
Exodiart berpaling ke dalam markas. Dia pun berseru dengan lantang. “Lunacrest, ketuamu sedang bicara! Guild ini dibentuk untuk menjalankan misi dengan cara-cara yang benar bukan cara curang. Mendiamkan para penculik di luar sana bukan langkah yang benar. Ini bukan soal mempertahankan markas. Ini soal solidaritas dan harga diri. Angkat senjata kalian! Kita beri mereka pelajaran!”
Bahkan sebelum Exodiart selesai bicara, para anggotanya telah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Ketika ucapannya selesai, setiap anggota mendapat restu dari ketua mereka. Keniaru dan Harufuji berlomba mencapai pintu depan. Mierai keluar dari jendela, naik ke atap, agar bisa menyerang dari posisi strategis. Begitu pula Kelsey. Gadis ini menggunakan teleport, mencapai pintu depan, melakukan serangan dari jarak aman.
“Exo, kamu gila!?” Praxel masih memprotes dengan nada tinggi. “Mereka—”
“Guild tidak boleh membuat keributan apalagi bertarung dengan guild lain sampai menyebabkan kematian,” sahut Exodiart. Dia paham peraturan itu meski tak bisa menyebutkannya persis seperti yang ada di buku. “Aku paham peraturannya. Namun, tetap saja aku tidak akan membiarkan para pembuat masalah itu menginjak-injak Lunacrest.”
“Tapi—”
“Mereka menculik Elloys. Memaksaku membocorkan misi rahasia. Melukai Vesa dan mencuri pesannya. Mereka sudah mengambil langkah pertama. Kupikir itu sudah jadi alasan cukup untuk bergerak.” Exodiart melihat bagaimana orang-orang di luar sana bertindak seenaknya.
“Seperti kata Kelsey, kita kalah jumlah.”
“Kita unggul secara kualitas. Orang-orang di luar sana adalah buangan dari Maelstrom. Kita lebih baik dari mereka.” Exodiart mulai melangkah turun. Dia mengabaikan setiap rasa sakit yang datang. Lucunya, keributan di luar membantunya dengan baik.
“Exo, aku tahu kalau kamu berpikir apa yang kita lakukan sekarang sebagai pertahanan dan pembelaan diri. Tidak salah. Tapi, bagaimana dengan Elloys?”
“Kamu enggak percaya pada Raiden?” Exodiart melempar senyum tipis. “Kepercayaan adalah sebuah pilihan. Aku memilih percaya padamu. Aku juga memilih percaya pada Raiden. Mereka akan kembali.”
Kekacauan di luar markas Lunacrest tak ubahnya seperti ajang pertempuran anggota guild melawan para monster. Sihir petir menyambar di mana-mana. Sihir hitam dan putih Kelsey membuat kebutaan-kebutaan sesaat. Ada pula sihir api dari lawan. Deru angin menjadi tak karuan, apalagi dengan adanya lebih dari satu orang Vanguard di sana. Setiap orang memilih lawan mereka masing-masing.
Saat ini, semua anggota Lunacrest sadar benar. Kerjasama mereka sedang diuji. Lebih daripada apa yang terjadi di Guild Showdown. Mungkin inilah Guild Showdown yang sesungguhnya.
Mierai membidik sasaran berbahaya lebih dulu. Posisi di atas atap membuatnya bisa melihat lebih jelas. Dia menemukan beberapa Hunter sepertinya. Sebelum mereka bergerak. Mierai memanah mereka dulu. Tidak perlu dan tidak boleh membidik titik vital. Itu cukup mudah buatnya. Meskipun tak pernah memenangkan ajang tembak para Hunter, dirinya selalu berlatih untuk menang.
Keniaru bergerak sesuka hati. Dia tidak memilih lawan yang punya kelas sama dengannya. Dia mengincar kelas Crusader dan Guardian yang unggul dalam pertahanan. Dengan sabetan pedangnya, Keniaru menghancurkan pertahanan dan rasa percaya diri mereka dengan mudah. Tekniknya yang cepat malah membuat orang-orang di sana melongo. Ini membuatnya sadar perbedaan kekuatan mereka.
Harufuji, kebalikan Keniaru. Dia mengincar para Warrior dimulai dari golongan Vanguard yang membawa senjata besar. Harufuji tak memiliki perisainya. Dia mengandalkan sihir petirnya untuk membuat gerakan mereka jadi kaku. Hal ini selalu membuat mereka kebingungan, sulit bergerak, bahkan tidak sengaja menyerang kawan mereka sendiri. Hraufuji mengulang sihirnya beberapa kali, memastikan lawan kesulitan bergerak hingga akhirnya pingsan.
Kelsey lebih suka memilih menyerang orang-orang yang sama-sama pengguna sihir seperti dirinya. Dia melihat Lilith dan langsung mengincarnya. Lilith berusaha kabur dengan teleport. Kelsey pun mengikutinya. Sambil membuntuti, dia menyempatkan diri menyerang orang-orang lain. Kejar-kejaran berlangsung hingga Lilith terpojok di satu antara dinding dan peti-peti kemas.
“Jadi, kamu yang menculik Elloys?” Kelsey bertanya seraya melangkah sembari memainkan tongkat di tangannya. “Aku sempat lihat sihirmu tadi. Boleh jujur? Menurutku, kamu enggak ada apa-apanya dibandingkan Elloys.”
Sihir Kelsey menyambar tinggi hingga ke langit. Lilith gemetar, jatuh terduduk, sambil menangis. Dia berpikir kalau Kelsey akan menggunakan sihir ledakan atau semacamnya. Kenyatannya, itu hanya ancaman. Berikutnya, Kelsey mendekat. Tangannya mengambil tongkat sihir Lilith dan mematahkannya jadi dua.
“Belajar lagi sana!”
Reiyuel bergerak dalam kegelapan dan kekacuan dengan baik. Sangat baik, malah. Semua serangannya tak bisa ditebak. Orang-orang itu jatuh pingsan tanpa pernah menyadari darimana serangannya datang. Meski begitu, gerakan Reiyuel jauh dari sempurna. Kondisinya masih dalam pemulihan. Ketika seorang Blade Master mengayunkan pedang padanya, Reiyuel terpaksa mundur. Dia bersiap menyerang balik. Namun, belum sempat melakukannya, si penyerang tersengat listik besar yang membuatnya menggelepar di tanah.
Exodiart berdiri jauh, terengah-engah, sambil bersandar ke dinding.
“Jangan khawatir, aku bisa melakukannya.”
“Kamu seharusnya menjaga dirimu sendiri.”
“Aku tahu. Aku juga tahu selalu punya orang-orang yang bisa menjagaku dari belakang.” Exodiart memulas senyum di wajahnya yang berpeluh. “Terima kasih mau kembali ke sini.”
“Kamu bercanda? Lunacrest rumahku. Kalian memberiku tempat yang bisa kusebut sebagai rumah.” Reiyuel mengenakan kembali topengnya. “Kamu duduk-duduk saja di dalam. Aku akan membereskan semuanya.”
Pertarungan dan keributan itu berlangsung sebentar, tidak sampai satu jam.
Praxel berdiri di tengah kekacauan. Dia bukannya tidak ikut bertarung. Karena kebanyakan sihirnya merupakan sihir pendukung, dia memastikan kondisi rekan-rekannya baik-baik saja. Sekarang, setelah pertarungan selesai, tugasnya justru dimulai.
Sambil berjalan kembali ke markas, Exodiart menepuk bahu wakilnya. “Kuserhakan padamu. Jangan biarkan seorang pun di sini tewas, Praxel.”
“Oke, kapten…” Praxel mendesah malas.
“Akan kubantu,” sahut Harufuji.
Selagi Amari membebat luka Vesa dan Exodiart duduk di sofa, Reiyuel melempar pertanyaan masih dengan topeng yang menutupi wajah. “Kamu sadar kalau ini akan membawa Lunacrest dalam masalah, ‘kan?”
“Biar kuralat. Kita sudah ada dalam masalah.” Exodiart mengalihkan tatapannya pada burung pengirim pesannya. “Burung-burung Maelstrom menyerang Vesa dan mendapatkan pesannya. Mereka sudah tahu apa yang kita harus sampaikan pada kerajaan.”
“Lalu, sekarang apa?”
“Informasi itu sudah berpindah beban pada mereka. Kita lihat saja apa Saman bisa membereskan monster di Pothine atau tidak.” Exodiart membuat seringai. “Melihat cara kerjanya seperti ini… Mereka akan segera runtuh.”
Denting kecapi terdengar merdu dari luar diiringi puisi yang tak terucap jelas.
“Curio!” seru Exodiart. “Masuk ke sini, cepat!”
Suaranya pun lenyap. Curio menengok ke dalam dengan kecapi di tangannya.
“Kamu pasti datang karena tahu di mana Raiden dan Elloys berada.”
“Tepat sekali!” Curio langsung nyengir. “Nah, ada berita baik dan buruk. Mana yang kamu mau dengar lebih dulu?”
Exodiart menyipitkan mata tanpa menjawab.
“Oke, oke,” lanjut Curio. “Berita baiknya, Raiden sudah bertemu Elloys. Keduanya baik-baik saja, masih hidup. Berita buruknya…” Curio menarik napas dalam-dalam. “Sesiap apa kalian menghadapi wyvern?”