kepulan asap mulai menghilang. Sosok Elloys muncul di sisi kiri sebentar, lenyap, muncul lagi di sisi kanan, lenyap lagi, muncul kembali di sisi belakang. Saat itu, ayunan kapak besar si minotaur terayun. Guncangan serta suara kencang menggelegar disusul debu mengepul.
Praxel bergidik ngeri, bahkan tak sempat memanggil Elloys. Detik berikutnya, ada bola api kembar mengenai punggung si monster. Praxel langsung menghela napas lega. Elloys lebih gesit dari dugaannya. Tentu saja dia tidak terkena serangan tersebut.
Kelsey sudah kembali ke pertempuran. Beberapa pilar cahaya keunguan membakar kulit si minotaur. Efeknya kurang lebih sama dengan efek serangan api. Sambaran petir-petir kecil muncul. Menyakitkan mungkin tidak, tapi jelas membuat susah. Monster sebesar itu tidak akan bisa menghindari semuanya. Petir membuat efek kesemutan, memaksa gerakan monster melambat. Tak jarang kalau serangannya malah gagal dilakukan.
Mendadak, hawa panas meningkat tajam. Apa pun yang dilakukan Elloys pasti berdampak pula pada mereka. Karena berikutnya, Elloys berseru dalam kepulan asap yang kembali muncul. “Mundur, teman-teman!”
“Membuat apa?”
“Ayo!” Kelsey tak melanjutkan ucapannya. Tangannya menarik Praxel agar mundur ke belakang.
Keduanya mundur menjauh dari posisi Elloys. Mereka bahkan bersembunyi pada satu ceruk pada dinding. Tanah di sekitar Elloys bercahaya kemerahan. Kalau tak mengenal Elloys, Praxel yakin sosok gadis itu nyaris tak ada bedanya dengan sosok setan wanita yang ada di buku dongeng. Apalagi ketika lidah-lidah api mulai bermunculan. Mereka naik mengeliling Elloys bagai dinding api.
“Apa yang dia lakukan?” bisik Praxel. “Dapur api?”
“Para Pyromancer punya satu teknik mematikan. Aku lupa namanya. Intinya, sihir ini hanya bisa dikeluarkan setelah lawan mendapat banyak serangan api. Sihir ini efektif untuk melawan monster besar. Monster kecil kebanyakan tewas lebih dulu. Sihir api mereka mengerikan.”
“Aku tahu. Mereka memang menyeramkan.”
Suara api menderu terbawa angin, mengingatkan Praxel pada perapian. Pemandangan di depannya memang seperti dapur perapian raksasa. Elloys mengulurkan tangan ke depan. Perlahan, lidah-lidah api di sekelilingnya bergerak. Mereka menari seirama lalu bergabung untuk melesat menuju lawan. Sosok minotaur dilahap warna merah membara dan asap yang memedihkan mata.
Api tersebut tak kunjung padam. Suaranya terus menderu. Di dalamnya, ada suara-suara lain. Praxel dan Kelsey menyadarinya sedikit terlambat. Ketika mereka berpaling, para bajak laut telah cukup dekat.
“Awas!” Praxel dan Kelsey memberikan aba-aba bersamaan lalu menghindar pada dua sisi berlawanan.
Hujan tembakan terjadi. Kelsey mencari ceruk lain untuk bersembunyi. Dia melindungi kepalanya dengan satu tangan. Satu tangan lainnya bergetar memegangi tongkat. Dia sebenarnya bisa saja merapal sihir untuk melawan mereka. Masalahnya, dia tidak ingin membunuh siapa pun. Sihirnya diciptakan untuk bertualang, melawan monster, bukan manusia. Tanpa sadar, matanya mulai basah.
Sambaran-sambaran petir melesat dari angkasa. Tembakan mulai berkurang. Praxel mengenai beberapa orang. Dia juga bisa melihat satu sosok besar di antara mereka. Langkahnya besar meski agak lambat. Tangannya membawa senjata kapak besar. Praxel yakin itu petualang yang dimaksud Elloys.
Praxel menoleh ke belakang. Elloys masih sibuk dengan dapur apinya. Dia nampaknya tak sadar akan kedatangan bajak laut dari sisi lain. Sementara itu, dia juga bisa melihat Kelsey meringkuk di sisi lain. Praxel menanti ketika deretan tembakan berhenti karena kehabisan amunisi. Saat itu, dirinya berlari pada Kelsey.
“Kamu terluka?” Praxel berjongkok di dekatnya.
Kelsey menggeleng, matanya masih sembab.
“Kamu takut?” tanya Praxel lagi. “Jangan takut, kita akan keluar dari sini.”
Praxel menoleh pada Elloys. Si minotaur sudah jatuh, namun api Elloys masih menggila. Di sudut lain, sosok bajak laut besar itu tengah berlari padanya. Pada bajak laut lain sudah menodongkan senjata. Praxel mengulurkan senjata. Sebuah sengatan besar muncul, memaksa si sosok besar itu bertahan dengan menyilangkan kedua tangan.
Berbeda dengan Exodiart, serangan Praxel tidak mematikan. Ternyata, serangan semacam itu ada keuntungannya juga untuk kondisi semacam ini. Namun, itu kurang besar untuk memaksa mereka mundur. Ada satu teknik sihir yang diajarkan di kelas Bishop. Sihir ini ditujukan agar Bishop bisa melindungi dirinya sendiri saat dikepung musuh.
Praxel berlari keluar. Tangannya mengulurkan tongkat ke depan. Mulutnya meneriakkan nama tekniknya saat sihir mengalir keluar. “Thunder Shower!”
Salahkan Elloys mengenai kebiasaan ini.