
Harufuji menghadapi si pelempar pisau bertali. Reiyuel sendiri menghadapi lawan yang memilih senjata sama seperti dirinya. Keduanya juga sadar tak boleh melupakan sosok ketiga. Pemanah itu bisa merepotkan.
Harufuji merangsek maju. Dia tak punya perisainya. Tapi, dia punya flail di tangannya. Seharusnya itu cukup. Ketika lawan melemparkan pisau-pisau, pelindung sihir sederhana muncul. Mereka menyelamatkan Harufuji dari pisau-pisau. Lawan lebih cepat. Sebelum Harufuji mencapainya, dia sudah melompat ke atas, entah ke mana. Matanya sulit mengenali lawan dalam kegelapan seperti itu.
Itu adalah kesempatan baik bagi si pemanah. Dia melepaskan dua anak panah kembar.
Sekalipun sulit melihat, Harufuji masih bisa mengenali suaranya. Dia pun buru-buru menunduk. Anak-anak panak itu menancap ke sofa. Saat tongkat di tangannya terulur, petir kecil menyambar. Meleset! Agaknya menyerang dalam kegelapan seperti itu memang hampir mustahil. Sekarang dirinya malah kehilangan ke mana pemanah tersebut kabur.
Lebih baik dia fokus mencari satu orang lebih dulu. Untuk jaga-jaga, Harufuji sudah merapal sihir pelindung. Benar saja, beberapa lemparan belati menghunus langsung pada kepalanya. Mereka terpental saat mengenai pelindung. Harufuji mengumpat dalam hati tapi bersyukur di saat yang sama. Kini, dia bisa menerka di mana posisi lawan.
Ketika dirinya mengulurkan tongkat ke arah sana, petir lain menyambar. Kilat dari sihirnya menunjukkan kalau dia benar. Terlebih ketika ada teriakan terkejut akibat sihir Harufuji. Selagi si lawan tersengat listrik, Harufuji kembali fokus mengawasi si pemanah.
Dia sempat melirik ke arah lentera. Seandainya saja ada Elloys, menyalakan lentera-lentera itu pasti sangatlah mudah. Di saat seperti ini, dia akan kena serang lebih dulu sebelum berhasil menyalakan satu lentera saja.
Sementara itu, denting belati masih terus terdengar. Reiyuel dan lawannya saling menghunuskan belati. Belum ada yang berhasil benar-benar melukai lawan. Reiyuel berhasil menggores tangan dan kaki lawannya, dia sendiri kena tonjok di wajah namun belum terkena serangan dari bilah belati sama sekali. Ada baiknya berhati-hati dengan belati para Assassin. Banyak Assassin yang melapisi pisaunya dengan racun. Reiyuel sendiri melakukannya, dulu.
Melawan sesama Assassin membuat Reiyuel banyak mengingat masa lalu. Ada baiknya. Dengan begitu, dia bisa menebak apa yang selanjutnya akan dilakukan lawan. Meski benci mengakuinya, Reiyuel harus mengacungi jempol lawan. Lawannya begitu gesit, serangannya tepat, juga kuat. Dirinya cukup beruntung bisa memasukkan serangan pada lawan sehebat itu.
“Awas!” Harufuji berteriak.
Reiyuel menyadari akan ada serangan menuju dirinya. Perkiraannya antara benar dan salah. Dia menduga akan adanya pisau lempar atau panah, ternyata bukan. Matanya baru menyadari ketika badannya mundur dan tertahan sesuatu yang tipis. Senar si pemanah membentang kepada piala mereka.
Tanpa banyak bicara, Reiyuel memegang piala tersebut sebelum si pemanah menarik senarnya. Namun, gerakan ini membuatnya terpaksa melepaskan salah satu bilah belatinya. Lawan pun mengambil keuntungan. Belati terhunus pada dadanya. Untung Reiyuel sempat berputar sebelum ujungnya menembus badan.
Sambaran petir terjadi lagi. Kilatnya yang mengejutkan membutakan mata. Serangan itu diakhiri teriakan lain. Salah satu lawan terkena lagi. Dua lawan tiga memang cukup merepotkan. Harufuji tahu harus segera mengakhiri pertempuran mereka sebelum ada korban jatuh dalam pihak mereka. Dia juga tahu mengeluarkan sihir kuat dalam markas punya risiko besar. Siapa yang mau markas mereka hancur?
Merasa kalau dirinya lebih bisa melihat lawan dari ketinggian, Harufuji pun berlari menaiki tangga. Cahaya dari luar menembus jendela, membantunya melihat lebih jelas. Serangannya tadi mengenai si pemanah lagi, membuatnya tak mampu bergerak bebas. Meski begitu, tanpa takut meleset atau mengenai kawan, dia mengambil busur lagi untuk membidik Reiyuel.
Si pelempar pisau sudah bebas dari efek serangan petirnya. Menyadari kalau tak bisa menarik piala padahal senarnya berhasil terikat di sana, dia pun memilih maju. Seaat ini, dia bahkan sedang berlari menuju Reiyuel. Lebih tepatnya pada piala mereka yang sedang dipegangi.
Reiyuel masih bertarung dengan satu belati di tangan kiri dan piala di tangan lain. Dia berusaha mati-matian menghindari serangan mematikan lawan. Pertarungan tersebut kelihatan tak seimbang. Reiyuel dikepung tiga orang.
Kedua sasarannya lengah karena tak mengira kalau Reiyuel bisa melakukan serangan jarak jauh. Satu mengenai paha si pelempar pisau, satu lagi mengenai lengan si pemanah. Akibatnya, panah pun terlepas tanpa arah. Anak panah tersebut melesat tepat ke atas kepala Reiyuel, mengenai guci bunga di dalam rak. Tanah dan bunganya pun berserakan ke luar.
Harufuji merapal sihir lagi. Dari posisinya, dia mampu memperkirakan seberapa besar petir yang bisa dia keluarkan tanpa melukai Reiyuel dan juga tanpa memporak-porandakan markas mereka.
“Lightning Dance!” serunya.
Percikan petir mengitari flail di tangannya. Mereka membesar dalam sekejap. Bergerak berirama membentuk sebuah tarian petir besar dalam badai. Petir putih biru menyambar ketika Harufuji mendarat di lantai satu. Teknik ini merupakan salah satu teknik andalan para Crusader. Teknik yang juga digunakan Exodiart ketika melawan ogre. Kilau membutakan dan suara kencang membahana, menggetarkan siapa pun yang berada dekat.
Sihirnya seharusnya mengenai lawan yang sedang dihadapi Reiyuel. Seharusnya. Nyatanya, lawan berhasil menghindari titik vital. Serangan itu mengenai sebagian kakinya, membuatnya mengalami luka parah.
Harufuji melihat kalau kedua lawan lainnya masih bergerak. Tanpa banyak pikir, dia pun merapal serangan petir dalam garis horizontal. “Thunder Wave Chain!”
Petir-petir merambat horizontal, menyambar si pemanah dan pelempar pisau bolak balik. Merasa kesakitan dan kewalahan, keduanya mulai bergerak mendekati pintu dengan susah payah. Harufuji menduga mereka hendak kabur.
Senang dan tetap hati-hati, Harufuji pun buru-buru mundur, menjaga jarak dari pertarung Reiyuel yang ternyata belum usai.
Lawan telah kehilangan satu belati sama seperti Reiyuel juga mengalami luka cukup parah. Namun, dia tampaknya belum menyerah soal tersebut. Dirinya maju, sedikit menunduk, mengambil serpihan tanah, melemparkannya ke wajah. Reiyuel sudah memperkirakan ini, jadi dia bisa menghindar. Rupanya ini hanya sebuah pancingan. Dia berhasil mengecoh.
Reiyuel menyadari adanya bilah belati pendek yang menghunus padanya. Karena tangan kanannya masih memegangi piala, dirinya kesusahan mempertahankan diri. Belati tersebut menancap ke tubuhnya dengan rasa sakit sama yang sering dia rasakan dulu. Lawan mengulurkan tangan, menarik piala. Reiyuel tak sedikit pun melepaskan pegangannya.
“Kamu membuat kesalahan dengan datang kemari!” geram Reiyuel.
Lawannya tidak awas. Reiyuel punya senjata-senjata tersembunyi hampir di setiap jengkal tubuhnya. Dia pun mengayungkan tendangan. Pisau di sepatunya mencuat keluar, menggores bahu hingga wajah lawan. Kali ini, lawan terhuyung mundur. Reiyuel melepaskan piala. Tangannya sudah menggenggam sepasang belati. Satu belati yang tadi dia gunakan, satu lagi belati baru dari persembunyian lainnya.
Sambil memegangi lukanya, lawan ini berlari mundur. Reiyuel sendiri masih kesakitan akan lukanya. Serangan pun meleset. Dirinya berlari mengejar. Namun, lawan sudah lebih dulu kabur ke pintu terbuka bersama kedua rekannya, meninggalkan rekan lain mereka yang bersimbah darah di lantai.
Reiyuel berdiri di ambang pintu, memegangi perutnya yang basah.