
Lamia merupakan monster yang unik. Separuh bagian atasnya merupakan tubuh seorang wanita dengan tiga pasang tangan, separuh bagian bawahnya merupakan tubuh ular besar. Biasanya sisiknya berwarna merah di bagian atas dan coklat di bagian bawah. Raiden pernah bertemu dengan seekor lamia sebelumnya. Dia sendiri tidak pernah mengalahkannya.
Monster ini biasanya tinggal dekat rawa atau hutan-hutan lembab. Para petualang bilang kalau monster ini juga termasuk gampang-gampang susah. Badan mereka tidak sebesar ogre, tidak terbuat dari batu seperti gargoyle, tidak pula sekekar orc. Hal yang membuat cukup merepotkan ada dua, yaitu tangan mereka yang ada tiga pasang dan bisa yang mampu membuat lumpuh mesti tidak mematikan.
“Kamu belum pernah mengalahkan lamia, eh?” Raiden berjalan pelan di belakang Elloys. Mereka sudah meninggalkan Korumbie menuju ke daerah rawa yang becek dan penuh serangga. Tak sedikit dari mereka yang berusaha hinggap di tubuh Raiden. Berbahaya mungkin tidak, tapi tetap saja mengganggu.
“Nggak, tapi aku pernah makan lamia bakar.” Elloys menjawab santai.
Raiden memukul satu nyamuk besar di lehernya. Sayangnya, meleset. Nyamuk itu terbang, lehernya malah memerah. Suaranya memancing Elloys menengok ke belakang. Raiden buru-buru menyahut dengan suara pelan. “Maaf. Makan apa?”
“Lamia bakar. Daging mereka seperti ayam atau ular, tapi sedikit manis.”
Dahir Raiden menyernit. “Apa itu diizinkan.”
“Tergantung.”
“Aku nggak paham maksudmu.”
“Aku punya teman seorang Bard. Kamu tahu, semacam musisi petualang yang suka menjual barang-barang aneh. Dia yang membawakanku lamia bakar. Ken dan aku setuju kalau rasanya lezat. Nggak heran harganya di pasar gelap lumayan mahal.”
Raiden berhenti kali ini. Dia tidak begitu paham dengan perdagangan gelap di Korumbie. Kenyataannya, banyak barang ilegal berkeliaran di sana. Pihak kerajaan selalu mati-matian membasmi orang-orang tersebut. Praxel mendukung aksi kerajaan. Exodiart malah curiga kalau kerajaan sendiri ada andil dalam kelanggengan pasar gelap.
Elloys yang tak lagi mendengar langkah Raiden pun berbalik. Melihat rekannya sudah tertinggal beberapa langkah, dirinya pun memicingkan mata. “Kupikir kamu meninggalkanku. Ada yang salah?”
“Nggak. Aku hanya… nggak menyangka kalau kamu kenal dengan orang-orang di pasar gelap.”
“Nggak. Aku nggak kenal. Aku hanya kenal salah satu orang yang kenal dengan orang-orang di pasar gelap. Aku nggak kenal mereka secara langsung.”
“Ya, terserah.”
“Kalau kamu mau, kita bisa coba memasak yang satu ini.”
“Silahkan saja. Aku nggak.”
“Kamu nggak tahu bagaimana rasanya.” Elloys melipat tangan di depan dada. Wajahnya memulas senyum manis. Bibirnya berkilau di bawah sinar yang menerobos masuk melalui dedaunan lebat pohon-pohon tinggi.
Raiden mendesah pelan. “Nggak. Aku yakin kamu juga nggak tahu bagaimana cara membersihkan racun dari dagingnya, cara memasaknya, lalu…”
“Kamu meremehkan orang yang salah, Vanguard yang perkasa.”
Raiden mendesah lagi. Dia mengayunkan langkah mendekati Elloys. “Darimana teman Bard-mu ini mendapatkan daging lamia? Dia mengalahkannya sendiri?”
“Aku nggak yakin. Menurutku dia nggak sekuat itu.”
“Dia berpetualang seorang diri tapi nggak bisa bela diri?”
“Oh, dia jago bela diri. Aku hanya nggak yakin dia bisa mengalahkan lamia.”
“Kamu juga nggak pernah mengalahkannya.”
“Nggak. Tapi, aku akan mengalahkannya dengan bantuanmu.” Elloys mengedip lagi tepat ketika Raiden lewat di sampingnya. “Hei, aku penasaran. Menurutku, kamu seharusnya sudah bisa mengambil kelas spesialisasi, ‘kan?”
“Dari mana kamu dengar soal itu?” Raiden merasakan dahinya berkerut. Dia bersyukur sekarang dia berjalan di depan jadi Elloys tak bisa melihat reaksinya.
“Aku cuma belum sempat ujian.”
“Sungguh?” Ucapan Elloys sengaja dipanjangkan dengan nada melambung.
Raiden sadar kalau Elloys meragukan ucapannya. Meski begitu, dia tak berniat melanjutkan pembicaraan apalagi mengenai masalah pribadinya. Dia penasaran apakah Elloys juga menanyakan hal-hal pribadi pada kakaknya ketika mereka menjalani misi menghancurkan gargoyle kemarin.
Di sisi lain, Elloys nampaknya lebih tertarik mengorek informasi lebih banyak. “Mana yang akan kamu ambil? Berserker atau Destroyer.”
“Kupikir kamu sudah bisa menebak.”
“Dari palumu, kupikir kelas Destroyer cocok untukmu. Dari jiwamu, kupikir kamu lebih cocok jadi Berserker.”
“Benarkah? Aku nggak tahu kamu bisa melihat jiwa seseorang.”
“Nggak secara langsung. Itu pun tergantung pada orang itu sendiri, apa dia mau menunjukkannya atau tidak.”
Kerutan di dahi Raiden makin menjadi. Dia yakin tak menunjukkan hal yang mencolok perhatian di depan Elloys.
Elloys melanjutkan. “Aku membantu Ken memilih kelas. Aku menyarankan dia mengambil kelas Swordsman lalu Blade Dancer. Dia sangat menikmatinya. Teknik Blade Dancer sangat indah dan juga efektif untuk melawan monster dalam jumlah banyak. Sangat cocok digunakan untuk misi solo. Kupikir, kamu juga sama seperti kami. Orang-orang yang menikmati pertempuran. Aku bisa melihat bagaimana ekspresi wajahmu setelah para gargoyle hancur.”
Kali ini, kerutan di dahi Raiden lenyap. Bahunya pun merosot tak tegang seperti awalnya. Elloys baru saja menyatakan persis apa yang ada di pikirannya kemarin. Gadis itu tidak salah. Raiden memang menikmati pertempuran kemarin. Dia merasakan kepuasan tertentu ketika berhasil mengalahkan para gargoyle.
“Terus? Memang itu membuatku nggak cocok jadi Destroyer?” Entah kenapa suara Raiden memelan saat bicara. Bukan karena takut Elloys mendengarnya melainkan seolah takut kalau dirinya sendiri mendengar lalu berubah pikiran. Sejauh ini, ketika memilih kelas Vanguard, Raiden memilih senjata utama palu karena daya serangnya yang luas.
Elloys nampaknya menyadari hal itu pula. “Kenapa kamu memilih palu bukan kapak? Karena palu punya area serangan lebih luas?” Elloys tak memberikan Raiden kesempatan menjawab. Dia melanjutkannya sendiri. “Kenapa nggak memilih kapak? Kapak juga punya area serangan luas kalau tahu cara memakainya. Kamu juga masih bisa menggunakan Whirlwind dengan kapak.”
“Iya, aku tahu kok.” Ucapan Raiden tak bersuara kali ini.
“ Tapi, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu, sih.”
Raiden menantikan Elloys melanjutkan ucapannya. Kenyataannya, tak ada suara terdengar dari belakang. Langkah kaki juga tidak. Raiden pun berbalik. Giliran dirinya yang berpikir kalau-kalau Elloys meninggalkannya. Ternyata tidak. Elloys berada di belakang tak jauh dari dirinya berhenti. “Apa?”
“Nggak ada.”
“Kamu sedang bicara soal kapak.”
“Iya.”
“Lalu, kamu diam.”
“Iya.” Elloys menyunggingkan senyum sembari berjalan mendekat.
“Aku nggak suka teka teki.” Raiden berusaha membuat Elloys bicara.
“Benarkah? Kamu sendiri misterius seperti teka teki.”
Kerutan di dahi Raiden terbentuk kembali. Dia menatap lekat-lekat gadis berambut ungu yang kini berada di depannya. “Aku nggak ngerti kamu mau bicara apa.”
“Kalau begitu, cobalah menggunakan kapak untuk melawan monster. Kamu akan tahu apa yang kubicarakan.”