Lunacrest

Lunacrest
Chapter 46



Kelsey tengah berjalan seorang diri di salah satu pertokoan terbesar di Korumbie. Letaknya memang tak jauh dari keramaian arena Korumbie. Deretan toko-toko berderet di sisi kanan dan kiri jalanan berbatu rapi. Tokonya dicat beraneka warna, cantik dan mengundang di saat bersamaan. Ada pula tenda-tenda mungil didirikan pada sisi-sisi tertentu untuk mengisi kekosongan. Untaian bendera segitiga dan lentera menggantung tinggi di atas jalan.


Pembukaan Guild Showdown pastinya menyedot para pengunjung. Tak seperti biasanya, tempat itu terasa lengang. Kelsey bisa berjalan santai tanpa perlu takut menabrak orang. Anak-anak bermain di satu sisi, para penjual bunga meneriakkan jualannya, uap panas dari roti hangat. Bukan hal yang bisa dinikmati setiap hari.


Ketika sedang meresapi hal-hal langka tersebut, dirinya tersentak. Tiga bayangan melesat cepat di sampingnya. Mereka menerbangkan roknya dengan kencang. Untung saja, Kelsey segera menahan dengan tangan.


“Apa yang—”


Ucapan Kelsey terpotong. Dia bisa melihat kelebat bayangan dari sisi lain. Mereka melompati deretan atap toko. Dia juga bisa melihat orang-orang berlarian ke sana kemari. Bukan sembarang orang tentunya, melainkan para petualang. Entah bagaimana, Kelsey tahu. Itu para peserta Guild Showdown.


“Aku sama penasarannya denganmu.”


Kelsey tersentak lagi. Kali ini bukan karena da pergerakan cepat di sekelilingnya, melainkan karena kemunculan pendeta wanita Kisarumi di sampingnya. Di tangannya ada sekerangjang bunga segar.


“Kisa, senang bertemu denganmu di sini.” Kelsey membungkuk pelan.


“Hai, Kelsey. Aku juga senang melihatmu sehat-sehat saja. Absennya dirimu dari guild membuat Lunacrest terasa sedikit berbeda.” Kisarumi melempar senyum tipis. “Kamu sendirian saja? Tidak ikut menonton Guild Showdown?”


Kelsey menggeleng. “Ada beberapa barang yang mau kubeli. Bagaimana denganmu? Sedang belanja untuk kuil juga?”


“Kurang lebih.” Kisarumi mengangguk pelan. “Kelsey, bagaimana kalau kamu menemaniku minum teh? Aku tahu kedai teh yang enak di sini.”


“Tentu.”


Kelsey tak punya alasan cukup kuat untuk menolak ajakan seorang yang dihormati dan disegani seperti Kisarumi. Bukan hanya karena Kisarumi seorang pendeta kuil, tapi juga karena mereka sendiri cukup akrab, bahkan sebelum Kelsey bergabung dengan Lunacrest.


Kisarumi memimpin mereka menuju sebuah kedai teh di ujung persimpangan. Tempatnya sendiri tidak begitu besar. Interiornya terbuat dari kayu sementara perabotannya dibuat dari tanah liat. Mereka dihiasi ornamen-ornamen dalam beragam warna. Kontras sekali dengan teh cokelat bening yang monoton.


Kelsey membuka percakapan dengan pernyataan. “Aku tidak menghilang. Aku sudah izin pada Exodiart dan Praxel.”


“Izin dalam waktu yang tidak bisa ditentukan?” Kisarumi mengangkat cangkir teh, meniup asap tipis darinya. “Setiap orang butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku sangat paham. Hanya saja, itu terasa sedikit berbeda dari seorang gadis pembelot di keluarga model.”


Kelsey merasakan wajahnya memanas. “Aku bukan pembelot?”


“Baik, bukan pembelot, tapi jelas seorang pemberani yang berani menentukan sikap atas masa depannya sendiri. Aku masih sangat ingat saat keputusanmu masuk ke sekolah sihir membuat ketegangan di keluarga.” Kisarumi berhenti sebentar, mengamati wajah tirus Kelsey. “Bagaimanapun juga, kulihat kamu tidak menyesali keputusanmu sedikitpun. Itu membuatku lega,” tambahnya sambil tersenyum lagi.


“Senang mendengarnya darimu.”


“Jadi, apa rencanamu setelah ini?”


“Bertahan di Lunacrest.”


“Aku tahu, kamu berhasil kembali ke Lunacrest. Sekali lagi, itu langkah yang berani. Aku bertanya soal rencanamu setelah ini.” Kisarumi mengembalikan cangkirnya ke meja, di samping kue-kue kering dalam mangkuk mungil. “Kalau kamu sedikit bingung, mari kita ubah sedikit pertanyaannya. Apa rencanamu setelah berhasil kembali ke Lunacrest? Dulu tujuanmu adalah membesarkan Lunacrest bersama Exodiart. Apakah rencana itu masih sama?”


“Iya.” Kelsey menjawab begitu saja seolah tak perlu berpikir.


Meski begitu, baik Kisarumi, maupun Kelsey sendiri paham kedalaman jawaban tersebut. Keduanya hening sebentar, menikmati teh dan camilan sebelum melanjutkan percakapan. Angin berhembus lembut, menggoyang untaian bendera. Suara-suara ramai terdengar dari kejauhan. Ada pula suara nyanyian dari musisi di sisi lain jalan juga tembakan di udara beserta dentum genderang.


“Kamu pasti punya alasan yang sangat baik sampai melewatkan pembukaan Guild Showdown,” ujar Kisarumi. “Boleh kutahu apa tujuanmu kemari? Belanja sepertinya bukan benar-benar kegemaranmu.”


“Kamu yakin?”


“Yakin. Kegemaranmu adalah membantai makhluk-makhluk tak berdosa di hutan dengan sihir hitam ungu penuh kilau.”


Kelsey bisa merasakan wajahnya memanas lagi. “Kisa…”


“Hanya bercanda.”


“Baik, baik, karena kamu sudah menangkapku di sini, aku akan jujur.” Kelsey menarik napas dalam-dalam sebelum membuat pengakuan. “Aku ke sini karena mencari hadiah dan barang-barang untuk kejutan Praxel.”


“Ulang tahun ke?”


“Dua puluh enam.”


“Kamu mau membuatkannya kejutan pribadi?”


Kelsey tertawa. “Tentu saja tidak. Aku dan Amari akan menyiapkan sedikit pesta kecil untuknya. Jangan cemas, aku sudah mengantongi izin dari Exodiart. Dia malah bilang pesta itu sebagai penyambutan anggota baru pula. Kami mendapat banyak anggota baru. Ya, sebenarnya tidak banyak. Tapi, dibanding jumlah total kami, itu lumayan.”


“Elloys, Keniaru, Harufuji. Tiga anggota baru, enam anggota lama.”


“Oh? Kamu tahu?”


Kisarumi tak menjawab, malah melemparkan tatapannya ke luar di mana angin lembut berhembus lagi memberikan kesejukan pada anak-anak yang sedang asyik bermain. “Di balik puncak gunung, ada lembah.”


“Apa itu?”


“Korumbie tidak setenang dulu,” tambahnya lirih sambil tetap memandang ke luar. “Endialte tidak seaman dulu.”


Ucapan Kisarumi membuat raut Kelsey berubah. Tangannya memegang cangkir hangat di atas pangkuan, tak kunjung membawanya ke bibir. “Apa maksudmu? Para monster sudah meresahkan kehidupan rakyat sejak dulu.” Kelsey berhenti di sana, tak mau membuat asumsi atau tebakan karena takut jawaban si pendeta.


Kisarumi mengembalikan tatapannya pada Kelsey, tersenyum lagi. “Lunacrest membutuhkan orang-orang pemberani dan setia. Orang-orang yang berani bertahan sekalipun kondisi sulit. Aku tahu kamu adalah salah satu dari mereka.”


Kelsey tak termakan pujian tersebut. “Biasanya ada peringatan di balik pujianmu, Kisa.”


“Benarkah?”


Kelsey menghela napas. Tangannya akhirnya berhasil mengangkat cangkir ke bibir. Wangi bunga dan rempah dari teh begitu memanjakan hidungnya. Kehangatannya menaungi mulut, membantunya menelan semua pertanyaan yang hampir keluar.


Setelah lanjut ngobrol setengah jam lebih, kedua gadis ini pun mengakhiri obrolan mereka. Kisarumi berniat kembali ke kuil sementara Kelsey akan melanjutkan berbelanja keperluan pesta juga hadiah pribadi untuk Praxel.


Di luar kedai, Kisarumi menepuk bahu Kelsey. “Aku punya sarang penting untukmu. Belilah lebih banyak barang. Makanan, minuman, dekorasi. Kalian perlu membuat pesta yang lebih besar.” Kisarumi mengatakan ucapan tersebut, melempar senyum lagi, lalu beranjak pergi tanpa menunggu pertanyaan dari Kelsey.


“Pesta yang lebih besar? Apa maksudnya?”