Lunacrest

Lunacrest
Chapter 4



“Raid--” teriakan Exodiart terpotong.


Ogre bukan hanya telah berdiri namun sedang berlari padanya. Tangan ogre mengayunkan pukulan keras. Exodiart tak sempat menghindar. Untung saja dia terkenal oleh pertahanannya yang kokoh. Pukulan itu tak mengenai dirinya melainkan sebuah kubah pelindung kasat mata yang hanya muncul ketika terkena benturan. Setiap kali pukulan datang, kubah ini melindungi bagian dalam meski mengeluarkan suara dengung keras.


Si ogre mendadak berubah jadi agresif.


Exodiart berusaha melihat jauh ke belakang ogre, dia ingin memastikan Raiden lebih dulu. Dia harus tahu bagaimana kondisi anggotanya dan -- sama penting dengan itu -- posisi Raiden. Exodiart tidak mau kalau sihir petirnya sampai menyambar teman sendiri. Sihir petir bukan manusia. Mereka tidak memiliki pikiran juga perasaan. Hanya perapalnya saja yang bisa menentukan ke mana mereka menyerang dan sekuat apa. Sekali dilepaskan, tidak ada yang mampu menariknya kembali, termasuk si perapal sendiri.


Dalam satu kesempatan, Exodiart berhasil melihat adanya gerakan di sisi kiri. Dia melihat siluet manusia dan kilau dari benda logam. Itu pasti Raiden dan pelindung bahunya. Exodiart memilih mendekat ke arah sana lalu berbalik menghadap monster lawannya.


Satu pelajaran krusial yang dipelajari Exodiart sebelum menjadi Guardian, lebih tepatnya ketika dia pertama kali belajar menjadi Cleric, adalah mengenai tempo serangan monster. Melawan ogre tergolong gampang-gampang susah. Gampang karena mereka memang lambat. Susah karena temponya bisa berubah drastis. Ketika seekor ogre mulai menyerang, serangan mereka biasanya langsung beruntun dalam tempo cepat. Ini hampir selalu membuat para petualang pemula kesulitan.


Tongkat bola besi telah terulur ke depan. Mata Exodiart berkilat putih. Sambaran petir besar mengalir deras. Menggunakan udara sebagai media, petir ini menyambar posisi luka ogre di kepala. Ogre pun berteriak lagi. Serangan Exodiart tepat kembali ke titik yang sama persis. Titik tersebut memicu api tipis lalu membuat kulitnya menghitam dalam hitungan detik.


Ogre mengerang keras. Meski begitu, tampaknya dia tak lagi begitu memusingkan luka pada kepalanya. Dia lebih berminat melawan para pengganggunya saat ini.


Exodiart bergeser sambil menunduk ketika pukulan ogre melayang lagi padanya. Di ujung sana, Exodiart bisa melihat Raiden lebih jelas. Vanguard tersebut telah berdiri, menggunakan palu besar sebagai penopang. Dahi Raiden berkerut, mulutnya ditarik ke samping. Dari raut wajah, Exodiart bisa menangkap keraguan di sana. Tebakannya, Raiden sedang menimbang kapan saat tepat untuk kembali dalam pertempuran.


“Tetap di sana!” Exodiart berseru dalam deru pertempuran. “Aku akan mengalahkannya.”


Exodiart memilih kembali pada titik serangan pada bagian kaki. Sebelum ogre memulai kembali serangan beruntun, Exodiart menyarangkan pukulan keras lain ke kaki. Ogre pun dipaksa jatuh. Monster ini miring ke arah pohon besar. Kalau dia berharap pohon akan membantu, dia salah besar. Pepohonan di sini tak mampu menahan tubuh raksasa. Sebaliknya, pohon pun tumbang bersama ogre. Suaranya begitu keras, campuran antara suara retak dan berdebum.


Seperti kata orang, semakin besar suatu benda, semakin keras pula jatuhnya. Ada sedikit tambahan dalam kasus ogre. Semakin besar tubuhnya, semakin sulit pula untuk bangun. Ogre itu kelihatan kewalahan. Badannya berusaha berguling ke samping, tangannya berusaha mendorong tubuh untuk bangkit. Tentu saja Exodiart tidak membiarkan itu terjadi. Ini kesempatan menundukkan si monster besar.


Sambil memainkan tongkat, Exodiart merapal sihir.


Lightning Dance!


Petir-petir kecil pun mulai mengitari bola berdurinya. Detik berikutnya, dia sudah melompat tinggi ke udara lalu menjatuhkan diri di atas lawan. Petir-petir kecil telah membesar berkali lipat. Mereka datang bersamaan. Bagai tarian petir besar dalam badai. Petir putih biru mengiring dirinya menghabisi monster tersebut. Kilau membutakan membuat rambut perak dan mata Exodiart berkilat meski hanya sesaat. Pemandangan ini bukan sesuatu yang mudah dilupakan oleh siapa pun.


Termasuk Raiden.


Raiden bukan anggota baru di guild Lunacrest yang dipimpin Exodiart. Sekalipun sudah berulang kali melihat bagaimana Exodiart bertarung, Raiden selalu merasakan napasnya tertahan melihat teknik terkuat sang ketua guild. Raiden ingat Exodiart pernah memuji teknik Whirlwind miliknya, tapi tekniknya tak bisa dibandingkan Thunder Dance milik Exodiart. Memukau dan mematikan di saat bersamaan.


Ditambah lagi dengan keadaan seperti ini. Seekor monster besar tumbang di bawah kaki seorang pemuda. Ukuran keduanya jelas berbeda jauh. Kostum merah kecoklatan milik Exodiart bergerak pelan tertiup angin sementara ogre kelabu bergeming di bawahnya bagai batu. Ketua guild Lunacrest, Exodiart, memang bukan seseorang yang bisa diremehkan begitu saja.


“Hei!” Praxel memecah ketegangan. “Kalian lama banget. Aku mulai khawatir.”


“Justru itu. Suaranya menggelegar.”


“Ya, mau bagaimana lagi. Dia besar, sih. Jadi agak merepotkan. Petir kecil mana mempan.”


Praxel mengangguk. Dia menghampiri Raiden yang sedang membersihkan badan dari debu dan tanah. Serangan ogre membuat dahinya tergores akar pohon. Badannya pegal dan nyeri. Tanpa diminta, Praxel sudah melepas sarung tangan lalu menyentuh dahi Raiden dengan lembut. Sinar putih hangat datang disertai sihir penyembuh. Ketika Praxel selesai, luka itu lenyap seolah tak pernah ada di sana.


Raiden mengucapkan terima kasih tanpa suara.


Praxel mengenakan sarung tangannya lagi sambil menggelengkan kepala. “Seingatku, kalian bilang akan mengatasi ini, eh?” Dirinya tersenyum geli.


“Kami tetap menang, kok. Iya, kan?” balas Exodiart, menengok ke arah Raiden. “Kamu baik-baik saja?”


Lawan bicaranya mengangguk sekali. “Nggak ada tulang patah. Aman.” Orang-orang seperti Raiden, para Vanguard, memang biasa berada di garis terdepan ketika melawan monster. Tidak heran kalau mereka biasa memakai pelindung dan membawa senjata besar. Ukuran monster di dunia Endialte memang bervariasi. Tidak ada salahnya mempersiapkan lebih buruk.


Exodiart ikut mengangguk lalu menoleh pada Praxel. “Oh, ya. Cawannya ketemu?”


“Yup.” Praxel menunjukkan sebuah cawan kayu mungil. Nampak tua, sedikit kusam. Polos tanpa ukiran, tanpa nama atau sedikit pun tanda pengenal lainnya. Bentuknya seperti gelas anggur tapi terbuat dari kayu bukan kaca atau logam. Ketiga pasang mata langsung tertuju erat pada cawan tersebut.


Keheningan memenuhi. Raiden sebenarnya ingin menanti kedua laki-laki yang lebih tua darinya berkomentar duluan. Namun, dirinya tak tahan menyeletuk. “Kelihatan seperti cawan biasa.”


“Kamu yakin ini cawan yang kita cari?” tanya Exodiart.


Praxel menggeleng, menjawab jujur. “Nggak. Tapi, cuma ada cawan ini di sana.”


“Hmm… Oke. Semoga saja kita nggak salah ambil. Maksudku, cawan ini terlihat sangat… biasa. Seperti yang dijual di toko. Bagaimana dengan tas yang lain? Kamu sudah cek isi ransel mereka?”


“Sudah. Nggak ada cawan kayu. Cuma ada gelas kayu. Kamu tahu, gelas yang biasa dipakai di Tavern.”


“Kalau benar ini cawannya, kenapa nggak beli yang baru saja daripada menyewa guild? Lebih murah, lebih cepat.”


“Daripada itu,” sahut Praxel. “Kenapa para orc repot-repot mengambilnya?”


“Mereka mengambil semua barang, Praxel.”


Praxel mengangguk. Dirinya bertukar pandang dengan Exodiart. Tak perlu waktu lama sampai dia bisa menangkap isi pikiran ketuanya. Praxel buru-buru menggeleng. “Nggak, nggak. Aku nggak mau membawa semua gelas kayu itu ke kota.”